Setelah Mereka Dibangkitkan Dari Kubur


oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Allah berfirman:

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Dzat) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yasin: 51-54)

“Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.” (Al-Ma’arij: 42-44)

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan, serta hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk).” (Qaf: 41-43)

Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr yang telah lalu, Rasulullah bersabda:

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثم لا يبقى أحد إلا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الرَّاوِي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، هَلُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ

“Kemudian Allah menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan –perawi ragu–, maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi). Kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Wahai sekalian manusia! Kemarilah kalian semua menuju Rabb kalian’.” (HR. Muslim)

Setelah ditiupnya sangkakala dengan tiupan yang membangkitkan (nafkhatul ba’tsi), mereka bangkit dari alam kubur (alam barzakh), untuk menghadap Allah dalam rangka mempertanggungjawabkan amalan-amalan mereka ketika hidup di dunia.

Tulang yang tidak akan hancur

Manusia akan tumbuh dari tulang yang sangat kecil yang terletak di bagian bawah tulang sulbi (tulang ekor), setelah turunnya hujan pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، لَيْسَ مِنَ الْإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلَّا يَبْلَى إِلَّا عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kemudian Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu (jasad-jasad) mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Jasad manusia akan hancur kecuali satu tulang yaitu ‘ajbu adz-dzanab. Dari tulang itulah manusia akan tumbuh kembali pada hari kiamat.”

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Ajbu adz-dzanab adalah tulang yang sangat kecil, terletak di bagian bawah tulang ekor dan dia adalah ujungnya. Tulang itulah yang pertama kali tercipta dari anak keturunan Adam, dan yang akan tetap ada (tidak hancur) sehingga dia dibangkitkan darinya.” (Syarh Shahih Muslim, 9/292)

Manusia dibangkitkan telanjang, tanpa alas kaki, tidak dikhitan

Seluruh umat manusia, termasuk para nabi dan rasul dibangkitkan kemudian digiring menghadap Allah di padang mahsyar dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki dan tidak dikhitan. Keadaan yang menunjukkan bahwa manusia itu fakir, miskin dan lemah di hadapan Allah, Rabbul alamin.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata:

Rasulullah memberi nasihat kepada kami, beliau berkata: “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya kalian akan digiring menghadap Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan (sebagaimana firman Allah):

‘Sebagaimana Kami telah menciptakannya, demikian pula Kami mengembalikannya, sebagai janji atas Kami. Sesungguhnya Kami akan benar-benar melakukannya.’ (Al-Anbiya: 104)

Ketahuilah, makhluk yang pertama kali akan dikaruniai pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena dahsyat dan mencekamnya keadaan waktu itu, kaum lelaki tidak peduli terhadap kaum wanita dan sebaliknya. Ummul Mukminin Aisyah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

“Wahai Rasullullah, apakah para lelaki dan wanita sebagiannya akan melihat sebagian yang lain?” Beliau menjawab: “Urusan (pada hari itu) lebih dahsyat daripada mereka memerhatikan hal tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Keadaan orang-orang kafir setelah dibangkitkan

Bagi orang-orang kafir, hari kiamat adalah hari yang sangat menyulitkan, disebabkan kekafiran dan kesyirikan mereka di dunia. Sebagaimana firman Allah tentang mereka:

(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: “Ini adalah hari yang berat.” (Al-Qamar: 6-8)

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (Al-Isra’: 97)

Allah Mahakuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Dari Anas bin Malik:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ -قَالَ قَتَادَةُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا

Seseorang bertanya: “Wahai Nabi, bagaimana orang kafir bisa digiring (menuju mahsyar) dalam keadaan diseret di atas wajahnya?” Beliau n menyatakan: “Bukankah Dzat yang menjadikan dia bisa berjalan di atas kedua kakinya ketika hidup di dunia, Dia juga Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?” –Qatadah (perawi hadits ini dari Anas) berkata: “Tentu, demi Keperkasaan Rabb kami.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sumber: http://www.asysyariah.com

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s