Yang Bersemi dalam Hati


Mengenalkan Allah kepada anak harus dilakukan sedini mungkin. Tujuannya agar anak memiliki aqidah yang shahih yang tertanan kuat dalam hatinya. Banyak teladan dari Rasulullah yang bisa kita terapkan untuk tujuan ini.

Menyaksikan anak-anak tumbuh dalam sepenuh kebahagiaan. Melambung seluruh harapan yang terindah untuk mereka. Teriring permohonan kepada Rabb seluruh alam, dalam bisikan, “Duhai Rabbku, jadikan mereka penyejuk hati kami.”

Harapan bukanlah sekedar sepenggal harapan. Melalui kedua tangan ayah dan bundalah tertuai harapan dalam kenyataan, dengan mengingat kembali sabda Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Hurairah:

“Setiap anak terlahir di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana hewan, tentu akan melahirkan hewan pula yang sempurna. Adakah engkau melihat hewan itu telah terpotong telinganya?” (HR. Al-Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 2658)

Sesosok anak yang tumbuh di atas fitrah yang selamat itu akan menerima segala kebaikan dan keburukan, sehingga tentu dia teramat membutuhkan uluran tangan kedua orang tuanya untuk mengajari, mendidik, dan membimbing dengan bimbingan yang benar di atas lempang jalan Islam. (Al-Intishar li Huquqil Mu’minat, hal. 25)

Sebagian orang beranggapan bahwa tanggung jawab untuk mendidik anak hanya semata terbeban di pundak ibu, sementara ayah tak lain hanya dituntut untuk mencukupi kebutuhan materi istri dan anak-anaknya. Demikianlah yang ada, hingga yang terjadi kadangkala seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan segudang kesibukan pekerjaan atau bersama teman-temannya. Tatkala kembali ke tengah keluarga, dia pun segera duduk menyendiri di kamar, sembari memperingatkan istrinya agar tidak membolehkan anak-anak membuyarkan lamunan atau bunga tidurnya. Padahal kenyataan sesungguhnya, seorang ayah pun mempunyai peran yang begitu besar dalam pendidikan anak-anaknya. (Al-Intishar li Huquqil Mu’minat, hal. 14)

Oleh karena itu, tak diragukan lagi bahwa ayah dan ibu harus bahu-membahu untuk mendidik anak-anak mereka. Andai salah satu dari mereka melalaikan tanggung jawab ini, tentu akan terjadi ketimpangan, kecuali apa yang Allah kehendaki. (Nashihati lin Nisa, hal. 64)

Satu kisah indah dapat diambil sebagai teladan, agar orang tua memiliki gambaran tentang langkah awal dalam rentang perjalanan pendidikan buah hati mereka. Kisah Luqman yang ternukil dalam Kitab-Nya yang mulia:

“Dan ketika Luqman berwasiat kepada anaknya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah suatu kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Nampaklah dari kisah ini, Luqman mengawali wasiat kepada buah hatinya dengan tauhid dan memberikan peringatan agar tidak menyekutukan Allah, karena hal itu dapat menggugurkan amalan. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 9)

Inilah kewajiban yang dipikul oleh ayah dan ibu sebagai pendidik dan pengajar anak-anak mereka. Mereka berdua harus mengajari anak mengucapkan kalimat dan memahamkan makna kalimat tersebut kelak ketika anak beranjak dewasa. Demikian pula menanamkan kecintaan dan keimanan kepada Allah di dalam sanubari mereka, bahwa Allah sajalah pencipta, pemberi rizki, dan penolong saat berada dalam kesusahan, tidak ada sekutu bagi-Nya. Begitu pun mengajarkan mereka untuk meminta dan memohon pertolongan kepada Allah semata. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 23)

Al-Imam Ibnul Qayyim juga memberikan bimbingan dalam hal ini, “Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucap dan jadikan yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah, pengesaan-Nya, dan Allah di atas ‘Arsy-Nya, Allah melihat dan mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada.” (Tuhfatul Maudud, hal. 195)

Banyak cara dapat ditempuh untuk menjelaskan hal ini kepada anak. Adakalanya – bila  anak masih kecil– dengan menuntun anak mengucapkan nama Allah, sembari mengisyaratkan tangan ke arah langit. (Nashihati lin Nisa, hal. 65)

Adakalanya pula dengan menuturkan berbagai kisah. Di antara banyak kisah, ada kisah tentang seorang sahaya wanita yang diceritakan oleh pemilik hamba sahaya itu, Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami:

“Aku memiliki seorang sahaya wanita yang biasa menggembala kambing-kambingku di sekitar bukit Uhud dan Jawaniyah. Suatu hari, aku menengoknya. Ternyata seekor serigala telah membawa lari salah seekor kambingku, dan aku ini adalah seorang anak Adam yang bisa bergejolak kemarahannya sebagaimana orang lain bisa bergejolak kemarahannya. Maka saat itu aku pun memukulnya. Lalu aku datang kepada Rasulullah dan beliau pun menganggap besar perbuatan yang kulakukan. Aku  berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah kubebaskan saja dia?’ Beliau berkata, ‘Bawa dia kemari.’ Setelah sahaya wanita itu dibawa kepada beliau, beliau  bertanya, ‘Di mana Allah?’ Sahaya wanita itu menjawab, ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya lagi, ‘Siapa aku?’ Dia menjawab, ‘Engkau adalah utusan Allah.’ Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda, ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman’.” (HR. Muslim, no. 537) [Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 17]

Banyak kisah yang sarat dengan gambaran keimanan ternukil dalam kitab-kitab goresan tinta para ulama. Tatkala akal mereka mulai bisa mencerna, mereka pun diajarkan tentang rukun Islam, rukun iman dan rukun ihsan. Tentang ini semua, terangkum dalam kisah Jibril ketika datang di hadapan Rasulullah untuk mengajarkan dasar-dasar agama ini kepada para shahabat. ‘Umar ibnul Khaththab mengisahkan:

Suatu hari, ketika kami duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih bersih dan teramat hitam legam rambutnya. Tak satu pun dari kami yang mengenalinya, namun tak terlihat pula tanda-tanda perjalanan jauh dari dirinya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, dan bertanya, ‘Wahai Muhammad, beritahukan padaku tentang Islam!’ Rasulullah pun menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah apabila engkau mampu melaksanakannya.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Kami merasa heran terhadapnya, dia yang bertanya, dia pula yang membenarkan. Dia bertanya lagi, ‘Beritahukan padaku tentang iman.’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Dia bertanya, “Beritahukan padaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.’ Dia berkata lagi, ‘Beritahukan padaku tentang hari kiamat.’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.’ Dia bertanya, ‘Kalau begitu, beritahukan padaku tentang tanda-tandanya.’ Beliau menjawab, ‘Seorang budak melahirkan tuannya dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berbaju, dari kalangan orang-orang fakir yang menggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan.’ Kemudian orang itu pun pergi dan aku pun diam selama beberapa saat. Lalu Nabi bertanya, ‘Wahai ‘Umar, tahukah engkau, siapa yang  datang itu?’ Aku pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau menjawab, ‘Dia adalah Jibril. Dia datang untuk mengajari kalian tentang agama kalian’.” (HR. Muslim no. 8)

Yang mesti diketahui, tahapan ini tidak dapat dipastikan dengan batasan usia, karena kepandaian dan kecerdasan anak berbeda-beda. (Nashihati lin Nisa, hal. 65)

Demikian pula Rasulullah dikenal sebagai sosok yang mencintai anak-anak dan mencintai kebaikan bagi umat beliau. Pengajaran beliau kepada anak-anak senantiasa dikenang dan diambil sebagai teladan. Inilah penuturan Abdullah ibnu ‘Abbas  ketika Rasulullah memberikan pengajaran agar keimanan itu tertanam dalam hatinya:

“Suatu hari, aku membonceng di belakang Nabi, lalu beliau berkata kepadaku, “Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan shahih1). Dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenali Allah dalam keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Beliau ajarkan kepada anak-anak untuk taat kepada Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya, yang semua itu akan menggiring kebahagiaan di dunia dan akhirat. Beliau tanamkan aqidah tauhid dalam jiwa mereka dengan mengajarkan untuk meminta dan memohon pertolongan kepada Allah semata. Beliau tancapkan dalam hati mereka aqidah keimanan terhadap takdir yang baik dan yang buruk. Beliau didik mereka di atas optimisme, agar kelak mereka akan dapat menghadapi kehidupan dengan penuh keberanian dan pengharapan, sehingga mereka menjadi sesosok pribadi yang dapat memberikan manfaat bagi umat ini. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 13)

Inilah langkah demi langkah menyemai benih keimanan hingga bersemi dalam sanubari sang permata hati. Semogalah nanti akan berbuah kebahagiaan baginya di dunia ini hingga di negeri yang kekal abadi.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Footnote:

[1] Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043, dan Al-Misykat no. 5302.

Sumber: http://www.asysyariah.com/sakinah/permata-hati/882-yang-bersemi-dalam-hati-permata-hati-edisi-8.html

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s