Mengamalkan Ilmu yang Disampaikan


ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.

Berkaitan dengan penopang yang kedua ini, Allah berfirman:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (Fushshilat: 33)

Al-Imam Ibnu Kastir mengatakan tentang ayat tersebut, “Bukanlah (seorang dai) jika dia memerintahkan kepada yang ma’ruf namun dia sendiri tidak melakukannya; dan melarang dari yang mungkar namun dia sendiri menjalankannya. Dai adalah seseorang yang menjalankan kebaikan dan meninggalkan kejelekan serta mengajak manusia kepada Allah.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (2/343) mengatakan, “Ayat yang mulia ini memberikan faedah bahwa para dai yang mengajak kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya apabila mereka mewujudkan ucapannya dengan amal saleh dan benar-benar berpegang dengan ajaran Islam, (yang dilakukan) karena iman, cinta, dan bangga dengan nikmat yang paling besar ini. Dengan inilah manusia akan terpengaruh dengan dakwah mereka dan mengambil manfaat dari dakwah tersebut serta mencintai mereka karena dakwah tersebut.

Berbeda dengan para dai yang mengucapkan sesuatu yang mereka sendiri tidak mengamalkannya. Mereka tidak mendapatkan bagian dari pujian yang indah (dalam ayat) ini. Tidak pula ada pengaruh dari dakwah mereka. Yang mereka dapatkan dari dakwahnya justru kemurkaan yang besar dari Allah, celaan manusia, serta berpaling dan menjauhnya mereka dari dakwah tersebut.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3) (Majmu’ Fatawa, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/343)

Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin mengatakan, “(Seorang dai) harus berhati-hati sehingga tidak menjadi salah seorang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

“Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan namun kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Tidakkah kalian berpikir?” (al-Baqarah: 44) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, 27/264)

Seorang Dai yang Menyelisihi Ajakannya Sendiri dan Pengaruhnya kepada Mad’u

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Begitu pula apabila seorang dai yang mengajak manusia kepada Al-Kitab dan As-Sunnah tetapi dia tidak mengamalkan apa yang dia sampaikan, ini juga akan menjauhkan orang-orang darinya. Allah Maha Mengetahui apa yang di hati-hati (hamba-Nya) dan mengetahui apa yang dilakukan oleh seseorang di tempat mana pun. Oleh karena itu, apabila seseorang menentang Allah dengan melakukan penyelisihan ketika sedang bersendirian dan apabila di depan manusia dia mengajak kepada kebaikan padahal dia sendiri menyelisihinya, ajakannya ini tidak akan berpengaruh sedikit pun. Dakwahnya juga tidak akan diterima karena Allah tidak memberkahi dakwahnya ….” (Lihat kitab al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 22)

Seorang Dai Harus Bersih dari Kesalahan?

Asy-Syaikh Zaid al-Madkhali hafizhahullah menerangkan, “Namun bukan maksudnya bahwa seorang dai yang mengajak kepada Allah harus menjalankan semua yang diperintahkan dan didakwahkannya kepada manusia. Terkadang dia belum memiliki kemampuan untuk menjalankannya sehingga cukup baginya untuk mendapat niat yang baik dan kejujuran dari cita-citanya. Sebagaimana tidak disyaratkan bagi seorang dai untuk bersih dari kekurangan dalam menjalankan perintah atau tidak terjatuh pada perkara yang terlarang. Sama sekali tidak. Setiap manusia pasti terjatuh pada kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat. Namun, mereka wajib senantiasa berupaya dengan mengerahkan segala kemampuan untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang lain dalam rangka mencari ridha Allah.” (Fiqhud Da’wah wa Nu’utud Daiyah hlm. 20)

Sumber: http://asysyariah.com/mengamalkan-ilmu-yang-disampaikan.html

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s