Mengilmui Masalah yang Akan disampaikan


ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.

Penopang yang pertama ini ditunjukkan oleh firman Allah:

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, (yaitu berdakwah) mengajak kalian kepada Allah di atas bashirah. Inilah (jalan)ku dan para pengikutku. Mahasuci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang jelas bahwa orang yang berdakwah kepada Allah haruslah berada di atas bashirah, yaitu ilmu syar’i dan hujjah yang jelas serta terang. Suri teladannya adalah Rasul yang mulia, yang diajak bicara dengan ayat yang agung ini. Artinya, ayat ini ditujukan pula kepada umatnya sampai hari kiamat, terutama kepada pihak yang bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk beliau n dari kalangan orang-orang yang berilmu. Ibarat bintang di langit, mereka adalah penunjuk arah bagi orang yang tidak mengetahui. Dengan demikian, tidak sepantasnya orang-orang yang tidak berilmu ikut berdakwah menyampaikan Islam karena mereka tidak memiliki bashirah (ilmu syar’i) yang merupakan bekal yang harus dimiliki oleh seorang dai sebagai senjata yang digunakan dalam medan dakwah. (Lihat Fiqhud Da’wah wa Nu’utud Daiyah hlm. 14—15 karya asy-Syaikh Zaid al-Madkhali hafizhahullah)

Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dakwah di atas bashirah (ilmu) dalam ayat di atas adalah meliputi tiga perkara berikut.

1. Di atas bashirah terhadap apa yang disampaikan, yaitu bahwa orang yang berdakwah harus mengetahui hukum syariat tentang masalah agama yang dia sampaikan.

2. Di atas bashirah terhadap keadaan orang yang didakwahi, yaitu seperti mengetahui tingkat keilmuan orang-orang yang hendak didakwahi, sehingga dirinya siap untuk menjawab syubhat atau menghadapi pertanyaan yang mereka ajukan.

3. Di atas bashirah terhadap cara berdakwah, yaitu dengan berhati-hati dan memikirkan akibat dari apa yang dilakukan atau disampaikan, sehingga akan membuahkan hasil yang baik untuk Islam dan kaum muslimin, baik dirinya sendiri maupun yang didakwahi serta teman-temannya dari kalangan para dai. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, 27/458—460)

Ilmu Bukanlah Sekadar Hafal Ayat dan Hadits

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Ilmu adalah menguasai nash-nash dan memahami maknanya. Akan tetapi, tidak cukup seseorang menghafal nash-nashnya saja. Tidak cukup pula seseorang menghafal Al-Qur’an dan Hadits semata. Hafalannya harus diikuti oleh pemahaman yang benar. Adapun sekadar (seseorang) hafal namun tidak memahami maknanya, maka dia belum berhak berdakwah…. Hanya saja, yang paling mungkin baginya adalah mengajari orang lain hafalan tentang nash-nash yang dia hafal tanpa memberikan penjelasan tentang nash tersebut….” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 19)

Dakwah Tanpa Ilmu akan Merusak dan Tidak Memperbaiki

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Sungguh, saya memandang bahwa apa yang terjadi pada kelompok-kelompok dakwah yang metode/manhajnya menyelisihi jalan dakwah Rasulullah n adalah disebabkan kejahilan (ketidaktahuan) mereka terhadap manhaj dakwah Rasulullah n. Orang yang jahil tidak berhak untuk berdakwah karena termasuk syarat yang terpenting dalam berdakwah adalah memiliki ilmu.” (Manhajul Anbiya’ hlm. 25)

Asy-Syaikh ‘Ali bin Nashir al-Faqihi hafizhahullah, dalam pengantar beliau terhadap kitab Fiqhud Da’wah wa Nu’utud Daiyah karya asy-Syaikh Zaid al-Madkhali, mengatakan, “Dakwah kepada Allah harus didahului dengan mempelajari dan memahami agama Allah agar seorang dai benar-benar di atas ilmu dan bashirah. Orang yang jahil akan terjatuh pada kesalahan. Oleh karena itu, disadari atau tidak, dia akan memaksakan diri untuk berbicara tentang Allah dengan kedustaan. Akibatnya, dia pun menyesatkan manusia tanpa ilmu dan akan berjalan bersama manusia di atas kesesatan, padahal semestinya dia berjalan di atas petunjuk. Allah berfirman:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-An’am: 144) (Lihat pengantar beliau terhadap kitab Fiqhud Da’wah wa Nu’utud Daiyah karya asy-Syaikh Zaid al-Madkhali)

Adakah Peranan Orang Awam dalam Dakwah?

Pada dasarnya, dakwah adalah hak para ulama. Meskipun demikian, tidak berarti selain ulama tidak boleh menyampaikan kebenaran yang telah dia ketahui. Bahkan, setiap orang hendaknya memerintahkan kepada yang ma’ruf (baik) dan melarang dari yang mungkar sesuai dengan pengetahuannya masing-masing, terlebih dalam masalah agama yang sangat jelas, seperti shalat lima waktu. Maka dari itu, seseorang yang masih awam berkewajiban memerintahkan keluarga dan anak-anaknya untuk menjalankan shalat dan ketaatan kepada Allah lainnya, sebatas ilmu yang diketahuinya. (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 20)

Keterangan ini, wallahu a’lam, menunjukkan bahwa dakwah secara luas dan rinci yang menjelaskan tentang syariat atau masalah yang berkaitan dengan halal dan haram, seperti tentang syirik dan macam-macamnya, atau bid’ah dan contoh-contohnya, tidak boleh disampaikan oleh semua orang. Hanya orang yang benar-benar memahami masalah tersebut, terutama para ulama, yang boleh melakukannya.

Adapun dakwah dalam artian amar ma’ruf nahi mungkar seperti mengingatkan orang untuk shalat atau masalah lain yang sudah sangat jelas dalam agama ini, orang awam pun punya kewajiban sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Nabi bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan sesungguhnya hal itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Kalimat “barang siapa di antara kalian” menunjukkan bahwa kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar tidak terbatas pada orang-orang tertentu saja, namun meliputi seluruh kaum muslimin sesuai kemampuannya masing-masing.

Peranan Penuntut Ilmu dalam Dakwah

Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa faedah menuntut ilmu adalah agar seorang penuntut ilmu menjalankan apa yang diwajibkan oleh Allah terhadapnya serta menyampaikan ilmu yang telah dia dapatkan. Demikian yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.”Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran: 187)

Janji ini, yaitu (dibuat) antara Allah dengan orang-orang yang diberi ilmu, bukanlah janji yang tertulis pada secarik kertas dan bisa dilihat. Namun, janji tersebut adalah ilmu yang Dia karuniakan kepada seseorang, sedangkan perjanjiannya adalah dia menyampaikannya kepada orang lain.

Adapun dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi yang beliau sampaikan di hadapan para sahabat saat haji Wada’:

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nabi juga bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat.” (HR. al-Bukhari)

Maka dari itu, seorang penuntut ilmu wajib tidak merendahkan (ilmu yang ada) pada dirinya untuk menyampaikan apa yang telah dikaruniakan oleh Allah….” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, 27/34—35)

Hanya saja, apabila dakwah yang dilakukannya justru memalingkannya dari menuntut ilmu, yang semestinya didahulukan adalah menuntut ilmu, karena orang yang berdakwah tanpa ilmu yang mencukupi biasanya akan terjatuh pada banyak kesalahan dan ketergelinciran. Maka dari itu, para penuntut ilmu berdakwah sesuai dengan ilmunya, namun dengan syarat tidak menghalangi dirinya dalam menuntut ilmu. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, 27/51)

Berhati-Hati Sehingga Tidak Memosisikan Diri Bukan Pada Tempatnya

Seorang penuntut ilmu wajib berhati-hati sehingga tidak mendudukkan dirinya sebagai mufti besar. Hal ini karena sebagian orang ketika mendapatkan kesempatan memberikan ceramah dan para hadirin mengajukan pertanyaan kepadanya, dia menjadi berani untuk berfatwa dan merasa malu mengatakan dirinya tidak tahu. Apabila tidak bisa menjawab dan mengatakan tidak tahu, dia anggap akan menurunkan kedudukannya di hadapan hadirin. Padahal, fatwa yang salah akan menyebabkan dia menjadi orang yang tersesat dan menyesatkan. Ini tentu akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

Oleh karena itu, setiap dai seharusnya senantiasa takut untuk berkata tanpa ilmu. Dia seharusnya merasa ringan untuk mengatakan, “Saya tidak tahu” dalam masalah yang memang tidak diketahuinya. Dia harus memahami bahwa dengan mengatakan “Saya tidak tahu” justru menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang berilmu dan akan mengangkat kedudukannya di hadapan manusia. Hal ini akan menjadi sebab semakin yakinnya orang-orang kepada dirinya, sehingga mereka akan lebih menerima dakwahnya. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, 27/54—55)

Seorang Dai Harus Tetap Menuntut Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Orang yang alim harus terus menuntut ilmu sampai ajal menjemputnya. Dia terus menuntut ilmu sehingga dia mengetahui jawaban dari masalah yang belum dia pahami. Dia merujuk kepada penjelasan para ulama dengan dalil-dalilnya sehingga bisa menjawab pertanyaan orang-orang, dan mengajari mereka berdasarkan ilmu serta berdakwah mengajak kepada Allah di atas ilmu.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/71)

Asy-Syaikh Nasiruddin al-Albani mengatakan, “Oleh karena itu, barang siapa yang ingin berdakwah dan ingin terus memuncak dalam perjalanan dakwahnya, dia harus menjaga dua hal ini:

1. Memiliki hubungan dengan kitab-kitab para ulama terdahulu yang dikenal dengan keilmuannya yang bermanfaat dan akidah yang benar.

2. Apabila di masyarakat tempat dia berada terdapat ulama dan orang-orang yang dikenal kebaikannya, hendaknya dia menghubunginya sebisa mungkin agar dia terpengaruh dengan kebaikan mereka dan mengambil faedah dari akhlak serta adab mereka.

Ucapan beliau t ini terdapat dalam kaset As’ilah Kuwaitiyah yang dimuat di situs http://www.sahab.net.

Demikianlah keterangan sejumlah ulama tentang pentingnya ilmu sebagai penopang dakwah salafiyah. Oleh karena itu, orang yang berdakwah harus benar-benar memerhatikan penopang ini agar tidak berbicara tanpa ilmu. Apabila demikian keadaannya, dia lebih jelek dari orang yang jahil. Dengan keberaniannya menyampaikan agama tanpa ilmu, dia akan menjadi orang yang sesat dan menyesatkan. Apalagi dalam permasalahan yang sifatnya nawazil (kontemporer) atau menyangkut permasalahan kaum muslimin secara umum, baik yang berkaitan dengan darah mereka maupun yang berkaitan rasa takut dan rasa aman mereka. Dalam hal ini, hanyalah para ulama—bahkan ulama besar—yang berhak menjawabnya. Wallahu a’lam.

Allah berfirman:

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya, padahal kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83) (Lihat lebih lengkap mukaddimah asy-Syaikh ‘Abdul Malik Ramdhani al-Jazairi hafizhahullah dalam kitabnya Fatawa al-’Ulama al-Akabir)

Sumber: http://asysyariah.com/mengilmui-masalah-yang-akan-disampaikan.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s