Menghidupkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Al-Imam Muslim berkata, “Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Abdillah bin Numair, telah memberitahukan kepada kami Abu Khalid (yakni Sulaiman bin Hayyan) dari Dawud bin Abi Hind, dari An-Nu’man bin Salim, dari ‘Amr bin Aus dia berkata, telah memberitahukan kepadaku ‘Anbasah bin Abi Sufyan di waktu sakitnya yang menyebabkan kematiannya, dengan suatu hadits yang dia menyampaikannya dengan suara berbisik-bisik, dia berkata, aku mendengar Ummu Habibah berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa shalat dua belas raka’at dalam sehari semalam, akan dibangunkan untuknya satu rumah di jannah (surga).”

Ummu Habibah berkata, “Maka aku tidak meninggalkan dua belas raka’at tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

‘Anbasah berkata, “Maka aku tidak meninggalkan dua belas raka’at tersebut semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habibah.”
‘Amr bin Aus berkata, “Aku tidak meninggalkan dua belas raka’at tersebut semenjak aku mendengarnya dari ‘Anbasah.”

An-Nu’man bin Salim berkata, “Aku tidak meninggalkan dua belas raka’at tersebut semenjak aku mendengarnya dari ‘Amr bin Aus.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Barangsiapa shalat dalam sehari dua belas sujud (yakni dua belas raka’at, pent.), shalat sunnah, akan dibangunkan untuknya satu rumah di jannah.”

Dalam riwayat yang lain, “Tidaklah seorang hamba yang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka’at shalat sunnah, selain shalat wajib, kecuali Allah akan bangunkan untuknya satu rumah di jannah. Atau kecuali dibangunkan untuknya satu rumah di jannah.” Berkata Ummu Habibah, “Maka aku senantiasa melaksanakan shalat-shalat tersebut setelah itu.” Dan berkata ‘Amr, “Aku senantiasa melaksanakan shalat-shalat tersebut setelah itu.” An-Nu’man juga mengucapkan seperti itu.

Dalam riwayat lain disebutkan, “Tidaklah seorang hamba yang muslim berwudhu` lalu menyempurnakan wudhu`nya kemudian shalat karena Allah setiap hari dua belas raka’at shalat sunnah, … (sama seperti di atas).” (HR. Muslim, Kitaabu Shalaatil Musaafiriin wa Qashrihaa, no.728, nomor khusus 101-103)

Sikap Salafush Shalih terhadap Sunnah Nabi

Kaum muslimin rahimakumullaah, lihatlah bagaimana sikap Salafush Shalih ketika mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Begitu semangatnya mereka dalam melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun hukumnya tidak wajib, yakni sunnah mu`akkadah (sunnah yang ditekankan), mereka tetap bersemangat melaksanakan sunnah-sunnah tersebut. Apalagi ketika mendengar pahala yang akan didapatkan oleh orang yang melaksanakannya.

Lihatlah ucapannya Ummu Habibah (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), ‘Anbasah (muridnya Ummu Habibah), ‘Amr bin Aus (muridnya ‘Anbasah) dan An-Nu’man bin Salim (muridnya ‘Amr bin Aus)! Mereka semuanya mengatakan setelah mendengar hadits tersebut, “Aku tidak meninggalkan shalat dua belas raka’at tersebut semenjak mendengar hadits ini.”

Mereka adalah Salaful Ummah, pendahulu ummat ini yang shalih, yang kita diperintahkan mengikuti jejak mereka. Maka alangkah baik dan pantas bagi kita untuk mengatakan, “Maka aku pun tidak akan meninggalkan shalat dua belas raka’at tersebut setelah mendengar hadits ini, insya Allah.”

Artinya kita berusaha untuk tidak meninggalkan shalat-shalat tersebut walaupun bisa jadi pada suatu kondisi kita meninggalkannya. Seperti sakit ataupun alasan lainnya. Kecuali dalam safar (perjalanan) maka kita tidak disunnahkan melaksanakan shalat sunnah rawatib yang dua belas raka’at tersebut kecuali shalat sunnah dua raka’at sebelum shubuh (qabliyah shubuh). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melaksanakan qabliyah shubuh baik ketika muqim ataupun safar.

Kita lakukan semuanya ini dalam rangka mencari ridha Allah dan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Salafush Shalih, yang ini merupakan jalan keselamatan.

Shalat rawatib dua belas raka’at ini dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidziy, “Empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah ‘isya dan dua raka’at sebelum shalat fajar/shubuh.” (HR. At-Tirmidziy 5/4 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy, lihat Subulus Salaam 2/516 – Daarul Fikr)

Disebutkan juga dalam hadits ‘A`isyah, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Al-Bukhariy no.1165)

Empat raka’at sebelum zhuhur tersebut dikerjakan dengan dua kali salam yaitu shalat dua raka’at kemudian salam dan shalat dua raka’at lagi kemudian salam.
Jika kita terluputkan dari empat raka’at sebelum zhuhur maka kita tetap dianjurkan mengerjakannya setelah shalat zhuhur. Dari ‘A`isyah, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila belum sempat mengerjakan empat raka’at sebelum zhuhur maka beliau mengerjakannya setelah shalat zhuhur.” (HR. At-Tirmidziy, lihat Shahiih At-Tirmidziy no.350)

Misalnya, apabila kita datang ke masjid dan imam sedang shalat zhuhur dalam keadaan kita belum shalat empat raka’at sebelum zhuhur, maka kita shalat bersama imam. Seteleh selesai, kita shalat ba’diyah dua raka’at kemudian shalat empat raka’at dengan dua kali salam. (Lihat Syarh Riyaadhush Shaalihiin 3/187, Maktabah Ash-Shafaa)

Shalat Rawatib Sepuluh Raka’at

Kalaulah kita tidak bisa melaksanakan dua belas raka’at tersebut, boleh bagi kita melaksanakan sepuluh raka’at. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at: dua raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib di rumahnya, dua raka’at setelah ‘isya di rumahnya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Al-Bukhariy no.1180)
Dalam riwayat yang lain, “Dan dua raka’at setelah shalat jum’at di rumahnya.” (Al-Bukhariy no.1172 dan Muslim no.729)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum zhuhur dua sujud (yakni dua raka’at), dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah ‘isya, dan dua raka’at setelah shalat jum’at. Adapun setelah maghrib, ‘isya dan jum’at maka aku shalat bersama Nabi di rumahnya.” (HR. Al-Bukhariy no.1172 dan Muslim no.729)

Dalam hadits ‘A`isyah disebutkan empat raka’at sebelum zhuhur sedangkan dalam hadits Ibnu ‘Umar dua raka’at. Hal ini dimungkinkan bahwasanya kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sebelum zhuhur empat raka’at dan kadang-kadang beliau shalat dua raka’at. (Lihat Subulus Salaam 2/515 dan Bahjatun Naazhiriin 2/290)

Bersemangat Mengamalkan Sunnah

Para shahabat dan orang-orang setelah mereka, sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai-sampai di antara mereka ada yang takut kalau meninggalkan sedikit saja dari perintah Rasulullah, maka dia akan menyimpang.

Berkata Abu Bakr Ash-Shiddiq, “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku melakukannya dan sesungguhnya aku benar-benar takut kalau aku meninggalkan sedikit saja dari perintah beliau maka aku akan menyimpang.” (Al-Ibaanah, Ibnu Baththah 1/246, diambil dari Ta’zhiimus Sunnah hal.24)

Faidah Mengamalkan Sunnah

Di antara faidah mengamalkan sunnah adalah menghidupkan sunnah tersebut di tengah-tengah masyarakat. Ketika masyarakat sudah mulai melalaikan dan meremehkan sunnah-sunnah, akan tetapi kita melaksanakannya di tengah-tengah mereka, berarti kita menghidupkan sunnah tersebut.

Faidah lainnya adalah menyempurnakan kekurangan yang ada di dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan manusia yang pertama kali yang akan dihisab pada hari kiamat nanti adalah shalat.” Rasulullah bersabda, “Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman kepada para malaikatNya dan Allah lebih tahu (tentang keadaan hamba-hambaNya, pent.)-, “Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah sempurna atau kurang? Maka jika shalatnya sempurna, ditulislah untuknya satu kesempurnaan, dan apabila shalatnya ada yang kurang walaupun sedikit, maka Allah berfirman, “Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan sunnah? Maka jika dia mempunyai amalan sunnah, maka Allah berfirman, “Sempurnakanlah untuk hamba-Ku amalan wajibnya dengan amalan sunnahnya.” Kemudian zakat pun demikian, dan amalan-amalan lainnya pun demikian.” (Yakni jika dalam melaksanakan kewajibannya ada kekurangan maka dilihat kepada amalan sunnahnya, pent). (Shahih, HR. Abu Dawud no.864 dan lain-lain, lihat Subulus Salaam 2/514 – Daarul Fikr, dan Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah hal.47)

Suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwasanya melaksanakan kewajiban sebagaimana yang Allah inginkan adalah sangat sulit dilakukan dan kebanyakan manusia tidak sempurna dalam melaksanakannya. Dikarenakan amalan mereka itu tidak kosong dari kekurangan. Seperti tidak khusyu’ dan tidak thuma`ninah ketika shalat. Berkata yang sia-sia, ghibah dan mengadu domba ketika melaksanakan puasa. Berdebat dan berbuat sesuatu yang fasik ketika melaksanakan haji, dan seterusnya. Maka semuanya ini dan yang semisalnya akan menjadikan seorang hamba berhak untuk dihukum dan akan mengurangi pahala amalan wajibnya.

Kendatipun demikian, Allah ‘Azza wa Jalla dengan keutamaan-Nya yang banyak dan rahmat-Nya yang luas telah mensyari’atkan bagi hamba amalan yang akan menyempurnakan kekurangan ini dan yang akan menutupi cela-celanya. Yang demikian ini bisa tercapai dengan melaksanakan amalan-amalan sunnah.
Tidaklah pantas bagi orang yang berakal setelah mendengar keterangan ini- meninggalkan dan menghindari amalan-amalan yang akan menyempurnakan dan melengkapi kewajibannya, serta akan mendekatkannya kepada keridhaan Rabbnya. (Lihat Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah hal.47-48)

Bukti Cinta kepada Allah

Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’.” (Aali ‘Imraan:31)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kalau kita mengaku cinta kepada Allah, maka kita harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu mengikuti sunnah-sunnah beliau.

Tidak ada artinya sama sekali kalau seseorang mengaku-aku cinta kepada Allah akan tetapi amalannya tidak mengikuti Rasulullah bahkan dia beramal dengan berbagai kebid’ahan bahkan kesyirikan dan kekufuran, nas`alullaahas salaamah (kita memohon kepada Allah keselamatan).

Betapa banyak orang yang mengaku-aku cinta kepada Allah, akan tetapi Allah tidak mencintainya. Orang-orang yahudi, nashara, orang-orang shufi, para penyembah kuburan, para penyembah ilmu filsafat seperti JIL (Jaringan Iblis La’natullah ‘alaihim) dan golongan-golongan sesat lainnya, apakah Allah mencinta mereka?!?

Sungguh indah perkataan sebagian ‘ulama Salaf, “Sesungguhnya perkara itu bukan bagaimana engkau mencintai akan tetapi bagaimana agar engkau dicintai.”
Memang kita diperintahkan untuk mencintai Allah, akan tetapi jangan sampai hanya sekedar pengakuan belaka tanpa bukti. Bahkan yang paling penting adalah kita harus berusaha supaya Allah mencintai kita.

Untuk mendapatkan kecintaan Allah tentunya kita harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni mengikuti sunnah-sunnah beliau, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Dan perlu kita ketahui bahwasanya yang dimaksud sunnah adalah apa-apa yang disandarkan kepada beliau, baik ucapan, perbuatan, taqrir/persetujuan dan sifat beliau. Yang meliputi aqidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah. Ada yang sifatnya wajib dan ada yang sunnah/mustahab. Yang wajib berarti harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sedangkan yang sunnah, semaksimal mungkin dilaksanakan.

Bahkan ulama yang lain menyatakan lebih luas lagi, yakni sunnah adalah beramal dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, mengikuti Salafush Shalih dan mengikuti atsar.” (Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah 2/428, diambil dari Ta’zhiimus Sunnah hal.18)

Berkata Al-Imam Al-Barbahariy, “Ketahuilah bahwasanya Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam, dan tidak akan tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya.” (Syarhus Sunnah no.1 hal.65)

Artinya kalau kita melaksanakan sunnah-sunnah beliau secara keseluruhan, maka itulah Islam. Karena tidak ada yang beliau bawa kecuali Islam dan itulah sunnah beliau.

‘A`isyah pernah ditanya, bagaimana akhlaknya Rasulullah, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al-Qur`an.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna telah melaksanakan semua isi Al-Qur`an.
Yang dibawa oleh beliau adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan itulah sunnah beliau dan itulah Islam.

Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnah beliau agar menjadi orang-orang yang dicintai oleh Allah, aamiin.

Rajin Menuntut Ilmu

Untuk bisa mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnah beliau, maka kita harus menuntut ilmu, rajin menghadiri majelis ilmu. Jangan lemah dan bermalas-malasan dalam menghadiri majelis ilmu. Jangan merasa malu untuk menuntut ilmu dan jangan merasa sombong sehingga tidak mau menuntut ilmu.

Al-Imam Mujahid berkata, “Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang malu dan orang yang sombong.” (Al-Majmuu’, An-Nawawiy 1/29, diambil dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilm hal.46)

Artinya dia malu menuntut ilmu karena merasa bodoh sedangkan yang lainnya pandai-pandai. Atau dia merasa gengsi dan enggan menuntut ilmu karena orang yang mengajarkannya adalah temannya atau lebih muda dari dia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu sangat wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiihul Jaami’ no.3808)

Wallaahu A’lam.

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s