Loyalitas Dalam Islam


Sesungguhnya Allah Ta`ala telah mewajibkan atas orang-orang mukmin untuk memusuhi orang musyrikin dan membenci mereka, dan inilah millah (Din) Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam, dan ini adalah Din Nabi kita dan Din kita. Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam qudwah Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wasallam dan qudwah kita. Allah Ta`ala berfirman :

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Din Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia tidak termasuk orang orang musyrikin. (QS. An-Nahl : 123)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

“Dan tidak ada yang benci kepada millah (agama) Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al Baqarah : 130)

Al Walaa` Wal Baraa` (Loyalitas Dan Berlepas Diri) Dibangun Di Atas Dua Asas :

Pertama : Mengikhlashkan ibadah kepada Allah Subhaana wa Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) Din yang benar, Din Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An`aam : 161-163)

Kedua : Berlepas diri dari syirik dan dari kaum musyrikin dan menampakkan permusuhan kepada mereka.

 

Allah Ta`ala berfirman :

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (para Anbiyaa`). Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Rabb kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah : 4)

Dan apabila diwajibkan atas seorang muslim untuk mengatakan ini kepada kaumnya yang dia berada diantara mereka, maka keberadaan wajibnya kepada orang-orang kafir yang jauh darinya, yang mereka menyelisihinya dalam seluruh perkara Din ini tentu lebih jelas dan lebih jelas lagi. Maka barang siapa tidak mewujudkan dua asas ini, tidak pantas baginya untu menisbahkan dirinya kepada millah (agama) Ibrahim Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Allah Ta`ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang mana kalian memberikan rasa cinta kepada mereka, sesungguhnya mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian karena kalian beriman kepada Allah, Rabb kalian. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku, kalian menyembunyikan rasa kasih sayang kepada mereka, Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barangsiapa diantara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Mumtahanah : 1)

Bahkan telah diharamkan atas seorang mukmin mencintai orang-orang kafir walaupun seandainya mereka tersebut orang yang dekat dengan mereka. Allah Ta`ala berfirman :

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujaadilah : 22)

As Syaikh al Imam Muhammad bin `Abdul Wahhaab telah menjelaskan gambaran bentuk loyalitas yang diharamkan terhadap orang kuffar dalam tulisan beliau : “Autsaqu `Ural Iman” beliau berkata :

Pertama : Loyalitas secara umum.

Kedua : Kasih sayang dan rasa cinta yang khusus.

Ketiga : Kecenderungan yang sedikit. Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. (QS. Al Israa` : 74-75)

Apabila pembicaraan ini ditujukan kepada makhluk Allah Ta`ala yang paling mulia Nabi Muhammad Sholaatullahi wa Salaamuhu `alaihi, bagaimana lagi kepada selain beliau?

Keempat : Bermujaamalah (ramah) dan bersikap lunak terhadap dengan mereka, Allah `Azza wa Jalla berfirman :

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. Al Qolam :9)

Kelima : Mentaati mereka terhadap apa yang mereka katakan dan isyaratkan. Sebagaimana difirmankan Allah Jalla wa `Alaa :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi : 28)

Dan Allah Ta`ala berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. (QS. Al Qolam : 10)

Keenam :  Memfasilitasi mereka untuk duduk dan masuk ke tempat pemimpin Islam.

Ketujuh : Mengajak mereka bermusyawarah dalam berbagai urusan.

Kedelapan : Mempekerjakan mereka dalam mengurus urusan kaum muslimin. Dalam perkara apapun bentuknya, apakah sebagai pemimpin atau pekerja, atau sekretaris atau selain yang demikian.

Kesembilan : Menjadikan mereka sebagai sahabat atau pendamping selain orang mukminin.

Kesepuluh : Bermajlis dengan mereka dan menziarahi mereka serta selalu datang kepada mereka.

Kesebelas : Menampakkan kesenangan dan wajah yang bercahaya pada mereka.

Kedua belas : Memuliakan mereka secara umum.

Ketiga belas : Memberikan amanah kepada mereka, padahal Allah mengatakan bahwa mereka pengkhianat.

Keempat belas : Menolong mereka dalam perkara urusan mereka walaupun dalam satu bentuk sesuatu yang kecil, seperti meruncingkan pensil, mendekatkan tinta agar mereka menulis kezhaliman mereka.

Kelima belas : Menjadikan mereka sebagai penasehat.

Keenam belas : Mengikuti hawa nafsu mereka.

Ketujuh belas : Bersahabat dan bergaul dengan mereka.

Kedelapan belas : Meridhai perbuatan-perbuatan mereka dan menyerupai mereka serta berpakaian seperti pakaian mereka.

Kesembilan belas : Memanggil mereka dengan panggilan bentuk penganggungan seperti menamakan mereka dengan saiyid atau orang-orang bijaksana. Sebagaimana dikatakan kepada thoghuut as saiyid fulan, atau dikatakan bagi seseorang yang menda`wakan ilmu thib (kedokteran) orang bijaksana, dan yang sejenisnya.

Kedua puluh : Berdomisili di negeri mereka, sebagaimana disabdakan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam :

“Barangsiapa yang berkumpul dengan musyrik dan tinggal bersama dia maka dia seperti dia[1]”[2].

Sebagaimana Allah Subhaana wa Ta`ala mengharamkan mencintai orang kuffar yang merupakan musuh-musuh Din Islam, maka Allah juga mewajibkan mencintai orang orang mukmin dan berloyalitas kepada mereka.

Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut Din Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al Maaidah : 55-56)

Dan Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujuraat : 10)

Diantara Bentuk Mazhar (Nyata) Berloyalitas Terhadap Kaum Mukminin Adalah :

Pertama : Hijrah (pindah) dari negeri kuffar ke negeri muslimin dengan tujuan menjaga Din (agama)nya.

Sesungguhnya Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah berlepas diri dari setiap muslim yang mukim bersama musyrikin. Allah Ta`ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfaal : 72)

Kedua : Menolong kaum muslimin dan membantu mereka dengan jiwa dan harta benda pada apa-apa yang mereka berhajat kepadanya dalam Din mereka dan dunia mereka. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah : 71)

Allah Ta`ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Anfaal : 72)

Ketiga : Menasehati dan mencintai kebajikan bagi mereka, dan tidak menipu mereka.

Dari Anas bin Maalik radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berfirman :

“Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”[3]

Diterjemahkan oleh : ar Raajiy Ilaa `Afwi Raabihi, al Ustadz Abul Mundzir ar Riyauwiy as Salafiy al Madaniy, dari kitab : “ad Durarul Muntaqoot minal Kalimaatil Mulqoot Duruusun Yaumiyah”, oleh as Syaikh Amiin bin `Abdullah as Syaqaawiy

Footnote:

[1] Sunan Abi Dawud (2787) dan dihasankan oleh al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`ala di dalam “Shohiihul Jaami`us Shoghiir”, (6186).

[2] “Majmuu`ut Tauhiid”, hal. 170-172).

[3] Shohihul Bukhaariy (13), Shohiihul Muslim (45).

Sumber: Buletin Ta’zhim As-Sunnah

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s