Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Diutus kepada Manusia dan Jin



وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an , maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an ) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, sambutlah (seruan)penyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

صَرَفْنَا

Kami hadapkan, maknanya Kami mengarahkan dan mengutusnya kepadamu.

كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى

Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa.
Yang dimaksud kitab di sini adalah Al-Qur`an, yang sebelumnya mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepada Musa ‘alaihissalam.

Atha` rahimahullahu berkata:
Mereka sebelumnya beragama Yahudi, kemudian masuk Islam. Oleh karenanya, disebutkan “diturunkan setelah Musa.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:
Jin tersebut tidak mendengar tentang diutusnya Nabi Isa ‘alaihissalam, oleh karenanya disebutkan “diturunkan setelah Musa.”

مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَِ

Membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat.

أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ

Sambutlah penyeru kepada (jalan) Allah.

Yang dimaksud penyeru di sini adalah Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Di mana seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya tidak diutus kepada jin dan manusia secara keseluruhan, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Sebab Turunnya Ayat
Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya (2/456) dengan sanadnya dari Zir bin Hubaisy, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Mereka (para jin) turun ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau sedang membaca Al-Qur`an di sebelah pohon kurma. Tatkala mereka mendengarnya, merekapun diam dan berkata: “Diamlah kalian.” Mereka berjumlah sembilan, salah seorang dari mereka bernama Zuba’ah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya ini.”

Al-Hakim berkata:
Sanadnya shahih. Dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Baihaqi melalui jalur Al-Hakim dengan sanad ini dalam Dala`il An-Nubuwwah (2/13). (Lihat Ash-Shahih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul, oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu: 212)

Penjelasan Ayat
Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh makhluk, manusia dan jin. Maka merupakan keharusan baginya untuk menyampaikan seluruh tugas dakwahnya sebagai Nabi dan Rasul. Kepada manusia, memungkinkan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi dan memberi peringatan kepada mereka. Adapun jin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkan mereka kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kekuasaan-Nya, dan mengutus kepada beliau “sekelompok jin untuk mendengarkan Al-Qur`an. Ketika mereka telah hadir, mereka berkata: “Diamlah kalian.” Maknanya yaitu: Mereka saling mengingatkan untuk diam.

“Ketika telah selesai” dan mereka telah menghafalnya serta memberi pengaruh pada mereka, “merekapun kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan” berupa nasehat untuk (kaum) mereka dan menegakkan hujjah Allah atas mereka. Allah memilih mereka untuk membantu Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan dakwah untuk kalangan para jin. Mereka berkata: “Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan sebuah kitab (yaitu Al-Qur`an) yang diturunkan setelah Musa.” Sebab, kitab Musa merupakan asal dari kitab Injil, sebagai sandaran bagi Bani Israil dalam hukum-hukum syariat. Sedangkan Injil hanyalah penyempurna dan mengubah sebagian hukum (dari kitab sebelumnya). “Membenarkan kitab-kitab sebelumnya,” yang mana kitab yang kami dengar ini “memberi petunjuk kepada kebenaran” dalam setiap berita dan pencarian, serta “membimbing ke arah jalan yang lurus” menuju Allah, yang sampai kepada surga-Nya, dengan mempelajari ilmu tentang Allah, hukum-hukum agama-Nya, dan hari pembalasan.

Ketika mereka telah memuji Al-Qur`an dan menjelaskan kedudukannya, mereka pun mengajak kaumnya untuk mengimani. Mereka berkata: “Wahai kaum kami, penuhilah panggilan penyeru kepada (jalan) Allah,” yang tidak mengajak kecuali kepada Rabbnya. Dia tidak menyeru kalian kepada tujuan tertentu, tidak pula kepada hawa nafsu. Namun dia mengajak kepada Rabb kalian, agar Allah memberimu pahala dan menghilangkan setiap kejahatan dan apa-apa yang tidak disukai dari dirimu. Oleh karenanya, mereka mengatakan: “Allah mengampuni dosa kalian dan melindungi kalian dari adzab yang pedih.” Sehingga jika Allah melindungi kalian dari adzab yang pedih, maka tak ada lain setelah itu kecuali kenikmatan. Dan inilah balasan bagi yang menyambut penyeru kepada jalan Allah.

“Barangsiapa yang tidak memenuhi panggilan penyeru kepada jalan Allah, tidaklah menjadikan Allah tidak mampu (untuk menyiksanya) di muka bumi.” Karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang yang lari dari-Nya tidak akan dapat menghindar, dan Dia tidak pula bisa dikalahkan oleh sesuatupun.

“Dan mereka tidak mempunyai penolong selain-Nya. Mereka itulah yang berada dalam kesesatan yang nyata.” Kesesatan siapa lagi yang lebih besar daripada orang yang telah diseru para rasul dan telah sampai kepadanya peringatan dengan berbagai tanda kekuasaan-Nya serta hujjah yang mutawatir, namun kemudian dia berpaling dan membangkang?” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 783)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Diutus untuk Seluruh Jin dan Manusia
Tidak ada perselisihan di kalangan kaum muslimin, satu kelompok pun, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh jin dan manusia. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Aku telah diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorangpun dari kalangan para nabi sebelumku: Aku diberi pertolongan dengan ditanamkannya rasa takut (pada musuh-musuhku) sejarak satu bulan perjalanan. Dan telah dijadikan bagiku seluruh bumi sebagai masjid dan alat bersuci. Maka siapa saja di kalangan umatku yang mendapati waktu shalat, hendaklah dia shalat. Dan dihalalkan bagiku harta rampasan perang dan tidak dihalalkan kepada seorangpun sebelumku. Dan aku diberi syafaat dan adalah nabi sebelumku diutus kepada kaumnya secara khusus sedangkan aku diutus kepada seluruh an-naas.”

Ibnu ‘Aqil berkata:
“Jin termasuk ke dalam penamaan an-naas secara bahasa.”

Ar-Raghib berkata:
“An-Naas adalah jenis makhluk hidup yang berfikir dan berperasaan, dan jin termasuk yang berfikir dan berperasaan.”

Al-Jauhari berkata:
“An-Naas termasuk dari kalangan jin dan juga manusia.” (Lihat Akamul Mirjan, karya Badruddin Asy-Syibli, hal. 37)

Hal ini dikuatkan dengan riwayat yang berasal dari Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ إِلَى اْلأَحْمَرِ وَاْلأَسْوَدِ

“Aku diutus kepada yang merah dan yang hitam.”

Mujahid bin Jabr menafsirkan hadits ini dengan makna jin dan manusia. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 16/217)

Dalam riwayat Muslim dengan lafadz:

بُعِثْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً

“Aku diutus kepada seluruh makhluk.”

Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata:
Mereka tidak berbeda pendapat bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada jin dan manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Ini termasuk keistimewaan beliau dibandingkan para nabi, yakni dengan diutusnya beliau kepada seluruh jin dan manusia. Sedangkan yang lainnya tidak diutus kecuali hanya kepada kaumnya, demikian pula terhadap para nabi yang lainnya. Hal ini juga disebutkan Imamul Haramain dalam kitabnya Al-Irsyad saat membantah firqah (kelompok) Al-Isawiyyah: “Dan sungguh kami mengetahui secara pasti bahwa beliau diutus kepada dua tsaqalain (jin dan manusia).” (Lihat kitab Akamul Mirjan, hal. 38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Muhammad kepada seluruh tsaqalain: jin dan manusia, dan mewajibkan kepada mereka beriman kepadanya dan kepada apa yang dibawanya serta mentaatinya. Juga agar mereka menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mewajibkan apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membenci apa-apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan siapa saja dari kalangan jin dan manusia yang telah ditegakkan hujjah atasnya berupa risalah yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dia tidak beriman kepadanya, maka dia berhak mendapatkan hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana hukuman yang diberikan kepada orang-orang kafir yang yang para rasul diutus ke tengah-tengah mereka. Ini merupakan prinsip yang telah disepakati para shahabat, tabi’in, para imam kaum muslimin, dan seluruh kelompok muslimin, baik Ahlus Sunnah wal Jamaah maupun yang lainnya.” (Akamul Mirjan, hal. 38)

Dan pada ayat yang ke-32 yang menyatakan “Dan orang yang tidak menerima (seruan) penyeru kepada Allah, maka dia tidak bisa melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”, sangat jelas menunjukkan bahwa kalangan jin yang tidak beriman dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia kafir.

Adakah Rasul dari Kalangan Jin?
Jumhur ulama baik dari kalangan Salaf maupun Khalaf menyatakan bahwa tidak satupun rasul yang diutus yang berasal dari kalangan jin, dan rasul hanya berasal dari kalangan manusia. Pendapat ini dinukil dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Juraij, Mujahid, Al-Kalbi, Abu ‘Ubaid, dan Al-Wahidi. Dan ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa dari kalangan jin tidak terdapat rasul, namun yang ada hanyalah para pemberi peringatan. Ibnu ‘Abbas berkata: “Para rasul dari anak cucu Adam, dan dari kalangan jin adalah nudzur (para pemberi peringatan).”

Demikian pula firman Allah:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوْحٍ وَالنَّبِيِّيْن مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ وَعِيْسَى وَأَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهَارُوْنَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُوْرًا. وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا. رُسُلاً مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa`: 163-165)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim ‘alaihissalam:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.” (Al-’Ankabut: 27)

Dalam ayat ini, Allah membatasi kenabian dan pemberian kitab setelah Ibrahim pada keturunannya. Dan tidak seorangpun manusia yang mengatakan bahwa kenabian dari kalangan jin pernah terjadi sebelum diutusnya Ibrahim, lalu terputus setelah beliau diutus. Demikian pula firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِي اْلأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُوْنَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (Al-Furqan: 20)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوْحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى أَفَلَمْ يَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ اْلآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ

“Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?” (Yusuf: 109)

Semua dalil ini menguatkan pendapat jumhur yang menyatakan bahwa rasul seluruhnya dari kalangan manusia dan tidak satupun dari kalangan jin.

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa dari kalangan jin terdapat rasul tersendiri sebagaimana manusia. Di antaranya adalah Adh-Dhahhak bin Muzahim, dan dia berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِيْنَ

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu akan pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri’. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)

Sisi pendalilan ayat ini bahwa lafadz: “Wahai sekalian jin dan manusia, bukankah telah datang kepadamu para rasul dari kalian”, dipahami bahwa dari manusia ada rasul dari kalangan mereka, maka demikian pula dari kalangan jin.

Namun pendalilan ini sangat lemah, sebab ayat ini tidak jelas menunjukkan atas apa yang dimaukan. Seperti firman Allah:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَ يَبْغِيَانِ. فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ. يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (Ar-Rahman: 19-22)

Padahal mutiara dan marjan tersebut hanyalah dikeluarkan dari laut yang asin dan bukan yang tawar. Dan ini adalah perkara yang jelas, sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir rahimahullahu. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/178. Lihat pula kitab Al-Ilham Wal In’am Fi Tafsir Surah Al-An’am, karya Taqiyyuddin Al-Hilali, hal. 105)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com

 

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s