Ilmu Dan Jihad


Penulis: Al Ustadz Abu Abdirrahman Abdul Aziz As Salafy

Sesungguhnya ilmu merupakan penuntun dan pembimbing suatu amalan. Amal perbuatan akan mencapai kesempurnaan apabila diarahkan dengan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan setiap amalan yang tidak didasari dengan ilmu maka tidak akan memberi manfaat bagi pelakunya, bahkan memberikan mudharat kepadanya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf (para pendahulu yang shalih) : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kekeliruannya lebih banyak daripada benarnya.”
Sesungguhnya ilmu merupakan penuntun dan pembimbing suatu amalan. Amal perbuatan akan mencapai kesempurnaan apabila diarahkan dengan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan setiap amalan yang tidak didasari dengan ilmu maka tidak akan memberi manfaat bagi pelakunya, bahkan memberikan mudharat kepadanya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf (para pendahulu yang shalih) : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kekeliruannya lebih banyak daripada benarnya.”

Ilmu merupakan timbangan amal, sebagaimana Allah berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)

“(Allah) yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al Mulk : 2).

Fudlail bin Iyadl berkata: “Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar. Lalu beliau ditanya : “Wahai Abu Ali (Fudlail bin Iyadl), Apakah yang paling ikhlas dan paling benar tersebut? Beliau menjawab : “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak mencocoki kebenaran maka tidak akan diterima, begitu pula sebaliknya, jika amalan itu mencocoki kebenaran tetapi tidak ikhlas maka tidak akan diterima, sampai amalan itu ikhlas dan benar (sesuai syar’iat) dalam menjalankannya.” Maka ukuran ikhlas adalah mengharapkan ganjaran pahala dari Allah semata. Sedangkan ukuran benarnya suatu amalan adalah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (Ilmu Ushulul Bida’ hal 61).

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah beramal sholeh dan tidak berbuat syirik dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” (Al Kahfi : 110).
Amalan seperti inilah yang akan diterima yaitu amalan yang mencocoki sunnah dan ikhlas mengharapkan pahala Allah semata.

Mustahil seseorang dapat beramal dengan dua sifat ini (yaitu ikhlas dan sesuai dengan sunnah) kecuali dengan landasan ilmu. Sesungguhnya apabila seseorang tidak mengilmui risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam maka tidak mungkin bisa beramal dengan benar. Begitu pula jika dia tidak mengilmui dengan benar cara beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana mungkin dia bisa ikhlas dalam beramal? Maka jelaslah bahwa ilmu merupakan dasar utama dalam beramal, yaitu ilmu mengenal Allah subhanahu wata’ala sebagai Dzat yang disembah dan ilmu mengenai syari’at yang diturunkan-Nya. Jadi ilmu merupakan petunjuk bagi manusia dalam mencapai keikhlasan dan mengikuti syari’at.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah akan menerima (amalan) dari kalangan orang-orang yang bertakwa.” (Al Maidah : 27).
Al Imam Ibnul Qoyyim menafsirkan ayat ini : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla hanyalah menerima amalan orang-orang yang bertakwa dengan amalan tersebut. Dan ukuran ketakwaan itu adalah ikhlas dengan mencocoki perintah-Nya, dan semua ini akan diperoleh dengan ilmu.”

Oleh karena itu, segenap amalan hamba hanya akan diterima selama mencocoki syari’at dan ikhlas karena Allah. Terlebih lagi tatkala Allah menganugerahkan kepadanya hidayah untuk menunaikan amanah yang sangat mulia, yaitu jihad fi sabilillah. Maka wajib baginya untuk melandasi amalan mulia tersebut dengan dua syarat ini, supaya diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Sungguh suatu kerugian jikalau amalan jihad yang dijalankannya ternyata tidak sesuai dengan ilmu syari’at. Sehingga dia tidak bisa mendapatkan manfaat dari amalan jihad yang telah ditunaikannya. Wal ‘iyadzubillah.
Sesungguhnya menuntut ilmu syar’i merupakan rangkaian jihad. Karena agama islam ditegakkan dengan ilmu dan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Hafidz Ya’qub bin Sufyan Al Fasawiy di dalam kitab Al Ma’rifah wa Tarikh 3/400 dengan sanadnya dari Abu Darda’ radliyallahu ‘anhu, beliau berkata :

مَا مِنْ أَحَدٍ يَغْدُو إِلَى الْمَسْجِدِ لِخَيْرٍ لِيَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ إِلاَّ كُتِبَ بِهِ أَجْرُ مُجَاهِدِ, لاَ يَنْقَلِبُ إِلاَّ غَانِمًا

“Tidaklah seseorang yang pergi ke masjid untuk mempelajari kebaikan, atau mengajarkannya melainkan ditetapkan baginya pahala seorang mujahid, tidaklah dia kembali (kerumahnya) kecuali tercukupi (kebutuhannya akan ilmu).”

Di dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadlihi hal 159 oleh Imam Ibnu Abdil Barr radliyallahu ‘anhu, beliau mengatakan :

مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَ الرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ أَقْلُهُ وَ رَأْيُهُ

“Barangsiapa yang menganggap seseorang yang keluar di waktu pagi dan petang untuk menuntut ilmu bukan dikategorikan orang yang berjihad, maka sungguh telah kurang akal dan pikirannya.”

Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah di dalam kitab Miftah Darus Sa’adah 1/271-273, beliau menyatakan :

وَ إِنَّمَا جُعِلَ الْعِلْمُ مِنْ سَبِيْلِ اللهِ لأَنَّ بِهِ قَوَامُ الإِسْلاَمِ, كَمَا أَنَّ قَوَامَهُ بِالْجِهَادِ, فَقَوَامُ الدِّيْنِ بِالْعِلْمِ وَ الْجِهَادِ

“Sesungguhnya dijadikan (perkara) menuntut ilmu termasuk di jalan Allah, karena dengannya akan tegak agama Islam sebagaimana tegaknya agama dengan jihad, maka kokohnya agama dengan ilmu dan jihad.”

Oleh karena itu jihad dibagi menjadi dua kategori : pertama, Jihad dengan pedang dan tombak dan yang kedua, jihad dengan hujjah dan argumentasi (ilmu). Jihad yang kedua ini merupakan jihad yang khusus dari pengikut para rasul, yaitu jihadnya para imam, yang sangat bermanfaat dan besar pengaruhnya terhadap musuh-musuh Islam.
Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)

“Seandainya kami menghendaki niscaya kami akan mengutus pada setiap negeri seorang pemberi peringatan, maka janganlah taat kepada orang-orang kafir dan perangilah mereka dengan jihad yang besar.” (Al Furqon : 51-52)

Allah Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Wahai Nabi perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap tegaslah kepada mereka.” (At Taubah : 73)

Al Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya termasuk perkara-perkara di jalan Allah adalah jihad dan menuntut ilmu serta mendakwahi manusia kepada jalan Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Mu’adz bin jabal radliyallahu’anhu berkata :

عَلَيْكُمْ بِطَلَبِ الْعِلْمِ, فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ للهِ خَشْيَةٌ, وَ مُدَارَسَتَهُ عِبَادَةٌ, وَ مُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ, وَ الْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ

“Hendaklah kalian menuntut ilmu. Sesungguhnya menuntut ilmu karena Allah adalah (perwujudan) rasa takut, mempelajarinya termasuk ibadah, menelaahnya adalah tasbih dan membahasnya merupakan jihad.”

Sehingga Allah menggandengkan antara kitab yang diturunkan dengan al Hadid (besi), sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (25)

“Sungguh kami telah mengutus para rasul kami dengan penjelasan-penjelasan dan menurunkan bersama mereka kitab dan timbangan (keadilan) agar manusia menegakkan keadilan, serta menurunkan (pula) besi yang (memiliki kekuatan hebat) dan bermanfaat bagi manusia. Dan agar Allah mengetahui orang-orang yang menolong-Nya dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat Dan Perkasa.” (Al Hadid : 25).

Allah subhanahu wata’ala dalam ayat ini menyebutkan kitab dan besi yang memiliki kekuatan hebat dan manfaat bagi manusia, karena dengan keduanyalah agama menjadi tegak. Sehingga Allah subhanahu wata’ala memuji Ahlul ilmi (orang yang memiliki ilmu syari’at) dengan menjadikan kitab tersebut sebagai hujjah mereka dan sekaligus sebagai modal senjata. Dengan ilmulah akan terpatahkan berbagai argumen orang-orang yang ingin memadamkan cahaya agama Allah. Segala upaya yang dilakukan para ahlul ilmi ini merupakan jihad di jalan Allah subhanahu wata’ala. Karena ilmu yang dianugerahkan kepada mereka menjadi landasan dakwah untuk memberikan kemaslahatan bagi manusia seluruhnya. Sehingga manusia terbimbing dengan ilmu dan dapat diarahkan kepada jalan keselamatan di dunia dan akherat.
Wallahu a’lam bish showab

Sumber: http://www.darussalaf.or.id

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Lainnya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s