Peringatan Dari Syirik


Sesungguhnya dosa-dosa yang paling terbesar disisi Allah Ta`ala ialah syirik (mempersekutukan Allah Subhaanahu wa Ta`ala).

Allah Ta`ala berfirman :

“Maka apakah Dia (Allah) yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu!”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra`du : 33)

Dan syirik itu terbagi dua : syirik yang besar dan syirik yang kecil. Adapun syirik besar, syirik ini akan mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan diwajibkan baginya kekal di neraka, dan diharamkan baginya surga apabila dia tidak taubat darinya dan meninggal diatas kesyirikan itu. Diantara syirik besar ialah : memalingkan satu ibadah dari ibadah-ibadah yang ada kepada selain Allah Ta`ala seperti berdo`a, nadzar, rasa takut atau sembelihan.

Firman Allah Subhaana wa Ta`ala :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An- Nisaa`: 116)

Dan Allah Ta`ala berfirman :

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al Masih putera Maryam”, Padahal al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, ber`ibadahlah kalian kepada Allah Raabku dan Rabb kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al-Maaidah : 72)

A. Diantara Syirik-Syirik Besar Ialah :

Syirik dalam berdo`a, dan dalilnya firman Allah Ta`ala :

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah”. (QS. Al-`Ankabuut : 65)

Allah Tabaaraka wa Ta`ala mengkabarkan bahwa orang musyrikin mengikhlaskan do`a mereka kepada-Nya semata-mata ketika mereka dalam keadaan susah, dan mereka berbuat syirik kembali ketika mereka dalam kesenangan. Maka tidak bermanfaat bagi mereka keikhlasan mereka yang bersifat sementara. Lalu menunjukan kepada kita bahwa tauhid tidak akan bermanfaat kepada seseorang kecuali dia terus-menerus dalam tauhid tersebut sampai mati.

Syirik dalam bentuk niat, keinginan dan maksud, dalilnya adalah firman Allah Ta`ala :

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Huud : 15-16)

Berkata Ibnu `Abbas radhiallahu `anhuma : “Sesungguhnya orang-orang yang riya` dalam beramal diberikan ganjaran mereka di dunia, dan mereka tidak akan dizhalimi sedikitpun. Berkata beliau kembali : “Barang siapa mengamalkan satu amalan shalih dalam rangka mencari dunia, baik puasa, shalat atau shalat tahajjud di malam hari, tidaklah dia mengamalkan kecuali untuk mencari dunia, maka Allah Subhaana wa Ta`ala berkata : “Saya akan cukupkan baginya apa yang dia cari dari dunia bentuk balasan, dan akan pupus (habis) amalan yang dikerjakan untuk mencari dunia tersebut, sementara dia di akhirat termasuk kedalam orang-orang yang merugi”.[1]

Begini diriwayatkan dari Mujaahid dan adh- Adhohaak dan dari yang lainnya.

Berkata Anas bin Malik dan al Hasan : “Ayat ini turun tentang yahudi dan nashrani”.

Dan berkata Mujaahid dan selain beliau : “Ayat ini  turun pada pelaku riya`”.

Dan berkata Qataadah rahimahullahu Ta`ala : “Barang siapa yang tujuannya semata-mata dunia dan tamak dalam mencarinya serta menyesal kalau luput darinya dunia tersebut, Allah akan membalas kebajikannya tersebut di dunia, kemudian dia berangkat menuju akhirat dan tidak ada satupun kebajikan yang akan diberikan padanya. Dan adapun seorang mukmin akan dibalas kebajikan-kebajikannya di dunia dan akan diberi ganjaran atas kebajikan itu di akhirat”.[2]

Demikian juga dalam hadist Zaid bin Tsaabit radhiallahu `anhu beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“Barang siapa yang semata-mata tujuannya dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Dia menjadikan kefakiran didepan matanya,  tidak datang  kepadanya dunia kecuali apa yang sudah dituliskan baginya. Barang siapa yang niatnya akhirat, Allah akan menyatukan baginya perkaranya,  Allah Ta`ala akan menjadikan kecukupan dalam hatinya, dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk”.[3]

Allah Ta`ala berfirman :

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik . Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabb engkau, dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih inggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al Israa` : 18-21)

Syirkut thoo`ah (syirik dalam bentuk ketaatan)

Allah Ta`ala berfirman :

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Arbaaban (sesembahan) selain Allah dan juga Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh mengibadati Ilah yang Satu, tidak ada yang berhak untuk diibadati kecuali  Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At Taubah : 31)

Dari `Adi bin Haatim radhiallahu `anhu bahwa dia telah mendengar Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam membaca ayat ini, beliau berkata :

“Adapun sesungguhnya mereka tidak beribadat kepada orang orang alim dari rahib-rahib mereka, akan tetapi para ulama mereka apabila menghalalkan bagi umatnya sesuatu lantas umat mereka juga menghalalkan, dan apabila mengharamkan sesuatu bagi umatnya lantas mereka juga mengharamkannya”.[4]

Allah Ta`ala berfiman :

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al An`aam : 121)

Maka barangsiapa yang mentaati selain Allah Ta`ala dalam mengharamkan yang halal, atau menghalalkan yang haram, lantas dia mengambil yang demikian sebagai din (agama) dan syariat, sungguh-sungguh dia telah mempersekutukan Allah Ta`ala.

Berkata as Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahhaab rahimahullahu Ta`ala : “Barangsiapa yang mentaati para ulama dan pemimpin dalam mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta`ala atau menghalalkan yang diharamkan Allah, maka sungguh telah menjadikan mereka sebagai pembuat syariat ini selain Allah”.[5]

Syirkul mahabbah (syirik dalam bentuk kecintaan)

Dalilnya firman Allah Ta`ala :

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah, dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al Baqarah : 165)

Berkata Ibnu Katsiir : “Allah Ta`ala telah menyebutkan keadaan orang-orang musyrikin di dunia dan tempat kembali mereka di akhirat takkala mereka telah menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan, sekutu-sekutu dan tandingan yang mereka ibadati bersama Allah, dan mereka mencintainya seperti kecintaan mereka kepada Allah. Dan Dialah Allah, tidak ada yang berhak untuk diibadati kecuali Dia, tidak ada tandingan bagi-Nya dan tidak ada sekutu”.[6]

B. Adapun syirik kecil ialah syirik yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan tetapi akan mengurangi tauhidnya, dan syirik kecil ini merupakan sebagai perantara untuk sampai kepada syirik besar.

Syirik kecil ini terbagi kepada dua : syirik yang nyata dan syirik yang tersembunyi.

Adapun syirik yang nyata, ini lebih terkhusus dengan amalan-amalan dan perkataan-perkataan yang zhohir.

Sedangkan bentuk ucapan-ucapan yang zhohir seperti: bersumpah dengan selain nama Allah, atau ucapan “apa-apa yang telah Allah kehendaki dan kamu kehendaki”, dan juga ucapan “kalaulah bukan karena Allah dan si fulan”, maka tidak dibenarkan bagi seseorang untuk menyamakan selain Allah dengan Allah. Bahkan yang dibolehkan dia mengatakan : “apa-apa yang telah Allah kehendaki, kemudian si fulan”, dan ucapan “kalaulah bukan karena Allah kemudian si fulan, begini”.

Sedangkan dari bentuk perbuatan , banyak sekali, seperti menggantungkan jimat-jimat sebagai tangkal dari penyakit `aiin, atau memakai gelang atau benang untuk menghilangkan dan menolak bala, dan ini dibarengi dengan i`tiqad bahwa benda-benda ini sebagai penyebab menjauhkan dan menolak bala. Kalau seandainya dia berkeyakinan bahwa tangkal-tangkal tersebut sebagai penolak dan menghilangkan bala, maka ini merupakan syirik besar.

Bagian kedua, syirik yang tersembunyi.

Allah Ta`ala berfirman :

“Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah yang Satu”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya”. (QS. Al Kahfi : 110)

Berkata Ibnul Qaiyim- rahimahullahu Ta`ala- : “Dan syirik ini merupakan lautan yang tidak batas baginya dan sedikit sekali orang selamat darinya. Maka barang siapa yang menginginkan dengan amalannya selain mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala sungguh-sungguh dia telah berbuat syirik dalam keinginan dan niatnya”.

Sementara keikhlasan ialah hendaknya seseorang tersebut mengikhlaskan semata-mata karena Allah, baik ucapannya, perbuatannya, niatnya dan keinginannya. Sesungguhnya millah hanifiyah ini, millah (Din) Ibrahim `alaihis sholaatu was salaam yang Allah telah memerintahkan dengannya hamba-hamba-Nya seluruhnya, dan Dia tidak akan menerima dari siapapun selain dari millah Ibrahim `alaihis sholaatu was salaam, dan ini haqiqat Islam itu sendiri.[7]

Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

“Barangsiapa mencari Din (agama) selain Din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran : 85)

Sesungguhnya Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berlindung dengan Allah Ta`ala dari kesyirikan ini. Dari `Abdullah bin Huzn radhiallahu `anhu berkata : Pada suatu hari Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah, maka beliau bersabda : “Wahai manusia, takutlah kalian kepada syirik ini. Sesungguhnya dia lebih tersembunyi dari jalannya semut”, lalu berkata kepada beliau seorang yang dikehendaki Allah berkata : “Bagaimana kami akan menjauhinya sementara dia lebih halus dari jalannya semut ya Rasulullah!”, beliau bersabda : “Kalian ucapkanlah! Ya Allah! Sesungguhnya kami berlindung dengan Engkau dari mempersekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami minta ampun kepada Engkau bagi apa apa yang kami tidak mengetahuinya”.[8]

Dari Abi Sa`iid al Khudriy radhiallahu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

“Ketahuilah, maukah kalian saya kabarkan dengan apa-apa yang lebih saya takutkan atas kalian dari al Masih ad Dajjal? Yaitu syirik yang tersembunyi, bahwa seseorang berdiri melakukan shalat lantas dia hiasi shalatnya tatkala dia melihat ada orang yang melihatnya”.[9]

Dari Mahmuud bin Lubeid radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya sesuatu yang paling saya takutkan atas kalian ialah syirik kecil” Para shahabat bertanya : “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu?” Jawab Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam : “ar riya`”. Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat ketika membalas amalan-amalan manusia : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang di dunia dahulu kalian memamerkan amalan-amalan kalian kepada mereka, maka kalian lihatlah, apakah kalian mendapatkan di sisi mereka ganjaran?”[10]

Kadang-kadang sebagian manusia menganggap remeh terhadap syirik ini dikarenakan penamaannya syirik yang kecil, padahal hal ini dinamakan dia dengan syirik kecil kalau dibandingkan dengan syirik besar dan kalau tidak, sesungguhnya dia merupakan dosa yang paling terbesar dari seluruh dosa-dosa besar yang ada. Oleh karena itu berkata ahli `ilmu :

Sesungguhnya syirik yang besar apabila masuk ke dalam satu amalan dia akan merusak amalan tersebut dan menghapuskannya. Sesungguhnya syirik yang kecil tidak diampuni pelakunya, bukan pelakunya berada di bawah kehendak Allah Ta`ala seperti pelaku dosa besar, bahkan dia diadzab seukuran dosanya, Allah Ta`ala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa` : 116)

Maka diwajibkan atas setiap orang mukmin agar berhati-hati dari kesyirikan dengan segala bentuknya dan khawatir atas dirinya akan hal tersebut. Sungguh telah takut Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam atas dirinya terhadap kesyirikan tersebut, yang padahal dia merupakan imam ahlit tauhid. Kemudian dia berkata kepada Rabbnya :

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari mengibadati berhala-berhala”. (QS. Ibrahim : 35)

Berkata Ibrahim at Taimiy : “Siapa yang terjamin dari bala` setelah Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam?”

Berkata as Syaikh `Abdurrahman bin Hasan rahimahullahu Ta`ala : “Maka tidak ada yang merasa aman dari terjerumus kepada kesyirikan kecuali orang yang bodoh dengannya, dan dengan apa-apa yang akan melepaskannya darinya, dari bentuk berilmu dengan Allah, dan dengan apa yang dibawa Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam dari bentuk beribadah kepada-Nya dan larangan dari mempersekutukan-Nya Tabaaraka wa Ta`ala”.[11]

Diterjemahkan oleh al Faqiir Ila `Afwi Rabbihi, Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal bin Muhammad Kamal As Salafiy dari kitab : “Ad Durarul Muntaqoot minal Kalimaatil Mulqoot Duruusun Yaumiyyah” halaman 115-119 , karya Ad Doktor Amiin bin `Abdillah As Syaqaawiy,

Footnote:

[1] Tafsir Ibnu Katsir (7/422-423).

[2] Tafsir Ibnu Katsiir (7/423).

[3] Hadist dikeluarkan oleh Ibnu Maajah (4105), as Syaikh al Albaaniy di “as Shohiihah”, (950).

[4] “Sunan at Tirmidziy” (5/278) dihasankan oleh as Syaikh al Albaniy ditakhriij beliau terhadap hadist hadist “Ghaayatul Maram fi takhriij Ahaadiist al Halal wal Haram”, hal. 20.

[5] Fathul Majiid Syarh Kitaabut Tauhiid hal, 383.

[6] Tafsiir Ibnu Katsiir (1/202).

[7] Ad daa wad Dawaa` , oleh Ibnu Qaiyim al Jauziyah, hal. 184.

[8] Musnad al Imam Ahmad (3/403) dengan sanad yang hasan.

[9] Musnad al Imam Ahmad (3/30).

[10] Musnad al Imam Ahmad (5/428).

[11] Fathul Majiid, halaman 74.

Sumber: http://tazhimussunnah.com

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s