Adzan dan Iqomah


oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Makna dan Tujuan Adzan

Secara bahasa, adzan bermakna i’lam yaitu pengumuman, pemberitahuan atau pemakluman, sebagaimana disebutkan dalam Mukhtarush Shihhah (hal. 16), At-Ta’rifat oleh Al-Jurjani (hal. 23), dan selainnya. Allah k berfirman:

”Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar…” (At-Taubah: 3)

Adapun secara syariat, adzan adalah pemberitahuan datangnya waktu shalat dengan menyebutkan lafadz-lafadz yang khusus. (Fathul Bari 2/102, Al-Mughni Kitabush Shalah, bab Al-Adzan)

Abul Hasan Al-Mawardi menerangkan, asal adzan ini adalah firman Allah:

”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah…” (Al-Jumu’ah: 9)

Dan firman-Nya:

“Dan apabila kalian menyeru mereka untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan…” (Al-Maidah: 58) [Al-Hawil Kabir, 2/40]

Ibnu Mulaqqin berkata, “Ulama menyebutkan empat hikmah adzan:

1. Menampakkan syiar Islam

2. Kalimat tauhid

3. Pemberitahuan telah masuknya waktu shalat dan pemberitahuan tempat pelaksanaan shalat.

4. Ajakan untuk menunaikan shalat berjamaah.” (dinukil dari Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/513 )

Keutamaan Adzan dan Muadzin

Banyak hadits yang datang menyebutkan keutamaan adzan dan orang yang menyerukan adzan (muadzin). Di antaranya berikut ini:

Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ….

”Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi…” (HR. Al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)

Dari Abu Hurairah juga, ia mengabarkan sabda Rasulullah:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا….

”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf yang awal kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan berundi niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Al-Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Muawiyah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

الْمؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya[1] pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 850)

Abu Sa’id Al-Khudri mengabarkan dari Rasulullah:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatupun yang mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Ibnu ’Umar berkata: Rasulullah bersabda:

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

”Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah ataupun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2/136. Asy-Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Sanad hadits ini shahih.”)

Ibnu Mas’ud berkata: Ketika kami bersama Rasulullah dalam satu safar, kami mendengar seseorang menyerukan, ”Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabiyullah bersabda, ”Dia di atas fithrah.” Terdengar lagi seruannya, ”Asyhadu an laa ilaaha illallah.” ”Ia keluar dari api neraka,” kata Rasulullah. Kami pun bersegera ke arah suara seruan tersebut. Ternyata orang itu adalah pemilik ternak yang mendapati waktu shalat ketika sedang menggembalakan hewannya, lalu ia menyerukan adzan. (HR. Ahmad 1/407-408. Guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berkata, ”Hadits ini shahih di atas syarat Syaikhain.” Lihat Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/56, 57)

Rasulullah mendoakan para imam dan muadzin:

اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمّةَ وَاغْفِرْ لِلَمْؤَذِّنِيْنَ

”Ya Allah berikan kelurusan[2] bagi para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 217, Al-Misykat no. 663)

Aisyah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah penjamin sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi, maka semoga Allah memberikan kelurusan kepada para imam dan memaafkan para muadzin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

Awal Pensyariatan Adzan

Ibnu Umar berkata, “Ketika awal kedatangan kaum muslimin di Madinah, mereka datang untuk mengerjakan shalat dengan memperkirakan waktu berkumpulnya mereka, karena tidak ada orang yang khusus bertugas menyeru mereka berkumpul untuk shalat. Suatu hari mereka mempercakapkan hal ini. Sebagian mereka berkata, ‘Kita akan menggunakan lonceng seperti loncengnya Nasrani untuk memanggil orang-orang agar berkumpul untuk mengerjakan shalat.’ Sebagian lain mengatakan, ‘Kita pakai terompet seperti terompetnya Yahudi.’  Namun Umar mengusulkan, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Nabi pun bersabda:

يَا بِلاَلُ، قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

“Bangkitlah wahai Bilal, kumandangkanlah seruan untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 835)

Dalam hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 603) juga disebutkan ada yang mengusulkan untuk menyalakan api sebagai tanda ajakan shalat.

Namun semua usulan ditolak oleh Rasululllah n karena ada unsur penyerupaan dengan orang-orang kafir. Sementara kita dilarang tasyabbuh (menyerupai) dengan ashabul jahim (para penghuni neraka) ini.

Dari hadits Ibnu Umar di atas, tampak bagi kita beberapa perkara:

1. Seruan untuk berkumpul mengerjakan shalat baru disyariatkan di Madinah setelah kedatangan Rasulullah. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa adzan telah disyariatkan di Makkah atau pada malam Isra’, tidak ada satu pun yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bari (2/104).

2. Seruan untuk shalat yang diperintahkan Rasulullah kepada Bilal bukanlah lafadz-lafadz adzan yang kita kenal, karena lafadz-lafadz tersebut baru dikumandangkan Bilal setelah Abdullah bin Zaid bermimpi mendengar lafadz-lafadz adzan.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Disebutkan dalam hadits bahwa Umar mengisyaratkan kepada mereka untuk mengumandangkan seruan. Ia berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Zahir dari ucapan ini bahwa seruan tersebut berupa pemberitahuan semata, bukan adzan yang khusus sebagaimana yang disyariatkan. Tetapi berupa pemberitahuan untuk shalat, bagaimana pun caranya.” (Al-Ikmal, 2/237)

Tentang awal pensyariatan adzan ini juga disebutkan dalam hadits berikut ini:

Abu Umair bin Anas mengabarkan dari pamannya seorang dari kalangan Anshar: Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat berjamaah. Ada yang mengusulkan pada beliau, ”Pancangkan bendera ketika telah tiba waktu shalat, sehingga bila orang-orang melihatnya, mereka akan saling memanggil untuk menghadiri shalat.” Namun usulan tersebut tidak berkenan di hati Rasulullah.

Ada yang mengusulkan terompet, namun Rasulullah juga tidak berkenan menerimanya, bahkan beliau mengatakan, ”Itu perbuatan Yahudi.”

Ada yang usul lonceng, beliau bersabda, ”Itu urusan Nasrani.”

Pulanglah Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi dalam keadaan hatinya dipenuhi pikiran tentang kegelisahan Rasulullah. Ketika tidur, ia bermimpi mendengar adzan[3].

Di pagi harinya ia menemui Rasulullah untuk memberitakan mimpi tersebut, ”Wahai Rasulullah, aku berada di antara tidur dan jaga ketika datang kepadaku seseorang lalu ia menunjukkan adzan kepadaku.” Sebelumnya Umar ibnul Khaththab telah bermimpi tentang adzan namun ia menyembunyikannya (tidak memberitahukan tentang mimpinya) selama 20 hari. Setelahnya barulah Umar memberitakan mimpinya kepada Nabi[4]. ”Apa yang menghalangimu untuk memberitahukan mimpimu kepadaku?” tanya Rasulullah kepada Umar. Kata Umar, ”Abdullah bin Zaid telah mendahului saya, saya pun malu.” Rasulullah n bersabda, ”Wahai Bilal, bangkitlah, perhatikan apa yang diajarkan Abdullah bin Zaid lalu ucapkanlah.” Bilal pun mengumandangkan adzan. (HR. Abu Dawud no. 498, kata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/107, ”Sanadnya shahih.” Hadits ini dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Al-Jami’ush Shahih 2/62)

Dengan demikian, seruan untuk shalat telah melewati tiga tahapan:

Pertama: Ketika awal diwajibkan shalat di Makkah (tiga tahun sebelum hijrah), belum ada seruan untuk shalat sama sekali. Hal ini terus berlangsung sampai Nabi n hijrah ke Madinah. Pada masa itu, untuk berkumpul kaum muslimin hanya memperkirakan waktunya.

Kedua: Ada seruan umum yang dikumandangkan Bilal untuk berkumpul guna mengerjakan shalat setelah terjadi musyawarah Rasulullah n dan para sahabatnya, atas usulan Umar ibnul Khaththab z.

Ketiga: Dikumandangkannya adzan yang syar’i setelah Abdullah bin Zaid z mendengarnya dalam mimpinya.

Hukum Adzan

Al-Imam An-Nawawi t berkata tentang pendapat ulama dalam masalah hukum adzan berikut iqamat, “Mazhab kami (Syafi’iyyah) yang masyhur menetapkan hukum keduanya sunnah bagi setiap shalat, baik yang mukim ataupun safar, baik shalat jamaah ataupun shalat sendiri. Keduanya tidaklah wajib. Bila ditinggalkan, sah shalat orang yang sendirian atau berjamaah. Demikian pula pendapat Abu Hanifah t dan murid-muridnya, serta pendapat Ishaq bin Rahawaih t. As-Sarkhasi t menukilkannya dari jumhur ulama. Ibnul Mundzir t berkata, “Adzan dan iqamat wajib hukumnya dalam shalat berjamaah baik di waktu mukim ataupun safar.” Al-Imam Malik menyatakan, “Wajib dikumandangkan di masjid yang ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya.”

Atha dan Al-Auza’i rahimahumallah berkata, “Bila lupa iqamat, shalat harus diulangi.” Dalam satu riwayat dari Al-Auza’i t, “Orang itu mengulangi shalatnya selama waktu shalat masih ada.”

Al-‘Abdari t berkata, “Hukum keduanya sunnah menurut Al-Imam Malik t, dan fardhu kifayah menurut Al-Imam Ahmad t.”

Dawud t mengatakan, “Keduanya wajib bagi shalat berjamaah, namun bukan syarat sahnya.”

Mujahid berpendapat, “Bila lupa iqamat dalam shalat ketika safar, ia harus mengulangi shalatnya.”

Al-Muhamili t mengatakan, “Ahlu zahir berkata bahwa adzan dan iqamat wajib bagi seluruh shalat, namun mereka berbeda pendapat tentang keberadaannya apakah sebagai syarat sahnya shalat ataukah tidak.” (Al-Majmu’, 3/90)

Di antara pendapat yang ada, maka yang kuat dalam pandangan penulis adalah pendapat yang menyatakan wajib/fardhu kifayah, dengan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Malik ibnul Huwairits z, ia berkata: Kami mendatangi Nabi n di Madinah dalam keadaan kami adalah anak-anak muda yang sebaya. Kami tinggal di sisi beliau selama 20 hari 20 malam. Adalah Rasulullah n seorang yang pengasih lagi penyayang. Ketika beliau yakin kami telah merindukan keluarga kami, beliau menanyakan tentang keluarga yang kami tinggalkan, maka kami pun menyampaikannya. Beliau bersabda:

ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ– وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا –وَصَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kembalilah kalian menemui keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan perintahkan mereka –beliau lalu menyebut beberapa perkara ada yang aku ingat dan ada yang tidak–. Shalatlah kalian sebagaimana cara shalatku yang kalian lihat. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

2. Hadits Amr bin Salamah, di dalamnya disebutkan sabda Rasulullah n:

صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، وَصَلُّوا كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا

“Kerjakanlah oleh kalian shalat ini di waktu ini dan shalat itu di waktu itu. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan Qur’annya.” (HR. Al-Bukhari no. 4302)

Ibnu Hazm t berkata, “Dengan dua hadits ini pastilah kebenaran pendapat yang mengatakan adzan itu wajib secara umum bagi setiap shalat, dan bahwa adzan baru diserukan setelah masuknya waktu shalat. Iqamat juga masuk dalam perkara ini.” (Al-Muhalla, 2/165)

Beliau juga berkata, “Di antara yang berpendapat wajibnya adzan adalah Abu Sulaiman dan murid-muridnya. Kami tidak mengetahui adanya hujjah sama sekali bagi yang berpendapat adzan itu tidak wajib. Seandainya tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya adzan kecuali penghalalan Rasulullah n terhadap darah orang-orang yang tinggal di sebuah negeri karena tidak terdengar adzan diserukan di negeri tersebut, dihalalkan harta mereka dan menawan mereka, niscaya ini sudah cukup untuk menyatakan wajibnya. Pendapat ini merupakan kesepakatan yang diyakini oleh seluruh sahabat g tanpa diragukan, maka ini merupakan ijma’ yang dipastikan kebenarannya.” (Al-Muhalla, 2/166)

Ibnul Mundzir t dalam Al-Ausath (3/24) berkata, “Adzan dan iqamat adalah dua kewajiban bagi setiap (shalat) berjamaah, baik dalam keadaan mukim (tidak bepergian/safar) maupun sedang safar. Karena Nabi n memerintahkan agar adzan diserukan. Perintah beliau menunjukkan wajib. Nabi n pernah memerintahkan Abu Mahdzurah agar menyerukan adzan di Makkah dan beliau juga pernah menyuruh Bilal adzan. Semua ini menunjukkan wajibnya adzan.”

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Secara mutlak, tidak diragukan lagi batilnya pendapat yang mengatakan adzan hukumnya mustahab. Bagaimana bisa dihukumi mustahab, sementara adzan termasuk syiar Islam yang terbesar, yang mana dahulu Nabi n bila tidak mendengar seruan adzan di daerah suatu kaum, beliau mendatangi mereka untuk memerangi mereka dan melakukan penyerangan terhadap mereka. Sebaliknya bila mendengar adzan diserukan di tengah mereka, beliau menahan diri dari memerangi mereka sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahihain dan selainnya. Telah pasti pula adanya hadits shahih dari selain Shahihain yang berisi perintah untuk mengumandangkan adzan. Yang namanya kewajiban bisa ditetapkan dengan yang lebih sedikit dari apa yang telah disebutkan. Maka pendapat yang benar adalah adzan hukumnya fardhu kifayah. Pendapat inilah yang dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Al-Fatawa (1/67-68 dan 4/20). Bahkan adzan diwajibkan walaupun seseorang shalat sendirian sebagaimana akan disebutkan dalilnya.” (Tamamul Minnah, hal. 144)

Di antaranya riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (no.1203), An-Nasa’i (no. 666), dan Ahmad (4/157) dari hadits Uqbah bin Amir z secara marfu’:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي، فَيَقُوْلُ اللهُ k: انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيْمُ الصَّلاَةَ، يَخَافُ مِنِّي، فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat. Allah k berfirman, “Lihatlah oleh kalian hamba-Ku ini, ia adzan dan menegakkan shalat dalam keadaan takut kepada-Ku, maka Aku ampuni hamba-Ku ini dan Aku masukkan ia ke dalam surga.” (Al-Imam Al-Albani t berkata dalam Ash-Shahihah no. 41, “Hadits ini shahih.”)

Adapun iqamat, menurut Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan seluruh fuqaha rahimahumullah, hukumnya sunnah muakkadah, dan orang yang meninggalkannya tidak perlu mengulang shalatnya.

Sedangkan menurut Al-Auza’i, Atha’, Mujahid, dan Ibnu Abi Laila, iqamat ini wajib, dan yang meninggalkannya harus mengulangi shalatnya. Demikian pula pendapat ahlu zahir. Wallahu a’lam. (Al-Ikmal, 2/232-234)

Yang rajih adalah pendapat yang menyatakan iqamat hukumnya fardhu kifayah dalam shalat berjamaah, baik dalam shalat mukim ataupun safar dengan dalil hadits Malik ibnul Huwairits z. Adapun bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) hukumnya mustahab, tidak wajib. Dalilnya adalah hadits Salman z:

إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضِ قِيّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفَاهُ

“Apabila seseorang berada di padang tandus, lalu datang waktu shalat hendaklah ia berwudhu. Bila ia tidak mendapati air hendaklah ia bertayammum. Bila ia bangkit mengerjakan shalat, ikut shalat bersamanya dua malaikat. Jika ia adzan dan shalat maka turut shalat di belakangnya para tentara Allah yang tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Abdurrazzaq no. 1955. Al-Imam Al-Albani t mengatakan,”Sanad hadits ini shahih sesuai syarat para imam yang enam.”; Ats-Tsamar, 1/145)

(bersambung, insya Allah)

1 Ahlul ilmi berselisih pendapat dalam memaknakan lafadz ini. Ada yang mengatakan, maknanya adalah orang yang paling banyak melihat pahala. An-Nadhr ibnu Syumail t berkata, “Apabila manusia pada hari kiamat nanti dikekang dengan keringat mereka, menjadi panjanglah leher para muadzin agar mereka tidak mendapatkan bencana tersebut dan tidak ditenggelamkan oleh keringat.”

Adapula yang memaknakannya dengan tokoh, karena orang Arab menyifatkan tokoh/pimpinan dengan leher panjang.

Adapula yang memaknakan banyak pengikutnya. Ibnul Arabi mengatakan, “Orang yang paling banyak amalnya.”

Al-Qadhi Iyadh t dan selainnya berkata, “Sebagian ulama ada yang meriwayatkan lafadz ini dengan mengkasrah hamzah, sehingga dibaca i’naqan yang bermakna paling cepat menuju ke surga.”

Ibnu Abi Dawud berkata: Aku mendengar ayahku berkata tentang maknanya, “Manusia pada hari kiamat nanti akan kehausan. Bila seseorang haus terlipatlah lehernya sedangkan para muadzin tidak merasakan haus, maka leher-leher mereka tetap tegak.” (Nailul Authar, 1/485-486)

2 Mengetahui al-haq dan mau mengikutinya.

3 Mimpinya terjadi pada tahun pertama hijriyah setelah selesai pembangunan masjid Nabawi.

4 Yaitu setelah Umar z mendengar adzan itu dikumandangkan oleh Bilal z sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Zaid z.

Lafadz-lafadz Adzan dan Iqamat

Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli t berkata: “Riwayat yang paling shahih (tentang lafadz-lafadz adzan yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid z, pen.) adalah riwayat Muhammad bin Ishaq, yang mendengarkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits At-Taimi, dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, yang mendengarkan dari ayahnya, Abdullah bin Zaid, karena Muhammad telah mendengarkan langsung dari bapaknya yakni Abdullah.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t (3/43), Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i t, dan selainnya. At-Tirmidzi t menukilkan penshahihan Al-Imam Al-Bukhari t terhadap riwayat ini di dalam Al-Ilal. Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah t, beliau menyatakan hadits ini shahih dan pasti dari sisi penukilan, para perawinya bukan orang-orang yang melakukan tadlis (penyebutan secara samar) dalam periwayatannya. (Ats-Tsamar, 1/115)

Dalam hadits tersebut, Abdullah bin Zaid z berkata: Ketika Rasulullah n memerintahkan untuk menggunakan lonceng sebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalat berjamaah, ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng di tangannya dalam keadaan aku tidur saat itu. Aku berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng?”

“Apa yang hendak kau perbuat dengan lonceng?” tanyanya.

“Kami ingin memanggil orang-orang berkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng,” jawabku.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang lebih baik daripada itu?” tanyanya.

Aku katakan, “Tentu aku mau.”

Orang itu berkata, ”Engkau mengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Marilah mengerjakan shalat. Marilah mengerjakan shalat.

Marilah (menuju) kepada kemenangan. Marilah (menuju) kepada kemenangan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.1

Kemudian ia mundur dariku ke tempat yang tidak seberapa jauh, setelahnya ia berkata, ”Jika engkau iqamat untuk shalat, engkau katakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Di pagi harinya, aku menemui Rasulullah n untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.”

Aku bangkit bersama Bilal. Mulailah kusampaikan padanya adzan yang kudengar, lalu ia mengumandangkannya. Umar ibnul Khaththab z mendengar adzan tersebut dari rumahnya. Ia pun keluar dengan menyeret rida’ (selendang)nya, seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apa yang dimimpikan Abdullah bin Zaid.”

“Hanya milik Allah-lah segala pujian,” jawab beliau3.

Dari hadits di atas, kita ketahui bahwa lafadz adzan itu digandakan4 sedangkan iqamat diganjilkan, kecuali lafadz:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ.

Yang lebih menguatkan hal ini adalah hadits Anas bin Malik z, ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلاَّ الْإِقاَمَةَ

“Bilal diperintah untuk menggandakan lafadz adzan dan mengganjilkan iqamat kecuali lafadz iqamat5.” (HR. Al-Bukhari no. 605 dan Muslim no. 836)

Disyariatkannya Tarji’ dalam Adzan Abu Mahdzurah

Rasulullah n juga pernah mengajarkan lafadz yang sedikit berbeda yang dikenal di kalangan ahli fiqih dengan sebutan adzan Abu Mahdzurah z. Lafadznya sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam kitab Shahihnya no. 840.

Di awal lafadz adzan ini, kita lihat ucapan takbir hanya dua kali, tidak empat kali sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid z yang telah lewat. Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah lafadz takbir diucapkan empat kali:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

dengan beberapa alasan yang menguatkan:

1. Hadits ini diriwayatkan pula oleh selain Al-Imam Muslim t dengan empat kali takbir di awalnya. Yang paling jelas adalah riwayat An-Nasa’i t dalam Sunannya (no. 631) dari jalur syaikhnya, Ishaq bin Ibrahim, semisal riwayat Muslim. Dan Ishaq bin Ibrahim ini merupakan salah satu syaikh Al-Imam Muslim dalam hadits ini juga6.

2. Abu Dawud t7 dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari jalur Hammam dari Amir Al-Ahwal, dari Makhul, dari Abu Mahdzurah z yang menyebutkan lafadz adzan yang diajarkan Rasulullah n kepadanya ada 19 kalimat8, sedangkan iqamat ada 17 kalimat. Lafadz adzan sebagaimana berikut ini:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Adapun lafadz iqamat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ.

3. Al-Qadhi Iyadh t berkata ketika mensyarah hadits di atas, “Dalam sebagian jalur-jalur riwayat Al-Farisi, disebutkan adzan itu dengan empat kali takbir (di awal).” (Al-Ikmal, 2/244)

Dengan tiga perkara di atas menjadi jelaslah bahwa riwayat yang menyebutkan dua kali takbir di awal adzan teranggap marjuh (lemah), sehingga yang rajih dari hadits Abu Mahdzurah z adalah empat kali takbir di awal. Ibnul Qaththan t berkata, “Yang shahih dalam hal ini adalah takbir diucapkan sebanyak empat kali. Dengan demikian sesuai bila dikatakan adzan itu sembilan belas kalimat, di mana hal ini telah diikat dengan hadits itu sendiri.” Beliau juga menyatakan, telah datang dalam sebagian riwayat Al-Imam Muslim t dengan penyebutan takbir empat kali. Sehingga inilah yang sepantasnya dalam Ash-Shahih.

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata menguatkan perkara ini, “Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Al-Mustakhraj, demikian pula Al-Baihaqi, dari jalan Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyam dengan sanadnya. Disebutkan dalam hadits tersebut pernyataan empat kali takbir. Al-Baihaqi menyatakan setelah membawakan hadits tersebut, “Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dari jalan Ishaq. Demikian juga oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhrajnya dari jalan Ali ibnul Madini, dari Mu’adz.” (At-Talkhis, 1/323).

Akan tetapi, adzan dengan dua kali takbir tersebut telah didukung beberapa syawahid (pendukung) yang menunjukkan ada asalnya dalam As-Sunnah9. Wallahu a’lam.

Dari hadits Abu Mahdzurah di atas kita dapat mengambil tiga faedah:

1. Tarji’ disyariatkan dalam adzan, yaitu muadzin mengucapkan syahadatain untuk pertama kali dengan suara rendah yang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah itu ia mengulangi lagi syahadatain tersebut dengan suara yang keras/lantang. Tarji’ ini hanya dalam adzan, tidak ada dalam iqamat. Pensyariatan tarji’ ini merupakan mazhab Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. (Al-Minhaj, 4/303. Subulus Salam 2/48,49)

2. Selain mengganjilkan lafadz iqamat, dibolehkan pula mentatsniyahnya, yaitu mengucapkan lafadz-lafadznya sebanyak dua kali. Ini merupakan keragaman iqamat shalat, sehingga kedua-duanya bisa diamalkan karena keduanya merupakan Sunnah Nabi n, di mana beliau yang mentaqrir (menetapkan kebenaran) mimpi Abdullah bin Zaid z yang di dalamnya terdapat lafadz iqamat secara ganjil kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ, قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ . Beliau n pula yang mengajarkan lafadz adzan berikut iqamat kepada Abu Mahdzurah z serta memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Makkah.

3. Beragamnya lafadz adzan. Ada yang 19 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan empat takbir yang awal yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah. Ada yang 17 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan dua takbir di awalnya dalam riwayat Al-Imam Muslim. Ada yang 15 kalimat sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid ibnu ‘Abdi Rabbihi. Ini menunjukkan adanya tanawwu’at (berbagai macam lafadz) dalam adzan, sehingga boleh diamalkan salah satu di antaranya. Al-Imam Ahmad dan Ishaq memandang bolehnya tarji’ dan tidak. Kedua hal itu merupakan sunnah. (Al-Majmu’, 3/102)

Wajib Urutan dalam Melafadzkan Adzan

Ibnu Qudamah t berkata, “Tidak sah adzan kecuali dengan berurutan. Karena bila tidak berurutan lafadznya niscaya tujuan yang hendak dicapai dengan adzan tidak akan diperoleh, yaitu sebagai pemberitahuan. Juga, bila tidak berurutan niscaya tidak akan diketahui bahwa itu adalah adzan. Di samping pula adzan memang disyariatkan dengan berurutan, dan Nabi n mengajari Abu Mahdzurah secara berurutan.” (Al-Mughni, kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban)

Ibnu Hazm t berkata, “Tidak boleh terbalik dalam melafadzkan adzan ataupun iqamat. Tidak boleh mengedepankan kalimat yang semestinya diakhirkan. Siapa yang melakukan hal ini berarti ia tidak melakukan adzan dan iqamat, berarti pula ia shalat tanpa adzan dan tanpa iqamat.”

Ibnu Hazm t juga menyebutkan bahwa Rasulullah n mengajarkan adzan dan iqamat secara berurutan, kalimat yang pertama kemudian yang berikutnya. Beliau n memerintahkan kepada orang yang beliau ajarkan untuk mengucapkan seperti apa yang beliau sampaikan. Setelah mengucapkan lafadz yang awal, baru yang berikutnya, demikian sampai keduanya selesai. Bila demikian keadaannya, maka tidak halal bagi seorang pun menyelisihi perkara Nabi n dalam mengedepankan apa yang beliau akhirkan dan mengakhirkan apa yang beliau kedepankan.” (Al-Muhalla, 2/194,195) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah, bersambung)

1 Ini merupakan adzan orang-orang Kufah, dan merupakan pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad dalam satu riwayat sebagaimana hikayat Al-Khiraqi. (Al-Majmu’ 3/102)

2 Artinya: Telah tegak shalat, telah tegak shalat.

3 Hadits ini hasan sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246.

4 Kecuali takbir yang awal sejumlah empat kali dan tahlil di akhir adzan hanya sekali.

5 Yaitu lafadz: قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

6 Syaikhnya yang lain adalah Abu Ghassan Al-Misma’i Malik bin Abdil Wahid.

7 Dalam Sunannya no. 502

8 Adzan ini merupakan adzan penduduk Makkah. Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat demikian sebagaimana kata At-Tirmidzi t dalam Sunannya (1/124). Pendapat ini yang dipilih Ibnu Hazm t (Al-Muhalla 2/185).

9 Penduduk Madinah menggunakan adzan dengan dua kali takbir di awal, yang merupakan pendapat Al-Imam Malik t dalam Al-Mudawwanah (1/57), berdalilkan hadits Abu Mahdzurah z yang menyebutkan dua kali takbir di awal.

Adzan Dikumandangkan Pada Waktunya

Bila telah masuk waktu shalat, dikumandangkanlah adzan sebagai ajakan untuk menghadiri shalat berjamaah. Namun ada adzan yang diserukan sebelum masuk waktu shalat, yaitu adzan sebelum shalat subuh yang dikenal dengan adzan pertama. Kata Ibnu Hazm t, “Tidak boleh diserukan adzan untuk shalat sebelum masuk waktunya terkecuali shalat subuh saja (adzan pertama, pen.).” (Al-Muhalla, 2/159)

Untuk subuh memang ada dua adzan. Adzan pertama dikumandangkan beberapa waktu sebelum shalat subuh dengan tujuan membangunkan orang yang tidur, mengingatkan orang yang shalat tahajjud/qiyamul lail agar tidur sejenak hingga nantinya mengerjakan shalat subuh dalam keadaan segar. Tujuan lainnya, agar orang yang ingin puasa keesokan harinya bisa segera makan sahur. Adapun adzan kedua diserukan ketika masuk waktunya1.

Ibnu Umar c berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوْا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ. ثُمَّ قَالَ: وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لاَ يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ، أَصْبَحْتَ

“Sesungguhnya Bilal adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah kalian (yang berniat puasa di esok hari) sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” Kemudian Ibnu Umar c berkata, “Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan adzan sampai ada yang berkata kepadanya, ‘Engkau telah berada di waktu pagi/subuh, engkau telah berada di waktu pagi/subuh’.” (HR. Al-Bukhari no. 617 dan Muslim no. 2533)

Jarak antara dua adzan ini tidaklah berjauhan, sebagaimana diisyaratkan dalam ucapan Ibnu Umar c dari hadits di atas yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا.

“Tidaklah jarak antara kedua adzan ini kecuali sekadar muadzin yang satu turun dari tempatnya beradzan dan muadzin yang lain naik.”

Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan: Para ulama mengatakan, “Makna kalimat di atas adalah Bilal biasa mengumandangkan adzan sebelum fajar. Setelah itu ia mengisi waktunya dengan berdoa dan semisalnya. Kemudian ia melihat-lihat fajar. Apabila telah dekat terbitnya fajar, ia turun untuk mengabarkannya kepada Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum pun bersiap-siap dengan bersuci dan selainnya. Setelahnya ia naik dan mulai mengumandangkan adzan bersamaan dengan awal terbitnya fajar. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 7/203)

Al-Imam Al-Albani t dalam Tamamul Minnah (hal. 146) memperkirakan adzan pertama itu diserukan sekitar seperempat jam sebelum masuk waktu shalat subuh.

Faedah

Termasuk sunnah yang ditinggalkan oleh kaum muslimin pada hari ini adalah tidak mengangkat/menjadikan dua muadzin (penyeru/pengumandang adzan) dalam adzan fajar, yang dengannya dapat dibedakan muadzin pada adzan yang pertama dengan muadzin pada adzan yang kedua. (Tamamul Minnah, hal. 148)

Tambahan dalam Lafadz Adzan

Telah kita sebutkan adanya tiga macam sifat adzan:

1. Adzan yang lafadznya sejumlah 19 kalimat

2. Adzan yang lafadznya sejumlah 17 kalimat

3. Adzan yang lafadznya sejumlah 15 kalimat.

Tidak dibolehkan menambah lafadz adzan dari lafadz-lafadz yang telah ada kecuali dalam dua tempat:

Tempat pertama: Dalam adzan yang pertama (bukan yang kedua) pada adzan subuh,  setelah      mengucapkan    lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, disyariatkan menyerukan tatswib yaitu ucapan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ sebanyak dua kali. Dalilnya antara lain:

– Hadits Anas bin Malik z yang sifatnya umum:

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Termasuk sunnah bila muadzin mengatakan dalam adzan fajar: hayya ‘alal falah, setelahnya ia mengatakan: ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Ad-Daraquthni no. 90, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi 1/432, dan ia mengatakan, “Sanadnya shahih.”)

– Hadits Abu Mahdzurah z2, ia mengabarkan, bahwa Nabi n mengajarinya mengucapkan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  pada adzan yang awal dari subuh. Haditsnya diriwayatkan oleh Ath-Thahawi t (no. 809), Al-Imam Al-Albani t berkata, “Sanadnya jayyid.” (Ats-Tsamar, 1/131)

– Hadits Ibnu ‘Umar c, ia berkata:

كَانَ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ بَعْدَ الْفَلاَحِ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Adalah dalam adzan yang awal setelah hayya ‘alal falah, diserukan: ash-shalatu khairun minan naum (shalat itu lebih baik daripada tidur), ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Al-Baihaqi 1/423, Ath-Thahawi no. 811, dan sanadnya hasan kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam At-Talkhish, 1/331)

Masih banyak hadits lain namun dalam sanad-sanadnya ada kelemahan.

Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata setelah membawakan riwayat An-Nasa’i (no. 647) tentang adzan Abu Mahdzurah z untuk Rasulullah n pada adzan fajar yang awal dengan mengucapkan الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ3, “Dalam riwayat ini ada taqyid (pengikatan/pembatasan) bagi riwayat-riwayat yang menyebutkan secara mutlak/umum.” Ibnu Ruslan t berkata, “Ibnu Khuzaimah t menshahihkan riwayat ini.”

Beliau juga mengatakan, “Pensyariatan tatswib hanyalah dalam adzan yang awal dari fajar, karena tujuannya membangunkan orang yang tidur. Adapun adzan yang kedua adalah untuk memberitahukan masuknya waktu shalat fajar/subuh serta ajakan untuk mengerjakan shalat.” (Subulus Salam, 2/47)

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Ketahuilah, sejauh pengetahuan kami tidak satu pun dari riwayat yang ada yang secara jelas menyebutkan, ucapan: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ diserukan dalam adzan kedua dari adzan subuh. Bahkan hadits yang ada dalam masalah ini ada dua bagian: di antaranya secara jelas menyebutkan bahwa tambahan itu diucapkan dalam adzan yang awal sebagaimana dalam hadits Abu Mahdzurah dan Ibnu Umar c. Bagian kedua, hadits yang mutlak/umum, tidak menyebutkan adzan awal atau adzan kedua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, dan hadits-hadits lain yang tidak shahih sanadnya. Hadits yang mutlak ini dibawa kepada hadits-hadits yang muqayyad (ada pembatasan/penentuannya) sebagaimana dinyatakan dalam kaidah-kaidah yang ada. Berdasarkan hal ini, الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ bukanlah termasuk lafadz adzan yang disyariatkan sebagai ajakan mengerjakan shalat dan sebagai pengabaran masuknya waktu shalat. Tetapi lafadz ini termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang yang tidur.” (Ats-Tsamar 1/132,133)

Sebagian ahlul ilmi yang lain berpandangan bahwa lafadz tatswib itu pada adzan masuknya waktu subuh (adzan kedua dalam pandangan di atas). Mereka berhujjah bahwa adzan pertama adalah ketika masuknya waktu subuh, bukan adzan yang dikumandangkan sebelum masuk waktu yang sebagai peringatan bagi orang yang tidur untuk menegakkan qiyamul lail atau bagi seorang yang hendak makan sahur.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa tatswib memang diucapkan pada adzan yang awal dari shalat subuh. Namun sebagian orang telah salah sangka di mana mereka menganggap bahwa adzan yang awal itu adalah yang diserukan pada akhir malam (adzan pertama dalam pandangan di atas). Padahal di sini yang diinginkan adalah adzan masuknya waktu subuh, juga untuk membedakannya dengan iqamat, karena iqamat juga dinamakan adzan karena berisi pemberitahuan untuk menegakkan shalat seperti tersebut dalam hadits yang shahih:

بَيْنَ كُلِّ أَذَنَيْنِ صَلاَةٌ

“Di antara setiap dua adzan (adzan pemberitahuan waktu shalat dan iqamat, pen.) ada shalat (sunnah).” (HR. Al-Bukhari no. 627)

Adzan secara bahasa bermakna pemberitahuan, iqamat juga pemberitahuan. Dengan begitu, yang dimaksudkan dengan adzan awal di dalam hadits yang menyebutkan tentang hal ini adalah adzan yang dikumandangkan setelah terbit fajar, karena adzan yang dikumandangkan sebelumnya bukanlah untuk pelaksanaan shalat fajar/subuh. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/61-64, Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 2/135-137)

Tempat kedua: Apabila turun hujan atau di malam yang sangat dingin maka setelah mengucapkan lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ atau selesai adzan4, ataupun dengan mengganti  lafadz حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة, muadzin mengatakan: صَلُّوا فِي الرِّحَالِ (shalatlah kalian di tempat/rumah kalian) atau mengatakan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ (siapa yang tetap duduk di tempatnya/tidak datang ke masjid untuk berjamaah, maka tidak ada dosa baginya) ataupun lafadz semisalnya. Tentang tambahan ini disebutkan dalam beberapa hadits:

1. Abdullah ibnul Harits berkata, “Ibnu Abbas c pernah berkhutbah di hadapan kami pada saat turun hujan. Di saat muadzin yang sedang mengumandangkan adzan sampai pada ucapannya: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة , Ibnu Abbas c menyuruhnya agar menyeru:

الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ

Maka sebagian yang hadir saling memandang dengan yang lain. Ibnu Abbas c pun menjelaskan, “Telah melakukan hal ini orang yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 616 dan Muslim no. 1602).

Al-Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1602) meriwayatkan dengan lafadz, “Bahwa Ibnu Abbas c berkata kepada si muadzin pada saat turun hujan, “Bila engkau telah menyerukan:

أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أن مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Jangan engkau mengatakan:

حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ

Tapi serukanlah:

صَلُّوا فِي بُيُوْتِكُمْ

Riwayat Al-Imam Muslim ini menunjukkan bahwa muadzin dalam adzannya tidak menyerukan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة tapi diganti dengan الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ . Sebagian muhadditsin berpendapat demikian. Ibnu Khuzaimah diikuti oleh Ibnu Hibban, kemudian Al-Muhibb Ath-Thabari, semoga Allah l merahmati mereka semuanya, membuat satu bab dalam kitab mereka tentang dihapusnya  lafadz: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة pada saat hujan.

2. Nafi’ berkata, “Ibnu Umar c adzan pada suatu malam yang dingin di Dhajnan. Ia berkata ketika itu: صَلُّوا فِي رِِحَالِكُمْ, lalu ia mengabarkan bahwa Rasulullah n dulunya memerintahkan seorang muadzin mengumandangkan adzan, kemudian setelah adzan menyerukan: أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَال di malam yang dingin atau malam saat turun hujan dalam suatu safar.” (HR. Al-Bukhari no. 632 dan Muslim no. 1598, 1599, 1600)

3. Nu’aim ibnun Nahham berkata, “Muadzin Nabi n mengumandangkan adzan di malam yang dingin sementara aku sedang berada di bawah selimutku. Maka aku berangan-angan andai Allah l melontarkan pada lisannya ucapan: وَلاَ حَرَجَ (tidak ada dosa bagi yang tidak datang berjamaah di masjid, pen.) Ternyata muadzin itu benar mengatakan: وَلاَ حَرَجَ. (Riwayat Abdurrazzaq 1/502, dishahihkan Syaikhun Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/66)

Dalam lafadz lain disebutkan bahwa Nu’aim mengatakan, “Andai muadzin itu menyerukan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ. Ternyata di akhir adzan si muadzin menyerukan demikian. (Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Musnad 4/220 dan dikuatkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ 2/342)

Satu Kali Adzan Untuk Shalat Jama’

Bila shalat dikerjakan dengan jama’, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir maka cukup satu kali adzan5 sebagaimana dilakukan Rasulullah n ketika di Arafah dan Muzdalifah. Seperti tersebut dalam kisah haji beliau n yang disampaikan oleh Jabir c dalam hadits yang panjang, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (2492) dan selainnya.

Satu Kali Adzan Untuk Beberapa Shalat Yang Luput Dikerjakan

Ibnu Mas’ud z mengabarkan, “Orang-orang musyrikin menyibukkan Rasulullah n dari mengerjakan empat shalat pada waktu perang Khandaq hingga berlalu sebagian waktu malam sesuai dengan apa yang Allah l inginkan. Beliau pun memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian iqamat. Beliau mengerjakan shalat zuhur. Seselesainya dari shalat zuhur, Bilal iqamat, beliau lalu mengerjakan shalat ashar. Seselesainya, Bilal iqamat lagi, beliau pun mengerjakan shalat maghrib. Bilal iqamat lagi, beliau kemudian mengerjakan shalat isya. (HR. At-Tirmidzi no. 179 dan dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Irwa’, 1/257)

Hal ini beliau lakukan sebelum disyariatkannya shalat khauf.

Syarat-syarat Adzan

Adzan memiliki beberapa syarat berikut ini:

1. Diucapkan secara berurutan, karena adzan itu ibadah maka tidak diterima kalau tidak sesuai dengan As-Sunnah.

2. Selesai lafadz yang satu menyusul lafadz berikutnya (susul-menyusul). Tidak boleh dipisahkan dengan waktu yang panjang, karena adzan merupakan ibadah yang satu sehingga tidak sah bila dipisahkan bagian-bagiannya, kecuali si muadzin beruzur seperti bersin atau batuk maka ia meneruskan adzannya.

3. Jumlah dan tambahannya sesuai yang disebutkan dalam As-Sunnah sehingga seseorang tidak menambah ataupun mengurangi terkecuali ada dalilnya.

Faedah

Telah kita ketahui bersama bahwasanya lafadz adzan dan jumlahnya datang dalam As-Sunnah dengan jumlah yang beragam, sehingga dalam pengamalannya diperkenankan pula dengan keragaman tersebut sebagaimana kaidah “Ibadah yang datang dengan beragam caranya sepantasnya bagi manusia untuk mengamalkan keragaman tersebut”. Di antara hikmah keragaman tersebut adalah:

– memudahkan bagi mukallaf, karena di antara amalan tersebut ada yang lebih ringan sehingga memudahkan pengamalannya.

– bisa menghadirkan hati dalam pengamalannya dan mengurangi kebosanan.

– penjagaan terhadap sunnah dengan keragamannya dan menyebarkannya di kalangan manusia.

– mengamalkan syariat dengan segala keragamannya.

Namun perlu dicamkan, pengamalan sunnah ini bukanlah artinya mengamalkannya walaupun menimbulkan kemudaratan. Karena ketika menimbulkan kemudaratan maka kemudaratan tersebut wajib untuk dihindari. Dalam kaidah fiqhiyah dikatakan “Menghindari kemudaratan (yang pasti dan nampak) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat.”

Oleh karena itu, ketika hendak menyerukan keragaman adzan yang sunnah dalam keadaan bisa menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman di kalangan manusia, karena mereka belum mengetahui perkara tersebut, maka di sini wajib bagi kita untuk menahan diri dan mencukupkan apa yang masyhur menurut mereka untuk sementara waktu, sampai mereka mendapatkan pengajaran dan bimbingan.

Nabi n dulunya meninggalkan pembangunan Ka’bah di atas fondasi Ibrahim karena khawatir terjadinya fitnah (dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 126 dan Muslim no. 1333). Demikian pula beliau n hendak menginfaqkan perbendaharaan Ka’bah di jalan Allah l, namun karena mengkhawatirkan terjadinya kesalahpahaman dan fitnah pada kaum muslimin di Makkah yang baru masuk Islam, akhirnya beliau pun menahan diri dan mengurungkannya.

Oleh karena itu, sepantasnyalah diajarkan kepada manusia terlebih dahulu tentang keragaman sunnah tersebut. Sehingga apabila hati mereka telah menerima, mapan dan tenang, lapang jiwa mereka dengan pengajaran dan bimbingan, insya Allah l akan dapat ditegakkan amalan tersebut dan diperoleh maksud penegakan As-Sunnah tanpa fitnah, kekacauan dan kesalahpahaman. Rasulullah n bersabda:

بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Gembirakanlah dan jangan kalian membuat lari orang-orang, ringankanlah dan jangan mempersulit.” (HR. Muslim no. 4500)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

4. Ketika diucapkan tidak boleh ada lahn, yaitu kesalahan berupa penyelisihan terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab. Namun perlu diketahui, lahn itu ada dua macam:

Pertama: yang merusak maknanya. Lahn seperti ini menyebabkan adzan tidak sah. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ أَكْبَار. Lafadz seperti ini mengubah makna karena أَكْبَار bentuk jamak dari كَبَرٌ yang berarti gendang.

Kedua: lahn yang tidak merusak makna. Adzan dengan lahn seperti ini sah tapi dibenci/makruh. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ وَكْبَر

Yang seperti ini dibolehkan dalam bahasa Arab karena ada kaidah dalam ilmu sharf bila huruf hamzah yang difathah terletak setelah dhammah maka hamzah tadi diubah menjadi huruf wawu6.

5. Dikumandangkan ketika telah masuk waktu shalat terkecuali adzan pertama subuh. Dalilnya sabda Nabi n:

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Sifat-sifat Muadzin

1. Ia adzan karena mengharapkan pahala, bukan karena ingin bayaran.

Utsman bin Abil Ash z mengatakan, “Akhir perjanjian yang diambil Rasulullah n dariku adalah angkatlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah/bayaran dengan adzannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 209, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ahlul ilmi mengamalkan hal ini. Mereka benci bila seorang muadzin mengambil upah atas adzannya, dan mereka menganggap mustahab (sunnah) bagi muadzin untuk ihtisab (mengharap pahala) dengan adzannya.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/135)

Namun bila si muadzin diberi sesuatu yang tidak dimintanya, hendaknya ia menerimanya dan tidak menolak. Karena, itu adalah rezeki dari Allah l yang diarahkan untuknya.

Khalid ibnu ‘Adi Al-Juhani berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ بَلَغَهُ مَعْرُوْفٌ عَنْ أَخِيْهِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلاَ إِشْرَافِ نَفْسٍ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلاَ يَرُدَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللهُ U إِلَيْهِ

“Siapa yang sampai kepadanya kebaikan/pemberian dari saudaranya tanpa ia memintanya dan tanpa ambisi jiwa, hendaklah ia menerimanya dan jangan menolaknya karena itu merupakan rezeki yang Allah giring untuknya.” (HR. Ahmad 4/221, berkata Al-Imam Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid, 3/100-101, “Para perawinya adalah perawi kitab shahih.”)

2. Suaranya bagus, lantang, dan keras

Rasulullah n bersabda kepada Abdullah bin Zaid z yang mimpi mendengar adzan:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar Insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikan padanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.” (HR. Ahmad 3/43, Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i, dan selainnya. Hadits ini dihasankan Al-Imam Al-Albani t sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246 )

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Sabda beliau: فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ ada yang mengatakan maknanya adalah lebih keras suaranya. Adapula yang memaknakan lebih bagus suaranya. Dari sini diambil faedah disenanginya muadzin itu keras dan bagus suaranya. Ini adalah perkara yang disepakati.” (Al-Minhaj, 4/299)

Al-Imam Asy-Syafi’i t menyatakan disenanginya memilih muadzin yang bagus suaranya karena akan lebih menyentuh hati pendengarnya. Seorang muadzin juga tidak boleh memanjang-manjangkan dan melagukan/mendayu-dayukan adzan. (Al-Umm, kitab Ash-Shalah, bab Raf’ush Shaut bil Adzan )

Abu Sa’id Al-Khudri z pernah berpesan kepada Abdullah bin Abdurrahman ibnu Abi Sha’sha’ah Al-Anshari bila ingin adzan, “Keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan, karena Rasulullah n bersabda:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah jin dan manusia dan tidak ada sesuatu pun yang mendengar akhir suara keras/lantang seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul hadits di atas dengan bab Raf’ush Shaut bin Nida’ artinya mengeraskan suara ketika adzan.

3. Muadzin harus memiliki sifat amanah, karena ia bertanggung jawab akan masuknya waktu shalat dan ketepatannya. Juga karena adzan ini sangat berkaitan dengan puasa dan berbukanya kaum muslimin.

Rasulullah n bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْـمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنُ…

“Imam adalah penjamin, sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi…” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

Al-Imam Al-Baihaqi t dalam Sunan beliau membuat satu bab yang berjudul: “Tidak boleh mengumandangkan adzan kecuali seorang yang adil (yakni shalih) lagi terpercaya, karena dari tempat yang tinggi ia dapat memonitor aurat manusia dan dia dipercaya oleh orang-orang tentang waktu-waktu shalat.”

4. Mengetahui waktu-waktu shalat dengan sendirinya atau dengan pengabaran orang yang dipercaya, sehingga muadzin mengumandangkan adzan tepat ketika telah masuk waktu shalat tanpa mengakhirkannya.

Karena tidaklah sah adzan di luar waktunya menurut kesepakatan ahlul ilmi. Dari Jabir bin Samurah z, dia mengatakan:

كَانَ بِلاَلٌ لاَ يُؤَخِّرُ الْأَذَانَ عَنِ الْوَقْتِ، وَرُبَّمَا أَخَّرَ الْإِقَامَةَ شَيْئًا

“Bilal tidak pernah mengakhirkan adzan dari waktunya, namun terkadang dia mengundurkan sedikit iqamah.” (HR. Ibnu Majah no. 713, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)

5. Disenangi bagi muadzin mengumandangkan adzan dalam keadaan suci.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah n:

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ، أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ

“Aku tidak suka berzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud no. 17, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 834)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam masalah mengumandangkan adzan tanpa berwudhu (sebelumnya). Sebagian ahlul ilmi membencinya, ini pendapat Asy-Syafi’i dan Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain memberikan rukhshah adzan tanpa berwudhu. Ini pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, dan Ahmad.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/129)

Al-Imam Al-Albani t ketika ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Asalnya dalam berzikir, sampai pun mengucapkan salam, kalau bisa engkau berada di atas thaharah dan ini yang utama/afdhal. Mengumandangkan adzan tentunya lebih utama lagi dalam keadaan suci. Akan tetapi kami katakan, siapa yang adzan dalam keadaan tidak berwudhu maka hukumnya makruh karahah tanzih (tidak sampai haram).” (Al-Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/277)

6. Ia adzan dalam keadaan berdiri.

Hal ini seperti disebutkan dalam hadits Abdurrahman ibnu Abi Laila tentang mimpi seorang lelaki dari kalangan Anshar. Laki-laki tersebut melihat seseorang memakai dua potong pakaian berwarna hijau. Ia berdiri di atas masjid lalu adzan. Kemudian ia duduk beberapa waktu. Setelahnya ia berdiri kembali untuk menyerukan iqamat. (HR. Abu Dawud no. 506, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud)

7. Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi karena di tempat yang tinggi suara akan terdengar jauh dan lebih menyampaikan kepada manusia.

Dalilnya adalah hadits di atas dan juga hadits:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ أَذَانَيْهِمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَصْعَدَ هذَا

yang telah lewat penyebutannya dari hadits Ibnu Umar z yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahihnya.

Demikian pula hadits hadits Uqbah bin Amir z, yaitu sabda Rasulullah n:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي …

“Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat …” (HR. Abu Dawud no. 1203, An-Nasa’i no. 666, dan Ahmad 4/157. Hadits shahih sebagaimana dalam Ash-Shahihah no.41)

Kata الشَظِيَّة adalah bagian yang tinggi dari puncak gunung. Di sini ada isyarat disenanginya mengumandangkan adzan di atas tempat yang tinggi walaupun si muadzin berada di atas gunung.” (Ats-Tsamar, 1/160)

Para ulama –semoga Allah l merahmati mereka semuanya– menyatakan, karena tujuan keberadaan muadzin di tempat yang tinggi itu untuk menyampaikan suaranya kepada manusia, maka di zaman ini dengan adanya mikrofon yang bisa menambah keras dan bagusnya suara, corongnya bisa ditempatkan di tempat yang tinggi, merupakan satu sarana yang dibutuhkan dan dibenarkan oleh syariat ketika mengumandangkan adzan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/67-68)

Faedah

Adzan adalah ibadah yang pelaksanaannya dan pengumandangannya harus secara langsung ketika masuk waktu shalat, sehingga tidak sah apabila disandarkan terhadap hasil rekaman adzan muadzin. Karena hal itu merupakan ungkapan adzan yang telah lewat waktunya. Maka mencukupkan dengan rekaman berarti tidak menegakkan ketetapan fardhu kifayahnya, sebagaimana halnya tidak sah menjadi makmum atau shalat di belakang hasil rekaman suara imam masjid. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/68-69, Asy-Syarhul Mumti’ 2/69)

8. Menghadap kiblat

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Zaid z tentang turunnya malaikat lalu mengumandangkan adzan. Abdullah berkata, “Ketika aku berada di antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki memakai dua potong pakaian hijau, ia lalu menghadap kiblat dan berkata: Allahu Akbar, Allahu Akbar…” (HR. Ahmad 5/246-247, Abu Dawud no. 507, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t)

Dalam Al-Mughni (Kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban), Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata, “Disenangi bagi muadzin menghadap kiblat dan kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini. Karena para muadzin Nabi n mengumandangkan adzan dalam keadaan menghadap kiblat. “

9. Meletakkan dua jari ke dalam dua telinga.

Abu Juhaifah berkata, “Aku melihat Bilal adzan, ia memutar kepalanya (ke kanan dan kiri, pen.), mulutnya ke sana dan ke sini, sementara dua jarinya berada dalam dua telinganya…” (HR. At-Tirmidzi no. 197, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih At-Tirmidzi)

Al-Hafizh t menukilkan ucapan ulama bahwa dalam hal ini ada dua faedah.

Pertama: terkadang hal itu lebih mengeraskan suara muadzin.

Kedua: sebagai tanda bahwa ia muadzin bagi orang yang melihatnya dari kejauhan atau tanda bagi orang bisu bahwa ia muadzin.

Tidak ada keterangan jari mana yang dimasukkan tersebut, namun Al-Imam An-Nawawi t memastikan bahwa jari yang dimasukkan adalah telunjuk. (Fathul Bari, 2/152)

11. Menolehkan kepala sedikit ke kanan ketika mengucapkan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ. Dan menoleh ke kiri saat menyerukan: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ,

Inilah yang masyhur dan sesuai zahir nash. Dalilnya hadits Abu Juhaifah z, ia berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ n بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ. قَالَ: فَخَرَجَ بِلاَلٌ بِوَضُوْئِهِ، فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ. قَالَ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ n عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ. قَالَ: فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلاَلٌ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا ههُنَا يَقُوْلُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً يَقُوْلُ: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

“Aku mendatangi Nabi n di Makkah saat beliau di Abthah dalam kemah merah dari kulit milik beliau. Bilal lalu keluar membawa air wudhu beliau, maka di antara sahabatnya ada yang mengambil bekas air wudhu tersebut dan ada yang memercikkannya kepada yang lain (bertabarruk, pen.) Nabi n keluar dari kemahnya dengan mengenakan sepasang pakaian berwarna merah seakan-akan aku melihat putihnya dua betis beliau. Setelah beliau berwudhu dan Bilal pun adzan. Mulailah aku mengikuti mulut Bilal ke sana dan ke sini, yaitu ke kiri dan ke kanan dengan mengucapkan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah.” (HR. Muslim no. 1119)

Dalam riwayat Abu Dawud (no. 520) disebutkan:

فَلَمَّا بَلَغَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ؛ لَوَى عُنُقَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ

Ketika Bilal sampai pada ucapan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah, ia memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, dan ia tidak berputar.” (Dishahihkan Al-Imam An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ 3/116)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah t berkata ketika memberikan bab terhadap hadits di atas dalam Shahihnya, “Menolehnya muadzin ketika mengatakan hayya ‘alash shalaah hayya ‘alal falaah cukup dengan mulutnya saja, tidak dengan seluruh badannya.” Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya menolehkan mulut hanyalah dimungkinkan dengan ditolehkannya wajah.”

Di antara ahlul ilmi ada juga yang mengatakan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk yang pertama kali dengan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ dan yang kedua menoleh ke kanan dan ke kiri dengan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

Ada juga yang mengatakan, menoleh ke kanan dengan mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kanan sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة. Setelah itu menoleh ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ. (Al-Minhaj, 4/218)

12. Lambat-lambat (tartil) mengucapkan lafadz adzan, tidak cepat-cepat sebagaimana dalam iqamat.

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata, “Hadits yang menyebutkan diangkat dan dikeraskannya suara ketika adzan menunjukkan dikumandangkannya adzan dengan lambat-lambat (tartil).” Oleh karena itu, Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan memberikan judul hadits dari Abu Sa’id z tentang mengeraskan suara ketika adzan: “Dilambatkannya Pengucapan Adzan dan Dicepatkannya Pengucapan Iqamah.”

Ibnu Qudamah t berkata, “Adzan diucapkan dengan perlahan-lahan, tidak cepat-cepat/terburu-buru, sedangkan iqamat diucapkan dengan cepat.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, Mas’alah Qala: Wa Yatarassalu fil Adzan wa Yahdurul Iqamah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah bersambung)

1 Dua adzan ini hanya dikhususkan untuk shalat subuh. Hikmahnya adalah sebagai hasungan untuk mengerjakan shalat di awal waktu, karena di waktu subuh ini umumnya orang masih tidur atau baru terjaga dari tidur. Sehingga amat sesuai dikumandangkan adzan sebelum waktunya agar membangunkan orang yang masih tidur sehingga mereka bersiap-siap dan dapat beroleh waktu yang fadhilah. Demikian diterangkan Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (1/507).

2 Faedah: Abu Mahdzurah z termasuk sahabat yang paling bagus suaranya. Beliau merupakan muadzdzin Rasulullah n untuk Makkah. Keturunannya turun-temurun menjadi muadzdzin di Makkah.

3 Haditsnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i.

4 Kedua-duanya boleh. Demikian dinyatakan Al-Imam Asy Syafi’i t dalam Al-Umm di Kitab Al-Adzan. Pendapat beliau ini diikuti oleh jumhur pengikut madzhabnya. Tapi ada yang berpendapat bahwa diucapkan setelah selesai lafadz-lafadz adzan adalah lebih baik, agar susunan adzan tetap pada tempatnya. (Al-Minhaj, 5/213)

5 Adapun iqamat dua kali pada masing-masing shalat.6 Lihat lafadz: اَللهُ أَكْبَرُ, hamzah dalam lafadz  أَكْبَرُ didahului dhammah yang terdapat di atas huruf هُ dalam lafzhul jalalah اَللهُ. Menurut kaidah, hamzah tersebut dapat diubah menjadi huruf wawu sehingga jadilah: اَللهُ وَكْبَ

1 Menoleh hanya dengan kepala, sementara dada tetap ke depan karena tidak ada asalnya dalam As-Sunnah menolehkan kepala disertai dada. (Tamamul Minnah, hal. 150)

2 Karena beliau n mengangkat pakaiannya sampai setengah betis. (Al-Minhaj, 4/443)

asysyariah.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s