Manusia Berhak Atas Nikmat Allah


oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Ketika kita mendapatkan sebuah hasil yang baik, kadang terlintas dalam benak kita bahwa itu memang sudah semestinya dan adalah hak kita mendapatkannya karena kita telah membuat perencanaan, pengorganisasian, lalu bekerja keras melakukannya. Benarkah seperti itu?

Sebab tidak datangnya pertolongan, hidayah, atau nikmat yang sempurna adalah karena seseorang sebagai media bertempatnya pertolongan tersebut memang tidak pantas mendapatkan pertolongan dan nikmat. Di mana seandainya nikmat mendatanginya ia akan mengatakan: “Ini memang hakku, aku mendapatkannya karena aku memang pantas dan aku memang berhak.” Seperti Allah ceritakan:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)

Maksudnya, “Bahwa saya mengetahui Allah memang tahu bahwa saya berhak mendapatkannya dan pantas.”

Al-Farra` menerangkan bahwa maksudnya: “Aku mendapatkannya karena aku memang punya kelebihan, bahwa aku memang pantas dan berhak terhadap nikmat tersebut di mana Engkau memberikannya kepadaku.”

Muqatil menerangkan, dia mengatakan: “(Maksudnya) itu karena kebaikan yang Allah ketahui ada pada diriku.”

Abdullah bin Al-Harits bin Naufal (seorang shalih yang sempat melihat Nabi di masa kecilnya), ia menyebutkan tentang (Nabi) Sulaiman bin Dawud dan kerajaan yang diberikan kepadanya. Lalu ia membaca ayat:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)

Maksudnya, “Bahwa saya mengetahui Allah memang tahu bahwa saya berhak mendapatkannya dan pantas.”

Al-Farra` menerangkan bahwa maksudnya: “Aku mendapatkannya karena aku memang punya kelebihan, bahwa aku memang pantas dan berhak terhadap nikmat tersebut di mana Engkau memberikannya kepadaku.”

Muqatil menerangkan, dia mengatakan: “(Maksudnya) itu karena kebaikan yang Allah ketahui ada pada diriku.”

Abdullah bin Al-Harits bin Naufal (seorang shalih yang sempat melihat Nabi di masa kecilnya), ia menyebutkan tentang (Nabi) Sulaiman bin Dawud dan kerajaan yang diberikan kepadanya. Lalu ia membaca ayat:

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)

Yakni, Nabi Sulaiman memandang apa yang Allah berikan kepadanya merupakan keutamaan Allah dan karunia-Nya kepadanya dan bahwa Allah dengan itu tengah mengujinya sehingga beliau mensyukurinya. Adapun Qarun, ia memandang bahwa pemberian itu karena dirinya sendiri dan ia memang berhak terhadap pemberian itu.

Demikian pula seperti terdapat dalam firman Allah:

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya’. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50)

Yakni maksudnya, “Aku berhak mendapatkannya dan aku pantas. Jadi hakku terhadapnya seperti hak seorang pemilik barang terhadap barangnya.”

Adapun seorang mukmin, ia memandang bahwa itu merupakan milik Rabbnya, kebaikan dari Allah yang Dia karuniakan kepada hamba-Nya tanpa hamba tersebut memiliki hak terhadapnya. Bahkan itu merupakan sedekah Allah yang Allah sedekahkan kepada hamba-Nya. Dan bila Allah berkehendak, maka merupakan hak-Nya untuk tidak menyedekahkannya. Seandainya Dia menghalangi sedekah tersebut kepadanya, tidak berarti Allah menghalanginya dari sesuatu yang ia berhak mendapatkannya. Bila ia tidak merasa demikian, ia akan merasa bahwa dirinya pantas dan berhak, sehingga ia merasa takjub dengan dirinya. Dengan nikmat itu, ia menjadi melampaui batas dan sombong serta lancang terhadap yang lain. Sehingga itu membuatnya senang dan bangga. Seperti yang Allah ceritakan:

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu dariku’; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (Hud: 9-10)

Allah cela dia karena sikap putus asa dan ingkarnya saat ujian dengan kesusahan dan Allah cela dia karena sikap senang dan bangganya saat ujian dengan nikmat, ia tukar pujiannya kepada Allah, syukur dan sanjungannya kepada-Nya saat Allah singkap darinya cobaan dengan ucapannya: “Musibah telah hilang dariku.” padahal seandainya ia mengatakan: “Allah telah hilangkan musibah dariku dengan rahmat dan karunia-Nya”, tentu Allah tidak akan cela dia bahkan ia terpuji dengan ucapan seperti itu. Namun ia telah lalai dari Sang Pemberi nikmat yang menyingkap musibahnya serta menganggap musibah itu hilang dengan sendirinya lalu ia berbangga dan senang.

Bila Allah telah ketahui hal semacam ini dari seorang hamba maka itu merupakan sebab terbesar akan terabaikannya dari pertolongan dan ketidakpedulian Allah, karena nikmat yang sempurna tak pantas bertempat padanya, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (Al-Anfal: 22-23)

Allah beritakan bahwa mereka sebagai media bertempatnya nikmat tidak dapat menerima nikmat tersebut. Di samping tidak menerima, mereka juga memiliki penghalang lain yang menghambat sampainya nikmat itu kepada mereka yaitu berpalingnya mereka dari kebaikan tersebut bila mereka benar-benar mengetahuinya.

Di antara hal yang perlu diketahui bahwa sebab-sebab terabaikannya seseorang dari pertolongan atau hidayah, di samping tetapnya jiwa pada penciptaan asalnya lalu dibiarkannya pada keadaan yang demikian, juga memang ada dari dan dalam dirinya.

Sementara sebab datangnya taufiq dari Allah adalah karena Allah ciptakan dirinya siap untuk menerima nikmat. Sehingga sebab-sebab taufiq itu dari Allah  dan merupakan karunia dari-Nya. Dialah penciptanya, dan Allah Maha Hikmah lagi Maha Tahu.

(diterjemahkan dan diringkas oleh Qomar ZA dari kitab Al-Fawa`id karya Ibnul Qayyim, hal. 227-229)

Sumber: http://www.asysyariah.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Lainnya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s