Nggak Usah Tutup Mulut


Diantara perkara yang perlu diperhatikan ketika sholat, seorang tidak boleh menutupi mulutnya dengan sesuatu apapun, baik berupa tangan, kain, masker, dan lainnya

Shalat adalah ibadah yang sangat agung, merupakan tiang agama, dan pencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Allah -Ta’ala- berfirman:

Artinya: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabuut: 45).

Alangkah merugi orang-orang yang lalai dari ibadah yang sangat agung ini, bermalas-malasan bahkan jarang sekali dia terlihat merendahkan wajahnya, dan sujud kepada Dzat yang telah menciptakannya. Terlena dengan kehidupan dunia, padahal dia sendiri tahu bahwa hidupnya di dunia ini tidaklah abadi. Semuanya akan musnah !!

Meskipun semua orang sadari bahwa hidupnya di dunia ini tidaklah kekal, tapi tetap saja masih ada orang-orang yang berat melangkahkan kakinya menuju rumah Allah. Kalau pun datang, hanya di hari Jum’at. Seolah-olah shalat yang wajib itu hanyalah shalat Jum’at saja.

Kalau pun dia shalat, namun ia tak peduli dengan perkara-perkara yang bisa merusak shalatnya atau bahkan membatalkan shalatnya. Penyebab semua ini adalah karena kaum muslimin tidak mau mempelajari agama mereka sendiri khususnya yang berkaitan dengan shalat.

Para Pembaca yang budiman, diantara bentuk ketidakpedulian yang terjadi pada sebagian kaum muslimin pada hari ini ketika ia melaksanakan sholat:

1. Sadel (Menyelimutkan) Pakaian pada Tubuh, Menutupi Hidung dan Wajah dalam Sholat

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ

“Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang sadel dalam shalat dan seseorang menutupi mulutnya.”. [HR. Abu Dawud (643), At-Tirmidziy (378), Ibnu Khuzaimah (772), Ahmad (2/295 & 341), dan Al-Hakim (1/253). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Takhrij Al-Misykah (764)]

Ibnu Mas’ud, An-Nakha’iy, ats-Tsauriy, Ibnu Mubarak, Mujahid, Asy-Syafi’iy dan ‘Atha’, semuanya membenci sadel dalam shalat.

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai makna sadel yang terdapat dalam hadits di atas. Ada yang mengatakan: Sadel adalah menurunkan pakaian sehingga menyentuh tanah. Ini adalah Penafsiran Al-Imam Asy-Syafi’iy. Ini semakna dengan isbal (menurunkan pakaian melebihi mata kaki), yang telah berlalu penjelasannya dalam edisi lalu. [Lihat Al-Majmu’ (3/177), dan Ma’alim As-Sunan (1/179)]

Ada yang menyatakan, Sadel adalah seseorang menutupkan pakaian pada bahunya, lalu ia tidak menyentuh pakaian itu. Dia melakukannya karena khawatir kedua bahunya tersingkap dan akan datang pembahasannya, insya Allahu -Ta’ala-. Ini adalah penafsiran Al-Imam Ahmad. [Lihat Masa’il Ibrahim bin Hani’ (288)]

Pengarang kitab An-Nihayah, Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy -rahimahullah- berkata, “Dia (sadel) itu, seseorang menyelimutkan pakaian dan ia memasukkan kedua tangannya ke dalam (pakaian), hingga dia rukuk dan sujud dalam keadaan seperti itu.” Dia berkata, “Ini juga mencakup gamis atau pakaian lainnya”. [Lihat An-Nihayah fi Ghorib Al-Hadits (3/74)]

Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ

“Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang isytimalush shammaa’ (berselubung dan berselimut seperti batu)”. [HR. Al-Bukhoriy (367), Muslim (2099), Abu Dawud (2417), At-Tirmidziy (1758), An-Nasa’iy (5340), dan Ibnu Majah (3561)]

Seorangulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy-rahimahullah- berkata dalam menjelaskan makna hadits ini, “Ahli bahasa mengatakan, “Seseorang menyelimuti badannya dengan pakaian yang tidak terbuka segala sisinya dan tidak ada lubang untuk mengeluarkan tangannya.Ibnu Qutaibah berkata, “Dinamakan shammaa’ (batu keras), karena semua lubangnya tertutup, maka keadaannya seperti tanah yang membatu dan keras, yang tidak ada celah sedikitpun padanya. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (1/477), cet. Darul Ma’rifah]

Termasuk dalam makna ini adalah:

“Orang yang Shalat dalam Keadaan Melekatkan Jaket pada Kedua Bahunya, tanpa Memasukkan Kedua Tangannya ke dalam Lengan Jaket”

Model berpakaian seperti ini biasa kita saksikan pada sebagian tempat. Ketika mereka masuk ke dalam sholat dalam keadaan tergesa-gesa, mereka langsung meletakkan jaketnya pada kedua pundaknya, tanpa memasukkan tangannya ke lengan jaket. Demikian pula di sebagian daerah berudara dingin, ada sebagian orang melakukannya demi menghangatkan badan dan tangannya. Inilah salah satu makna sadel sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Abu Ubaid Al-Qosim bin Sallam, “As-Sadel : seseorang memanjangkan pakaiannya tanpa mempertemukan kedua sisinya di antara kedua tangannya. Jika ia mempertemukannya (mengancingnya), maka bukan termasuk dari sadel”.

Lahiriahnya, jika kedua sisinya bertemu, dalam keadaan kedua tangannya tidak dimasukkan ke dalam kedua lengan bajunya, maka yang demikian itu tidak dinamakan sadel, seperti shalat dengan al-qoba’a dan al-ba’a (mantel yang terbuka bagian depannya).

As-Safariniy-rahimahullah- berkata, “Syaikhul Islam ditanya tentang melekatkan al-Qoba’a pada kedua bahu tanpa memasukkan kedua tangan ke dalam lengannya, apakah yang demikian ini dimakruhkan ataukah tidak? Maka ia menjawab, “Sesungguhnya yang demikian itu tidak mengapa, berdasarkan kesepakatan para fuqaha. Ini bukanlah sadel yang dimakruhkan, karena pakaian tersebut bukanlah pakaian orang Yahudi.” [Lihat Ghidza’ Al-Albab (2/156)]

Dalil untuk hal ini, hadits yang dikeluarkan Muslim dalam Shahih-nya dari Wail bin Hujr,

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلىَ الْيُسْرَى فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا

“Sesungguhnya dia melihat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tatkala memasuki shalat, maka beliau takbir, kemudian menyelimuti dirinya dengan pakaiannya dan beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas yang kiri. Tatkala hendak rukuk, maka beliau mengeluarkan kedua tangannya dari pakaiannya, lalu mengangkat keduanya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (401)]

Jadi, seorang dilarang membiarkan kedua pakaian atau jaketnya terbuka di depan, tanpa dihimpun (dikancing). Adapun jika terhimpun (terkancing), maka boleh sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits ini. Wallahu a’lam bish showab.

2. Shalat dalam Keadaan Menutupi Mulut dengan Tangan atau dengan yang Lainnya

Diantara perkara yang perlu diperhatikan ketika sholat, seorang tidak boleh menutupi mulutnya dengan sesuatu apapun, baik berupa tangan, kain, masker, dan lainnya.

Para Pembaca yang budiman, seorang dilarang shalat dalam keadaan menutupi mulut berdasarkan hadits yang lalu:

نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ

“Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang sadel dalam shalat dan seseorang menutupi mulutnya”. [HR. Abu Dawud (643), At-Tirmidziy (378), Ibnu Khuzaimah (772), Ahmad (2/295 & 341), dan Al-Hakim (1/253). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Takhrij Al-Misykah (764)]

Jadi, seorang dilarang menutupkan tangan pada mulut ketika shalat, kecuali jika sedang menguap, maka justru disunnahkan untuk meletakkan (menutupkan) tangan pada mulut, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيْهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Jika salah seorang dari kalian menguap, hendaklah dia menahan (menutup) mulutnya dengan tangan, karena sesungguhnya setan akan masuk”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2995)]

Maka seorang diberi keringanan untuk menutupi mulutnya dengan menggunakan tangannya saat ia menguap dalam sholat. Tapi seusai menguap, ia kembali sebagaimana biasanya, tanpa menutupi mulutnya lagi.

Perempuan atau pun banci dalam perkara ini, hukumnya seperti laki-laki. Yakni hukumnya terlarang dan dibenci, namun tidak sampai menghalangi sahnya shalat. [Lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (3/179), cet Darul Fikr]

Adapun menutupkan tangan pada hidung, hukumnya berkisar dalam dua riwayat (pendapat). Pendapat pertama, dimakruhkan karena Umar membencinya. Pendapat yang lain, tidak dimakruhkan, karena pengkhususan larangannya hanya menutup mulut. Ini menunjukkan bolehnya menutup yang lainnya. [Lihat Al-Mughniy (2/299), cet. Dar Alam Al-Kutub, 1419 H]

Pendapat yang terkuat –wallahu a’lam- adalah pendapat yang pertama, karena tak mungkin seorang bisa menutupi hidungnya, tanpa menutupi mulutnya.

Syaikh Masyhur Hasan Salman -hafizhahullah- berkata, “Tidak bisa dibayangkan orang bisa menutup hidung dalam shalat, kecuali ia mesti menutup mulut. Karena mulut itu ada di bawah hidung. Jadi kemakruhannya terbukti (jelas), wallahu -Ta’ala- a’lam”. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal.42)]

Dikecualikan dari makruhnya perkara ini, jika menutup mulut dalam shalat, karena ada suatu sebab yang mengharuskan, seperti seseorang memiliki penyakit alergi dingin sehingga ia tak mampu menghirup udara dingin atau ia sesak nafas, maka diberikan rukhshoh (keringanan) baginya dalam melakukan hal itu. Tapi secara global, menutup mulut dalam sholat adalah terlarang !! Terlebih lagi jika menyinggung perasaan saudara kita. Sebab ada sebagian orang merasa tersinggung ketika melihat saudaranya menutup mulut, tanpa sebab yang bisa diketahui.

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 62 Tahun I.

Sumber: http://almakassari.com/?p=260

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s