Perkara-Perkara Penting Yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Muslimin Dan Muslimat


1. TIGA LANDASAN DASAR DAN 2 KAIDAH DASAR AGAMA

 a. Tiga Landasan Yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Muslimin Dan Muslimat

Tiga landasan itu adalah Pengetahuan seorang hamba tentang Rabbnya, Agamanya dan Nabinya Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Apabila engkau ditanya : “Siapakah Rabbmu ?” Maka Jawablah :”Rabbku adalah Allah, Dialah yang telah menjadikan bagiku segala sesuatu dan menjadikan bagi seluruh alam semesta dengan nikmatNya. Dan Dia adalah sesembahanku, tidak ada sesembahan bagiku kecuali Dia.

Apabila engkau ditanya :”Apakah Agamamu ?” Maka jawablah : “Agamaku adalah Islam, yaitu berserah diri kepada kepada Allah dengan Tauhid, menundukkan diri kepadaNya dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”

Apabila engkau ditanya :”Siapakah Nabimu ?”Maka jawablah :”Nabiku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, Hasyim berasal dari suku Quraisy dan suku Quraisy berasal dari bangsa Arab, Bangsa berasal dari keturunan nabi Ismail bin Ibrahim, shalawat dan salam bagi keduanya dan bagi nabi kita yang paling mulia Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

 b. Landasan Dan Kaidah Agama Ada 2 Perkara

Pertama : Perintah beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan bersamaNya sesuatu apapun, bersungguh-sungguh menyeru perkara ini, berloyalitas diatasnya (Tauhid) dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya (Tauhid).

Kedua : Memperingatkan dari kesyirikan dalam peribadahan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam perkara tersebut, membangun permusuhan bagi orang yang berada di atas kesyirikan tersebut dan mengkafirkan barangsiapa yang melakukannya (syirik).

 2. SYARAT-SYARAT “LA ILAHA ILALLAH” BESERTA DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

a. Syarat-Syarat ” La Ilaha Ilallah”

Pertama : Ilmu, ( memahami) maknanya baik penafian maupun pengisbatan.

Kedua : Yakin, yaitu kesempurnaan ilmu tentang kalimat tersebut. Menafikan adanya kebimbangan dan keraguan.

Ketiga : Ikhlas, Menafikan adanya kesyirikan.

Keempat : Jujur, Menafikan adanya kedustaan.

Kelima : Mencintai kalimat ini dan segala konsekuensinya serta merasa bahagia dengannya..

Keenam : Tunduk kepada hak-hak kalimat tersebut, yaitu mengamalkan kewajiban dengan ikhlas kepada Allah serta mengharapkan ridhoNya.

Ketujuh : Menerima, menafikan adanya penolakan.

b. Dalil-Dalil Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah Tentang Syarat” La Ilaha Ilallah”

Dalil Tentang Syarat Ilmu :

Firman Allah Ta’ala :

Artinya : “Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang Haq selain Allah ” (QS. Muhammad : 19)

Dan juga firmanNya :

Artinya : ” Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dalam keadaan mereka mengetahuinya” (QS. Az-Zukhruf : 86)

Yaitu : dengan kalimat ” La ilaha ilallah”

Dan makna (dan mereka mengetahui) dalam ayat ini yaitu mengetahui dengan hati-hati mereka apa-apa yang mereka ucapkan dengan lisan mereka.

Dan dalil dari As Sunnah adalah hadits yang tsabit dalam ” As Shohih” dari Utsman Radiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu

alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia mengilmui bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, maka dia masuk surga” HR. Muslim (26) Ahmad (464) An Nasa’I dalam “Al Kubro” (109252) Al Bazzar (415) Ibnu Hibban (201)

Dalil Tentang Syarat Yakin :

Firman Allat ta’ala :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orangorang yang benar” (QS. Al-Hujurat : 15)

Dan disyaratkan dalam kejujuran iman mereka kepada Allah dan RasulNya adalah mereka tidak berada dalam keraguan, yaitu tidak bimbang. Adapun orang yang berada dalam kebimbangan maka dia termasuk dari golongan munafik

Dan dalil dari As Sunnah, Hadits yang tsabit dalam ” As Shohih” dari Abu Hurairoh Radiyallahu’ anhu, beliau berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu

alaihi wassalam :

Artinya : “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah Utusan Allah, dan tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan kedua persaksian ini tanpa ada keraguan di dalamnya, kecuali di akan masuk surga” HR. Muslim (27) Ahmad (11080) Ibnu Hibban (6530) Abu Ya’la (1199) Al Baihaqi dalam ” Dala’il Nubuwah” (5/229)

Dan dalam riwayat lain :

Artinya : “Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan dua persaksian tersebut tanpa ada keraguan di dalamnya akan terhalang dari surga”

Dan juga hadits dari Abu Hurairoh Radhiyallahu’ anhu dalam sebuah hadits yang panjang :

Artinya : “Barangsiapa yang engkau temui di balik dinding ini, dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dalam keadaan hatinya yakin diatas persaksian itu, maka berikanlah kabar gembira baginya dengan surga” HR. Muslim (31) Ibnu Hibban (4543)

Dalil Tentang Syarat Ikhlas :

Firman Allah ta’ala :

Artinya : “Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”. (QS. Az-Zumar : 3)

Firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan tidaklah mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah : 5)

Dan dalil dari As Sunnah, Hadits yang tsabit dalam “As Shohih” dari Abu Hurairoh Radiyallahu anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda :

Artinya : ” Manusia yang paling bahagia dengan syafa’atku adalah orang yang megucapkan “La ilaha Ilallah” ikhlas dari hatinya (atau jiwanya)” HR. Bukhari (99) Ahmad (2/ hal. 472)

Dan dalam ” As Shohih” dari Utban bin Malik Radiyallahu’ anhu dari Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Beliau Shalallahu alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi neraka barangsiapa yang mengucapkan La ilaha Ilallah yang dengan ucapannya itu dia mengharapkan wajah Allah azza wa jalla” HR. Bukhari (424, 5401) Muslim (33) Ahmad (16482) An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ (787,1326)

Dan diriwayatkan Imam An Nasa’i dalam ” Al yaumu wa Laylatu” dari hadits dua orang shahabat nabi Radhiyallahu anhuma, dari nabi Shalallahu alaihi wassalam, bahwa beliau Shalallahu alaihi wassalam bersabda : ”

Artinya : “Barangsiapa yang mengucapkan : “Tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dialah pemilik kerajaan (semesta alam) dan bagiNyalah segala puji-pujian dan dia maha kuasa atas segala sesuatu ” dan hatinya ikhlas dengan ucapannya itu, yang lisannya membenarkannya, maka Allah bukakan langit dengan lebar untuknya. Kemudian Allah memandang kepada siapa yang mengucapkannya dari penduduk bumi dan tetaplah bagi hamba itu pandangan Allah baginya untuk mengabulkan permintaannya” HR.An Nasa’I dalam “Al Kubro” (9856). Didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Dhoif At Targhib wa Tarhib” No. 932 dan dalam “Ad Dhoifah” No. 6617

Dalil Tentang Syarat Jujur:

Firman Allah ta’ala :

Artinya ; “Alif laam miim. Apakah manusia menyangka bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji ? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut :1-3)

Dan firmanNya :

Artinya : “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir , pada hal mereka bukanlah termasuk orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqaroh : 8-10)

Dan dalil dari As Sunnah, aa yang telah tsabit dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu dalam ” As Shohihain”, sesungguhnya nabi shalallahu alaihi wassallam bersabda :

Artinya : “Tidaklah seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad shalallahu alaihi wassallam adalah hamba Allah dan RasulNya dengan jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan dia dari neraka” HR. Bukhari (128,129) Muslim (32) Ahmad (22070) Al Baighawi dalam “Syarhus Sunnah” (49)

Dalil Tentang Syarat Cinta :

Firman Allah Ta’ala :

Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman , kecintaan mereka yang terbesar hanya untuk Allah “.(QS. Al Baqaroh : 165)

Firman Allah ta’ala :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. ” (QS. Al Maidah :54)

Dan dalil dari As Sunnah, apa yang telah tsabit dalam “As Shohih” dari Anas bin Malik Radhiyallahu’ anhu, beliau berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

Artinya : “Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya Iman, yaitu menjadikan Allah dan RasulNya lebih dia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang yang dia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana dia membenci untuk dijerumuskan ke dalam neraka” HR. Bukhari (16,21,6041,6941) Muslim (43) Ahmad (12002) At Tirmidzi (2624) Ibnu Hibban (237, 238) An Nasa’I (5003) Ibnu Majjah (4033)

Dalil Tentang Syarat Ketundukkan

Yang menjadi dalil atas syarat ini adalah firman Allah ta’ala :

Artinya: “Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian , dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian , Kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az-Zumar :54)

Dan FirmanNya :

Artinya : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menundukkan wajahnya hanya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan,” (QS. An Nisa’ : 125)

Dan FirmanNya :

Artinya : “Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya dia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman : 22)

Yaitu berpegang dengan : ” La ilaha ilallah”

Dan firmanNya :

“Artinya : “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ :65)

Dan dalil dari As Sunnah, Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

Artinya : ” Tidak beriman seseorang sampai mereka menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku datang dengannya” Hadits Riwayat At Thabrani, Ibnu Abi Ashim dan Al Khatib dalam “At Tarikh” dari sahabat Abdullah bin amru’ Radiyallahu anhu’ . Di Dhoifkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Al Wadi’i dalam kitab beliau “Al Muqtaroh” hal. 15-16

Dan inilah kesempurnaan dan puncak ketundukkan

Dalil Tentang Syarat Menerima :

Firman Alla ta’ala :

Artinya : “Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orangorang

yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun Aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) member petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus dengannya.Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az-Zukhruf : 23-25)

Firman Allah ta’ala :

Artinya : “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang Haq kecuali Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahankami karena seorang penyair gila?”

(QS.As-Shaffaat : 35-36)

Dan dalil dari As Sunnah, apa yang telah tsabit dalam “As Shohih” dari Abu Musa Radhiyallahu anhu , Nabi shalallahu alaihi wassallam bersabda :

Artinya : “Permisalan apa yang Allah telah mengutusku dengannya berupa petunjuk dan ilmu, seperti hujan deras yang menimpa bumi. Ada bagian yang menyerap air (gembur) maka darinya tumbuh banyak tumbuh-tumbuhan dan rumput, dan dari bagian bumi ada yang menampung air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia darinya, mereka minum, mengairi tumbuh-tumbuhan, dan memberi minum hewan ternak mereka dari genangan air

tersebut. Dan ada juga hujan turun menimpa bagian bumi yang lain, yang bagian bumi itu tidak bisa menerima air dan tidak bisa pula menumbuhkan tumbuhan. Dan begitulah permisalan orang-orang yang faqih dalam agama dan memberikan manfaat baginya apa-apa yang Allah telah mengutusku dengannya, maka dia berilmu dan mngajarkannya dan begitu pulalah permisalan orang-orang yang tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula

menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya” HR. Bukhari (79) Muslim (2282) Ahmad (19590) An Nasa’i dalam Al Kubro’ (3/5483) Ibnu Hibban (4)

3. PEMBATAL – PEMBATAL KEISLAMAN (Dinamakan juga “Penyebab-penyebab Kemurtadan” dan “Jenis-jenis Kemurtadan” (Syarah Nawaqidul Islam, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan))

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pembatal-pembatal keislaman ada 10 perkara : Ucapan beliau “ada 10 perkara” bukan bermakna batasan. Para ulama menyebutkan bahwa pembatal Keislaman ada sekitar 400 jenis.Sebagaimana dinukil Syaikh Sulaiman bin Salman dalam “Duroru Saniyah” (2/260). Berkata Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan :”Dan jenis-jenis kemurtadan sangat banyak dan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) menyebutkan di dalam risalah ini yang terpenting dan terbesar” (Syarah Nawaqidul Islam, Hal 9-10)

Pertama : Syirik Dalam Ibadah Kepada Allah Ta’ala.

Berfirman Allah ta’ala :

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa selain dari (dosa syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. ” (QS. An-Nisa’ : 48)

Firman Alla ta’ala :

Artinya : “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah : 72)

Dan termasuk dari perbuatan syirik adalah menyembelih hewan (berkurban) yang ditujukan kepada selain Allah, sebagaimana orang-orang yang menyembelih hewan yang ditujukan untuk Jin dan Kuburan. Dalil bahwa berkurban hanya berhak ditujukan untuk Allah semata, salah satunya adalah firman Allah ta’ala :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS. Al-An’am : 162-163)

Dan sembelihan disini bersifat umum, tidak ada perbedaan hukum, apakah yang disembelih berupa Sapi, Kambing, Ayam bahkan Lalat sekalipun. Selama sembelihan tersebut ditujukan kepada selain Allah seperti ditujukan kepada kuburan, Jin penunggu laut, pohon-pohon besar atau sebagai persembahan bagi Jimat atau keris yang mereka miliki, maka pelakunya telah terjatuh dalam perbuatan Syirik Akbar.

Kedua : Barangsiapa Yang Menjadikan Adanya Perantara Antara Dirinya Dengan Allah. Mereka Berdoa, Meminta Syafa’at Dan Bertawakkal Kepada Perantara Tersebut, Maka Dia Telah Kafir Secara Ijma’.

Dalil tentang syiriknya perbuatan mereka ini adalah firman Allah ta’ala :

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan ” (QS. Yunus : 18)

Dan inilah tujuan kaum musyrikin berdoa, bernadzar dan berkurban untuk para Nabi, Malaikat dan orang-orang sholih. Mereka menganggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat menjadi penolong mereka di sisi Allah kelak.Ingatlah firman Allah ta’ala ketika berfirman kepada para Malaikat :

“Dan (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya Kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka Ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka Telah menyembah jin. kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’ : 40-41)

Ketiga : Barangsiapa Yang Tidak Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik Atau Ragu Tentang Kekafiran Mereka Atau Membenarkan Pendapat Mereka, Maka Dia Telah Kafir.

Para ulama telah menukil Ijma’ tentang kafirnya seseorang yang tidak mengkafirkan kaum Musyrikin seperti Yahudi dan Nashoro. Sebagaimana dinukil Al Qodhi bin Iyadh dalam “Asy Syifa” (2/281) dan Ibnu Taimiyah dalam “Majmu’ Fatawa'” (2/281). Mereka kafir dikarenakan telah mendustakan Allah dan RasulNya, karena dengan jelas Allah telah mengkafirkan Yahudi, Nashoro dan Musyrikin sebagaimana Allah berfirman :

” Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahanam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah : 6)

Dan juga firmanNya dalam ayat yang lain :

“Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah : 72)

Dan ayat-ayat lainnya yang banyak terdapat dalam Al Qur’an.

Keempat : Barangsiapa Yang Berkeyakinan Bahwa Ada Petunjuk Yang Lebih Sempurna Dari Petunjuk Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam Atau Berkeyakinan Bahwa Ada Hukum Yang Lebih Baik Dari Hukum Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam Sebagaimana Orang Yang Lebih Mengutamakan Hukum Thogut Diatas Hukum Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam, Maka Dia Telah Kafir.

Dalam permasalahan ini, para ulama membuat perincian hukum berdasarkan keadaan dan dalil-dalil yang ada :

Pertama : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang lebih sempurna atau lebih baik dari hukum yang diturunkan oleh Allah, maka dia telah Kafir , keluar dari agama.

Kedua : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang sama baiknya atau sama sempurnanya dengan hukum yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, maka diapun telah terjatuh dalam kekafiran yang mengeluarkan dia dari agama.

Ketiga : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan tidak ada yang semisalnya akan tetapi dia menyakini bahwa berhukum dengan hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bukanlah perkara yang wajib dan dia meyakini bahwa berhukum dengan hukum selain yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah perkara yang diperbolehkan dan bukan merupakan suatu keharaman, maka dia juga telah terjatuh pada Kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Keempat : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan wajib berhukum dengannya serta tidak diperbolehkan berhukum dengan selainnya dalam keadaan dia sendiri berhukum dengan hukum selain dari hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan dia berkeyakinan bahwa dengan perbuatannya berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah tersebut dia telah terjatuh dalam keharaman dan akan mendapat adzab atas apa yang telah dia lakukan, maka dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh

dalam Kafir Ashgor yang tidak menyebabkan dia keluar dari agama

Silahkan merujuk Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir At Thabari pada tafsir surat Al Maidah ayat 44 serta “Syarah Aqidah Thahawiyah” Ibnu Abiel Iez (323-334)

Kelima : Barangsiapa Yang Membenci Sesuatu Diantara Apa-Apa Yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam Datang Dengannya, Maka Dia Telah Kafir Walaupun Dia Mengamalkannya

Salah satu dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

“Yang demikian itu adalah Karena sesungguhnya mereka telah membenci kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah , lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 9)

Adapun dalil tentang kafirnya orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam walaupun dia mengamalkannya adalah firman Allah ta’ala :

”Dan tidak ada yang menghalangi nafkah-nafkah mereka untuk diterima melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan tidaklah mereka mengerjakan sembahyang, melainkan dengan rasa malas dan tidak (pula) mereka menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At Taubah : 54)

Keenam : Barangsiapa Yang Merendahkan Suatu Perkara Dari Agama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam Atau Merendahkan Ganjaran Kebaikan Atau Ancaman Adzab Dalam Agama Ini, Maka Dia Telah Kafir

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian memperolok-olok?” Tidak usah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman ” (QS. At Taubah : 65-66)

Berkata Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan :”Merendahkan perkara-perkara yang diturunkan oleh Allah atau sesuatu yang dibawa oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam walaupun perkara-perkara itu adalah hanya termasuk dari perkara-perkara yang sunnah atau mustahabah seperti bersiwak, memotong kumis, mencabut bulu ketiak atau memotong kuku, maka apabila dia menghinanya maka telah menjadikan dia kafir. Dalilnya adalah :

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian memperolok-olok?” Tidak usah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman ” (QS. At-Taubah : 65-66).

Maka barangsiapa yang merendahkan suatu perkara dari perkara-perkara yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam , baik berupa perkara yang Fardhu, Wajib atau Sunnah maka sesungguhnya hal itu menjadikan dia murtad dari agama”” Sampai disini ucapan beliau.(Syarah Nawaqidul Islam, hal 24)

Ketujuh : Sihir, Dan Termasuk Perbuatan Sihir Adalah As-Shorfu Dan Al-Athfu, Maka Barangsiapa Yang Melakukannya Atau Ridho Dengannya Maka Dia Telah Kafir

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.” (QS. Al-Baqarah : 102)

Termasuk dari perbuatan sihir adalah : Ilmu Santet, Ilmu kebal, Tenaga dalam dan Seni pernafasan yang menyebabkan pemiliknya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya tanpa ada sebab-sebab yang zhohir ataupun syar’i. Dan mereka mendapatkannya dari amalan-amalan atau wirid-wirid yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan juga para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

As-Shorfu yaitu jenis Sihir yang merubah rasa cinta dan sayang seseorang terhadap istrinya atau selainnya (Ayah, Ibu atau Shahabat) berubah menjadi rasa benci dan permusuhan.

Al-Athfu yaitu Jenis sihir yang membuat seorang insan menjadi tunduk kepada istrinya atau selainnya, sehingga seakan-akan seperti hewan yang diikat hidungnya. Di negeri kita jenis sihir ini lebih dikenal dengan ilmu pelet atau ilmu pengasihan.

Maka barangsiapa yang melakukannya atau ridho dengannya maka dia telah kafir: Maknanya yaitu apakah dia melakukannya sendiri, atau meminta orang lain melakukan untuknya atau ridho dengan perbuatan sihir tersebut, maka dia telah terjatuh dalam kekafiran.

 

Kedelapan : Meninggikan Kaum Musyrikin Dan Menolong Mereka Diatas Kaum Muslimin

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan barangsiapa diantara kalian berloyalitas kepada mereka (orang-orang Musyrik) Maka Sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah : 51)

Berkata Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan dalam tafsir surat Al Maidah ayat 51 :”Yaitu tidak berloyalitas kepada mereka, tidak meninggikan, tidak mencintai dan tidak menolong mereka” (Syarah Nawaqidul Islam, hal. 30)

Kesembilan: Barangsiapa Yang Berkeyakinan Bahwa Sebagian Manusia Ada Yang Diberi Keringanan (Kelonggaran) Untuk Keluar (Tidak Dibebani) Dari Syariat Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam Sebagaimana Nabi Khidir Alaihi Salam Diberi Keluasan Keluar Dari Syariat Nabi Musa Alaihi Salam, Maka Dia Telah Kafir.

 

Para ulama berbeda pendapat tentang Khidir alaihi salam, apakah beliau seorang Nabi, Rasul atau Wali Allah. Dan Jumhur ulama dari kalangan Muhaditsin, Muhaqiqqin, Fuqoha dan Mufassirin berpendapat bahwa beliau adalah Nabi diantaranya adalah Asy-Syinqithi, Ibnul Jauzi, Ibnul Qoyyim dan Ibnul Katsir.

Perkara seperti ini sebagaimana yang banyak ditemui di kalangan kaum sufi, mereka berkeyakinan bahwa guru, kyai atau ulama meraka telah mencapai tingkatan “Hakikat”, sehingga tidak lagi dibebani oleh syariat yang dibawa Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam, perkara yang wajib boleh mereka tinggalkan sedangkan perkara yang haram bebas untuk mereka kerjakan. Tidak asing lagi kita melihat sebagian mereka tidak pernah pergi ke Mesjid

untuk Sholat 5 waktu bahkan Sholat Jum’at sekalipun, tidak jarang pula kita melihat mereka menikahi lebih dari 4 wanita dalam keadaan hal tersebut adalah perkara yang diharamkan.

Dan Subhat yang mereka jadikan dalil untuk mendukung perbuatan mereka salah satunya adalah tidak dibebaninya nabi khidir alaihi salam dengan syariat yang dibawa oleh nabi Musa alaihi salam. Dan subhat mereka ini telah dibantah oleh ulama dari beberapa sisi, yaitu :

Pertama: Musa Alaihi salam hanya diutus kepada kaumnya yaitu bani Israil, sedangkan nabi khidir alaihi salam bukan termasuk dari bani Israil.

Dalil bahwa Nabi Musa diutus hanya untuk kaumnya adalah firman Allah ta’ala :

“Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, Mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah yang diutus kepada kalian ?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Shaff : 5)

Dan semua Nabi dan Rasul hanya diutus untuk terkhusus bagi kaumnya, kecuali Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam yang telah diutus untuk seluruh umat dari kalangan Jin dan Manusia. Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam :

“Dan para nabi hanya diutus khusus untuk kaumnya dan Aku telah diutus untuk seluruh umat” (Hadits Jabir bin Abdillah Radiyallahu anhu dalam Shohihain)

Kedua::Semenjak diutusnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam kepada seluruh umat, maka tidak ada seorangpun dari kalagan Jin dan Manusia yang terlepas dari beban Syariat yang beliau bawa.

Berfirman Allah ta’ala :

”Dan tidaklah kami mengutus engkau kecuali bagi seluruh umat sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ” (QS. Saba’ : 28)

Bahkan seandainya nabi Musa alaihi salam hidup pada zaman kita ini, maka beliaupun harus tunduk pada syariat Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam :

“Seandainya Musa hidup diantara kalian, maka tidak ada baginya pilihan kecuali mengikutiku” (HR. Ahmad (14672) Abi Ya’la (2135) dari Jabir bin Abdillah Radiyallahu ‘anhu. Dihasankan Oleh Syaikh Al- Albani dalam Al Irwa’ No.1589)

Maka apakah kaum Sufi menganggap bahwa Kyai atau guru-guru mereka lebih mulia dari nabi Musa alahi salam , ?? sehingga tidak lagi dibebani oleh syariat Shalallahu alaihi wassallam.

Kesepuluh : Berpaling Dari Agama Allah, Tidak Mempelajarinya Tidak Pula Mengamalkannya

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, Kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajadah : 22)

Dan dalil-dalil tentang perkara ini selain yang telah disebutkan pengarang diantaranya adalah firman Allah ta’ala :

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaahaa : 124)

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka” (QS. Al Ahqof : 3)

Apabila seseorang tidak mau mempelajari agama disebabkan rasa malas dikarenakan dalam menuntut ilmu dibutuhkan semangat, waktu dan biaya. Maka dalam keadaan yang seperti ini dia tidak dikafirkan, akan tetapi dia tercela karena rasa malasnya tersebut.

Berbeda dengan orang yang yang memang tidak memiliki semangat, keinginan dan kemauan untuk mempelajari agama ini, maka dia menjadi kafir. Sebagaimana dalil-dalil yang telah lewat. Silahkan merujuk “Syarah Nawaqidul Islam” Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan.

Dan tidak ada perbedaan dalam semua pembatal keislaman ini, antara orang yang melakukannya dalam keadaan bercanda, bersungguh-sungguh atau orang-orang yang melakukannya dalam keadaan takut, kecuali orang-orang yang dipaksa. Dan semua perkara ini adalah perkara yang sangat besar bahayanya dan sangat sering terjadi.

Dalil bahwasanya orang-orang yang bercanda atau bermain-main dalam pembatal Keislaman ini tetap dikafirkan adalah firman Allah ta’ala :

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian memperolok-olok?” Tidak usah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman ” (QS. At Taubah : 65-66)

Begitu juga orang yang melakukannya dalam keadaan takut (tanpa ada paksaan), maka tetap dikafirkan. Sebagaimana firman Allah ta’ala tentang kaum Fir’aun :

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya , lalu mereka patuh kepadanya. Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf : 54)

Para ulama telah menjelaskan bahwa ada beberapa perkara yang menjadikan udzur atau biasa juga disebut sebagai penghalang bagi seseorang untuk dihukumi kafir walaupun perbuatan yang dia lakukan adalah perbuatan yang pada dasarnya adalah perbuatan yang membatalkan keislaman, penghalang-penghalang itu ada 5, yaitu :

Pertama : Jahil atau bodoh (dalam keadaan tidak tahu), dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul” (QS. Al-Isra’ : 15)

Kedua dan Ketiga : Tidak sengaja dan lupa , Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah : 286)

Dan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:

“Sesungguhnya Allah memberikan keringanan bagi umatku : Salah (tidak sengaja), Lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya untuk melakukannya”

(HR. Ibnu Majah 2043,Ibnu Hibban 7219 dari Ibnu Abbas Radiyallahu anhuma. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Ibnu Majah” 1/374 dan 378)

Keempat : Dalam keadaan dipaksa, dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Allah murka kepadanya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak ada dosa baginya), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (QS. An-Nahl : 106)

Dan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:

“Sesungguhnya Allah memberikan keringanan bagi umatku : Salah (tidak sengaja), Lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya untuk melakukannya”

(HR. Ibnu Majah 2043,Ibnu Hibban 7219 dari Ibnu Abbas Radiyallahu anhuma. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Ibnu Majah” 1/374 dan 378)

Kelima : Takwil, yaitu menyimpangkan makna dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah dari makna yang sebenarnya. Sebagaimana orang-orang yang mentakwil sifat-sifat Allah atau orang-orang yang mentakwil tentang perintah bermusyawarah dalam surat Asy-Syura ayat : 38 dengan Demokrasi atau Parlemen, maka mereka tidak dikafirkan, akan tetapi mereka telah terjatuh dalam kebid’ahan. Silahkan merujuk kitab “Syarah Aqidah Thohawiyah,

Ibnu Abiel iez dan Qowaidhul Mutsla, Syaikh Ibnu Utsaimin”

Dan hendaknya seseorang tidak bermudah-mudah dalam menghukumi kafirnya seseorang, seperti mengatakan “si fulan kafir” . karena perkara ini bukanlah perkara yang remeh. Para ulama telah memperingatkan dengan keras tentang bahayanya bermudah-mudah dalam mengkafirkan seseorang tanpa diiringi dengan ilmu.Hendaknya kaum muslimin mengembalikan urusan-urusan besar seperti ini kepada para ulama dan tidak gegabah dalam menghukumi kafirnya seseorang.

Maka sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati darinya dan takut perkara itu akan menimpa dirinya. Dan kita berlindung kepada Allah dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaanNya dan apa-apa yang akan mendatangkan adzabNya.

4. TAUHID ADA 3 JENIS

Pertama : Tauhid Rububiyah,

Yaitu yang kaum kafir pada zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassallam membenarkannya (dan tidak mengingkari tauhid ini. Pent) akan tetapi Rasulllah shalallahu alaihi wassallam memerangi mereka dan (pembenaran mereka itu) tidak memasukkan mereka ke dalam Islam dan Rasulullah shalallahu alaihi wassallam menghalalkan darah dan harta mereka. Adapun yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dengan segala perbuatanNya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : ” Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

Dan ayat-ayat yang serupa dengan ini sangat banyak

Kedua : Tauhid Uluhiyah (Disebut Juga Tauhid Ibadah)

Yaitu Tauhid yang di dalamnya terjadi perselisihan (antara mukmin dan musyrik.pent) sejak zaman yang lampau hingga zaman ini. Yaitu mentauhidkan Allah dengan segala perbuatan hamba, seperti : Doa, Nadzar, berkurban, Roja’, Khouf, Tawakkal, Roghbah, Rohbah, Inabah dan seluruh jenis dari perkara-perkara ini terdapat dalilnya dari Al Qur’an dan Alaihi salam Sunnah.

Doa terbagi dua :

Pertama : Doa Ibadah, seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji dan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah-ibadah ini teranggap sebagai doa, dikarenakan di dalamnya terkandung doa, yaitu agar dimasukkan surga dan dijauhkan dari Neraka dengan sebab mengerjakan amalan tersebut. Dan doa Ibadah ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata, apabila ditujukan kepada selainnya maka pelakunya telah terjatuh dalam perbuatan syirik akbar.

Kedua : Doa Masalah, seperti meminta Rejeki, meminta keturunan atau meminta dilepaskan dari suatu kesulitan.

Doa masalah boleh ditujukan kepada selain Allah dengan dipenuhinya seluruh dari 3 syarat tanpa ada satupun yang tidak terpenuhi, yaitu :

– Hidup, yakni maknanya tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah mati atau meminta tolong kepada batu, pohon dan semisalnya

– Hadir, Yakni maknanya yang dimintai tolong dapat berhubungan langsung dengan yang meminta tolong baik secara bertatap muka ataupun melalui alat perantara seperti Telepon, surat dan sebagainya.

Sehingga tidak boleh diperbolehkan bagi seseorang meminta tolong kepada orang lain yang terpisah dalam jarak yang jauh tanpa adanya perantara yang zhohir. Seperti memanggil-manggil sang guru ketika terancam bahaya dalam keadaan sang guru terpisah jarak yang sangat jauh, dan dia berkeyakinan bahwa

sang guru saat itu mampu mendengar permintaan tolongnya.

– Mampu, yakni maknanya yang dimintai bantuan memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan, sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta kepada orang lain untuk diberi keturunan, diturunkan hujan atau dipanjangkan umur, karena semua kemampuan ini tidak dimilki oleh mahluk dan hanya Allah yang memilikinya.

Nadzar: Yaitu seorang hamba mewajibkan kepada dirinya sendiri dengan suatu perkara atau suatu ketaatan kepada Allah yang perkara tersebut pada asalnya bukan perkara yang diwajibkan bagi dirinya menurut syariat.

Berkurban: Yaitu menghilangkan nyawa hewan dengan cara menumpahkan darah dan dengan cara-cara yang khusus.

Roja’: Yaitu harapan yang besar dari seorang hamba untuk memperoleh suatu perkara yang dekat untuk dicapai atau sesuatu yang jauh akan tetapi dia menjadikannya seakan-akan dekat untuk dicapai. (Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Roja’ ibadah seperti Roja’ untuk dimasukkan ke dalam surga, dihindarkan dari neraka, disembuhkan dari penyakit dll. (Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Sholih bin Abdul Azis Alu Syaikh)

Khouf (rasa takut) terbagi 3 jenis :

Pertama : Khouf tabiat seperti rasa takut terhadap api, binatang buas atau senjata tajam. Maka rasa takut yang seperti ini adalah perkara yang wajar selama rasa takut tersebut tidak sampai membuat seseorang meninggalkan perkara yang wajib.

Kedua : Khouf Ibadah yaitu rasa takut seseorang terhadap sesuatu yang diringi dengan penyembahan kepada yang ditakuti. Maka takut yang seperti ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Ketiga : Khouf tersembunyi (samar) seperti rasa takut terhadap mayit dalam kubur, Jin-jin penunggu laut dan semisalnya. Dan para ulama mengatakan bahwa rasa takut seperti ini termasuk dari perbuatan syirik, (Silahkan merujuk Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Tawakkal: Berkata Syaikh Syaikh Zayd bin Hady Al Madkhaly : “Tawakkal yaitu menyandarkan kepada Allah segala urusan dari segala urusanmu dan menyerahkan segenap perkara kepada Allah semata, tidak kepada selainnya” (At thoroqu wushul ila iydohi tsalastail ushul)

Roghbah: Yaitu mengharap sesuatu yang dicintai (Syarah tsalasatil ushul, Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan)

Rohbah: Berkata Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan : ” Rohbah adalah termasuk dari jenis Khouf, Rohbah dan Khouf bermakna satu” (Syarah tsalasatil ushul)

Inabah: Yaitu kembali kepada Allah dengan menunaikan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya (Syarah tsalasatil ushul, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Ketiga : Tauhid Dzat, Nama Dan Sifat Allah

Allah berfirman :

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlas : 1-4)

Dan firmanNya :

Artinya : “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam namanamaNya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf : 180).

Dan firmanNya :

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

5. LAWAN DARI TAUHID ADALAH SYIRIK

Syirik ada 3 jenis, Syirik Akbar, Syirik Ashgor dan Syirik Khofi’ (Pada hakikatnya Syirik hanya terbagi dua jenis, Akbar dan Ashgor. Adapun syirik Khofi’ bisa menjadi syirik Akbar bisa pula menjadi syirik ashgor).

a. Syirik Akbar : Allah tidak akan mengampuninya serta tidak akan menerima amalan sholih yang diringi dengannya (syirik). Makna ucapan beliau “Allah tidak akan mengampuninya” yaitu apabila sang pelaku kesyirikan mati dalam keadaan belum bertaubat dari kesyirikan yang dia lakukan. Adapun apabila dia sempat bertaubat sebelum meninggal, maka Allah akan mengampuninya. Berfirman Allah ta’ala :

“Katakanlah “ Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya dia maha pengampun dan maha penyayang” (QS. Az- zumar : 53)

Berfirman Allah azza wa jalla :

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Syirik) , dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS. An Nisa’: 116)

Berfirman Allah subhana wa ta’ala:

Artinya : “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah : 72)

Dan firmanNya :

Artinya : “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan.lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al- Furqon : 23)

Dan firmanNya :

Artinya : ” Sesungguhnya , Jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar : 65)

Artinya : ” Seandainya mereka berbuat syirik , niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 88)

Syirik Akbar Ada 4 Jenis :

Pertama : Syirik dalam doa

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Maka apabila mereka menaiki kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut : 65)

Kedua : Syirik niat, maksud dan Tujuan

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Huud : 15-16)

Ketiga : Syirik ketaatan

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah : 31)

Dan tafsir ayat ini yang maknanya sudah jelas yaitu ketaatan kepada Ulama dan ahli Ibadah dalam perkara maksiat, dan bukanlah yang dimaksud mereka berdoa (beribadah) kepada mereka. Sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wassallam menafsirkan ayat ini kepada Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassallam , beliau Radhiyallahu anhu berkata :”Tidaklah kami beribadah kepada mereka” maka Rasulullah shalallahu alaihi wassallam mengatakan kepadanya :”Yang dimaksud dengan beribadah kepada mereka yaitu menaati mereka dalam kemaksiatan” Hadits yang beliau maksud adalah hadits dari Adi bin Hatim Radiyallahu’ anhu. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/378) Tirmidzi (2954) Ibnu Hibban (7206). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Sunan Tirmidzi” (31/56)

Keempat : Syirik Kecintaan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman kecintaan mereka yang terbesar hanya untuk Allah semata.” (QS. Al Baqarah : 165)

b. Syirik Ashgor Pengertian Syirik Ashgor menurut “Lajnah Daimah” (Dewan Fatwa Saudi Arabia) yaitu :”Segala sesuatu yang syariat melarangnya dari apa-apa yang merupakan perantara menuju syirik akbar dan jalan-jalan dalam menyampaikan kepadanya (syirik Akbar) serta datang dalil-dalil penamaan bahwa perkara tersebut adalah syirik”: yaitu riya’: Ucapan beliau “Syirik Ashgor yaitu riya'” bukan bermakna pembatasan bahwa syirik Ashgor hanya terbatas pada riya’ saja. Makna riya’ sendiri yaitu : ” Menampakkan ibadah dengan tujuan untuk dilihat manusia dan agar manusia memuji pelakunya” (Fathul Majied, Syaikh Abdurrohman bin Hasan)

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya”. (QS. Al-Kahfi : 110)

c. Syirik Khofi’ : Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam

Artinya : “Kesyirikan pada umat ini lebih samar dari semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah kegelapan malam” HR. Al Hakim (2/290) dan Abu Nu’aim dalam “Al Hilyah” dari Aisyah Radiyallahu’ anha, juga datang dari Ibnu Abbas, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Bakar As Shidiq dan Hudzaifah Radiyallahu’ anhum. Akan tetapi hadits ini Dhoif, silahkan merujuk “Silsilah Al Hadits Dhoifah” no. 3755 dan “Dhoiful Jami'” No. 3431 Karya Syaikh Al-Albani

Dan penghapusnya adalah (doa) dalam sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

Artinya : ” Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada engkau dari menyekutukan bersamamu sesuatu dalam keadaan aku mengetahui dan aku memohon kepadamu dari dosa-dosa yang aku tidak mengetahuinya” HR. Al Hakim dari Abu Bakar As Shidiq Radiyallahu’ anhu, Didhoifkan oleh Syaikh Al Albani dalam “Dhoiful Jami'” No. 3432

6. JENIS-JENIS KEKAFIRAN

Kafir Ada 2 Jenis

a. Jenis Kafir Pertama : Kafir Yang Mengeluarkan Pelakunya Dari Agama Islam (Kafir Akbar)

Dan Kafir ini ada 5 Jenis : 5 Jenis Kafir inilah yang merupakan dasar-dasar kafir akbar.

Pertama : Kafir pendustaan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak, tatkala yang Hak itu datang kepadanya? bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ?” (QS. Al-Ankabut : 68)

Kedua : Kafir keengganan dan kesombongan dalam keadaan membenarkan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

Artinya : “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam,” Maka bersujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 34)

Ketiga : Kafir Keraguan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan dia memasuki kebun miliknya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri. Dia berkata: “Aku menyangka kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, Dan tidaklah aku menyangka hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat

tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki

yang sempurna? tetapi Aku (percaya bahwa): dialah Allah, Rabbku, dan Tidaklah aku mempersekutukan sesuatupun bersama Rabbku” (QS. Al-Kahfi : 35-38)

Keempat : Kafir berpaling

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Tidaklah kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS. Al Ahqof : 3)

Kelima : Kafir Munafik

Artinya : “Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, Kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; Karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS. Al-Munaafiquun : 3)

b. Jenis Kafir Kedua : Kafir Ashgor , Yang Tidak Mengeluarkan Pelakunya Dari Agama Ini Yaitu Kafir Nikmat.

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An Nahl : 112)

 Ucapan beliau “Yaitu kafir nikmat” bukan bermakna pembatasan, karena telah datang dalil-dalil lainnya selain dari perbuatan kafir nikmat yang menyebabkan pelakunya terjatuh pada Kafir Ashgor, seperti perbuatan membunuh muslim, mencela nasab dan meratapi mayit.

Kafir Nikmat sendiri yang disebutkan oleh beliau sebagai Kafir Ashgor , pada hakikatnya bisa menjadi kafir akbar dan bisa pula menjadi kafir Ashgor. Misalkan seseorang yang terhindar dari sebuah musibah marabahaya dan pada saat itu dia sedang mengenakan jimat-jimat yang terdiri dari tulisan-tulisan Al-Qura’n, kemudian dia berkeyakinan bahwa selamatnya dia dari musibah tersebut disebabkan jimat-jimat yang dia kenakan, dan dia meyakini bahwasanya Jimat-jimat itu dengan sendirinya memiliki kemampuan untuk menghindarkan dia dari musibah, maka dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh dalam Kafir Akbar.

Adapun apabila dia berkeyakinan bahwa yang menyelamatkan dia adalah Allah, akan tetapi dia meyakini bahwa Allah menghindarkannya dari musibah tersebut dikarenakan jimat-jimat yang dia pakai dan dia berkeyakinan seandainya dia tidak memakainya belum tentu Allah menolongnya, maka dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh dalam kafir Ashgor.

7. JENIS-JENIS MUNAFIK

Munafik ada 2 jenis : (keyakinan) dan (amalan)

a. Munafiq Keyakinan Disebut Juga Nifaq Akbar Yang Menyebabkan Pelakunya Keluar Dari Agama.

Munafiq keyakinan ada 6 jenis dan pelakunya adalah penghuni neraka yang paling dasar. Dalil bahwasanya pelaku Nifaq I’tiqodi berada di neraka yang paling dasar adalah firman Allah ta’ala :

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisa’ : 145-146)

Pertama : Mendustakan Rasulullah shalallahu alaihi wassallam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

”Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munaafiquun : 1-2)

Kedua : Mendustakan sebagian dari perkara-perkara yang Rasulullah shalallahu alaihi wassallam datang dengannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Dan mereka berkata: “Kami Telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Nuur : 47)

Ketiga : Membenci Rasulullah shalallahu alaihi wassallam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui.” ( QS. Al-Munaafiquun : 8)

Keempat : Membenci sebagian dari perkara-perkara yang Rasulullah shalallahu alaihi wassallam datang dengannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Dan tidak ada yang menghalangi nafkah-nafkah mereka untuk diterima melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan tidaklah mereka mengerjakan sembahyang, melainkan dengan rasa malas dan tidak (pula) mereka menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At Taubah : 54)

Kelima : Merasa gembira dengan kekalahan agama Rasulullah shalallahu alaihi wassallam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (Tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (QS. At-Taubah : 50)

Keenam : Merasa benci dengan ditolongnya (kemenangan) agama Rasulullah shalallahu alaihi wassallam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran:120)

b. Munafik Amalan Disebut Juga Nifaq Ashgor , Yang Tidak Megeluarkan Pelakunya Dari Agama. Berkata Syaikhul Islam Tentang Nifaq Ashgor (Nifaq Amali) :”Yaitu Menampakkan Ketaatan Dan Menyembunyikan (Dalam Hati) Kemaksiatan ” (Majmu’ Fatwa)

Munafik Amalan ada 5 Jenis. Ucapan beliau “ada 5 jenis” bukan bermakna batasan, Jenis Nifaq amali sangat banyak tidak terbatas hanya ada 5 jenis yang beliau sebutkan.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

Artinya : “Tanda-tanda Munafik ada 3, apabila dia berkata dia berdusta, apabila dia berjanji dia ingkar dan apabila dipercaya dia berkhianat” HR. Bukhari (33,2682,27849,6095) Muslim(59) Ahmad (9169) dari Abu Hurairoh Radiyallahu ‘anhu

Dan dalam riwayat lain:

Artinya : “Apabila berdebat dia berlebihan dan apabila terikat perjanjian dia berkhianat” HR. Bukhari (34,2459,3178) Muslim(68) Ahmad (6782) Abu Dawud (4688) tirmidzi (2632) dari Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘anhuma

8. MAKNA THOGUT, PARA PEMIMPINNYA DAN JENIS-JENISNYA

Ketahuilah ,semoga Allah merahmatimu. Bahwa sesungguhnya perkara pertama yang diwajibkan Allah kepada Bani Adam adalah Kafir kepada Thogut dan beriman kepada Allah.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” (QS. An-Nahl : 36)

Adapun cara kafir kepada Thogut adalah dengan meyakini bahwa beribadah kepada selain Allah adalah bathil, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan para pelakunya serta memusuhi mereka.

Adapun makna beriman kepada Allah yaitu meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya sesembahan, tidak ada sesembahan selainNya, mengikhlaskan seluruh ibadah seluruhnya ditujukan kepadaNya semata, menafikanNya dari semua sesembahan selainNya, mencintai orang-orang yang ikhlas (Ahlu Tauhid), berloyalitas kepada mereka serta membenci pelaku kesyirikan dan memusuhi mereka.

Dan inilah agama Ibrahim alaihi salam yang barangsiapa membencinya maka dia telah membodohi dirinya sendiri dan inilah suri tauladan yang dikabarkan Allah dalam firmanNya :

Artinya : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari daripada apa-apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan Telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata.” (QS. Al-Mumthahanah : 4)

Dan makna thogut secara umum yaitu seluruh yang yang diibadahi dari selain Allah dan dia ridho untuk diibadahi, baik berupa sesuatu yang disembah, diikuti dan ditaati dalam perkara-perkara selain ketaatan kepada Allah dan RasulNya, maka inilah Thogut.

Jenis-jenis thogut sangat banyak,dan pemimpinnya ada 5. Jenis-jenis Thogut sangat banyak dan Thogut tidak akan terlepas dari 3 jenis : Thogut dalam hukum, Thogut dalam dalam ketaatan dan thogut dalam Ibadah. Dan pemimpin Thogut ada 5 jenis sebagaimana yang beliau sebutkan dan seluruh dari kelima Thogut ini tidak terlepas dari 3 jenis Thogut yang disebutkan.

Pertama : Syaithan yang menyeru untuk beribadah kepada selain Allah

Dalinya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai Bani Adam agar kalian tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS Yasin : 60)

Kedua : Hakim Dzolim yang merubah hukum Allah

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ : 60)

Dalam permasalahan ini, para ulama membuat perincian hukum berdasarkan keadaan dan dalil-dalil yang ada :

Pertama : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang lebih sempurna atau lebih baik dari hukum yang diturunkan oleh Allah, maka dia telah Kafir , keluar dari agama.

Kedua : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang sama baiknya atau sama sempurnanya dengan hukum yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, maka diapun telah terjatuh dalam kekafiran yang mengeluarkan dia dari agama.

Ketiga : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan tidak ada yang semisalnya akan tetapi dia menyakini bahwa berhukum dengan hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bukanlah perkara yang wajib dan dia meyakini bahwa berhukum dengan hukum selain yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah perkara yang diperbolehkan dan bukan merupakan suatu keharaman, maka dia juga telah terjatuh pada Kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Keempat : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan wajib berhukum dengannya serta tidak diperbolehkan berhukum dengan selainnya dalam keadaan dia sendiri berhukum dengan hukum selain dari hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan dia berkeyakinan bahwa dengan perbuatannya berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah tersebut dia telah terjatuh dalam keharaman dan akan mendapat adzab atas apa yang telah dia lakukan, maka dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh

dalam Kafir Ashgor yang tidak menyebabkan dia keluar dari agama

Silahkan merujuk Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir At Thabari pada tafsir surat Al Maidah ayat 44 serta “Syarah Aqidah Thahawiyah” Ibnu Abiel Iez (323-334)

Ketiga : Barangsiapa yang menghukumi dengan selain yang diturunkan oleh Allah

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

Artinya : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Ma’idah : 44)

Dalam permasalahan ini, para ulama membuat perincian hukum berdasarkan keadaan dan dalil-dalil yang ada :

Pertama : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang lebih sempurna atau lebih baik dari hukum yang diturunkan oleh Allah, maka dia telah Kafir , keluar dari agama.

Kedua : Apabila dia berkeyakinan bahwa ada hukum yang sama baiknya atau sama sempurnanya dengan hukum yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, maka diapun telah terjatuh dalam kekafiran yang mengeluarkan dia dari agama.

Ketiga : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan tidak ada yang semisalnya akan tetapi dia menyakini bahwa berhukum dengan hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bukanlah perkara yang wajib dan dia meyakini bahwa berhukum dengan hukum selain yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah perkara yang diperbolehkan dan bukan merupakan suatu keharaman, maka dia juga telah terjatuh pada Kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Keempat : Apabila dia menganggap bahwa hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah hukum yang sempurna dan wajib berhukum dengannya serta tidak diperbolehkan berhukum dengan selainnya dalam keadaan dia sendiri berhukum dengan hukum selain dari hukum yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan dia berkeyakinan bahwa dengan perbuatannya berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah tersebut dia telah terjatuh dalam keharaman dan akan mendapat adzab atas apa yang telah dia lakukan, maka dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh

dalam Kafir Ashgor yang tidak menyebabkan dia keluar dari agama

Silahkan merujuk Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir At Thabari pada tafsir surat Al Maidah ayat 44 serta “Syarah Aqidah Thahawiyah” Ibnu Abiel Iez (323-334)

Keempat : Barangsiapa dari selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu gaib

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : ” (Dialah) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang perkara ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Al-Jin : 26-27)

Dan FirmanNya :

Artinya : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi,

dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata ” (QS. Al-An’am : 59)

Mereka memiliki nama dan metode yang berbeda, akan tetapi pada hakikatnya sama. Diantara nama-nama mereka : Dukun, paranormal, “orang pintar”, cenayang , Ahli Zodiak, Astrolog, dan nama-nama lainnya, Metode yang digunakan pun berbeda-beda, sebagian dengan menghitung tanggal lahir, sebagian lagi dengan melihat bintang atau dengan menggunakan kartu khusus.

Apapun nama dan metode mereka, selama mereka mengaku mengetahui perkara yang gaib seperti perkara yang belum terjadi atau nasib baik dan buruk seseorang di masa yang akan datang, maka jangan ragu lagi, merekalah thogut dan mereka telah kafir dengan pengakuannya tersebut.

Bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

“Kunci perkara-perkara Gaib ada 5 : Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terjadi dalam Rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dia kerjakan esok hari kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu turunnya hujan kecuali Allah, Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati kecuali Allah dan Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ditegakkan hari kiamat kecuali

Allah” (HR. Bukhari (992,4351,4420,4500,6944) Ahmad 2/52)

Kelima : Barangsiapa yang disembah selain Allah dan dia Ridho untuk disembah

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah sesembahan selain Allah”, Maka orang itu kami beri balasan dengan Jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al Anbiya : 29)

Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang insan tidak menjadi seorang yang beriman kepada Allah kecuali dengan kafir kepada thogut.

Dalilnya firman Allah ta’ala :

Artinya : “Maka barangsiapa yang kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al- Baqarah : 256)

Oleh sebab itu Isa bin Maryam alahi salam tidak bisa dikatakan sebagai thogut, karena walaupun kaum Nashoro menyembahnya, akan tetapi beliau tidak ridho untuk disembah, berfirman Allah ta’ala :

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Apakah engkau mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS. Al-Maidah : 116)

Petunjuk adalah agama Muhammad shalallahu alaihi wassallam dan kesesatan adalah agama Abu Jahal . Dan tali yang kokoh untuk berpegang adalah persaksian bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah dan persaksian itu mengandung penafian dan penetapan.

Menafikan segala jenis ibadah yang ditujukan kepada selain Allah dan menetapkan seluruh jenis ibadah seluruhnya ditujukan untuk Allah semata dan tidak ada sekutu bagiNya

Dan segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya, sempurnalah amalan-amalan sholih.

[Risalah ini pada hakikatnya adalah kumpulan ringkas dari kalam As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi An-Najdi, seorang ulama besar di daerah Najd (sekarang termasuk dalam kerajaan Saudi Arabia) yang hidup sekitar 3 abad yang lampau. Adapun yang meringkasnya adalah As-Syaikh Abdullah bin Ibrohim bin Utsman Al-Qor’awi. Terjemahan kitab Al Wajibat].

Sumber: www. assamarindy.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s