Hijrah ke Negeri Habasyah (Ethiopia)


Pada periode Mekah di awal dakwah Islam, Rasulullah ` mulai gencar berdakwah setelah Rabbnya memerintahkan untuk terang-terangan berdakwah. Musuh Islam pun menunjukkan kekhawatirannya. Manuver-manuver kekejaman mereka lakukan untuk mengembalikan kaum muslimin kepada agama kaumnya.

Allah melindungi Rasul-Nya ` dengan perantaraan pamannya, Abu Thalib, yang merupakan tokoh kaumnya. Demikian pula Abu Bakr, beliau dilindungi oleh keluarganya. Namun, sahabat yang lainnya tidak memiliki pelindung. Mereka disiksa dengan siksaan yang berat.

Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah (Ethiopia)

Pada tahun kelima kenabian, Rasulullah ` mengisyaratkan kepada para sahabat untuk hijrah ke negeri Habasyah, untuk mendapatkan perlindungan Raja Najasyi[1] yang beragama Nasrani. Beliau ` bersabda, “Di negeri Habasyah ada seseorang raja yang rakyatnya tidak akan dizalimi. Maka, pergilah kalian ke sana hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kita.”

Dua belas lelaki dan empat wanita pun berangkat meninggalkan Mekah menuju Habasyah secara bertahap. Mereka lari membawa agama dan keselamatan diri mereka. Di antara mereka adalah Utsman bin Affan, dan istrinya, Az-Zubair bin Awwam, Ibnu Mas’ud, Mush’ab bin Umair dan lainnya.

Kaum Quraisy mencium gelagat ini. Mereka mengejar kaum muslimin sampai ke pantai. Namun, mereka tidak mendapatkan satu pun dari kaum muslimin.

Dua bulan berlalu sejak mereka bermukim di Habasyah. Mereka mendengar kabar burung bahwa penduduk Mekah masuk Islam semuanya. Mereka pun pulang ke tanah air dengan perasaan gembira, memeluk Islam bersama keluarga.

Tak disangka, ternyata kabar burung yang mereka peroleh ini tidak benar. Ketika mereka sudah hampir sampai kota Mekah, seseorang memberi tahu mereka bahwa penduduk Mekah belum masuk Islam. Mereka merasa takut sekaligus cemas sehingga tidak langsung memasuki Mekah demi mendengar berita ini. Hingga akhirnya, mereka memasuki kota Mekah dengan diam-diam atau di bawah perlindungan seseorang dari kaum Quraisy. Di sana, kembali para sahabat disiksa lebih berat dari sebelumnya.

Hijrah Kedua ke Negeri Habasyah

Melihat betapa menyedihkannya keadaan yang menimpa para sahabat waktu itu, Rasulullah ` menganjurkan untuk kembali berhijrah ke Negeri Habasyah.

Delapan puluh sekian lelaki dan sembilan belas wanita berhijrah menuju Habasyah, menuju tempat yang aman dan tenteram untuk beribadah kepada Rabbnya.

Susulan dari Quraisy

Mendengar kepergian kaum muslimin ke negeri Habasyah, tokoh Quraisy pun bermusyawarah. Mereka mencari cara agar kaum muslimin bisa kembali ke Mekah untuk mereka siksa. Keputusannya, mereka akan mengutus dua orang yang pandai bernegosiasi dengan membawa hadiah kepada Najasyi.

Mereka mengutus ‘Amr bin Al-‘Ash (yang waktu itu masih kafir) dan ‘Imarah bin Al-Walid (dalam riwayat lain: Abdullah bin Abi Rabi’ah) membawa hadiah untuk raja Najasyi dan para pendetanya. Setiap pendeta mereka beri hadiah seraya mengatakan, “Kami menemui raja hanya karena beberapa orang bodoh kaum kami. Mereka keluar dari agama kaumnya dan tidak masuk ke agama kalian. Lalu, kaum kami menginginkan agar raja mengembalikan mereka. Jika kami berbicara dengan raja, mintalah beliau untuk menuruti apa yang kami maukan.”

Para pendeta itu menjawab, “Ya. Kami lakukan.”

Lalu, mereka pun menemui raja Najasyi dan memberikan hadiah istimewanya. Tak lupa, mereka bersujud ketika pertama menemui Najasyi. Saat mereka memberikan hadiahnya kepada Najasyi, mereka mengatakan, “Baginda, beberapa pemuda bodoh kami keluar dari agama kaumnya, tetapi tidak pula masuk ke dalam agama Anda. Mereka datang membawa agama baru yang tidak kita ketahui. Mereka ada di negeri Anda. Dan kami telah diutus oleh kerabat mereka, ayah, paman, dan kaum mereka agar Anda bersedia untuk mengembalikan mereka.”

Raja Najasyi marah dan mengatakan, “Tidak, demi Allah! Aku tidak akan mengembalikan mereka hingga aku berbicara dengan mereka dan aku lihat bagaimana perkaranya. Mereka adalah orang-orang yang berlindung di tanah airku, memilih untuk bertetangga denganku daripada selainku. Jika memang seperti apa yang kalian katakan, aku kembalikan mereka, jika tidak, aku tetap lindungi mereka dan aku tidak turut campur antara mereka dan kaumnya.”

Para pendeta menyarankan untuk mengembalikan mereka, namun Najasyi tetap mengatakan, “Tidak, demi Allah, hingga aku mendengar ucapan mereka dan aku tahu urusan sebenarnya.”

Najasyi memerintahkan untuk memanggil kaum muslimin. Datanglah kaum muslimin dengan Ja’far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Mereka menemui Najasyi dan tidak bersujud kepadanya. Para pendeta mengatakan, “Bersujudlah kalian kepada raja.”

“Kami tidak sujud kecuali kepada Allah.” jawab Ja’far.

“Kenapa?” tukas Najasyi heran.

“Allah telah mengutus seorang Rasul di tengah-tengah kami. Beliau adalah Rasul yang diberitakan oleh Isa bin Maryam bernama Ahmad. Beliau memerintah kami untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta memerintahkan untuk berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.”

Najasyi merasa takjub terhadap perkataan ini. Melihatnya, ‘Amr bin Al-‘Ash menimpali, “Semoga Allah memperbaiki Anda, keyakinan mereka tentang Isa bin Maryam berbeda dengan keyakinan Anda.”

“Apa yang Nabi kalian yakini tentang Ibnu Maryam?” tanya Najasyi kepada kaum muslimin.

“Beliau meyakini apa yang Allah firmankan bahwasanya dia adalah Ruh yang Allah tiupkan dan kalimat-Nya yang Dia ucapkan pada Maryam. Dia mengeluarkannya dari perawan yang belum pernah didekati lelaki dan tidak pernah melahirkan anak.” kata Ja’far.

Najasyi pun mengambil sepotong kayu kecil di tanah dan mengangkatnya seraya mengatakan, “Wahai sekalian pendeta dan rahib. Mereka tidak menambahi dari apa yang aku yakini tentang anak Maryam meski hanya sebesar kayu ini. Selamat datang bagi siapapun yang datang dari pihak Nabi kalian. Saya bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasulullah. Saya bersaksi bahwa beliau adalah yang diberitakan oleh Isa. Seandainya bukan karena kerajaan yang ada di tanganku, niscaya aku mendatangi beliau dan menciumi kedua sandal beliau. Tinggallah kalian sekehendak kalian di negeriku.”

“Kembalikan hadiah dua orang ini.” tambah Najasyi.

Gagallah rencana Quraisy untuk mengembalikan kaum muslimin di negeri Habasyah ke Mekah.

Kembali dari Habasyah

Beberapa tahun setelahnya, mereka mendengar bahwasanya Nabi ` dan para sahabat hendak berhijrah ke negeri Madinah. Sebagian sahabat pun ada yang kembali ke Mekah untuk berhijrah bersama Rasulullah ` ke Negeri Madinah. Mereka berjumlah tiga puluh tiga lelaki dan delapan wanita. Dua lelaki di antaranya meninggal di Mekah dan tidak sempat ikut bersama Rasulullah `. Tujuh orang lelaki ditahan oleh kaumnya. Sedangkan yang dua puluh empat berhasil mengikuti Rasulullah ` berhijrah dan mengikuti perang Badr.

Surat Untuk Najasyi

Pada tahun ketujuh hijriah di negeri Habasyah, Rasulullah ` mengirimkan surat kepada Najasyi, isinya adalah ajakan Rasulullah ` untuk masuk Islam. Najasyi pun mengikuti seruan Nabi `. Beliau masuk Islam waktu itu pula seraya mengatakan, “Andai aku mampu untuk menemui beliau, niscaya aku akan menemuinya.”

Di dalam surat itu juga terkandung perintah Nabi ` untuk mengirimkan para sahabat ke Madinah. Sebagian para sahabat pun diangkut di atas dua perahu oleh Najasyi. Mereka mendatangi Nabi ` tepat pada waktu ditaklukannya kota Khaibar.

Surat itu juga mengandung perintah Nabi untuk menikahkan diri beliau dengan Ummu Habibah bintu Abu Sufyan yang waktu itu berada di Habasyah. Najasyi pun meminangkan Ummu Habibah untuk Rasulullah `. Sedangkan yang menikahkan Ummu Habibah dengan beliau adalah Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash. Mahar pernikahan beliau sebesar empat ratus dinar yang diberikan oleh Najasyi.

Ummu Habibah dahulu berhijrah ke Habasyah bersama dengan suaminya, Ubaidullah bin Jahsy. Namun, Ubaidullah murtad ke agama Nasrani di Habasyah dan meninggal beragama Nasrani.

Najasyi Meninggal Dunia

Saat Najasyi meninggal dunia, Rasulullah ` memerintahkan kepada para sahabat untuk berkumpul melakukan shalat ghaib, bertakbir empat kali sebagaimana tata cara shalat jenazah pada umumnya. Beliau bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang artinya, “Hari ini telah meninggal seorang lelaki yang shalih dari negeri Habasyah. Mari kita menshalatinya.”

Kejadian inilah yang merupakan dasar disyariatkannya shalat ghaib. Namun, ada satu hal yang patut diperhatikan darinya. Najasyi masuk Islam seorang diri di negeri Habasyah. Sedangkan kaumnya masih beragama Nasrani, sehingga tidak ada yang menshalati jenazah beliau di sana. Oleh karena itu, Rasulullah ` mengajak para sahabat untuk menshalatinya. Adapun jika seseorang meninggal di tempat yang kemungkinan besar dia dishalatkan, tidak disyariatkan untuk menshalatinya dengan shalat ghaib, menurut pendapat sebagian ulama.

Demikianlah beberapa peristiwa terkait dengan hijrah ke bumi Habasyah. Allahu a’lam bish shawab.

Disarikan dari:

Mukhtashar Sirah Ar-Rasul `, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam.

As-Sirah An-Nabawiyah, Muhammad bin Ishaq.

Shahih Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Footnote:

[1] Najasyi adalah gelar bagi penguasa Habasyah, sebagaimana Kaisar adalah gelar bagi penguasa Romawi. Najasyi yang melindungi kaum muslimin dan masuk Islam bernama Ashĥimah bin Baĥr.

Sumber: http://tashfiyah.net/?p=662

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Tokoh dan Sejarah Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s