Ibadah dan Menuntut Ilmu


Pengertian Ibadah dan Pembagiannya

Tidaklah manusia diciptakan dengan sia-sia dan ditinggalkan begitu saja. Dibiarkan hidup bebas tanpa ada aturan, tidak diperintah dan tidak dilarang. Allah berfirman:

أَيَحْسَبُ الإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyaamah: 36) Yaitu tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa?
Ini adalah perkiraan yang bathil dan sangkaan kepada Allah dengan apa-apa yang tidak layak berdasarkan hikmah-Nya. (Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 833)
Akan tetapi dia diciptakan untuk tujuan agung yaitu beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya, Allah ‘Azza Wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyaat: 56)

Definisi Ibadah

Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap apa-apa yang Allah cintai dan ridhai dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang zhahir maupun yang bathin. (Lihat Majmuu’ul Fataawaa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 10/149)

Yang zhahir di sini maksudnya adalah ibadah yang nampak yang bisa disaksikan oleh kita seperti membaca Al-Qur`an, shalat dan sebagainya. Adapun yang bathin maksudnya adalah ibadah yang berkaitan dengan amalan hati seperti cinta kepada Allah, takut, berharap, tawakkal kepada-Nya dan lain-lain.
Dengan definisi ini maka ibadah itu sangat luas tidak terbatas hanya shalat, zakat, puasa, haji dan lainnya akan tetapi semua ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah maka itu adalah ibadah.

Bagaimana untuk mengetahui bahwa suatu ucapan atau perbuatan itu dicintai dan diridhai Allah?

Untuk mengetahui suatu ucapan atau perbuatan, apakah dicintai dan diridhai Allah atau tidak, maka harus meruju’ kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah berdasarkan bimbingan ulama ahlus sunnah wal jama’ah, bukan berdasarkan pendapat atau kemauan sendiri. Dan juga harus diingat bahwa ucapan dan perbuatan tersebut dilakukan dengan ikhlash, hanya mengharap ridha Allah Ta’ala semata (lihat edisi sebelumnya: “Akankah Diterima Amalku?”).

Pembagian Ibadah

Ibadah dibagi menjadi lima macam:

1. ‘Ibaadah I’tiqaadiyyah: yaitu seorang muslim meyakini bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi Rizki, Yang Mematikan, Yang Menghidupkan, Yang Mengatur seluruh urusan hamba-hamba-Nya.
Juga meyakini bahwasanya Dia adalah Dzat yang berhak diibadahi satu-satunya yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dari do’a, menyembelih, nadzar dan yang lainnya, dan Dia adalah Dzat yang disifati dengan sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan, kesombongan, keagungan, dan yang lainnya dari macam-macam keyakinan tentang Allah, agama-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan taqdir yang baik maupun yang buruk.

2. ‘Ibaadah Lafzhiyyah: yaitu ibadah yang berkaitan dengan ucapan lisan, seperti melafazhkan / mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca Al-Qur`an, do’a, membaca dzikir-dzikir Nabawiyyah dan lain-lainnya dari jenis-jenis ibadah lafzhiyyah.

3. ‘Ibaadah Badaniyyah: yaitu ibadah yang berkaitan dengan badan, seperti berdiri, ruku’ dan sujud di dalam shalat, shaum, amalan-amalan haji, hijrah, jihad dan yang lainnya dari ibadah-ibadah badaniyyah.

4. ‘Ibaadah Maaliyyah: yaitu ibadah yang berkaitan dengan harta, seperti zakat, shadaqah dan lainnya.

5. ‘Ibaadah Tarkiyyah: yaitu seorang muslim meninggalkan seluruh hal-hal yang haram, kesyirikan dan bid’ah dalam rangka melaksanakan syari’at Allah, maka ini merupakan ibadah tarkiyyah darinya yang seorang muslim akan diberi pahala dari meninggalkan yang haram apabila meninggalkannya dalam rangka mengharap Wajah Allah. (Lihat Tathhiirul I’tiqaad ‘an Adraanil Ilhaad, hal. 6-7 diambil dari Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid hal. 170-171)

Menuntut Ilmu adalah Ibadah yang Agung

Di antara ibadah yang agung dan utama adalah menuntut ilmu syar’i. Adapun ilmu syar’i adalah firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya.
Sesungguhnya menuntut ilmu merupakan di antara amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama yang seorang hamba dapat mendekatkan diri dengan amalan tersebut kepada Rabbnya, dan termasuk ketaatan yang paling baik yang akan mengangkat kedudukan seorang muslim dan meninggikan derajatnya di sisi Allah Ta’ala.

Dan sungguh Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar berilmu dan belajar, tafakkur (memikirkan ayat-ayat-Nya yang syar’iyyah yaitu Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah dan ayat-ayat-Nya yang kauniyyah yaitu alam semesta ini), tadabbur (memikirkan akibat-akibat dari amalan-amalan yang dikerjakannya); dan memperingatkan dari kebodohan dan mengikuti hawa nafsu; serta menerangkan bahwasanya ilmu yang akan memberikan manfaat bagi pemiliknya pada hari kiamat adalah ilmu yang seorang hamba mengikhlashkan padanya untuk penolongnya yaitu Allah; dan dia mengharap untuk mendapatkan ridha-Nya di dalam menuntut ilmu tersebut, serta beradab dengan adab Islam dan berakhlak dengan akhlaknya pemimpin manusia yaitu Rasulullah yang akhlaknya adalah Al-Qur`an.

Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu

Oleh karena itulah, perhatian Rasulullah dalam mengajarkan adab kepada para shahabatnya tidaklah mengurangi perhatian beliau dalam mengajarkan ilmu kepada mereka, demikian juga perhatian beliau dalam mendidik dan mensucikan / membersihkan jiwa-jiwa mereka tidaklah mengurangi perhatian beliau dalam menjelaskan dan menerangkan hukum-hukum Islam kepada mereka.

Maka bisa disimpulkan bahwa ilmu tanpa disertai adab tidak akan bermanfaat dan ilmu yang tidak disertai dengan jiwa yang bersih dan suci sungguh akan menghujat pemiliknya pada hari kiamat, pada hari tidak akan bermanfaat harta maupun anak-anak kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat / lurus.

Dan dari sini muncullah perhatiannya Salafush shalih dengan mendidik para penuntut ilmu dan membersihkan jiwa-jiwa mereka serta mengobati penyakit-penyakit hati mereka, sehingga mereka (salafush shalih) memberikan adab kepada para penuntut ilmu sebelum memberikan ilmu itu sendiri, dan mengawasi keadaan-keadaan mereka layaknya seorang dokter yang mengobati pasien, maka dia akan mencari seluruh obat yang bermanfaat untuk pasiennya tersebut sampai dia bangkit dari kelemahannya dan sembuh dari sakitnya.

Dan tidaklah mengherankan apabila kita mendapatkan berpuluh-puluh tulisan yang telah ditulis oleh para ulama yang mulia ini yang membicarakan akhlak-akhlak seorang penuntut ilmu dan adab-adabnya, serta metode mendidik para pelajar dan memberikan adab kepada mereka, sehingga keluarlah melalui tangan-tangan mereka generasi-generasi yang diberkahi yang membawa ilmu yang disertai dengan pengamalan dan penerapan adab-adabnya, di mana mereka menerapkan ilmu tersebut dengan sebaik-baiknya, sehingga terbentuklah masa depan Islam yang dianggap sebagai kebanggaan ummat, dan semakin jelaslah kewibawaan para ulama dan kedudukan mereka, melebihi kedudukan para penguasa, dan jadilah kemuliaan ilmu dan ulama sebagai sifat yang jelas dan nampak di tengah-tengah masyarakat muslimin.

Bahaya Cinta Dunia

Keadaan seperti itu terus berlangsung pada beberapa generasi sampai muncullah kemerosotan dan melemahlah kewibawaan para ulama (atau yang dianggap ulama -pent) ketika rasa khasy-yah (takut kepada Allah yang diserta ilmu) yang ada pada hati-hati ulama tersebut melemah serta ketika para ulama berpaling menuju keramaian ahli dunia dan berebutan mendapatkan perhiasannya serta berlomba-lomba menuju kemegahan padanya.

Dan kita bisa saksikan pada saat sekarang, banyak dari para penuntut ilmu berpaling dari adab yang dipraktekkan Salafush shalih dalam kaitannya dengan adab mencari ilmu, dan kita juga bisa perhatikan, bagaimana para penuntut ilmu berlomba-lomba mendapatkan ijazah dan gelar ilmiyyah dalam rangka mencari kedudukan sosial di tengah-tengah manusia, dan untuk mendapatkan pekerjaan yang dengannya akan diperoleh harta.

Demikianlah, ilmu menjadi perantara bukan tujuan, sehingga para penuntut ilmu ini mencukupkan diri dengan ilmu yang didapatinya di universitas-universitas, mereka hanya sekedar ingin mendapatkan ijazah, dan kebanyakan mereka berhenti dari mencari ilmu setelah lulus.

Dan yang lebih jelek dari itu adalah mereka menyangka bahwa gelar ilmiyyah yang mereka dapatkan akan menjadikan mereka sebagai para ulama dan mengantarkan mereka kepada tingkatan fuqaha, yang sebenarnya sedikitpun mereka tidak termasuk fuqaha, dalam keadaan apa yang mereka dapatkan dari ilmu dan pengkhususan mereka pada ilmu tidaklah menjadikan mereka menguasai satu bagianpun dari ilmu tersebut.

Dari kenyataan seperti inilah, maka wajib bagi para penuntut ilmu agar saling menasehati antar sesama mereka dan agar saling mengingatkan antara satu dengan lainnya dengan khasy-yah kepada Allah yang tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya, dan beradab dengan adab-adab yang utama yang tidak boleh bagi orang yang berilmu dan penuntut ilmu kosong darinya.

Musuh-musuh Islam Membuat Makar

Dan tidak diragukan lagi bahwasanya musuh-musuh Islam telah membuat langkah-langkah dan program-program untuk menjauhkan para pemuda muslimin dari ilmu yang bermanfaat dan secara khusus ilmu syar’i yang dengan ilmu tersebut ummat akan hidup, bangun dan akan bangkit sehingga menjadi ummat yang mulia.

Musuh-musuh Islam senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menyibukkan waktu-waktu para pemuda Islam dengan menyuguhkan berbagai hiburan dan kemaksiatan, seperti musik, acara televisi, para wanita, minuman keras, narkoba dan kemaksiatan lainnya. Atau menyibukkan para pemuda Islam dengan sesuatu yang pada asalnya mubah seperti olahraga dan yang sejenisnya, mereka disibukkan dengannya sehingga mereka lalai dari kewajiban menuntut ilmu syar’i.

Dan tidak ada sesuatu yang membikin mereka paling marah daripada ketika mereka melihat para pemuda muslimin bersemangat mempelajari ilmu dan beradab dengan adab-adabnya dengan menghadiri majlis-majlis ilmu, menghafal, muraja’ah dan seterusnya yang berkaitan dengan ilmu.

Maka hinakanlah musuh-musuhmu wahai saudaraku penuntut ilmu dengan kembali kepada agama yang benar secara ilmu, amalan dan akhlak.

“Jika engkau ingin menghinakan musuhmu, dan membunuhnya secara pelan-pelan serta engkau ingin menghancurkannya, maka raihlah kemuliaan dan tambahlah ilmu karena barangsiapa yang bertambah ilmunya maka bertambahlah hasadnya musuhmu secara pelan-pelan.”

Tiada kemuliaan kecuali dengan ilmu dan mempelajarinya. Karena setiap ucapan dan perbuatan butuh akan ilmu sebagai landasannya. Kita tidak bisa melakukan sesuatu kecuali dengan ilmu. Kewajiban berilmu didahulukan sebelum berucap dan beramal. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang berhak diibadahi) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan dari dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

Adab-adab Seorang Penuntut Ilmu

Di antara adab-adab yang mendasar yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu adalah sebagai berikut:
1. Ikhlash dalam menuntut ilmu
2. Beramal dengan ilmu yang telah dipelajari dan menjauhi maksiat
3. Tawadhu’ (rendah hati)
4. Menghormati ulama dan majlis ilmu
5. Sabar dalam menuntut ilmu
6. Berlomba-lomba dalam menuntut ilmu
7. Jujur dan amanah
8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya
9. Zuhud terhadap dunia
10. Bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu dan memanfaatkannya semaksimal mungkin
11. Mengulang pelajaran supaya tidak lupa
12. Adanya kewibawaan dan rasa malu
13. Berteman dengan orang shalih
Adab-adab ini merupakan senjata yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu syar’i dan harus diterapkan dalam kehidupannya agar ilmunya membuahkan hasil berupa pembersihan terhadap jiwa dan keistiqomahan dalam akhlak serta penerimaan di tengah-tengah manusia, sehingga manusia mengikuti dan meneladani mereka.
Kita meminta kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti yang terbaiknya, dan agar memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Dermawan lagi Maha Mulia, aamiin. Wallaahu A’lam wa Huwal Muwaffiq.
Disadur dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal. 5-9.

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Lainnya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s