Abu Hurairah Digugat


Abu Hurairah adalah shahabat Nabi yang paling sering digugat musuh-musuh Islam dengan mencari berbagai titik kelemahan beliau. Hal ini tidak mengherankan karena beliau adalah shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi, sehingga bila umat bisa dibuat ragu kepada beliau, maka akan ada sejumlah besar hadits yang dianggap meragukan pula oleh umat ini. Inilah tujuan utama para musuh Islam itu.

Kaum munafiqin dan ahlul ahwa` bersama orientalis barat tidak pernah berhenti dalam menghembuskan api permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin, terkhusus Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka senantiasa mendatangkan berbagai macam syubhat seputar Sunnah Nabawiyyah, dengan tujuan tasykik (membuat ragu) dan tasywih (pengkaburan) terhadap para pembawa Sunnah Rasulullah.

Di antara para tokoh zindiq yang masyhur adalah Mahmud Abu Rayyah dengan kitab sesatnya Adhwaa` ‘alas Sunnah, Ahmad Amin dengan kitab sesatnya Fajrul Islam dan Dhuhal Islam. Kemudian Muhammad Abduh, Sa’id Hawwa`, Muhammad Al-Ghazali Al-Mishri dari kalangan Al-Ikhwanul Muslimun. Atau seperti Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi dan Ali ‘Umar Al-Habsyi dari kalangan Syi’ah Rafidhah. Atau yang melangkah bersama dalam Paramadina atau JIL (lebih tepat bila istilah ini singkatan dari: Jamaah Iblis La’natullah ‘alaihim) dan yang lainnya.

Namun tidaklah mereka menyemburkan kesesatan melainkan di kalangan umat ini akan selalu ada dari kalangan para ahli ilmu yang senantiasa bangkit untuk menyingkap kesesatan dan kerancuan pemikiran mereka.

Di antara syubhat terbesar mereka dalam meragukan Islam dan para pembawanya adalah: Gugatan terhadap berbagai riwayat (hadits dari) Abu Hurairah. Berbagai tuduhan mereka lontarkan atas pribadi beliau, yang berujung pada kesimpulan bahwa Abu Hurairah telah banyak mendustakan hadits Rasulullah. Bahkan Syarafuddin Ar-Rafidhi sampai pada kesimpulan kafirnya Abu Hurairah dan bahwa beliau termasuk penduduk an-naar (neraka) berdasarkan berita dari Rasulullah -semoga Allah memberikan balasan yang setimpal atas kejahatan mereka-.

Berikut, adalah biografi singkat Abu Hurairah, pujian Rasulullah terhadapnya dan menjawab beberapa syubhat seputar beliau, wallahul muwaffiq.

Nama dan Kunyah (sebutan/panggilan) Abu Hurairah

Nama beliau di zaman jahiliyah adalah Abdusy Syams yang artinya hamba matahari, sebagaimana Al-Imam Al-Bukhari menyebut beliau dengan nama ini. Dan ini yang shahih menurut At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muslim bin Hajjaj, Yahya bin Ma’in, Abu Bakar Asy-Syaibani, dan yang lainnya. (Al-Mustadrak, 3/581, At-Tarikh Al-Kabir, 3/132, Jami’ At-Tirmidzi, 1/13, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 7/21/33535, Al-Kuna wal Asma`, Muslim bin Hajjaj, 1/889, Al-Isti’ab, Ibnu Abdil Barr, 4/1768)

Adapun setelah beliau masuk Islam, maka Rasulullah mengganti nama beliau dan memberi kunyah kepadanya. Sebab tidak diperbolehkan seseorang memiliki nama yang bermakna penghambaan kepada selain Allah. (lihat Tahdzib At-Tahdzib, Ibnu Hajar no. 10353)

Nama beliau diperselisihkan hingga mencapai tiga puluh pendapat. Sebab, sejak masuk Islam, beliau selalu dipanggil dengan kunyah-nya yang menyebabkan nama aslinya tidak pernah digunakan sebagai nama panggilannya. Perselisihan dalam menetapkan nama tersebut kebanyakan disebabkan karena kekeliruan dari para perawi yang menyebabkan adanya tashif atau tahrif (perubahan). Adapun perselisihan yang cukup kuat dilihat dari sisi keotentikan riwayat, maka ada tiga nama yaitu: ‘Umair, Abdullah, dan Abdurrahman. (Al-Ishabah, Ibnu Hajar, 4/204, As Sunnah wa Makanatuha, As-Siba’i, hal. 321)

Banyak dari kalangan ulama menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa nama beliau adalah Abdurrahman atau Abdullah. Nama ini yang dishahihkan Al-Hakim, Al-Hakim Abu Ahmad, An-Nawawi, dan Ibnu Abdil Barr. Beliau berkata: “Yang menenangkan hati adalah bahwa beliau bernama Abdurrahman atau Abdullah.” Dan ini pula yang dikuatkan oleh Muhammad bin Ishaq. (Al-Mustadrak, 3/507, Subulus Salam: 1/14, Difa’ ‘an Abi Hurairah, hal. 17, Al-I’lam, Ibnul Mulaqqin, 1/209)

Beliau masyhur dengan panggilan kunyah-nya Abu Hurairah. Hurairah artinya kucing betina kecil. Beliau berkata: “Mereka memberi kunyah kepadaku dengan Abu Hurairah, sebab dahulu aku memelihara kambing milik keluargaku. Aku menemukan anak-anak kucing yang liar lalu kutaruh di dalam lengan bajuku. Maka tatkala aku kembali, mereka mendengar suara kucing dari balik pinggangku. Mereka bertanya: ‘Apa ini wahai Abdus Syams?’ Aku menjawab: ‘Anak-anak kucing yang aku temukan.’ Mereka pun berkata: ‘Engkau adalah Abu Hurairah.’ Maka mereka pun senantiasa menyebutku demikian.” (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3/506)

Adapun Rasulullah memanggil beliau dengan “Abu Hirr.” Beliau ( Abu Hurairah) berkata: “Sedangkan yang lain memanggilku Abu Hurairah.” (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3/506)

Abu Hurairah berasal dari daerah Daus, Yaman dari keturunan Daus bin Adatsan. Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa beliau memiliki kemuliaan dan kedudukan di kalangan kaumnya, sehingga mereka senang Abu Hurairah termasuk dari suku mereka.

Beliau menjadi shahabat Rasulullah selama empat tahun atau lebih. Ini karena beliau datang pada tahun ketujuh, bertepatan terjadinya perang Khaibar, tepatnya pada bulan Shafar. Rasulullah meninggal pada bulan Rabi’ul Awal tahun 11 H. Oleh karena itu Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari menyatakan: “Aku telah bertemu seseorang yang menemani Rasulullah sebagaimana Abu Hurairah menemaninya yaitu empat tahun.” (Riwayat Ahmad, 4/111, Abu Dawud, 1/19, An-Nasa`i: 1/130)

Namun Abu Hurairah sendiri menegaskan, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, bahwa beliau menemani Rasulullah selama tiga tahun. (Shahih Al-Bukhari, 6/3591, bersama Al-Fath)

Ada kemungkinan hal ini disebabkan karena beliau tidak menghitung safarnya menuju Bahrain pada tahun 8 H bersama Al-’Ala` Al-Hadhrami yang memimpin perjalanan menuju Bahrain. (lihat Difa’an Abi Hurairah, hal. 26. Lihat pula sebab yang lain yang disebutkan Al-Hafizh dalam Fathul Bari, 6/407)

Keutamaan Abu Hurairah

Abu Hurairah termasuk dalam shahabat Nabi, sehingga nash-nash yang terdapat di dalam Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah yang menyebutkan tentang keutamaan para shahabat Nabi, maka beliau termasuk di dalamnya. Namun berikut ini akan kami sebutkan keutamaan beliau secara khusus yang disebutkan oleh Rasulullah. Di antaranya:

a. Doa Rasulullah terhadap suku Daus

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi dan para shahabatnya datang kepada Nabi, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah berpaling dan enggan (menjawab panggilan Islam), maka doakanlah kebinasaan atas mereka.” Ada yang berkata: “Telah binasa Suku Daus.” Maka Rasulullah pun berdoa:

“Ya Allah, tunjukilah suku Daus dan datangkanlah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah yang walaupun pada saat itu telah menjadi seorang mukmin, namun beliau termasuk dalam keumuman doa tersebut. Sebab di antara makna permohonan hidayah adalah istiqamah di atasnya bagi yang telah muslim dan permohonan masuk ke dalam Islam bagi yang belum menjadi seorang muslim. (lihat Difa’ an Abi Hurairah, hal. 32)

b. Abu Hurairah termasuk Ahlus Shuffah

Ash-Shuffah merupakan tempat yang diberi naungan di masjid Nabi. Abu Hurairah termasuk dari shahabat yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggalnya. Bahkan beliau shahabat yang paling masyhur yang ada di tempat tersebut dan beliau tetap tinggal di sana selama masa hidup Nabi.

Ahlush Shuffah senantiasa menunaikan kewajiban-kewajiban yang sangat mulia, di antaranya mempelajari Al Qur`an dan As Sunnah, menjaga Nabi, bersiaga untuk melaksanakan perintah dan kebutuhan beliau. Mereka senantiasa menegakkan kewajiban ini sehingga mereka dinafkahi oleh seluruh kaum muslimin walaupun dengan nama shadaqah.

Dengan inilah Abu Hurairah termasuk yang mendapatkan keutamaan sebagai Ahlus Shuffah. Allah berfirman berkenaan tentang mereka:

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang yang fakir yang mengikat diri-diri mereka (untuk berjihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di muka bumi (mencari nafkah).” (Al-Baqarah: 273)

Para mufassirin (ahli tafsir) menafsirkan ayat ini berkenaan tentang Ahlus Shuffah, di antaranya adalah Mujahid, As-Suddi, dan yang lainnya. (lihat Tafsir Ath-Thabari, 3/96)

Oleh karenanya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyabarkan dirinya bersama mereka. Firman-Nya:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28) (lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/390-391)

c. Abu Hurairah seorang mujahid

Memang benar bahwa Abu Hurairah tidak mengikuti peperangan di awal hijrah Rasulullah. Hal ini disebabkan karena beliau termasuk orang yang belakangan menjadi seorang muslim. Namun setelah beliau muslim, maka beliau tidak meninggalkan satu pun peperangan di masa hidupnya bersama Rasulullah. Dimulai dari perang Khaibar, hadirnya beliau pada ‘Umratul Qadha`, perang Dzatur Riqa’, pengusiran sebagian kaum Yahudi dari Madinah, Fathu Makkah, Perang Hunain, Perang Tha`if, Perang Tabuk, dan Perang Mu`tah. Kemudian ikut bersama kaum muslimin dalam memerangi orang-orang yang murtad setelah meninggalnya Rasulullah di zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan beliau juga ikut Perang Yarmuk, Armenia, dan arah Jurjan. Hal ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam perjuangannya menegakkan agama Allah. (lihat secara terperinci jihad beliau dalam kitab Difa’ ‘an Abi Hurairah, Abdul Mun’im, hal, 46-55)

Sebab Abu Hurairah Menghafal Banyak Hadits Rasulullah

Abu Hurairah di zaman Rasulullah menghabiskan masa hidupnya untuk Islam dan memelihara warisan Rasulullah berupa ilmu hadits. Sehingga suatu hal yang wajar bila beliau menjadi shahabat yang paling banyak menghafal hadits Rasulullah. Abu Hurairah berkata:

“Aku telah menemani Rasulullah selama tiga tahun, aku tidak lebih semangat untuk sesuatu daripada menghafal (hadits) pada masa itu.” (Musnad Al-Humaidi, 2/455; Musnad Ahmad, 15/144)

Beliau juga berkata:

“Tidak seorang pun dari shahabat Nabi yang lebih banyak haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amr, karena beliau menulis sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Al-Bukhari, 1/38)

Namun hadits yang sampai kepada kita tidak sebanyak apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebabkan beberapa hal. Di antaranya yakni kesibukan Abdullah bin ‘Amr lebih banyak daripada mengajar, sehingga lebih sedikit orang yang meriwayatkan dari beliau. Ditambah dengan adanya doa Rasulullah kepada Abu Hurairah yang menyebabkan beliau tidak melupakan hadits Rasulullah yang telah beliau hafal. (lihat perincian hal ini dalam kitab Difa’ ‘an Abi Hurairah hal. 70)

Tidaklah mengherankan jika seseorang yang mengkhususkan dirinya dalam mengumpulkan ilmu hadits seperti Abu Hurairah, mampu mengumpulkan lebih banyak riwayat dalam waktu singkat dibandingkan seseorang yang lebih lama bersama Rasulullah namun tidak mengkhususkan dirinya untuk itu. Ditambah lagi doa Rasulullah kepada beliau yang menyebabkan beliau tidak melupakan apa yang telah diberitakan. Abu Hurairah berkata:

“Sesungguhnya orang-orang berkata: Abu Hurairah telah banyak meriwayatkan hadits. Kalau bukan karena dua ayat dalam kitab Allah, niscaya aku tidak akan memberitakan kepada kalian satupun hadits. Lalu beliau membaca firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 158-159)

Sesungguhnya saudara-saudara kami dari Muhajirin disibukkan dengan perdagangan dan saudara-saudara kami dari Anshar disibukkan mengurusi harta benda mereka. Sedangkan Abu Hurairah senantiasa bersama Rasulullah n dan mencukupkan diri dengan kebutuhan pokoknya, menghadiri apa yang tidak mereka hadiri dan dia menghafal apa yang mereka tidak hafal.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-’Ilm, 1/118. Dan diriwayatkan dengan lafadz lain, lihat Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar, 1/259)

Karena banyaknya yang beliau hafal, sehingga suatu ketika beliau mengeluhkan hal tersebut kepada Rasulullah. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar darimu banyak hadits yang saya melupakannya.” Maka Rasulullah berkata: “Bentangkan selendangmu.” Maka akupun membentangkannya. Rasulullah kemudian menimba sesuatu dengan kedua tangannya, lalu berkata: “Dekaplah.” Akupun mendekapnya. Maka aku tidak lagi melupakan satupun hadits setelahnya. (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-’Ilm, 1/119)

Hal ini menunjukkan kelebihan yang dimiliki oleh Abu Hurairah. Semangat, kesungguhan, kelebihan dalam menghafal berkat doa Rasululah, memfokuskan diri bersama Rasulullah, semua ini menjadikan beliau mengungguli seluruh para shahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Itulah keutamaan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Namun bagi orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka tidak akan mau menerima semua dalil walaupun telah diberikan kepada mereka seribu satu hujjah. Allahumma’shimnaa minal bid’ah wal fitan.

Bagi yang ingin membaca secara lebih luas seputar pembelaan terhadap Abu Hurairah, silahkan merujuk kitab-kitab berikut ini:

a. Difa’ ‘an Abi Hurairah, Abdul Mun’im Shalih Al-’Ali.

b. As Sunnah, wa Makaanatuha fit Tasyri’ Al-Islami, oleh Dr. Musthafa As-Siba’i, yang berisi bantahan terhadap Abu Rayyah dan syubhat-syubhatnya.

c. Al-Anwar Al-Kasyifah, Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi, menjawab syubhat-syubhat Abu Rayyah.

d. Difa’ ‘anis Sunnah, Muhammad Abu Syahbah, menjawab syubhat para orientalis.

e. Zawabi’ fi Wajhis Sunnah, Shalahuddin Maqbul Ahmad.

f Al-Burhan fi Tabri`ah Abi Hurairah minal Buhtan, Abdullah bin Abdil Aziz bin Ali An-Nashir yang berisi bantahan khusus terhadap kitab tulisan seorang Rafidhi Khabits Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi, yang mencerca Abu Hurairah dalam kitab khusus, yang kemudian diterjemahkan oleh penerbit Syi’ah Pustaka Az-Zahra dengan judul Menggugat Abu Hurairah, yang dipolesi dengan berbagai kedustaan yang terselubung. Semoga Allah membalas yang setimpal dengan kejahatan mereka.

Amiin Ya Mujibas Sa`ilin.

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-utama/36-kajian-utama-edisi-17/1062-abu-hurairah-digugat-kajian-utama-edisi-17.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Lainnya, Tokoh dan Sejarah Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s