Nadzar Muqayyad Diharamkan?


Nadzar muqayyad adalah seorang hamba mengharuskan dirinya untuk mengerjakan suatu ibadah sebagai balasan dari kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Misalnya dia mengatakan: Jika Allah menyembuhkanku maka aku akan bersedekah atau jika saya lulus maka saya akan shalat semalaman atau ucapan semacamnya.

Bernadzar dengan nadzar seperti ini dilarang dalam syariat Islam, dan kepada nadzar jenis inilah diarahkan semua dalil yang melarang dan mencela nadzar. Di antara dalil-dalil yang melarang dan mencela bentuk nadzar muqayyad ini adalah:

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ

“Bahwa beliau melarang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Sesungguhnya (nadzar) tidak akan mendatangkan suatu kebaikan, dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3095)

Larangan dalam hadits ini tentu saja tidak ditujukan kepada nadzar ibadah yang sudah disebutkan di atas, akan tetapi larangan ini ditujukan kepada nadzar muqayyad. Yang menguatkan hal ini adalah adanya beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa nadzar yang dilarang ini adalah nadzar yang dilakukan dan dikaitkan dengan adanya suatu kejadian yang Allah Ta’ala takdirkan, dan inilah hakikat dari nadzar muqayyad. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah:

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nadzar dan bersabda, “Sesungguhnya nadzar tidak bisa mencegah apa-apa, dan dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6118 dan Muslim no. 3093)

Beliau radhiallahu ‘anhuma juga berkata: Bukankah mereka dilarang dari nadzar? Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَا يُؤَخِّرُ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنْ الْبَخِيلِ

“Sesungguhnya nadzar tidak bisa menyegerakan sesuatu dan tidak pula bisa menangguhkannya. Nadzar ini hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6198)

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ مِنْ الْقَدَرِ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ

“Bahwa beliau melarang seseorang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Hal itu tidak bisa mengubah takdir, dan nadzar itu hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3097)

Maka semua dalil di atas jelas menunjukkan seseorang dilarang untuk bernadzar dengan nadzar muqayyad. Walaupun dalam status larangannya, para ulama masih berbeda pendapat dalam hal ini, ada yang berpendapat makruhnya dan ada yang berpendapat haramnya.

Kami katakan: Pendapat yang menyatakan hukumnya haram ini tidak jauh dari kebenaran karena beberapa alasan:

a. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melarang nadzar muqayyad, dan hukum asal dari larangan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah haram sampai ada dalil yang memalingkannya. Sementara di sini tidak ada dalil yang memalingkannya. Adapun pujian Allah bagi yang memenuhi nadzarnya maka itu ditujukan kepada nadzar ibadah, bukan nadzar muqayyad.

b. Beliau shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa nadzar muqayyad ini adalah amalan bakhil, sementara sudah dimaklumi bersama bahwa bakhil adalah amalan yang diharamkan dalam Islam. Dikatakan bakhil karena seandainya apa yang dia harapkan tidak terwujud maka dia tidak akan melakukan ibadah yang dia nadzarkan tadi. Dan siapakah yang lebih bakhil dibandingkan orang yang ‘main hitung-hitungan’ dengan Allah?!

c. Nadzar muqayyad adalah amalan kaum musyrikin, sehingga melakukannya merupakan tasyabbuh (penyerupaan) kepada mereka. Dan sudah dimaklumi bahwa menyerupai kaum musyrikin adalah haram.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma secara marfu’:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (1/676) dan Al-Irwa` no. 2384)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Hukum minimal yang terkandung dalam hadits ini adalah haramnya tasyabbuh kepada mereka (orang-orang kafir), walaupun zhahir hadits menunjukkan kafirnya orang yang tasyabbuh kepada mereka”. Lihat Al-Iqtidha` hal. 83

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa nadzar muqayyad ini adalah amalan kaum musyrikin adalah firman Allah Ta’ala, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 75-77)

Maka lihatlah bagaimana mereka berjanji dan bernadzar untuk bersedekah dan menjadi orang yang saleh tapi dengan syarat setelah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada mereka.

d. Nadzar muqayyad ini bisa menyeret kepada kemunafikan jika tidak ditunaikan, sebagaimana yang tersebut dalam ayat di atas. Dan kenyataan membuktikan tidak sedikit orang yang bernadzar muqayyad lalu belakangan dia menyesal karena tidak bisa melaksanakan nadzarnya, sehingga diapun melanggar nadzarnya. Dan segala sesuatu yang menjadi wasilah kepada yang haram maka dia juga haram.

e. Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Juga di antara dalil yang mendukung pendapat yang mengharamkan, terkhusus nadzar muqayyad adalah: Bahwa pelaku nadzar ini seakan-akan dia tidak percaya kepada Allah Azza wa Jalla. Seakan-akan dia meyakini bahwa Allah tidak akan memberikan kesembuhan kepadanya kecuali jika dia memberikan (ibadah) sebagai balasannya. Karenanya tatkala mereka sudah putus asa dari mendapatkan kesembuhan, maka mereka akan mulai bernadzar. Dan pada amalan ini terdapat buruk sangka kepada Allah Azza wa Jalla. ” (Al-Qaul Al-Mufid: 1/249)

Kami katakan: Dan tentu saja buruk sangka kepada Allah itu lebih dekat kepada keharaman daripada dikatakan makruh. Dan di antara bentuk buruk sangka kepada Allah dalam nadzar muqayyad ini adalah pelakunya menyangka bahwa berdoa kepada Allah kurang bermanfaat atau kurang cepat dikabulkan dalam hal-hal yang mendesak. Karenanya kita dapati tidak sedikit di antara mereka yang hanya berdoa untuk hal-hal yang dia tidak terlalu butuhkan dalam waktu segera. Adapun jika dia membutuhkan sesuatu dalam waktu cepat maka mereka akan beralih kepada nadzar dan tidak lagi berdoa kepada Allah kecuali sedikit.

Kemudian, walaupun nadzar muqayyad ini terlarang, akan tetapi kapan keinginannya terwujud maka dia wajib memenuhi nadzarnya jika isinya adalah ketaatan. Berdasarkan keumuman hadits Aisyah radhiallahu anha di atas:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa yang bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaknya ia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696)

Sumber: http://al-atsariyyah.com/nadzar-muqayyad-diharamkan.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s