Menyembunyikan Ilmu, Akhlak Jahiliyah


Sampaikan kebenaran meski itu pahit. Ungkapan ini rasanya sudah teramat sering diungkap para dai di tengah umat ini. Namun praktiknya amat jauh dari “teori”-nya. Betapa banyak dai yang tak berani menyuarakan al-haq karena khawatir kedudukannya di tengah masyarakat terancam, khawatir kehilangan simpatisan, khawatir distop suplai dananya, khawatir “ukhuwah” rusak dan umat lari dari dakwah (partai)-nya, dan dalih lainnya yang dibuat-buat.

Sering kali kita mendengar bila seseorang berbicara tentang fenomena dan aktualita kejahatan, kerusakan moral dan kehancuran peradaban hidup, dia mengacu kepada kehidupan jahiliyah. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kaum muslimin tentang berbagai kerusakan hidup di masa jahiliyah agar tidak dicontoh dan diteladani. Akan tetapi sangat disayangkan:

a. Berapa di antara para penyeru kemerdekaan dari praktik jahiliyah yang sesungguhnya mengerti rincian hidup jahiliyah?

b. Berapa di antara mereka yang mengetahui ilmu untuk menyelamatkan diri dari kungkungan kehidupan jahiliyah tersebut? Yang mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amalan para shahabat?

c. Dan berapa orang di antara mereka secara jujur terbebas dari praktik-praktik hidup jahiliyah?

d. Dan berapakah dari mereka yang menjalani hidup benar-benar di atas tuntunan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya sebagai koreksi diri bagi setiap da’i penyeru umat agar sadar dan menyadari bahwa perilaku jahiliyah telah menghampiri diri, keluarga bahkan anak keturunannya. Bahkan telah mengetuk gendang pendengarannya serta membuka mata hatinya. Oleh karena itu, langkah apakah yang telah anda siapkan untuk membebaskan diri anda darinya? Di sinilah letak tingginya nilai ilmu agama, yang akan menjawab tantangan serta menghindarkan dari marabahaya.

Di antara langkahnya adalah harus mengilmui segala ragam dan perilaku jahiliyah untuk menyelamatkan diri darinya. Berikut ini beberapa bentuk akhlak jahiliyah:

1. Menganggap bahwa menyelisihi penguasa merupakan sebuah keutamaan.

2. Berdoa kepada para wali atau orang shalih.

3. Taqlid buta.

4. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan banyaknya pengikut.

5. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan apa yang dilakukan para pendahulu.

6. Berlebih-lebihan dalam menyikapi orang-orang yang terpandang.

7. Keyakinan mereka bahwa apa yang dilakukan oleh para tukang sihir dan dukun adalah sebuah karamah.

8. Menamakan tauhid sebagai syirik.

9. Berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendustakan kebenaran.

10. Fanatik di atas kebatilan yang mereka anut.

11. Menghalangi orang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

12. Menyandarkan agama mereka di atas khurafat.

13. Menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.

14. Menyombongkan diri di atas kebenaran.

15. Menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

16. Beribadah di sisi kuburan dan sebagainya.

Terlalu banyak jika disebutkan ciri dan perilaku hidup mereka yang sangat rusak. Bila dijabarkan semuanya, niscaya tidak akan mencukupi dalam pembahasan singkat ini.

Bila kita mencoba menyelami kehidupan masyarakat jahiliyah dan kehidupan muslimin sekarang ini, lalu kita mencoba membandingkan, niscaya kita akan menemukan banyak kesamaan. Kita akan sampai kepada sebuah kesimpulan yang tidak berlebihan bahwa “tidak ada yang membedakan akhlak sebagian kaum muslimin dan orang-orang jahiliyah di masa silam selain identitas beragama dan melantunkan kalimat La ilaha illallah.”

Dalam pembahasan akhlak jahiliyah, ada sebuah risalah yang ditulis oleh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dengan judul Masa`ilul Jahiliyatil Lati Khalafa fiha Rasulullah Ahlal Jahiliyyah. Risalah ini memuat 128 masalah jahiliyah yang beliau simpulkan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ucapan para ulama. Tujuannya, memperingatkan kaum muslimin agar mereka meninggalkan berbagai perkara jahiliyah itu karena demikian bahayanya. (Syarh Masa`ilil Jahiliyah karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 8)

Di antara sekian akhlak jahiliyah adalah MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DI ATAS ILMU (DENGAN SENGAJA).

Ahli Kitab dan Menyembunyikan Ilmu
Kaum inilah yang banyak disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur`an terkait dengan akhlak dan tabiat yang jelek ini. Kedengkian mereka terhadap kebenaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah masyhur. Kelicikan dan makar jahat mereka terhadap para pengikut kebenaran laksana malam bagaikan siangnya, artinya bukan perkara rahasia lagi. Bentuk kedengkian mereka telah banyak diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur`an. Di antaranya:

“Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Baqarah: 105)

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka serta melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali ‘Imran: 186)

“Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkan dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 109)

“Segolongan dari ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak menyadarinya.” (Ali ‘Imran: 69)

Akhlak mereka dalam menyembunyikan ilmu disebutkan pula oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur`an:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)

“Hai ahli kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil serta menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (Ali ‘Imran: 71)

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab. Dan mereka mengatakan: ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedangkan mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78)

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruklah tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran: 187)

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).” (An-Nisa`: 44-45)

Peringatan demi peringatan kita lalui di dalam Al-Qur`an agar jangan sekali-kali kita mengikuti langkah dan akhlak mereka.
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang ada pada kalian tentang Rasul-Ku dan apa yang dibawanya, sementara kalian mengetahui hal itu tertulis di dalam kitab-kitab yang ada di tangan kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/109)

Mungkinkah orang-orang Islam akan mengikuti akhlak dan langkah Yahudi dan Nasrani dalam masalah ini, yaitu menyembunyikan kebenaran padahal mereka telah mengetahuinya?

Muslimin Mengikuti Akhlak Mereka
Tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa kaum muslimin telah mengikuti langkah, perilaku, dan akhlak mereka. Bagi orang yang memiliki sedikit landasan ilmu pengetahuan, lalu mencoba menggali keadaan kaum muslimin, niscaya akan menemukan berbagai macam corak hidup yang diambil dari orang-orang kafir serta corak hidup yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terbatas dalam permasalahan akhlak semata, bahkan dalam perkara mendasar dalam agama, seperti dalam berbagai keyakinan dan bentuk peribadatan. Karena hal ini sangat mungkin menimpa kaum yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun di dalam banyak ayat memperingatkan agar kita tidak meniru mereka. Di antaranya:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang hakikat jati diri mereka, seperti di dalam surat Al-Ma`idah ayat 18-19 dan At-Taubah ayat 30-34.

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan sikap mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 105 dan 135.

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan tentang berbagai usaha dan makar mereka dalam memalingkan kaum muslimin dari agamanya, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 109.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di antara sifat mereka adalah menyembunyikan kebenaran, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 146.

5. Allah Subhanahu wa Ta’ala membongkar hasad dan dendam mereka terhadap kaum muslimin dan apa yang mereka sembunyikan dalam dada-dada mereka, seperti di dalam surat Al-Baqarah ayat 109.

6. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang penghinaan mereka terhadap syi’ar-syi’ar Islam, seperti di dalam surat Al-Ma`idah ayat 5.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam banyak hadits juga telah mengingatkan hal ini.

1. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyerupai mereka dan memerintahkan untuk menyelisihi mereka dalam semua urusan agama. Orang yang menyerupai mereka, tentu dia termasuk bagian mereka.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”[1]

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa kaum muslimin benar-benar akan mengikuti langkah orang sebelum mereka, sedikit demi sedikit.

“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sehingga sekalipun mereka masuk ke lubang binatang dhabb, niscaya kalian akan mengikutinya.” Mereka berkata: “Apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”[2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sekelompok dari umatku mengikuti peribadatan kaum musyrikin dan hingga umatku menyembah patung-patung.”[3]

Berdasarkan hal ini, sangatlah jelas bahwa siapa saja dari kaum muslimin yang meninggalkan kebenaran dan berpaling darinya –entah disebabkan kedudukan, harta benda duniawi, atau karena hawa nafsu– berarti serupa dengan sikap Yahudi terhadap kebenaran. Karena ulama-ulama Bani Israil makan dari orang kaya mereka. Tatkala diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengetahui bahwa dia adalah pembawa kebenaran. Karena itulah mereka mengingkari dan kafir kepada beliau. Mereka menyembunyikan apa yang telah mereka ketahui dari Bani Israil pendahulu mereka. Mereka menolak kebenaran yang mereka ketahui karena imbalan sandang pangan dari orang-orang kaya. Mereka menyembunyikannya agar bantuan orang-orang kaya tersebut tetap mengalir kepada diri mereka. (Shawarif ‘Anil Haq hal. 27)

Abul Muzhaffar As-Sam’ani rahimahullahu berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‘Janganlah kalian membeli ayat-ayat-Ku dengan harta benda yang sedikit.’ (Al-Baqarah: 41)

hal itu karena para ulama dan pendeta (mereka) memiliki kebiasaan mendapatkan gaji dari orang kaya dan orang-orang jahil mereka. Mereka khawatir imbalan itu hilang dari mereka jika mereka beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyembunyikan sifat dan nama beliau. Inilah makna ayat (ini) menjual ayat-ayat dengan harga yang sedikit.” (Tafsir Al-Qur`an, 1/22)

Alasan Mereka Menyembunyikan Kebenaran
Kenapa mereka begitu semangat menyembunyikan kebenaran?

Ada beberapa perkara yang mendorong mereka untuk menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.

Pertama: Mengikuti hawa nafsu.

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) setelah itu dengan rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami utus rasul-rasul kepada mereka. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (Al-Ma`idah: 70)

Kedua: Mencari maslahat dunia.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Celaka budak dinar, celaka budak dirham, celaka budak (pakaian) khamishah, celaka budak (pakaian) khamilah. Jika dia diberi dia ridha, dan jika tidak diberi dia benci/marah.”[4]

Ketiga: Mencari ridha manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemurkaan manusia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memurkainya serta menjadikan manusia murka kepadanya.”[5]

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata:
“Mereka menyembunyikan kebenaran agar kedudukan yang mereka miliki tidak hilang, juga berbagai macam hadiah dan pemberian yang mereka peroleh dari bangsa Arab karena pengagungan bangsa Arab terhadap mereka. Mereka takut -semoga Allah melaknat mereka- jika mereka menampakkan kebenaran yang mereka ketahui, maka (Nabi) akan diikuti banyak orang dan bangsa Arab meninggalkan mereka. Itulah alasan mereka menyembunyikan kebenaran, yaitu agar apa yang mereka dapatkan tetap ada, padahal itu adalah imbalan yang sedikit. Akhirnya mereka melelang diri mereka dengannya. Mereka tidak mau menerima petunjuk, mengikuti kebenaran, membenarkan Rasul dan beriman dengan apa yang dibawanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tukar dengan imbalan yang sedikit. Sungguh mereka telah celaka dan merugi di dunia dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/257)

Abul Wafa` bin ‘Aqil Al-Hambali rahimahullahu berkata:
“Cinta kepada kedudukan, condong kepada dunia, berbangga-bangga, bermegah-megahan dengannya, menyibukkan diri dengan kelezatan dan segala yang menjurus kepada kemasyhuran, bukan lagi melihat hujjah serta apa yang diinginkan oleh akal dan pengetahuan. Perbuatan seperti ini menjadi sebab-sebab yang akan memalingkan dari kebenaran. Dan itu adalah sebuah kemestian.” (Al-Wadhih fi Ushulil Fiqh, 1/522)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Para pencari kedudukan –walaupun dengan cara batil– akan senang dengan kalimat yang mengandung pengagungan dirinya, sekalipun dengan kebatilan. Dan dia akan marah dengan kalimat yang mencelanya, sekalipun kalimat itu adalah benar. Adapun orang yang beriman, akan ridha terhadap kalimat yang haq walaupun terhadap dirinya, atau yang akan menggugat dirinya. Dan dia membenci kebatilan walaupun kebatilan itu mendukungnya. Atau dia akan menentang kebatilan itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, serta membenci kalimat dusta dan kedzaliman.” (Majmu’ Fatawa 10/600)

Kewajiban Kita bila Melihat Akhlak Ini
Kita mengetahui bahwa menyembunyikan kebenaran adalah salah satu dari sekian ciri khas orang-orang kafir secara umum, serta pada kaum Yahudi dan Nasrani secara khusus. Maka setiap ulama dan para pencari kebenaran berkewajiban untuk mengingkarinya serta menjelaskan kepada umat bahwa sikap menolak kebenaran dan menyembunyikannya merupakan perbuatan orang-orang yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dilaknat oleh segenap makhluk-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat perjanjian dari ahli ilmu agar mereka menjelaskan kepada manusia ilmu Al-Kitab yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agar mereka tidak menyembunyikannya. Dan barangsiapa meremehkannya, maka sungguh dia telah menghimpun dua bentuk kerusakan, yaitu menyembunyikan ilmu serta melakukan penipuan terhadap kaum muslimin.” (Tafsir As-Sa’di hal. 59)

Wallahu a’lam.

footnote:
[1] HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau (no. 4309) dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
[2] HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 7320 dan Al-Imam Muslim no. 2669 dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu. Dan asalnya ada dalam riwayat Al-Imam Muslim no. 2889.
[4] HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2887 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[5] HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2419 dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 6097.

Sumber: http://www.asysyariah.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s