Kembali pada Fitrah


Pada dasarnya secara fitrah, manusia dengan sendirinya akan menetapkan sang penciptanya dengan uluhiyahnya, mencintainya, dan mengikhlaskan agama untuknya serta senantiasa berada dalam agama tauhid. Bagaimana tidak dikatakan demikian sementara Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap yang dilahirkan terlahir dalam keadaan fitrah…” (HR Bukhori, Muslim dari Abu Hurairoh).

Fitrah yang dimaksud dalam hadits ini menurut pendapat yang paling kuat adalah Islam, namun bukanlah maknanya bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan berpengetahuan tentang dien ini, karena Allah telah berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun…” (QS An Nahl: 78).

Akan tetapi fitrahnya menuntut menghendaki dienul Islam, sehingga dengan sendirinya manusia akan menetapkan sang Fathirnya / Kholiqnya, mencintainya serta tunduk dalam ubudiyah terhadapNya. Di dalam Al Qur`an Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menyinggungnya, seperti dalam firmanNya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar Ruum: 30).

Fitrah yang tercantum dalam ayat ini juga menurut tafsiran yang paling benar adalah Islam, dimana ini menunjukkan bahwa manusia secara fitrahnya beragama tauhid. Berkata Ibnu Katsir mengenai makna ayat ini, “Allah berfirman: ‘Luruskanlah wajahmu’ tetaplah di atas dien yang Allah telah syariatkan untukmu dari millah hanafiyah Ibrahim, yang Allah telah menunjukimu padanya serta menyempurnakannya untukmu, tetaplah kamu pada fitrahmu yang lurus yang Allah telah menciptakan menurut fitrahnya untuk mengetahuiNya dan mentauhidkanNya dan bahwasanya tidak ada ilah selainNya.” (Tafsir Al Qur`anul Azhim: 3/451).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- penyimpangan dan kesyirikan yang muncul di tengah-tengah umat adalah buah karya para durjana syaithan dari kalangan jin dan manusia yang berhasil mengelabui dan membuat tipu daya dengan rayuan-rayuan manisnya seperti yang telah terjadi dan menimpa kaum nabi Nuh ‘alaihis salam hingga kemudian tercatat dalam sejarah bahwa itulah awal penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan manusia, saat itu pulalah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus nabi Nuh dalam rangka mengembalikan manusia pada fitrahnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh pada kaumnya (dengan memerintahkan): ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya adzab yang pedih.’ Nuh berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepadaNya dan taatlah kepadaku.'” (QS Nuh: 1-3).

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah mengutus nabi Huud kepada kaumnya Aad, mengutus nabi Sholeh kepada kaumnya Tsamud, dan mengutus nabi Syu’aib kepada kaumnya Madyan agar mengajak kaumnya kembali pada fitrahnya agama tauhid, begitu pula dengan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah memerintahkannya agar menyeru manusia seperti nabi Nuh dan nabi-nabi setelahnya mengajak kembali kepada fitrah manusia yang lurus, kepada agama tauhid millah Ibrahim ketika muncul seorang reformer kesyirikan sepeninggal nabi Ibrahim yakni Amr bin Luha al Khuza’i. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya…” (QS An Nisaa`: 163).

Segala penyimpangan dan bentuk kesyirikan adalah suatu yang tidak pernah dikehendaki Allah, bahkan Allah mencela semua bentuk syariat yang tidak pernah diturunkan dalam agamaNya. Allah berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…” (QS Asy Syuura: 21).

Allah mencela kaum musyrikin karena mereka mengharamkan apa yang tidak diharamkanNya, menghalalkan apa yang diharamkanNya serta membuat aturan agama yang tidak diturunkan olehNya. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan demikian dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah: ‘Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.’ Dan (katakanlah): ‘Luruskanlah muka (dirimu) di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepadaNya’…” (QS Al A’raaf: 28-29).

“Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.” (QS Al A’raaf: 32-33).

Di awal surat ini (Al A’raaf, red.) Allah telah berfirman, “Alif laam mim shaad, ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab ini (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (QS Al A’raaf: 1-3).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- dari masa ke masa sejak awal penciptaan manusia dan dari generasi ke generasi seluruh pada nabi dan rosul serta para pengikut-pengikutnya berada dalam dien yang sama yaitu Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam dengan aqidah dan syariat-syariatnya adalah merupakan agama fitrah. Islam dengan aqidah dan hukum-hukumnya tidaklah bertentangan dengan fitrah justru setiap kali muncul aqidah dan hukum yang jauh dari Islam dengan serta merta fitrah pun menolaknya dan berada di posisi yang berlawanan dengannya. Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam, “Jika kamu berpaling (dari peringatanku) aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya).” (QS Yunus: 72).

Kemudian Allah berfirman tentang Ibrahim, “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata:) ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'” (QS Al Baqoroh: 131-132).

Allah berfirman tentang para pengikut Isa, “Dan ingatlah ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rosulKu.’ Mereka menjawab: ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rosul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).'” (QS Al Maidah: 111).

Allah berfirman tentang Yusuf, “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101).

Allah berfirman tentang Musa, “Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.'” (QS Yunus: 84).

Kemudian Allah juga berfirman tentang para tukang sihir yang beriman kepada Musa, “(Mereka berkata:) ‘Ya Tuhan kami limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).'” (QS Al A’raaf: 126).

Allah berfirman tentang seorang wanita yang memerintah kerajaan Sabaiyah di zaman nabi Sulaiman, “Ia (wanita itu) berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah tuhan semesta alam.'” (QS An Naml: 44).

Nabi Ismail dan nabi Ibrahim juga berkata seperti dalam firman Allah, “Ya tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS Al Baqoroh: 128).

Demikianlah di saat penyimpangan dan pergolakan pemikiran kembali muncul pada generasi terakhir ini akibat pengaruh peradaban dan faham-faham yang berasal dari luar Islam yang kemudian diperparah dengan keadaan bodohnya umat dari perkara agamanya, maka kesyirikan dan kerusakan-kerusakan lainnya pun kembali tersebar luas, tak tersamarkan bagi orang-orang yang mengetahui peringatan Allah jauh sebelumnya dalam firmanNya, “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS Yusuf: 106).

Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk tetap istiqomah di atas millah Ibrahim yang lurus, memurnikan segala bentuk ubudiyah hanya kepada Allah, menjauhi kesyirikan dengan segala jenisnya, mengusir keraguan dan prasangka yang tidak benar terhadap agama Allah, menegakkan tauhid yang merupakan keadilan yang paling adil.” Allah berfirman, “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Al Baqoroh: 130).

Allah juga berfirman, “Allah mengatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imraan: 18-19). Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s