Hukum Nadzar Mubah


Bagaimana jika seseorang bernadzar untuk membuka toko makanan dulu sebelum membuka toko lainnya, tapi ternyata dia ingin membuka toko lainnya sebelum toko

Dijawab Oleh: Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Makassari:

Nadzar seperti ini termasuk dalam kategori nadzar mubah, yaitu bernadzar untuk melakukan sesuatu yang hukumnya mubah (boleh). Karena membuka toko makanan ataupun toko lainnya bukan merupakan ibadah dan bukan pula maksiat, selama yang dijual adalah sesuatu yang halal dan sistem jual belinya bukan sistem yang haram. Para ulama menerangkan bahwa nadzar mubah tidak wajib ditunaikan dan tidak haram untuk ditunaikan. Tidak wajib ditunaikan, karena tidak termasuk kategori nadzar ketaatan. Tidak haram ditunaikan, karena tidak termasuk kategori nadzar maksiat. Jadi nadzar mubah tidak masuk dalam hadits ‘Aisyah:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaklah dia melaksanakannya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah dia melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 6700)

Maka pelaku nadzar mubah memiliki kebebasan untuk memilih, antara melaksanakan nadzarnya atau membatalkannya dengan cara membayar kaffarah. Kaffarahnya adalah dengan kaffarah sumpah berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Amir:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِيْنِ.

“Kaffarah nadzar adalah dengan kaffarah sumpah.” (HR. Muslim: 1645)

Kaffarah sumpah adalah yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Maidah ayat: 89. Rinciannya adalah sbb:

1. Memberi makan sepuluh orang fakir/miskin dengan makanan yang layak sebagaimana yang dihidangkan untuk keluarganya. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara:

a. Menyediakan makanan yang sudah siap disantap kemudian mengundang sepuluh orang miskin/fakir untuk makan siang atau makan malam.

b. Memberikan beras kepada sepuluh orang miskin/fakir, masing-masingnya 1 kg.

Sebaiknya menyertakan lauk-pauknya berupa daging, ikan, telur, sayur, atau yang semacamnya.

2. Memberi kepada masing-masing dari 10 miskin atau fakir, pakaian yang layak dan sesuai dengan keadaannya, kalau laki-laki dewasa (misalnya) berupa baju gamis dan sirwal atau sarung ukuran orang dewasa.

3. Membebaskan seorang budak dengan syarat mukmin menurut jumhur, dan ini yang rajih.

4. Berpuasa tiga hari berturut-turut menurut sebagian ulama berdasarkan qiraah (bacaan) Ibnu Mas’ud. Hal ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan ini yang rajih (kuat), insya Allah.

Inilah kaffarah yang diperintahkan oleh Allah, tiga perkara yang disebut pertama bebas dipilih salah satunya. Apabila tidak memungkinkan salah satu dari ketiganya, barulah melangkah ke perkara yang keempat. Apabila seseorang langsung melakukan perkara yang keempat padahal salah satu dari ketiga perkara yang pertama memungkinkan untuk dilakukan, maka kaffarahnya tidak sah dan dia masih dituntut kewajiban membayar kaffarah. Adapun puasanya dianggap sebagai amalan tathawwu’ (sunnah) yang diberi pahala atasnya.[1]

Berdasarkan penjelasan ini, jika anda ingin membatalkan nadzar dan bermaksud untuk membuka toko lain sebelum toko makanan, hendaklah membayar kaffarah nadzar dengan rincian yang telah kami uraikan di atas. Wallahul muwaffiq.

Footnote:

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Asy-Syarhul Mumti’ (6/422-428)/Darul Atsar, Fathu Dzil Jalali wal Ikram Syarah Bulughul Maram [pen.]

Sumber: http://www.asysyariah.com

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s