Meraih Kesungguhan Isti’adzah


Tidak ada yang patut ditakuti oleh seorang muslim dalam menjalani kehidupan dunianya selain daripada dosa dan apa yang akan menjerumuskannya ke dalam perkara yang dilarang Allah serta apa-apa yang akan menghalanginya dari melaksanakan perintah-perintahNya. Sehingga segala macam musibah, problema, dan kesulitan serta bahaya yang menimpanya tidaklah untuk menjadikannya putus asa dan surut langkah dalam beramal dan mengabdi kepada Dzat yang ditanganNya segala kekuatan, Allah Jalla Sya`nuhu. Allah berfirman,

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfud) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23).

“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.” (QS Al Hijr: 56). “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87).

Seorang muslim hendaknya selalu besar hati dan optimis, bersabar, berusaha, dan bekerja keras dalam menghadapi kesulitan hidup, kesempitan, kelaparan, dan kekurangan, apalagi diketahui bahwa yang demikian itu sebagai cobaan akan ukuran keyakinannya terhadap Allah. Allah berfirman,

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqoroh: 155-157).

Para pembaca, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada kita untuk bekerja keras dalam mencapai kemanfaatan dengan selalu bergantung kepada yang di tanganNya segala kemanfaatan dan melarang kita dari sikap ketidakberdayaan dalam menghadapi kesulitan. Beliau bersabda,

“Seorang mu`min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu`min yang lemah, dan dalam setiap kebaikan. Bersungguh-sungguhlah atas apa yang akan membuatmu manfaat. Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh).

Kita diperintahkan untuk melakukan sebab-sebab yang Allah telah syariatkan hamba-hambaNya dari sebab-sebab yang diwajibkan, dianjurkan, dan diperbolehkan yang akan mendatangkan kemanfaatan baik dalam hal dunia maupun akhirat disertai dengan bersandar dan berlindung kepadaNya, karena Dialah yang menciptakan segala sebab dan musabab. Maka melakukan sebab adalah sunnah dan berlindung kepadaNya adalah tauhid. Rosulullah bersabda,

“Barangsiapa yang meminta kepada Allah, maka Dia akan memberinya dan barangsiapa yang berlindung kepadaNya, maka Dia akan melindunginya.” (HR Abu Daud, Ahmad dari Ibnu Umar).

Isti’adzah / memohon perlindungan kepada Allah adalah bentuk kesempurnaan dalam bersandar kepadaNya dan bentuk keyakinan bahwa Dialah yang paling sempurna penjagaannya dari segala sesuatu. Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Meminta perlindungan atau yang diistilahkan dengan isti’adzah adalah menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala dan mengikatkan diri kepadaNya dalam hal menjauhkan kejelekan / kejahatan dan para pelakunya.” (Tafsir Al Qur`anul Azhim: 1/24).

Dengan demikian maka isti’adzah adalah termasuk ke dalam perkara ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selainNya. Allah berfirman,

Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS Al Falaq: 1-5).

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An Naas: 1-5).

Amat disayangkan bila masih didapati orang-orang yang ketika ditimpa kesulitan, kesusahan, dan marabahaya, mereka meminta perlindungan dan jalan keluar kepada makhluk, seperti para dukun, paranormal, dan kepada orang-orang yang dianggap sebagai orang pintar, yang padahal mereka dengan sendirinya juga tidak dapat menghindar dari kesusahan dan mengelak dari marabahaya. Allah berfirman,

Artinya: “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An Naml: 62).

Tambah memprihatinkan keadaannya ketika dijumpai tak sedikit dari kaum muslimin dengan sengaja berbondong-bondong mendatangi kuburan-kuburan yang dianggap sebagai kuburan orang-orang sholeh, menuju ke tempat-tempat yang dikeramatkan yang dikira memiliki pengaruh, dalam rangka meminta perlindungan kepada mereka. Sungguh ini adalah bentuk kesyirikan dalam hal isti’adzah, dimana berkeyakinan bahwa di sana ada yang dapat dijadikan pelindung di samping Allah. Allah berfirman,

Artinya: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS Al Jin: 6).

Para pembaca, sungguh jelek perbuatan orang-orang yang memalingkan isti’adzah kepada selain Allah ini, yang apabila mereka ditanya siapakah yang menciptakannya, memberi kekuatan kepadanya, memberi rizki, mengabulkan permintaannya, tentu akan menjawab: Allah! Namun mengapa masih menduakanNya dalam hal ibadah? Betapa banyak orang yang beriman kepada Allah tetapi juga berbuat musyrik terhadapNya. Allah berfirman,

Artinya: “Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan kepada hamba-hambaNya yang dipilihNya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka mempersekutukan dengan Dia. Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang menjadikan bumi sebagi tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesulitan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain). Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmatNya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain). Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (denganNya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya) kemudian mengulanginya (lagi) dan siapa (pula) yang memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS An Naml: 59-65).

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka.” (QS An Nisa`: 117).

Para pembaca, syaithan mempunyai andil besar dalam memalingkan ibadah kepada selain Allah, mereka akan menakut-nakuti manusia dengan kesusahan yang dengan itu akan mendorongnya untuk berbuat jahat, putus asa, dan kemudian berusaha menghilangkan ketergantungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman,

Artinya: “Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan.” (QS Al Baqoroh: 268).

Lalu syaithan berkata, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan aku akan suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaithan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Syaithan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS An Nisaa`: 119-120).

Kita diperintahkan untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari bujukan-bujukan syaithan yang akan membahayakan bagi agama, dunia dan akan menghalangi dari melaksanakan perintah-perintahNya serta dari bujukannya yang akan menjerumuskan untuk melakukan hal-hal yang dilarangNya. Allah berfirman,

“Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Fushshilat: 36).

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tinggal di suatu tempat, lalu mengucapkan “‘Audzu bikalimatillahit taammah min syarri ma kholaq”, tidak akan ada yang membahayakannya hingga ia pergi dari tempatnya itu.” (HR Muslim dari Khoulah binti Hakim).

Oleh karena itu, semua apa yang menimpa kita dari kebaikan maupun kejelekan, kemudahan dan kesulitan, keamanan dan bahaya tidak untuk membuat keimanan kita goyah lalu beralih mencari pelindung selain Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung dalam menjalani kehidupan dunia dan meraih kehidupan akhirat dengan memurnikan penyandaran kita kepadaNya dan selalu menghadirkannya dalam hati. Allah berfirman,

Artinya: “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (QS Fushshilat: 31).

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS At Taubah: 51).

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS Al An’am: 88).

“Katakanlah: Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaithan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami.’ Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS Al An’aam: 71). Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s