Pembagian Tauhid Menurut Kaum Sufi dan Bantahan Terhadap Mereka


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan -setelah menyebutkan ucapan penulis kitab Al Manazil (Abu Ismail Al Harawi) beserta isinya yang bercampur antara yang haq dan bathil-: Dia (penulis kitab Al Manazil) mengatakan: Bab Tauhid. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,” (Ali Imran: 18)

Tauhid ada tiga macam (menurut kaum sufi):

1. Tauhidnya orang umum yang sah dengan tanda-tanda,

2. Tauhidnya orang-orang khusus, yaitu tauhid yang ditetapkan berdasarkan hakikat,

3. Tauhid yang berada dalam qadim, yaitu tauhid orang khusus dari yang khusus….

Tauhid Yang Pertama

Syaikhul Islam berkata (membantahnya): Kami katakan: Adapun tauhid pertama yang dia sebutkan justru merupakan tauhid yang dibawa oleh para rasul ‘Alaihimussalam. Yang dikandung oleh kitab-kitab samawi, yang dengannyalah Allah Subhanahu wata’ala mengutus para rasul yang terdahulu maupun yang belakangan, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahan kepada mereka semua.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”” (Az Zukhruf: 45)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (Al Anbyaa: 25)

Allah Subhanahu wata’ala telah mengabarkan tentang masing-masing rasul, seperti Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan selainnya, bahwa mereka mengatakan kepada kaumnya, “Sembahlan Allah! Tidak ada sesembahan yang haq bagi kalian selain Allah.” Inilah awal sekaligus akhir dakwah para rasul.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu wata’ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam Ash Shahih, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)

Dan beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah niscaya masuk surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim)

Seluruh Al Quran penuh dengan tujuan mewujudkan tauhid ini, mengajak kepadanya, serta menggantungkan keselamatan dan kemenangan pada tercapainya tauhid. Dan telah dimaklumi bahwa manusia berbeda-beda keutamannya di dalam mewujudkan tauhid. Sedangkan hakikat tauhid adalah memurnikan agama seluruhnya hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Fana dalam tauhid ini bergandengan dengan baqa. Yaitu engkau menetapkan ketuhanan Al Haq (Allah Ta’ala) dalam hatimu dan menafikan ketuhanan dari yang selainnya, sehingga engkau mengumpulkan penafian dan penetapan. Engkaupun mengatakan: “Tidak ada seembahan yang haq kecuali Allah.”

Penafian itulah fana, dan penetapan itulah baqa.

Hakikat tauhid (uluhiyyah): Engkau fana dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan selainnya, mencintai Allah Subhanahu wata’ala tidak yang selainnya, meminta tolong kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, khusyu’ kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya. memberikan loyalitas kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, bertawakkal (menyerahkan urusan) kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, berhukum kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak kepada selainnya, dan bermusuhan demi Allah Subhanahu wata’ala tidak demi selainnya.

Sebagaimana disebutkan dalam Ash Shahihain dari Nabi, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam membaca ketika shalat malam -dan diriwayatkan bahwa beliau mengucapkannya setelah takbir (takbiratul ihram, ed)-:

“Apabila Nabi Shallallahu’alaihi wasallam shalat Tahajud di waktu malam, beliau membaca: “Ya, Allah! BagiMu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. BagiMu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. BagiMu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. BagiMu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. BagiMu segala puji, Engkau benar, janjiMu benar, firmanMu benar, bertemu denganMu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dariMu), kejadian hari Kiamat adalah benar. Ya Allah, kepadaMu aku menyerah, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku kembali (bertaubat), dengan pertolonganMu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepadaMu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh

karena itu, ampunilah dosaku yang telah lewat dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”. (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari 3/3, 11/116, 13/371, 423, 465 dan Muslim meriwayatkannya dengan ringkas 1/532)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

“Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan” (Al An’aam: 14)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Al An’aam: 114)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu

termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.” (Az Zumar: 64-66)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.” (Al An’aam: 161-163)

Tauhid jenis ini banyak disebutkan di dalam Al Quran. Dialah awal dan akhir diinul Islam, lahir dan bathinnya. Puncak tauhid ini dipegang oleh Ulul Azmi dari para rasul dan juga oleh dua khalil (Muhammad dan Ibrahim ‘Alaihimussalam).

Telah tsabit (shahih) riwayat dari nabi bukan dari satu sisi saja, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.” (HR. Muslim)

Rasul yang paling utama setelah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam adalah Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda tentang manusia terbaik;

“Sesungguhnya dia adalah Ibrahim” [1]. Beliau adalah imam yang Allah Subhanahu wata’ala jadikan sebagai pemimpin, dan beliaulah ummah yang dijadikan teladan. Karena beliau telah meralisasikan tauhid jenis ini, yakni Al Hanifiyyah, millah Ibrahim.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami

dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji.” (Al Mumtahanah: 4-6)

Dan ayat-ayat lainnya yang menceritakan tauhid Ibrahim Al Khalil. Yang dimaksud dengan khalil adalah kekasih yang mengisi segala ruang qalbu sehingga tidak ada lagi tempat untuk yang selainnya.

Sebagaimana dikatakan:

“Engkau telah bertakhallal (memenuhi) seluruh jiwaku, oleh sebab inilah dinamakan khalil.”

Tatkala al khullah mengharuskan kesempurnaan cinta dan memenuhi hati, maka tidaklah pantas bagi nabi untuk menjadikan seseorang sebagai khalilnya. Bahkan beliau Shallallahu’alaihi wasalam bersabda,

“Kalau sekiranya aku mengambil dari penduduk bumi sebagai khalil, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun shahabat kalian ini (yaitu Nabi) adalah khalilnya Ar-Rahman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan juga semakna diriwayatkan Muslim)

Oleh karena inilah Allah Subhanahu wata’ala menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih anaknya. Sedangkan anak yang disembelih itu menurut pendapat yang benar ialah anaknya yang besar (Isma’il), sebagimana ditunjukkan oleh surah Ash Shaffat dan selainnya. Di situ diceritakan bahwa Ibrahim

memohon kepada Rabb-nya agar mengaruniakan baginya anak yang shalih. Maka Allah Subhanahu wata’ala menggembirakannya dengan anak yang amat sabar (Isma’il). Ketika anak ini menginjak usia remaja, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Ibrahim untuk menyembelihnya agar tidak tersisa di

dalam qalbunya kecintaan kepada makhluk yang mendesak cintanya kepada Al Khaliq.

Yang hendak kami kemukakan: Bahwa dua khalil ini adalah orang khusus dari yang khusus, yang paling sempurna dalam hal tauhid. Maka tidak ada seorangpun dari umat nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang lebih sempurna tauhidnya daripada salah seorang nabi, apalagi daripada para rasul, apalagi Ulul Azmi, apalagi dua khalil ini. Kesempurnaan tauhid dua khalil ini terjadi dengan merealisasikan pengesaan uluhiyyah Allah. Yakni tidak tersisa di dalam qalbu sesuatupun selain Allah Subhanahu wata’ala sama sekali. Bahkan seorang hamba hanyalah berloyalitas kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam segala sesuatu, mencintai apa yang Dia cintai, membenci apa yang Dia benci, memurkai apa yang Dia murkai, menyuruh apa yang Dia suruh, dan melarang apa yang Dia larang.

Tauhid Yang Kedua

Adapun tauhid yang kedua yang dia (Al Harawi) sebutkan dan dia namakan dengan tauhid orang-orang khusus, maka itu fana dalam tauhid rububiyyah. Yaitu mempersaksikan rububiyyah Allah Subhanahu wata’ala pada semua yang selain Allah, bahwa Dia-lah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya. Fana –jika terjadi pada tauhid uluhiyyah- berarti qalbu dikuasai oleh persaksian akan sesembahaannya, mengingat-Nya, dan mencintai-Nya, sehingga qalbu tidak merasakan selain Allah, disertai dengan ilmu tentang kebenaran apa yang Dia tetapkan berupa sebab dan hikmah, serta beribadah kepada-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dalam memberikan perintah dan larangan.

Adapun fana yang disebutkan penulis kitab Al Manazil, maka itu adalah fana dalam tauhid rububiyyah, bukan dalam tauhid uluhiyyah. Dia menetapkan tauhid rububiyyah lalu menafikan sebab dan hikmah, sebagimana pendapat Al Jabriyyah [2], seperti Al Jahm dan para pengikutnya, begitu pula Al Asy’ari.

Hingga ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Para ahli agama seluruhnya bersepakat bahwa Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan pahala atas ketaatan dan menyiksa kemaksiatan, sekalipun kehendak Allah Subhanahu wata’ala mencakup kedua macam ini (ketaatan dan kemaksiatan). Mereka menyandarkan perbedaannya dilihat dari sisi hamba.”

Orang-orang yang mengaku mempunyai ma’rifat, hakikat, dan fana menuntut agar diri mereka tidak mempunyai kehendak, bahkan mereka menghendaki apa yang dikehendaki oleh Al Haq (Allah Azza wajalla). Mereka mengatakan, “Kesempurnaan adalah engkau fana (lenyap) dari kehendakmu lalu engkau baqa (tinggal) bersama kehendak Rabb-mu.”

Menurut mereka, seluruh yang ada ini adalah sama bagi Rabb. Sehingga mereka tidak memandang yang baik adalah baik dan tidak memandang yang buruk adalah buruk.

Aku (Ibnu Taimiyyah) katakan: Apa yang mereka katakan ini tidak dibenarkan oleh akal dan diharamkan oleh syariat. Akan tetapi maksud kita di sini adalah mejelaskan ucapan mereka. Oleh karena itu Al Harawi berkata tentang tauhid mereka (yaitu tauhid yang kedua ini): “Ia adalah menggugurkan sebab-sebab lahiriah.” Menurut mereka, Allah Subhanahu wata’ala tidaklah menciptakan sesuatu sebagai sebab, bahkan Allah Subhanahu wata’ala berbuat ketika kejadian itu dan bukan dengan sebab itu.

Al Harawi berkata: “Naik dari persengketaan akal dan dari bergantung pada tanda-tanda, yaitu tidak menyaksikan adanya tanda di dalam tauhid, tidak adanya sebab di dalam tawakkal, dan tidak adanya wasilah (sarana) di dalam keselamatan.”

Hal tersebut -menurut mereka- karena sama sekali tidak ada sesuatu di alam wujud ini yang menjadi sebab bagi sesuatu, dan tidak ada sesuatu yang dijadikan untuk selainnya, serta tidak ada sesuatu yang berwujud dengan sebab lainnya. Kenyang -menurut mereka- bukan karena makan, ilmu yang terwujud dalam qalbu bukan karena dalil, orang yang bertawakkal yang mendapatkan rizki dan kemenangan tidaklah mempunyai sebab sama sekali

(tidak pada dirinya dan tidak pada perkara itu). Ketaatan menurut mereka bukanlah sebab mendapatkan pahala, kemaksiatan bukanlah sebab mendapatkan siksaan. Keselamatan tidak mempunyai wasilah.

Bahkan semata-mata kehendak yang satu, yang dari situlah bersumber segala yang ada. Sedangkan terjadinya bersamaan dengan yang lain hanyalah sebagai kebiasaan, bukan karena salah satunya terkait dengan yang lainnya, atau menjadi sebabnya, atau hikmahnya. Karena kebiasaan yang berlaku, di mana dua perkara berjalan secara bersamaan, maka jadilah salah satunya sebagai tanda bagi lainnya. Dalam pengertian: Kalau didapati salah satu di antara dua hal yang biasanya bersamaan, maka yang lainnya itu juga akan ada bersamanya. Juga ilmu yang ada di dalam qalbu bukanlah berasal dari dalil ini, bahkan hal itu termasuk perkara yang biasanya muncul secara bersamaan.

Banyak orang-orang yang mengikuti pendapat ini meninggalkan sebab-sebab duniawi dan menjadikan adanya sebab sama saja dengan tidak adanya. Dan di antara mereka ada yang meninggalkan sebab-sebab akhirat. Mereka mengatakan: Jika ilmu dan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala telah mendahului bahwa kita sebagai orang-orang yang akan beruntung, tentu kita akan beruntung. Atau Jika telah mendahului bahwa kita adalah orang-orang yang akan sengsara, tentu kita akan sengsara. Sehingga tidak ada gunanya kita beramal.”

Di antara mereka ada yang tidak mau berdoa berdalilkan dengan argumen rusak ini. Dia menyelisihi Al Quran, As Sunnah, Ijma’ Salaf, dan para imam Islam, serta menyelisihi akal sehat, indera, dan realita. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah ditanya tentang meninggalkan sebab dengan alasan takdir. Maka

beliau Shallallahu’alaihi wasallam membantahnya sebagaimana disebutkan di dalam Ash Shahihain, beliau bersabda,

“Tidaklah setiap jiwa yang ditiupkan ruh padanya kecuali Allah tetapkan tempatnya dari penghuni jannah atau neraka, dan telah ditetapkan sebagai seorang yang celaka atau bahagia.” Kemudian seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita hanya berdiam saja (pasrah) dengan apa yang telah menjadi

ketetapan Allah dan meninggalkan amal perbuatan (berusaha)?” Beliau bersabda: “Beramallah (berusahalah), setiap kalian akan dimudahkan dengan apa yang telah ditetapkan baginya.” (Riwayat Bukhari)

Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya:

“Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Ya.” Kemudian beliau ditanya lagi: “Jadi untuk apa orang-orang harus beramal?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.” (Shahih Muslim No.4789)

Di dalam As Sunan dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam, bahwa dikatakan kepada beliau,

“Bagaimana pendapatmu tentang obat-obatan yang kami pakai, ruqyah yang dengannya kami gunakan untuk berlindung, apakah semua itu mempunyai pengaruh menolak takdir Allah?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Itu termasuk takdir Allah.” (Riwayat Tirmidzi) [3]

Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai

macam buah-buahan.” (Al A’raaf: 57)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya” (Al Baqarah: 164)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu” (At Taubah: 14)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami.” (At Taubah: 52)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.” (Az Zumar: 61)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (Al Haaqqah: 24)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (An Nahl: 32)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan” (Al Anfaal: 29)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaaq: 2-3)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.” (Ali Imran: 159) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.” (An Nisaa’: 160-161)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri,” (Al An’am: 6 dan Al Anfaal: 54)

Dan masih banyak lagi dalil Al Quran yang semisal dengannya. Bagaimana mungkin dipersaksikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikan suatu tanda untuk tauhid-Nya, tidak menjadikan suatu sebab untuk keselamatan dari adzabnya, dan tidak menjadikan sebab untuk apa yang Dia lakukan bagi orang yang bertawakkal?! Allah-lah Pencipta sebab, pencipta segala sesuatu dengan sebabnya. Namun sebab -sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hamiz Al Ghazali dan Abul Faraj Ibnul Jauzi [4]- : Hanya memandang sebab adalah syirik di dalam tauhid. Sedangkan berpaling dari sebab secara keseluruhan adalah celaan terhadap syariat.”

Tawakkal itu menggabungkan makna tauhid, akal, dan syariat. Seorang Mukmin yang bertawakkal tidak hanya memandang kepada sebab. Dalam pengertian bahwa dia tidak menggantungkan diri kepada sebab itu, tidak mempercayainya, tidak mengharapkannya, dan tidak takut padanya. Karena dalam wujud ini

tidak ada satupun sebab yang berdiri sendiri menentukan sesuatu. Bahkan segala sebab masih membutuhkan perkara-perkara lain dan memiliki penghalang-penghalang yang menghalanginya untuk terjadi.

Sebab-sebab yang menafikan tawakkal ada dua:

Pertama, bersandar kepada sebab dan berserah diri padanya. Hal ini merupakan kesyirikan,

Kedua, meninggalkan melakukan sebab yang diperintahkan kepadamu. Ini juga haram atasmu.

Bahkan engkau wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan sebab-sebab yang Dia perintahkan kepadamu. Dan engkau wajib bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Dia membantumu untuk melakukan apa yang Dia perintahkan, dan agar Dia melakukan apa yang kamu

mampu tanpa menempuh sebab itu. Mereka ini menetapkan takdir namun menafikan dari orang yang menyaksikannya untuk memandang baik kebaikan yang telah Allah Subhanahu wata’ala perintahkan, atau memandag buruk keburukan yang telah Allah Subhanahu wata’ala larang. Sehingga mereka menetapkan takdir namun mengingkari syariat. Pendapat ini lebih besar pengingkaranya terhadap diinul Islam daripada pendapat orang-orang yang menafikan takdir saja.

Tauhid Yang Ketiga

Hingga ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Penulis kitab Al Manazil (Abu Ismail Al Harawi) berkata,

“Adapun tauhid yang ketiga adalah tauhid yang Al Haq khususkan bagi dirinya… dst.”

Hakikat ucapan mereka adalah ittihad dan hulul (menyatu antara Allah Subhanahu wata’ala dengan dengan makhluk) secara khusus. Sejenis dengan ucapan Nasrani tentang Al Masih Isa ‘Alaihissalam. Yaitu bahwa orang yang mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala adalah yang ditauhidkan itu sendiri, serta tidak ada yang mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala selain Allah. Sedangkan semua orang yang menjadkan siapapun selain Allah Subhanahu wata’ala mentauhidkan Allah, dia adalah pembangkang menurut mereka. Sebagaimana dia (Al Harawi) katakan:

“Tidak ada yang mentauhidkan dzat Yang Maha Esa selain-Nya,

semua yang mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala maka dia pembangkang”

Berdasarkan pendapat mereka: Allah Subhanahu wata’ala itulah yang mentauhidkan dan ditauhidkan. Oleh karena itulah dia berkata, “Ini adalah tauhid yang Al Haq khususkan untuk diri-Nya… dst” Maka dikatakan (sebagai bantahan untuk Al Harawi):

Adapun pentauhidan Al Haq bagi diri-Nya, maka itu adalah ilmu Allah Subhanahu wata’ala tentang diri-Nya dan kalam-Nya yang mengabarkan tentang diri-Nya, seperti firman Allah Azza wajalla,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,” (Ali Imran: 18)

Dan firman-Nya,

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Thaahaa: 14)

Itu adalah sifat-Nya yang berdiri bersama Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain berupa hidup, kuasa, dan lain-lain. Hal di atas sama sekali tidak memisahkan sifat-sifat Rabb yang lainnya lalu berpindah kepada selain-Nya [5], sebagaimana semua sifat-Nya yang selain ini. Bahkan sifat-sifat makhluk tidaklah berpisah dari dzat mereka lalu berpindah kepada yang selainnya. Apalagi dengan sifat-sifat Al Khaliq. Tetapi Dia menurunkan kepada para nabi-Nya sebagian ilmu dan kalam-Nya, sebagaimana Dia menurunkan Al Quran yang merupakan kalam-Nya kepada penutup para rasul. Sungguh Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (Ali Imran: 18)

Allah Subhanahu wata’ala mempersaksikan diri-Nya dengan keesaan. malaikat mempersaksikannya, dan para hamba-Nya yang memiliki ilmupun mempersaksikannya. Semua persaksian itu bertemu dan bersepakat. Termasuk dalam bahasan ini adalah ucapan mereka, “Hati adalah rumah Allah”, serta berita Israiliyyat yang mereka sebutkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Bumi-Ku dan langit-Ku tidak cukup bagi-Ku. Namun qalbu hamba-Ku yang mukmin, bertakwa, suci, lagi lembut itulah yang luas untuk-Ku.” [6]

Bukanlah maksudnya bahwa Allah Subhanahu wata’ala berada di dalam qalbu setiap hamba. Tapi maksudnya adalah bahwa di dalam hati ada ma’rifatullah, cinta kepada-Nya, dan ibadah kepada-Nya. Sebagian mereka berhujjah dengan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

“Apabila imam berkata: Sami’allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya), maka katakanlah: Rabbana lakal hamdu (Wahai Rabb kami, bagi-Mu-lah segala pujian).” (Riwayat Muslim)

Berarti Allah Subhanahu wata’ala berfirman menggunakan lisan nabi-Nya: “Allah Subhanahu wata’ala mendengar orang yang memuji-Nya.”

Kita katakan kepada mereka: Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidaklah memaksudkan apa yang kalian pahami berupa hulul dan ittihad. Namun yang beliau maksudkan adalah sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyampaikan ucapan ini kepada kalian melalui lisan rasul-Nya dan mengabarkan kepada kalian bahwa Dia mendengarkan doa orang yang memuji-Nya. Maka pujilah Dia dan ucapkan, “Wahai Rabb kami, bagi-Mulah segala pujian.”, sehingga Allah Subhanahu wata’ala akan mendengarkan doa kalian. Karena memuji Allah Subhanahu wata’ala sebelum doa merupakan sebab terkabulnya doa, dan ini adalah perkara yang sudah diketahui.

Footnote:

[1] Riwayat Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada Muqaddimah, Bab Keutamaan Para Shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam….. (1/50). Asy Syaikh Al Albani menghukumi hadits ini maudhu’ (palsu) di dalam kitab Dhaif Al Jami’ (hal. 220 no. 1531).

[2] Al Jabriyyah: Dinamakan demikian sebagai nisbat kepada al jabr (paksaan). Mereka berpendapat bahwa hamba dipaksa dalam perbuatannya, laksana gerakan orang gemetar yang tidak memepunyai kehendak dan kemampuan untuk berbuat demikian. Lihat Al Millal wa Nihal (1/108).

[3] Hadits riwayat Tirmidzi, dan ia berkata hadits hasan shahih. Juga diriwayatkan Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim.

Berkata Al Hakim ini hadits shahih memenuhi syarat syaikhain, namun keduanya tidak mengeluarkannya. Namun hadits ini didhaifkan (dianggap hadits lemah) oleh Al ‘Allamah Al Albani dalam Dha’if Sunan Ibni Majah (hal. 280, no. 686)

[4] Al Imam Abu Faraj Abdurrahman bin Ali Al Qurasyi At Taimi Al Bakri, dikenal dengan Ibnul Jauzi. Beliau mengikuti madzhab Hanbali. Dilahirkan tahun 508 H, Beliau terkenal suka memberi nasihat dan mempnyai banyak tulisan. Di antaranya: Zadul Masir fi Ilmit Tafsir, Shaidul Khatir, Al Inshaf fi masail Al Khilaf, Talqih Fuhum Ahlil Atsar, dan tulisan lainnya. beliau wafat pada tahun 597 H. Lihat Muqaddimah tahqiq kitab Zadul Masir terbian Al Maktab Al Islami.

[5] Maksudnya pentauhidan Allah Subhanahu wata’ala bagi diri-Nya merupakan salah satu sifat-Nya. Sebagaimana sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala yang lain tidak akan berpindah kepada selain-Nya, maka demikian pula sifat ini. Sehingga tidaklah pantas kalau ada seorang makhluk yang menyamakan dirinya dengan Allah Subhanahu wata’ala dalam sifat (pentauhidan Allah Subhanahu wata’ala bagi diri-Nya) ini. Wallahu a’lam, pent.

[6] Laa aslalahu (tidak ada asalnya). Al Ajurri berkata dalam kasyful Khafa (2/195): “Disebutkan dalam Al Ihya dengan lafadz Alah berfirman, “Langit-Ku dan Bumi-Ku tidak cukup bagi-Ku. Akan tetapi mencukupi-Ku qalbu hamba-Ku yang mukmin, lembut, dan tenang.”

Al Iraqi berkata dalam takhrijnya: “Saya tidak mengetahui ada salnya.”

Ucapan ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Ad Durar Al Muntatsirah fi Al Ahadits Al Musytahirah (hal. 175)

[Dinukil dari kitab Mulakhkhash Minhajus Sunnah, Edisi Indonesia Ringkasan Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyyah, Penulis Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, Hal. 77-99]

Sumber: sunniy.wordpress.com

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Firqah-firqah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s