Mewaspadai Penyeru Kebinasaan


Jalan-jalan kesesatan jumlahnya sangat banyak dan bentuknya pun macam-macam. Demikian banyaknya sampai masyarakat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Salah satunya adalah ilmu filsafat.

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan beberapa poin yang menunjukkan keharusan berhati hati dalam mengambil ilmu, sebagaimana tersebut dalam ayat:

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللّهُ

“Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin menakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (Ali ‘Imran: 7)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan: Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, beliau bersabda:

“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (yang tidak jelas maksudnya) maka merekalah yang disebut oleh Allah, maka hati-hatilah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jelaslah, bahwa akan ada dari umat ini orang-orang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat saja dengan tujuan agar mereka bisa menyelewengkan semau mereka, dan mereka sebarkan di kalangan umat untuk menyesatkan mereka dari jalan yang lurus, baik mereka sadari ataupun tidak. Padahal semestinya ayat-ayat yang semacam itu kita fahami maknanya sesuai dengan ayat yang muhkamat (yang sudah jelas maknanya) sehingga tidak terjadi kesan pertentangan antara ayat Al Qur’an.

Inilah cara yang benar dalam memahami ayat. Dalam hadits, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan adanya kebaikan lalu adanya kaum yang menjalani selain Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil selain petunjuknya, ditanya oleh Hudzaifah radhiallahu ‘anhu katanya: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?” Beliau menjawab:

نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُمْ فِيْهَا

“Ya, para da’i yang berada di pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.”

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, berikan sifatnya kepada kami.” Jawabnya: “Ya, sebuah kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita…” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan akan adabya para da’i yang mengajak ke neraka jahannam, sehingga dalam hadits lainpun beliau mengatakan:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dan yang lain dari Tsauban radhiallahu ‘anhu dishahihkan Asy Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1582)

Hadits-hadits tersebut menunjukan perhatian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita dimana beliau sangat mengkhawatirkan kesesatan umatnya dengan sebab mengikuti para da’i yang membawa pemikiran atau ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena inilah penyebab hancurnya agama.

Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu mengatakan:
“Tidak merusak agama ini kecuali raja-raja, ulama, dan ahli ibadah yang jelek.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 204)

Oleh karenanya perlu dijelaskan jenis-jenis manusia yang harus diwaspadai ketika kita mengambil ilmu sebagaimana disebutkan para ulama.

1. Ashabur Ra’yi, yaitu orang-orang yang memahami agama dengan rasio mereka.
Termasuk di sini adalah orang-orang yang menafsirkan ayat atau hadits dari akal/logika mereka sendiri tanpa merujuk kepada tafsir ulama.

‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengatakan:
“Jauhi oleh kalian Ashabur Ra’yi, mereka adalah para musuh As-Sunnah. Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu mereka hafalkan, akhirnya mereka mengatakan dengan akal sehingga sesat dan menyesatkan.” (Al-Intishar Li Ahli Hadits no. 21)

2. Al-Ashaghir, yaitu orang-orang kecil.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلَاثًا إِحْدَاهُنَّ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Di antara tanda hari kiamat ada tiga, salah satunya adalah dituntutnya ilmu dari Al-Ashaghir.” (Shahih atau hasan, HR. Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 612 tahqiq Abul Asybal dan dihasankannya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim Al-Hilali dalam Basha’ir Dzawisy Syaraf hal. 41)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, jika ilmu datang dari Al-Ashaghir maka mereka akan binasa. (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal 616)

Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahu ditanya tentang makna Al-Ashaghir. Katanya, yaitu orang yang berpendapat (dalam masalah agama) dengan pendapat mereka sendiri … yakni ahlul bid’ah (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 612). Karena memang ahlul bid’ah kecil dalam hal ilmu.

Sebagian ulama yang lain mengatakan yang dimaksud adalah yang tidak punya ilmu (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 617)

Yang lain lagi mengatakan: “Bisa jadi yang dimaksud adalah orang yang tidak terhormat, dan hal itu terjadi kecuali karena ia membuang agama dan kehormatannya. Adapun yang selalu menjaga keduanya pasti dia akan terhormat.” (Al-I’tisham, 2/682)

3. Ahlul Bid’ah.
Seseorang bisa dikatakan sebagai ahlul bid’ah jika ia menyelisihi hal-hal yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Al-Farqu Bainal Firaq hal. 14-15)

Ibnu Taimiyah rahimahullahu menjelaskan, bid’ah yang dengannya seseorang bisa dianggap sebagai ahlul ahwa’ (ahlul bid’ah) adalah sebuah bid’ah yang telah masyhur di kalangan ahlul ilmi dan Ahlus Sunnah bahwa hal itu menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah seperti bid’ah Khawarij, Syi’ah, Qadariyyah, dan Murji’ah. (Majmu’ Fatawa, 35/414 dari Mauqif Ahlissunnah, 1/119)

Maka jika kita ketahui bahwa seseorang memiliki sebuah paham atau keyakinan yang masyhur dan jelas menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah menurut pandangan ulama Ahlus Sunnah atau menyelisihi sesuatu yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah, maka ia tergolong ahlul bid’ah.

Contoh yang paling jelas dalam hal ini seperti pribadi/kelompok yang memiliki pemahaman mengkafirkan mayoritas kaum muslimin, menolak hadits-hadits ahad (bukan mutawatir) dalam hal akidah, mencela sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meremahkan masalah tauhid, menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengatakan Al-Qur’an bukan Kalamullah, serta menafikan takdir.

Seseorang yang mencari ilmu agama harus hati-hati dari orang yang semacam ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ

“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain.” (Al-An’am: 153)

Seorang tabi’in bernama Mujahid rahimahullahu menafsirkan ayat ini, katanya:
“(Yang dimaksud adalah) bid’ah dan syubhat-syubhat.” (Al-Bid’ah, Dhawabithuha … hal. 12)

Al-Imam Malik rahimahullahu mengatakan:
“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang -diantaranya-: seorang ahli bid’ah yang mengajak kepada bid’ahnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 821)

Dan banyak lagi dalil atau ucapan salaf di dalam hal ini.

4. Ahli filsafat.
Yang dimaksud adalah orang-orang yang berusaha memahami perkara-perkara agama melalui teori-teori filsafat yang berasal dari Yunani yang mereka namakan dengan ‘Ushuluddin’.

Masalah penimbangan amal di akhirat kelak, misalnya. Menurut mereka -dengan teori filsafat-, amal bukan dzat yang berwujud sehingga tidak bisa ditimbang. Alhasil dengan pemahaman ini, mereka mengingkari nash-nash tentang timbangan amal. Padahal menurut pemahaman yang benar, kita wajib mengimaninya karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Memahami agama melalui teori atau kaidah filsafat, jika kebetulan sesuai dengan kebenaran tetap tidak akan menyampaikan pada kemantapan dalam berakidah. Karena akan selalu tergoyahkan dengan teori lainnya yang menurut orang lain atau menurut dia sendiri di waktu lain lebih kuat.

Sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan: “Aku berbaring di atas tempat tidurku dan aku tutupkan selimut di atas wajahku lalu aku adu antara dalil-dalil mereka (ahli filsafat), sampai terbit fajar dan aku tidak mendapatkan mana yang lebih kuat.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 209)

Oleh karenanya, para ulama Ahlus Sunnah dari dulu sampai sekarang sangat keras melarang ‘ilmu’ ini dan mewaspadai orang-orangnya. Sampai-sampai, hampir tidak satu kitab pun dari kitab-kitab Ahlus Sunnah yang membahas akidah kecuali mencela filsafat. Bahkan tidak sedikit mereka yang menulis buku secara khusus mengingatkan umat tentang bahayanya filsafat.

Abu Yusuf rahimahullahu, murid Abu Hanifah rahimahullahu mengatakan:
“Barang siapa yang mencari ilmu agama dengan ‘ilmu’ kalam (filsafat), maka ia akan menjadi zindiq (orang yang menyembunyikan kekafiran).” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 209)

Adz-Dzahabi rahimahullahu mengatakan:
“Barang siapa ingin menggabungkan antara ilmu para Nabi dan ‘ilmu’ para filosof dengan kepandaiannya, niscaya ia menyelisihi mereka semua.” (Mizanul I’tidal, 3/144 dari Al-Intishar, hal. 97)

Oleh karenanya para tokoh filsafat dari muslimin menyesali tenggelamnya mereka ke dalam ‘ilmu’ filsafat seperti Al-Ghazali, Ar-Razi, Asy-Syihristani, Al-Juwaini, dan yang lain. Sebetulnya penyesalan mereka itu cukup sebagai pelajaran bagi yang menginginkan keselamatan akidahnya, dan -demi Allah Subhanahu wa Ta’ala- cukup baginya merenungi dan mentadabburi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka, sesungguhnya di dalamnya terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 51)

قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ

“Katakanlah wahai Nabi: ‘Sesungguhnya aku hanya memperingatkan kalian dengan wahyu’.” (Al-Anbiya’: 45)

Jalan para rasul adalah wahyu, bukan filsafat.

5. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut: tidak ikhlas dalam berilmu tapi mengharapkan harta duniawi, kedudukan atau jabatan dengan ilmunya, yang mencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan, serta yang tidak mengamalkan ilmunya. Karena ini adalah sifat-sifat ulama Yahudi sehingga jika ada ulama muslim yang semacam itu berarti ia menyerupai Yahudi dan termasuk ulama yang jelek. (Syarh Ushulus Sittah, Al-Ubailan hal. 16)

Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata:
“Ulama yang jelek adalah yang punya maksud dengan ilmunya untuk bernikmat-nikmat dengan dunia dan mencapai kedudukan di sisi ahli dunia.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 35)

6. Para pengikut aliran tarekat sufi yang meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak di atas langit tapi di mana-mana, atau bersatu dengan para wali. Mereka memiliki amalan-amalan dzikir yang tata caranya mereka buat sendiri dan bukan berasal dari ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sesungguhnya termasuk ahlul bid’ah.

7. Orang-orang yang mengaku muslim tapi terpengaruh paham-paham sosialis, sekularis, materialis atau sejenisnya. Atau orang-orang kafir orientalis misalnya.

Semua itu mesti kita hindari, dan hal ini sebetulnya jelas. Namun kita sebutkan karena adanya sebagian muslimin yang lengah dalam masalah ini atau menyepelekannya sehingga belajar ilmu agama Islam dari mereka. Bahkan yang sangat disayangkan ada pula yang berbangga dengan guru-guru yang semacam itu. Padahal dalam pepatah Arab disebutkan “orang yang tidak punya, tidak bisa memberi”.

Akibat buruk yang nyata dari perbuatan ini adalah munculnya orang-orang yang fobi terhadap Islam seperti gerakan JIL (Jaringan Islam Liberal) misalnya. Mereka sesungguhnya tidak menyebarkan Islam tapi justru meruntuhkan Islam serta membuat keraguan terhadap agama Islam dan ajaran-ajarannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memusnahkan atau mempersedikit orang-orang semacam ini, dan sebaliknya memperbanyak ahlul haq serta melindungi kaum muslimin dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: http://www.asysyariah.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Firqah-firqah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s