Islam Menghapus Agama-Agama Sebelumnya dan Penyempurna Bagi Seluruh Agama


Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin Al Atsari

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

((وَ الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ! لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَ لاَ نَصْرَانِيٌّ , ثُمَّ يَمُوْتُ وَ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ, إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ))

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku salah satu dari umat ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi penghuni neraka”.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman (I/134). Juga Imam Ahmad dalam Musnad (II/466) dan Ibnu Mandah dalam Kitab Tauhid (I/314) dan juga dalam Kitabul Iman (II/192), Mustakhraj Abu Awanah (I/104) semuanya diriwayatkan dari Abu Hurairah radliayallahu ‘anhu. Syaikh Al Albani menjelaskan dalam kitabnya Silsilah Hadits Ash Shahihah hadits no.157, bahwa hadits ini shahih. Sebagian jalannya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim dan sebagian sesuai dengan syarat Muslim.

 

Syarah Hadits

Ajaran saling menikah membedakan antara manusia dengan hewan. Sehingga tatakala lahir seorang bayi dari seorang ibu tanpa adanya suami, dianggapnya hal ini keluar dari kewajaran dan suatu keanehan. Kode etik yang ada di tengah-tengah kehidupan, jikaseorang wanita melahirkan bayi tanpa suami, maka ia telah melakukan perbuatan zina, suatu perbuatan yang sama dengan hewan, dan ini merupakan aib yang besar di mata manusia. Namun bagi seorang yang mempunyai fitrah salimah dan akal yang sehat, kejadian bayi lahir tanpa bapak pun bisa saja terjadi jika hal ini memang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Bukan sebagaimana yang telah dilontarkan oleh kaum Nashara, yang dikarenakan adanya bayi lahir tanpa bapak, tetapi dari tiupan ruh Allah, maka anak yang dilahirkan ditetapkan sebagai anak-Nya (dengan asumsi agar ia tidak dipanggil anak zina karena tidak mempunyai bapak).

Ini adalah kalimat yang menjijikkan dan kufur tatkala keluar dari mulut seorang makhluk pada Penciptanya. Sungguh hanya bagi-Nya segala kekuasaan, kehendak dan penciptaan. Tidakkah mereka tengok jauh-jauh ke belakang, di sana ada kejadian yang lebih dahsyat dari semua itu. Yang menjadikan seorang lebih termangu, tak mampu bergerak kecuali hanya duduk menopang dagu. Sadarlah dan ingatlah bahwa Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk- Nya dari seorang lelaki tanpa isteri disisinya (yaitu diciptakannya Hawa). Bahkan lebih dari itu ia pun mampu menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu (yaitu diciptakannya Adam) sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya :

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (pemciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: (Jadilah [seorang manusia]), maka jadilah ia” (Ali Imran 59)

Allah Ta’ala memperbandingkan penciptaam Isa dengan Adam untuk membantah kedustaan kaum nashara karena mereka telah melontarkan suatu ucapan yang tidak benar dan tanpa alasan, yaitu Isa ‘alaihis salam adalah Tuhan atau anak Tuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kejadian Isa bukanlah suatu hal yang membingungkan, bukan pula merupakan alasan yang kuat bagi mereka untuk mengatakan Isa itu Tuhan atau anak Tuhan. Justru ini adalah tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, satu-sataunya Dzat yang Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam, serta seluruh kejadian yang ada di alam ini di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya.

Ayat di atas selain membantah kedustaan mereka, juga menjelaskan bahwa tak ada satu pun yang berhak untuk menandingi Allah dari segi manapun. Allah patahkan argumen mereka dengan memberikan permisalan yang lebih dari apa yang mereka lihat, yaitu adanya penciptaan Adam dari tanah. Maka seandainya yang mereka katakan itu betul (bahwa Nabi yang lahir tanpa bapak berarti Allah sebagai bapaknya), tentunya Adam ‘alaihis salam lebih berhak karena ia diciptakan tanpa ayah dan ibu. Sedangkan Isa ‘alaihis sallam dilahirkan hanya tanpa bapak.

Wahai manusia yang berakal. Tak cukupkah bukti ini bagimu? Dengan pemikiran seperti ini telah mereka sesatkan sekian juta umat dari fitrah mereka yang selamat dan akal yang sehat. Dengan doktrin-doktrin yang mereka tanamkan ini, manusia lari dari kebenaran yang hakiki, hanya mimpi-mimpi semu yang mereka dapatkan atau sebungkus mie.

Kebencian kaum salibis mencuat tatkala muncul sayyidul basyar (manusia yang terbaik), habibullah (manusia kekasih Allah), Nabi yang menjadi rahmat seluruh alam, pembawa cahaya yang menerangi jalan yang gelap menuju jalan yang terang, penyempurna akhlak dan tauladan bagi pengikutnya. Mereka lampiaskan kebencian dan kedengkiannya dengan ungkapan yang penuh kedustaan sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah :

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata” (Ash Shaf 6)

Pendustaan ini pun tidak berhenti di situ saja. Mereka juga selalu mendengungkan propaganda “kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”. Padahal mereka manusia biasa yang tidak terlepas dari kesalahan dan dosa, sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitab-Nya yang mulia:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani mengatakan: kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya. Katakanlah: Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kesakih-Nya). Tetapi kamu manusia biasa diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan hanyalah milik Allah kerajaan seluruh langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. Dan kepada Allah lah kembali (segala sesuatu)” (Al Maidah 18)

Kaum salibis tidak henti-hentinya menampakkan kecongkakan dan kedustaan dengan angan-angan yang selalu mereka lontarkan: “Kamilah umat yang terbaik dan petunjuk itu ada pada kami. Tidak ada satu pun yang dapat masuk ke dalam surga kecuali dari golongan kami saja.”

Lihatlah kedustaan ini dikisahkan dalam firman Allah:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan nashrani) berkata:”Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang (beragama) yahudi atau nashrani”. Demikian itu hanya angan-angan mereka yang kosong berlaka. Katakanlah:”Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (Al Baqarah 111)

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata:”Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi dan Nashrani, niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak! Melainkan (kami mengiktui) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang yang musyrik” (Al Baqarah 135)

Kebencian dan upaya untuk mempropagandakan agama mereka membuat mereka tidak ridha selama-lamanya sebelum Rasulullah dan umatnya mengikuti agama mereka. Sebagaimna yang telah Allah Ta’ala beritakan dalam kitab-Nya yang mulia:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (Al Baqarah 120)

Pembaca yang dimuliakan Allah, sebagaimana kita ketahui, Allah Ta’ala dengan keadilan, kebesaran dan kesempurnaan kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk- Nya mengutus pada setiap umat seorang Nabi, yang Dia sewrtakan aturan-aturan yang sesuai dengan kebutuhan situasi serta kondisi masing-masing, sebagaimana firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang” (Al Maidah 48)

Namun meskipun aturan-aturan itu beraneka ragam, tetap ada satu kesepakatan yang Allah perintahkan kepada setiap Nabi yaitu supaya mengajak umatnya untuk menyembah serta memberikan segala bentuk peribadahan hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu” (An Nahl 36)

Dengan demikian seluruh nabi dan rasul pada hakekatnya mereka menyeru pada ke- Esaan Allah. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyeru untuk menyembah kepada selain-Nya, termasuk Nabi Isa ‘alaihis salam yang mereka katakan sebagai anak Allah. Nabi Isa pun menyeru kepada kaumnya agar mereka menyembah Allah, Rabb yang mengatur semua alam ini. Firman Allah:

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ. إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

“Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwallah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (Ali Imran 50-51)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan kerububiyahan-Nya (Pencipta, Pengatur Seluruh Alam dan Pemberi Rezeki) yang tidak seorang pun mengingkarinya. Sesungguhnya Dzat yang mempunyai sifat-sifat inilah yang layak untuk disembah, bukan lainnya. Terdapat pula bantahan untuk orang-orang Nasharani yang mengatakan “Isa itu Tuhan atau anak Tuhan”. Padahal Nabi Isa sendiri mengikrarkan dirinya “bahwa aku ini adalah seorang hamba (mahkluk). Jangan menyembah kepadaku, tetapi sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kamu sekalian”, sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitab-Nya :

لَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

“Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi” (Maryam 30)

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمٌ

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah? Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentu Engkau telah mengetahuinya. Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) yaitu: “Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” (Al Maidah 116-117)

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa setiap yang tunduk dan patuh kepada Nabi-Nya, dikatakan sebagai muslim di jamannnya. Contohnya yahudi, mereka dinyatakan sebagai muslimin di jalan Nabi Musa sebagaimana yang Allah firmankan:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kepada anak-anaknya,demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): Wahai anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim” (Al Baqarah 132)

Dan diperintahkan untuk beriman kepada apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi-Nabi dan para Rasul sebelumnya. Firman Allah Ta’ala:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakan (hai orang-orang mukmin): Kami beriman kepada Allah dengan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk (muslimin) patuh kepada-Nya” (Al Baqarah 136)

Meski demikian keadaannya, Allah Ta’ala telah menjadikan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi Rasul terakhir yang membawa kitab yang sempurna dan menghapus agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu tiap orang dari umatnya yang hidup di jaman setelah diutusnya beliau baik dia yahudi, nashrani, majusi dan yang tidak beragama sekali pun, yang mendengar ajaran Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sampai ajaran tersebut kepadanya, kemudian dia tidak mengimaninya, maka tempat kembalinya adalah neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu:

((وَ الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ! لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَ لاَ نَصْرَانِيٌّ , ثُمَّ يَمُوْتُ وَ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ, إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ))

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku salah satu dari umat ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi penghuni neraka”.

Berkata Imam Nawawi: “Hadits ini mengandung perihal dihapusnya seluruh agama dengan ditusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat yang dimaksudkan dalam hadits ini, mereka yang hidup di jamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelahnya sampai hari kiamat. Disebutkannya Yahudi dan Nashrani, dikarenakan kedua golongan ini mempunyai kitab, maka bagi selain mereka yang tidak mempunyai kitab tentunya lenih utama dalam mengimani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata setelah memaparkan hadits ini: “Hadits ini jelas sekali. Siapa pun yang mendengar dakwah beliau dan sampai kepadanya dengan semestinya kemudian dia tidak beriman, maka tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada bedanya apakah ia yahudi, nashrani, masjusi atau tanpa agama”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Islam yang ada sejak Nabi Adam ‘alaihis salam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi dua bagian:

a. Islam secara umum, yaitu semua pengikut rasul dikatakan sebagai muslimin di jamannya, seperti halnya yahudi pengikut Musa, mereka muslimin di jaman Musa ‘alaihis salam. Nashara juga dikatakan Muslimin di jamannya Isa ‘alaihis salam.

b. Islam secara khusus, yaitu Islam yang ada setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghapus agama-agama sebelumnya dan penyempurna bagi seluruh agama. Barangsiapa yang hidup di jaman setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengingkari ajarannya, maka tidaklah mereka dikatakan sebagai muslimin melainkan kafir.

Dari keterangan di atas, tidak diragukan lagi bahwasanya Allah Ta’ala tidak akan menerima agama apa pun di muka bumi ini kecuali Islam dan Islam yang dimaksudkan adalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang menolak maka ia telah mencari kesengsaraan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (Ali Imran 85)

Adapun firman Allah yang tertera dalam surat Al Baqarah ayat 62 yaitu :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani, dan orang-orang shabi’in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula merka bersedih hati’ (Al Baqarah 62)

Ahli Tafsir menjelaskan, keimanan yahudi (mereka yang berpegang teguh kepada Taurat dan ajaran Nabi Musa ‘alaihis sallam) diakui dan diterima sampai diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Adapun sesudah datangnya Nabi Isa ‘alaihis sallam dan mereka itu tetap berpegang teguh kepada ajaran Musa, dan tidak meninggalkannya, serta tidak beriman kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, maka celakalah ia. Demikian pula keimanan Nashrani diakui sampai diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu siapapun yang tetap berpegang teguh kepada Injil dan ajaran Isa serta tidak mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka celakalah ia.

Wallahu a’lam bish shawab

Maraji’:
– Tafsir Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Katsir
– Taisir Al Karim Ar Rahman, Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di
– Tafsir Al Baidlawi, Al Imam Al Qadli Baidlawi
– Al Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Hajjaj, Imam An Nawawi
– Silsilah Ahadits Ash Shahihah., Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
– Syarah Tsalatul Ushul, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin
– Kitabut Tauhid, Al Imam Ibnu Mandah, Tahqiq Dr. Ali bin Muhammad AL Faqihi
– Kitabul Imam, Al Imam Ibnu Mandah, Tahqiq Dr. Ali bin Muhammad AL Faqihi

[Diambil dari majalah Salafy edisi 36 tahun 1421 H/2001 M, judul asli Islam Diin Yang Haq]

Sumber: http://sunniy.wordpress.com

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s