Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah


Satu di antara sekian hal yang selalu dipertentangkan antara ahli tauhid dan musuh-musuhnya adalah syafaat. Karena, dengan berlindung di balik kata syafaat inilah, para penentang tauhid berupaya melanggengkan amalan-amalan kesyirikan yang justru tengah dan terus diupayakan untuk diberantas oleh para ahli tauhid.

Paham yang Berbahaya

Upaya “mempertahankan ajaran-ajaran nenek moyang” masih berlangsung di sekitar kita. Bahkan kian meruak dan menjadi-jadi, seakan-akan hal itu telah menjadi sumber kebenaran dan tidak ada salahnya. Hari demi hari, kaum muslimin ditarik menuju keterbelakangan dan kehinaan yang akan berujung pada “mengembalikan dinasti Fir’aunisme”, yaitu dinasti pengkultusan terhadap insani yang lemah dan serba kekurangan menjadi sesembahan selain Allah, keangkuhan dan kesombongan, kejahilan dan kedzaliman.

Bermunculannya orang-orang angkuh di hadapan kebenaran dan tidak mau tahu tentangnya, merupakan hasil peneluran paham ajaran nenek moyang yang sudah menetas dan berkembang pada sebagian kaum muslimin. Sehingga tidak heran jika ada orang-orang yang sangat sulit menerima kebenaran, sekalipun hujjah di hadapannya laksana malam bagaikan siang, yakni telah jelas dengan sejelas-jelasnya. Padahal Allah mengatakan di dalam firman-Nya:

“Ikutilah segala apa yang diturunkan dari Rabb kalian, dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya sebagai penolong. Dan amatlah sedikit dari kalian yang mau mengambil pelajaran.” (Al-A’raf: 3)

Seruan untuk kembali mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah, mereka tangkal dengan ucapan “Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” Apa yang mereka inginkan dari ucapan tersebut, sementara sebagian mereka mengetahui keadaan agama nenek moyang mereka yang sesungguhnya?

Tidak ada tujuan mereka selain menolak kebenaran dan menghalangi orang lain dari jalan Allah. Ucapan mereka ini telah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur`an, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka ikutilah apa-apa yang telah diturunkan kepada kalian oleh Rabb kalian, mereka menjawab: ‘Bahkan yang kami ikuti adalah apa yang kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami,’ sekalipun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui dan tidak mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah: 170)

Apakah mereka akan mengakhiri perjalanan hidup mereka sebagaimana Fir’aun, yang mengaku beriman dan mengakui kebenaran setelah dia tidak berdaya dan ajal berada di tenggorokan? Tentu bukan itu harapan kita semua. Yang kita harapkan adalah agar kaum muslimin berada di atas bashirah (ilmu) dalam menjalankan syariat agama, sehingga tidak menjadi mangsa pembodohan oleh orang-orang bodoh dan menjadi bebek dari dinasti kejahiliyahan.

Oleh karena itu, memerangi paham “mempertahankan ajaran nenek moyang” merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Hal itu dilaksanakan dengan mengembalikan syi’ar dakwah Rasulullah n dan meninggalkan segala paham yang menyelisihi syariatnya. Karena kewajiban ini juga merupakan wujud cinta kita kepada segenap kaum muslimin, maka kita harus menyingkirkan kerancuan semacam ini:

“Demi terjaganya ukhuwwah Islamiyah, kita jangan menimbulkan gesekan di masyarakat dalam bentuk apapun.”

Sungguh, pemahaman ini sangat ber-bahaya bila didalami dan dicermati dengan kaca mata ilmu. Dan hanya akan menjadi indah bila dipahami dengan kaca mata akal yang sudah rusak dan dzauq (perasaan) yang sudah mati karena kejumudan dalam taqlid. Ini adalah konsep Iblis yang ditebarkan oleh kaum sufiyah modern yaitu Jama’atut Tabligh wad Da’wah. Juga seper-ti konsep Ikhwanul Muslimin dalam amal dakwah mereka. Prinsip ini mengharuskan setiap orang untuk diam dari menyuarakan kebenaran, terlebih kebenaran itu akan menimbulkan friksi dan tidak mengun-tungkan “dakwah”. Diakui atau tidak, demikianlah hakikat dakwah mereka di masyarakat.

Dan konsep Iblis ini dibungkus dengan bahasa Islami yaitu demi ukhuwwah. Apakah demikian definisi ukhuwwah dalam pandangan Al-Qur`an dan As-Sunnah? Sementara Al-Qur`an dinamakan Al-Furqan (pembeda) karena Al-Qur`an memisahkan antara yang haq dan yang batil berikut pengikut keduanya, antara syirik dan tauhid berikut pengikut keduanya, antara sunnah dan bid’ah berikut pengikut keduanya, dan antara hidayah dan kesesatan, berikut pemilik keduanya.

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kalian mengambil kepu-tusan?” (Al-Qalam: 35-36)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28)

Dan konsep iblis ini sangat batil, dilihat dari beberapa sisi:

a. Merupakan sunnatullah bahwa perjalanan dakwah yang haq akan men-dapatkan perlawanan sengit dari kebatilan dan pelakunya, yang berawal sejak keberadaan bapak manusia yaitu Nabi Adam sampai akhir jaman. Pertempuran antara ahli kebatilan dan kebenaran tidak akan pupus selama kehidupan masih ada di dunia ini. Allah telah menceritakan dalam kitab-Nya tentang perjalanan dakwah Nabi Nuh sebagai rasul yang pertama, yang mendapatkan penentangan hebat dari istri dan kaumnya, Nabi Ibrahim dari ayah dan kaumnya, Nabi Luth dari istri dan kaumnya, Nabi Hud dari kaum‘Ad, Nabi Shalih dari kaumnya Tsamud, Nabi Syu’aib dari kaumnya Madyan, Nabi Musa dan ‘Isa dari kaumnya Bani Israil, dan Rasulullah dari keluarga dan umat beliau. Allah menjelaskan sunnah ini di dalam firman-Nya:

“Dan demikianlah kami menjadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu (musuh) dari kalangan setan manusia dan jin, yang sebagiannya membisikkan kepada sebagian yang lain (dengan) ucapan yang dihiasi dengan penuh penipuan.” (Al-An’am: 112)

“Demikianlah kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi dari para pelaku maksiat, dan cukuplah Rabbmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (Al-Furqan: 31)

As-Sa’di menjelaskan dalam tafsir beliau: “(Sebagai sebuah penghibur bagi Rasul-Nya Muhammad), Allah berfirman: ‘Sebagaimana Kami telah menjadikan bagimu musuh-musuh yang akan membantah, memerangi dan hasad terhadap dakwahmu (maka) inilah sunnah Kami, yaitu menjadikan musuh-musuh bagi setiap nabi yang Kami utus dari kalangan setan manusia dan jin yang akan melawan segala apa yang dibawa oleh para rasul’.” (lihat Taisirul Karimirrahman, hal. 232)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan: “Termasuk hikmah Allah yaitu, tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan Dia menjadikan musuh dari kalangan manusia dan jin bagi mereka. Hal itu untuk membuktikan bahwa dengan adanya musuh, kebenaran itu akan terbersihkan (dari kebatilan, -pen.) dan kebenaran itu akan menjadi jelas. Karena dengan adanya lawan dari setiap perkara (misal: syirik dengan tauhid, kemaksiatan dengan ketaatan, -red.) tentu akan menguatkan hujjah yang lain. Apabila sesuatu itu berjalan polos (tanpa ada yang menentang, -pen.) tidaklah akan menjadi jelas (dibandingkan) bila padanya ada penentangan, sampai akhirnya kebenaran itu melumatkan kebatilan dan menjadi terang-benderang. Dan sunnah yang menimpa para nabi juga telah menimpa segenap pengikut mereka.” (Syarah Kasyfus Syubhat, hal. 23)

Apakah setelah semuanya ini mereka akan berusaha untuk menghilangkan sunnatullah, atau menyembunyikannya di balik layar ‘demi ukhuwwah’?

b. Prinsip di atas akan menghan-curkan prinsip dasar di dalam agama, yaitu prinsip ingkarul mungkar (mengingkari kemungkaran dan pelakunya). Ini adalah sebuah fenomena kebatilan di atas kebatilan, yang dikemas dengan rapi dalam peti Iblis: ‘demi ukhuwwah Islamiyah’. Prinsip ingkarul mungkar telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya:

“Dan hendaklah ada sekelompok orang dari kalian yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.” (Ali ‘Imran: 104)

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemung-karan.” (Ali ‘Imran: 110)

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Dan bila dia tidak sanggup, hendaklah dia mengubahnya dengan lisannya. Dan bila dia tidak sanggup maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”

Di atas prinsip inilah, Islam diturunkan oleh Allah. Adapun jika Islam di atas prinsip batil di atas, niscaya:

1. Tidak akan terang dan jelas kebenaran dan kebatilan, sampai sekarang ini.

2. Tidak akan ada amanat jihad melawan ahli kebatilan.

3. Tidak ada perintah ingkarul mungkar.

4. Tidak ada hak dan batil di dalam Islam, sehingga pada akhirnya semua agama adalah sama.

Ibnu Syubrumah mengatakan: “Menyeru kepada yang ma’ruf dan men-cegah dari kemungkaran sama dengan jihad. Dan setiap orang wajib bersabar dari dua orang yang akan mengganggu, tidak boleh lari dari keduanya dan tidak boleh bersabar lebih dari itu (diam). Meskipun dia takut terhadap caci makian atau dia takut mendengar ucapan yang jelek, (tetap) tidak akan gugur kewajiban ingkarul mungkar sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Ahmad. Dan bila dia menanggung beban gangguan dan dia tetap kokoh menghadapinya, maka itu adalah lebih utama.” (lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 436)

Ibnu Rajab mengatakan: “Keta-huilah bahwa menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran terkadang dilakukan karena mengharapkan pahala dari Allah. Terkadang dilakukan karena takut dari adzab Allah bila meninggalkannya. Terkadang karena marah ketika keharaman Allah dilanggar. Terkadang bertujuan menasehati kaum mukminin, kasih sayang kepada mereka dan berharap agar mereka terbebaskan dari perkara yang menjatuhkan mereka pada murka Allah baik di dunia ataupun di akhirat. Terkadang dilakukan sebagai satu bentuk pengagungan, pemulia-an dan kecintaan kepada Allah, di mana Allah harus ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dasn tidak dikufuri, dan agar setiap orang menebus dosa-dosa yang pernah dilakukan dengan jiwa dan harta.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 440)

Apakah mereka akan membangun sebuah prinsip batil lalu menumbangkan prinsip yang asasi di dalam agama? Tentu ini adalah sebuah kebatilan yang harus diingkari dan diperangi.

Di antara kemungkaran besar dari sekian kemungkaran yang melanda kaum muslimin adalah meminta syafaat kepada selain Allah.

Hakikat Syafaat

Ibnul Atsir menjelaskan: “Dan tentang syafaat, telah disebutkan berulang-ulang di dalam banyak hadits, baik yang berkaitan dengan urusan-urusan dunia ataupun akhirat. (Yang dimaksud dengan syafaat) yaitu: Meminta agar dimaafkan dari segala dosa dan kesalahan di antara mereka. Juga dikatakan:

Al-Musyaffi’ artinya orang yang menerima syafaat, dan al-musyaffa’ artinya orang yang diterima syafaatnya.” (An-Nihayah, 2/485)

Gambaran makna yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir ini menjadi jelas dengan hadits yang mauquf pada Az-Zubair bin Al-‘Awwam, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafa’ah (hal.13):

“Apabila telah sampai hukuman penguasa (terhadap seseorang) maka Allah melaknat orang yang memberi syafaat (pembelaan) dan orang yang menerima syafaat.”

Asy-Syaikh Muqbil (Asy-Syafa’ah, hal. 13) menukilkan dari kitab Al-Qamus dan Taajul ‘Arus: “Asy-Syafii’ artinya pemilik syafaat. Bentuk jamaknya adalah syufa’aa` yaitu orang yang meminta orang lain untuk membela apa yang diinginkannya.”

Dalil-dalil tentang Syafaat

Permasalahan syafaat diakui adanya, bahkan oleh orang-orang kafir sekalipun. Bahkan mereka berusaha untuk merebut syafaat di sisi Allah dengan cara batil yaitu memintanya kepada selain Allah. Mereka mengharapkan syafaat dari tuhan-tuhan yang mereka sembah. Allah telah menjelaskan tujuan mereka mendekatkan diri kepada sesembahan selain Allah, yang tidak berakal dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal mereka meyakini bahwa yang meciptakan, memberi rizki, menghi-dupkan, mematikan, mendatangkan man-faat, menolak mudharat dan sebagainya adalah Allah. Dua tujuan tersebut adalah:

Pertama: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

“Tidaklah kami menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Kedua: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu memberikan pembelaan di hadapan Allah. Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya:

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

Di dalam Al-Qur`an disebutkan pembagian syafaat, yaitu syafaat yang mutsbatah (yang ditetapkan) dan yang manfiyyah (ditiadakan). Penetapan dan peniadaan itu terkait dengan syafaat itu sendiri atau dengan orang yang akan memberikan syafaat. Kita akan menukilkan beberapa di antaranya:

1. Ayat-ayat yang menafikan (meniadakan) syafaat dan pemberinya.

Firman Allah:

“Dan jagalah dirimu dari (adzab) pada hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun, dan tidak diterima syafaat dan tebusan darinya dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)

“Mengapa aku akan menyembah sesembahan selain-Nya, jika (Allah I) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak akan memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyela-matkanku.” (Yasin: 23)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-An’am ayat 51 dan 70, Yunus ayat 18, Asy-Syu’ara‘ ayat 100-102, As-Sajdah ayat 4, Az-Zumar ayat 43-44, dan Ghafir ayat 18.

2. Ayat-ayat yang menetapkan syafaat dan pemberinya.

“Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seidzin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

“Tidak ada seorangpun yang akan memberikan syafaat melainkan dengan seizin-Nya.” (Yunus: 3)

“Dan berapa banyaknya malaikat yang ada di langit, syafaat mereka sedikipun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-Anbiya` ayat 26-28, Thaha ayat 105-109, Az-Zukhruf ayat 86.

Cara men-jama’ (mengkompromi-kan) kedua macam ayat di atas adalah sebagai berikut:

Pertama: Sesungguhnya syafaat yang dinafikan oleh Allah adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah, sebagai-mana firman Allah:

“Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44)

Kedua: Adapun syafaat yang kebera-daannya ditetapkan oleh Allah I yaitu syafaat yang memenuhi beberapa syarat:

1. Kemampuan orang yang akan memberikan syafaat, sebagaimana firman Allah ketika menjelaskan ketidak-sanggupan orang-orang yang dimintai syafaat:

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudaratan bagi mereka dan tidak pula manfaat. Dan mereka mengatakan: ‘Mereka adalah para pensyafaat kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

“Dan tidaklah orang-orang yang mereka seru selain Allah memiliki syafaat akan tetapi (orang yang akan bisa memberi syafaat adalah) orang yang mengakui hak (tauhid) dan meyakini-(nya).” (Az-Zukhruf: 86)

Dari kedua ayat di atas diketahui bahwa syafaat yang diminta dari orang yang telah mati adalah permintaan kepada mereka yang tidak memilikinya.

2. Yang akan diberikan syafaat adalah muslim yang bertauhid.

Allah berfirman:

“Orang-orang yang dzalim tidak memiliki teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

Yang dimaksud dengan orang dzalim di sini adalah orang kafir, dengan dalil hadits mutawatir tentang adanya syafaat bagi pelaku dosa besar. Al-Imam Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman (1/205) menjelaskan: “Orang-orang dzalim yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir. Dan hal ini dikuatkan oleh awal ayat yang menjelaskan tentang orang kafir.”

Ibnu Katsir menjelaskan: “Artinya, tidaklah orang-orang yang mendzalimi dirinya dengan kesyirikan kepada Allah akan mendapatkan manfaat dari teman dekat mereka, dan tidak pula ada seorang penolong yang akan memberikan pembela-an. Sungguh telah terputus segala hubungan dekat dari segala kebaikan.”

Dikecualikan dari semuanya itu adalah Abu Thalib, paman Rasulullah. Sesung-guhnya Rasulullah memberikan syafaat kepadanya sehingga dia berada di bagian atas (bagian yang teringan, -red.) api neraka.

3. Ada izin bagi pemberi syafaat.

Sebagaimana firman Allah:

“Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

4. Yang akan mendapatkan syafaat adalah yang diridhai oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah:

“Dan berapa banyaknya malaikat yang ada di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)[1]

Adapun dalil-dalil dari Sunnah Rasulullah sangatlah banyak, dan cukup kita menukilkan beberapa di antaranya:

1. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah bersabda:

“Aku adalah sayyid (pimpinan) anak Adam pada hari kiamat dan orang yang pertama kali dibangkitkan dari kuburnya, dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan yang diberikan hak syafaat.”[2]

2. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah, tentang firman Allah:

“Semoga Allah membangkitkan kamu (Rasulullah) pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra`: 79)

Rasulullah ditanya tentang ayat ini, beliau pun menjawab:

“Itulah syafaat.”[3]

3. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda:

“Aku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku: Aku diberi kemenangan dengan takutnya musuh dari jarak satu bulan perjalanan; dijadikan bumi sebagai masjid (tempat shalat) dan alat bersuci, sehingga di mana saja seseorang dijumpai (oleh waktu) shalat maka hendaklah dia shalat; dihalalkan bagiku memakan harta ghanimah yang tidak dihalalkan (kepada seorang nabi pun) sebelumku; aku diberikan syafaat; dan nabi-nabi sebelumku diutus kepada kaumnya sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.”[4]

Para ulama memasukkan pemba-hasan ini dalam pembahasan aqidah dan orang-orang yang menyelewengkannya dengan menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga jatuh dalam syirik besar. Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan) permasalahan, bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak sebagian syafaat. Berdasarkan hal ini, para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

a. Al-Imam Ahmad mengatakan: “Beriman dengan syafaat Nabi dan beriman dengan adanya suatu kaum yang telah masuk neraka dan telah terbakar serta menjadi arang, kemudian mereka diperintah menuju sebuah sungai yang berada di pintu surga –seperti disebutkan dalam riwayat tentang hal ini– dan (kita imani) bagaimana dan kapan terjadinya. Terhadap yang demi-kian kita hanya beriman dan mempercayai.” (Ushulus Sunnah Lil Imam Ahmad hal. 32)

b. Abu Ja’far Ath-Thahawi mengatakan: “Dan syafaat yang dipersiap-kan untuk mereka kelak adalah haq (benar adanya), sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits.” (Lihat matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, masalah ke-41)

c. Abu ‘Utsman Isma’il bin Abdur-rahman Ash-Shabuni berkata: “Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafaat Rasulullah bagi pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid dan pelaku dosa besar (lainnya), sebagaimana telah diberitakan Rasulullah dalam hadits yang shahih.” (Lihat ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 76)

d. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan: “Nabi kita Muhammad akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Dan para nabi, orang-orang yang beriman serta malaikat akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah berfirman:

“Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (Al-Anbiya`: 28)

Adapun orang-orang kafir, tidak akan bisa merasakan syafaat orang yang memberi syafaat.” (Syarah Lum’atil I’tiqad, hal. 128)

Para ulama Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah akan memberikan syafaat bagi seluruh umat pada hari kiamat nanti, sebagai syafaat yang menyeluruh. Dan bahwa beliau akan memberikan syafaat bagi pelaku dosa dari umat beliau sehingga mengeluarkan mereka setelah menjadi arang. (Lihat ‘Aqa`id A`immatis Salaf, hal. 113)

Mengapa ketika berbicara tentang syafaat, para ulama menitikberatkan pembahasan pada masalah syafaat bagi pelaku dosa besar?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin telah menjawabnya dengan mengatakan: “Ibnu Katsir dan pensyarah kitab Ath-Thaha-wiyyah mengatakan: ‘Maksud ulama salaf meringkas pembahasannya dalam masalah syafaat hanya kepada pelaku dosa besar adalah sebagai bantahan terhadap Khawarij dan kalangan Mu’tazilah yang mengikuti konsep mereka (karena dua kelompok ini mengingkari syafaat tersebut, ed)’.” (Syarah Lum’atil I’tiqad hal. 129)

Milik Siapakah Syafaat?

Syafaat adalah milik Allah semata, dan semua urusannya kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan dan memberikannya. Allah berfirman:

“Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44)

Ibnul Jauzi dalam tafsirnya mengatakan: “Seseorang tidak akan sanggup memilikinya melainkan dengan kehendak-Nya. Dan seseorang tidak akan bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin-Nya.” (Zadul Masir hal. 1232)

Berdasarkan hal ini, maka meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupa-kan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah akan terhalangi untuk mendapatkannya kelak di sisi Allah. Karena orang yang akan mendapatkannya adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan mereka yang diridhai.

Apakah Hamba akan Bisa Memberikan Syafaat?

Telah dijelaskan Rasulullah dalam Sunnahnya bahwa selain Allah bisa memberikannya, namun tetap tidak terlepas dari kehendak Allah dan harus terpenuhi syaratnya. Mereka adalah para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, dan anak-anak terhadap kedua orang tuanya.

Rasulullah bersabda:

“Allah berfirman: Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan mem-berikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Allah.”[5]

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya dari umatku ada orang yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Dan di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah qabilah. Dan di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-’ushbah[6]. Dan di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.”[7]

Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditinggal tiga anaknya yang mati belum baligh melainkan Allah akan masukkan dia ke dalam surga dengan keutamaan rahmat-Nya kepada mereka.” [8]

Dan semua hadits yang menjelaskan tentang syafaat memperkuat bahwa di antara hamba-hamba Allah ada yang akan memberikan syafaat di sisi-Nya.

Syarat untuk Mendapatkan Syafaat Allah

Syafaat merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap hamba ketika mengha-dapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia jatuh dalam kesyirikan, yakni dengan memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak menge-tahui bahwa perbuatan yang mereka laku-kan itu justru akan menghalanginya menda-patkan syafaat.

Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

Pertama: Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah. Tanpa izin-Nya, tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah berfirman:

“Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat makhluk kepada yang lain yang bisa diberikan meskipun tidak diizinkan.

Kedua: Orang yang akan menda-patkan syafaat adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan namun meridhai keimanan dan ketauhidan.

Allah berfirman:

“Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (Al-Anbiya`: 28)

“Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

Dan Allah telah menghimpun kedua syarat ini di dalam firman-Nya:

“Dan berapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36) [lihat Syarah Aqidah Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21, Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/437, Kasyfus Syubhat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 154, Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 130]

Manusia dan Syafaat

Dalam permasalahan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) di dalam menetapkan adanya syafaat sehingga mereka memintanya dari orang-orang yang telah mati, kuburan, patung-patung, batu-batu, dan pepohonan. Allah berfirman:

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

2. Kaum yang berlebihan di dalam menafikan syafaat seperti halnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar. Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. Kaum yang berada di tengah-tengah, yang menetapkan adanya syafaat sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan: “Manusia dalam permasalahan syafaat ada tiga (golongan) pendapat:

(Pertama): Musyrikin, Nasrani, dan Sufiyyah yang ghuluw terhadap guru-guru mereka dan selainnya. Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.[9]

(Kedua): Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi kita dan selainnya, terhadap pelaku dosa besar.

(Ketiga): Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah dan selain beliau terhadap pelaku dosa besar, dan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin Allah. (Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 235)

Macam-Macam Syafaat

Telah dibahas oleh para ulama bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

Pertama: Syafaat Manfiyyah yaitu syafaat yang ditiadakan oleh Al-Qur`an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan: “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniada-kan dari selain-Nya, segala bentuk kepemi-likan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

Dan Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin dari Allah, sebagaimana firman Allah: “Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.” Syafaat jenis inilah yang disangka kaum musyrikin (bahwa mereka akan menda-patkannya). Padahal (mereka) tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat sebagaimana telah ditiadakan oleh Al-Qur`an.

Dan Rasulullah telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Dan beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat, kemudian dikatakan kepada beliau: “Angkat kepalamu dan katakanlah, maka akan didengar. Dan mintalah, akan diberi. Dan mintalah syafaat, kamu akan diberi-kan.” Abu Hurairah berkata: “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaat engkau?” Beliau bersabda: “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Itulah syafaat bagi orang-orang yang ikhlas dengan izin Allah dan tidak akan diberikan bagi orang yang menyekutukan Allah. Hakikatnya adalah Allah-lah yang akan memberikan keutamaan kepada orang-orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memulia-kannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji. Maka syafaat yang ditiadakan Al-Qur`an adalah syafaat mengandung kesyirikan. Oleh karena itu Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak tempat dan Rasulullah n telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapati melainkan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/116 dan Al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hal. 116-121)

Kedua: Syafaat mutsbatah yaitu syafaat yang keberadaannya ditetapkan Al-Qur`an bagi orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus.

1. Syafaat yang sifatnya khusus

Khusus artinya hanya dimiliki Rasulul-lah n dan tidak dimiliki oleh selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul.

a. Syafaat Al-‘Uzhma atau Al-Kubra yaitu syafaat kepada seluruh manusia di hari mahsyar, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah dan juga dari shahabat Anas bin Malik. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah) berlepas diri darinya dan tidak sanggup memberikannya kepada yang lain. Itulah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur`an. Tidak ada penentangan sedikitpun dalam masalah ini baik dari Khawarij ataupun Mu’tazilah

b. Syafaat beliau terhadap penduduk surga untuk masuk ke dalamnya. Karena, setelah mereka melewati Shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup dan mereka memin-ta siapa yang akan memberikan syafaat. Lalu Rasulullah meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid 1/426)

2. Syafaat yang sifatnya umum

Umum artinya syafaat yang dimiliki oleh Rasulullah dan selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul berikut kaum mukminin.

a. Syafaat bagi para pelaku maksiat dari kalangan umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.

b. Syafaat beliau bagi ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya. Hadits yang menjelaskan demikian adalah mutawatir dari Rasulullah. Dan sungguh para shahabat Rasulullah telah ijma’ (sepakat) terhadap hal itu, dan begitu pula seluruh Ahlus Sunnah. Dan setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan mereka disikapi dengan keras dan tegas. Di sinilah letak penentangan kaum Khawarij dan Mu’tazilah, dan kalangan ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

c. Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga. Dalam syafaat ini tidak ada penentangan sedikitpun baik dari Mu’tazilah atau Khawarij.

Namun yang jelas, semua jenis syafaat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’ (pembela). Allah berfirman:

“Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.” (Al-An’am: 51) [Lihat Fathul Majid hal. 244-252, Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izzi hal. 232, Al-Qaulul Mufid 1/426, ‘Aqa`id A`immatis Salaf hal.113]

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat, yang bila tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. Kedua syarat tersebut adalah: Pertama, orang tersebut harus diridhai Allah untuk mendapatkannya. Dan yang akan menda-patkan keridhaan adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid. Kedua, mendapat-kan izin Allah dan yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

Adapun syafaat di sisi manusia bisa dilakukan oleh siapapun juga baik ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di sisi makhluk. Dan syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada siapapun dari makhluk, bagaimanapun kedudukan dan tingkatannya, baik dia seorang malaikat, nabi ataukah kepada selain mereka seperti kepada wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

Syafaat di sisi makhluk kepada yang lain ada dua macam:

Pertama: Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam perkara-perkara yang baik dan bermanfaat serta yang diperbolehkan (mubah), dengan cara menjadikan sese-orang sebagai perantara untuk menyam-paikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Dan ini telah dijelaskan tentang kebolehannya di dalam Al-Qur`an. Firman Allah:

“Barangsiapa memberikan pembelaan yang baik maka dia akan mendapatkan bahagian (pahala) darinya.” (An-Nisa`: 85)

Sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah:

“Berikanlah pembelaan kalian (yang baik) kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya, apa yang dikehendaki-Nya.”[10]

Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan juga bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan mereka mendapatkan apa yang dicari, tanpa ada unsur mendzalimi dan melam-paui batas hak-hak orang lain.

Kedua: Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah. Seperti, syafaat dalam rangka menggugurkan hudud (hu-kuman) bagi orang yang berhak menerima-nya. Dan orang yang melakukan pembelaan seperti ini termasuk dalam orang-orang yang mendapatkan laknat dari Allah, sebagai-mana sabda Rasulullah:

“Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.”[11]

Termasuk juga dalam syafaat yang jelek adalah syafaat dalam mengambil hak orang lain kemudian diberikan kepada orang yang tidak berhak. Allah berfirman:

“Dan barangsiapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek maka dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.” (An-Nisa`: 85) [Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21]

Makna Hadits Abu Hurairah

Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah:

“Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?” Rasulullah bersabda: “Sung-guh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu da-lam mencari hadits.”

Beliau bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafa-atku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”[12]

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengata-kan: “Ucapan beliau: ‘Orang yang meng-ucapkan La ilaha illallah’ adalah untuk mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ mengecualikan orang-orang yang munafiq dalam mengucapkannya. (Lihat Fathul Bari 1/236)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan: “Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah… Dan (perkataan beliau: dengan penuh keikhlasan) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak menda-patkan syafaat sedikitpun… Dan ucapan Rasulullah ‘dengan penuh keikhlasan’ artinya selamat (aqidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya` (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memper-dengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini merupakan gambaran sebuah persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.” (Lihat Al-Qaulul Mufid 1/440)

Wallahu a‘lam.

Footnote:

[1] Lihat muqaddimah kitab Asy-Syafa’ah karya Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

[2] Dan juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4673) dan Ahmad (2/540) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 3908), Syarah Ath-Thahawiyyah (no.107), dan dalam Azh-Zhilal (792)

[3] HR. Ahmad (2/441, 444, 528), At-Tirmidzi (no. 3358), Ibnu Jarir (15/145), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/372) dan dalam Akhbar Ashbahan. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 2508), Ash-Shahihah (no. 2639) dan dalam Azh-Zhilal (784), dan Asy-Syaikh Muqbil t menghasankannya dalam kitab beliau Asy-Syafa’ah (hal. 41).

[4] Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim (no. 521), An-Nasa`i (no. 419), Ad-Darimi (1/322, 323) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/316).

[5] HR. Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri dalam hadits yang panjang tentang ru‘yatullah no. 183.

[6] Al-’Ushbah yaitu sekelompok orang yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang. (An-Nihayah, ed)

[7] HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafaat hal. 195

[8] HR. Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Anas bin Malik no. 1248 dan hadits ini juga datang dari shahabat Abu Hurairah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 1251 dan Muslim no. 2632, dan datang dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1249 dan Muslim no. 2633.

[9] Yakni semacam perantara di dunia. Semisal orang yang ingin bertemu raja maka dia butuh perantara yang dekat dengan raja tersebut. Demikian pula kepada Allah, menurut mereka. Wallahu a’lam. -ed

[10] HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 2627.

[11] HR. Al-Imam Muslim no. 1566

Sumber: http://www.asysyariah.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s