Hanya Bagi Allah Sifat yang Maha Tinggi di Langit dan di Bumi


ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

“Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.” (ar-Rum:27)

Penjelasan Mufradat Ayat

“Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi.”

Para ulama tafsir berkata, الْمَثَلُ bermakna الْوَصْفُ , yaitu sifat. Mereka menyatakan,

مَثَّلْتُ الشَّيْءَ

“Saya umpamakan sesuatu…” apabila ia menyebutkan sifat dan mendekatkannya kepada suatu pemahaman. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Perumpamaan sifat surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedangkan naungannya (demikian pula).” (ar-Ra’d:35)

Matsalul jannah pada ayat di atas maknanya adalah sifat jannah (surga).

Adapun makna الْاَْعْلَى adalah الْعُلْيَا yaitu Yang Mahatinggi. (lihat Fathul Qadir, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir ath-Thabari, Zadul Masir, Tafsir al-Alusi, dan Bahrul Muhith)

Abul Khair al-Baidhawi mengatakan, kata الْمَثَلُ maknanya ialah sifat yang sangat mengagumkan, seperti kekuasaan yang umum dan hikmah yang sempurna. Adapun الْاَْعْلَى bermakna Dzat yang tidak ada yang dapat mengimbangi dan menyamai-Nya.

Makna Ayat

Asy-Syinqithi berkata, makna ayat ini adalah hanya bagi-Nya sifat yang paling sempurna, yaitu sifat yang paling agung, paling sempurna, dan paling mulia, baik di langit maupun di bumi.

Para ulama tafsir menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini bermakna seperti firman Allah,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)

Mereka juga memaparkan riwayat Mujahid dan Qatadah rahimahumallah yang menyebutkan bahwa ayat ini semakna dengan persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan cara yang benar selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Yang menguatkan hal ini adalah firman Allah,

“Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu sekutu bagimu dalam hal (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sehingga kamu sama dengan mereka dalam (hak menggunakan) rezeki itu; kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.” (ar-Rum:28)

Al-Qurthubi mengatakan tentang ayat di atas, Allah membuat perumpamaan bagi kaum musyrikin, apakah ada salah seorang di antara mereka yang rela jika hamba sahaya yang ia miliki, baik harta maupun jiwanya, sama seperti dia (menjadi sekutu dalam kepemilikan harta)? Apabila hal ini tidak mereka ridhai untuk diri mereka, bagaimana bisa mereka menjadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi-Nya?

Prinsip Memahami Sifat Allah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam kitab beliau, Syarh Lum’atil I’tiqad libni Qudamah, al-Qawa’idu al-Mutsla, dan Taqrib at-Tadmuriyyah menjelaskan beberapa prinsip penting dalam hal memahami nama dan sifat Allah. Beliau menjelaskan pula golongan/kelompok sesat yang menyelisihi jalan para rasul dan pengikutnya.

Di antara prinsip tersebut adalah:

1. Sifat-sifat Allah keseluruhannya adalah sifat yang Mahatinggi, sifat kesempurnaan dan pujian.

Sifat-sifat itu tidak mengandung kekurangan dari sisi mana pun, seperti sifat hayat (hidup), ilmu, qudrah (kekuatan), sama’ (mendengar), bashar (melihat), hikmah, rahmah, ‘izzah (kekuasaan), ‘uluw (ketinggian), ‘azhamah (keagungan) dan selainnya.

Hal ini berdasarkan firman Allah:

“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nahl: 60)

2. Pembahasan masalah sifat Allah lebih luas daripada pembahasan tentang asma’ (nama) karena setiap nama mengandung sifat. Misalnya, nama Allah al-Qawi (Yang Mahakuat) berarti Allah memiliki sifat al-quwwah (kekuatan).

Selain itu, di antara sifat-sifat itu ada yang terkait dengan perbuatan Allah, sedangkan perbuatan-Nya tidak ada kesudahannya. Sifat bicara/kalam pada Allah, misalnya, tidak ada kesudahannya sehingga Allah berbicara kapan pun Ia berkehendak.

Allah berfirman:

“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (keringnya, niscaya tidak akan habis [dituliskan] kalimat Allah). Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Luqman: 27)

3. Sifat Allah l terbagi menjadi dua: tsubutiyah dan salbiyah.

Sifat tsubutiyah adalah sifat yang ditetapkan oleh Allah untuk Diri-Nya, baik melalui al-Qur’an maupun hadits Rasulullah. Semuanya adalah sifat kesempurnaan, tidak ada kekurangan pada sifat tersebut dari sisi mana pun, seperti sifat hidup, ilmu, qudrah, istiwa’ di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia, wajah, dua tangan, dan yang semisalnya.

Kita wajib menetapkan sifat ini bagi Allah sesuai dengan kemuliaan-Nya karena Dia telah menetapkan sifat-sifat tersebut untuk Diri-Nya. Dia adalah Dzat yang lebih mengetahui sifat-sifat Diri-Nya.

Adapun sifat salbiyah yaitu adalah sifat yang ditiadakan oleh Allah dari Diri-Nya, baik melalui al-Qur’an maupun hadits Rasulullah. Semuanya adalah sifat kekurangan (ketidaksempurnaan) pada Diri-Nya, seperti sifat mati, tidur, bodoh, lupa, lemah, lelah, dan zalim.

Kita wajib meniadakan sifat ini dari Allah karena Dia telah meniadakan sifat tersebut dari Diri-Nya. Namun, peniadaan ini harus disertai oleh penetapan lawannya dalam bentuk yang paling sempurna. Peniadaan semata tidaklah menunjukkan kesempurnaan hingga terwujud lawan dari yang ditiadakan.

Misal dalam hal ini adalah firman Allah,

“Bertawakkallah kepada Allah Yang Mahahidup (kekal) yang tidak mati.” (al-Furqan: 58)

Ditiadakannya sifat mati dari Allah mengandung sifat lawannya, yaitu kesempurnaan hidup-Nya (hidup yang kekal).

Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua: dzatiyah dan fi’liyah.

Sifat dzatiyah adalah sifat yang senantiasa ada pada diri Allah, seperti sifat ilmu, qudrah, sama’, bashar, ‘izzah, hikmah, ‘uluw, dan ‘azhamah. Di antara sifat dzatiyah tersebut ada yang berupa sifat khabariyah, seperti wajah, dua tangan, dan dua mata.

Sifat fi’liyah adalah sifat yang terkait dengan kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan melakukannya. jika tidak menghendaki, Ia tidak akan melakukannya. Sifat ini contohnya istiwa’ di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia, dan datang.

Terkadang, ada sifat yang tergolong fi’liyah dan dzatiyah sekaligus, ditinjau dua sisi. Sifat kalam misalnya. Ditinjau dari asalnya, ia adalah sifat dzatiyah karena Allah senantiasa memiliki sifat berbicara (tidak bisu). Namun, jika ditinjau dari tiap-tiap pembicaraan-Nya, ia adalah sifat fi’liyah karena sifat ini terkait dengan kehendak-Nya. Ia berbicara dengan apa yang Ia kehendaki dan kapan pun Ia kehendaki.

4. Sifat Allah adalah tauqifiyah, tidak ada ruang bagi akal dalam hal ini (untuk menetapkan atau meniadakan).

Kita tidak boleh menetapkan sebuah sifat bagi Allah melainkan apabila hal itu ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

5. Setiap sifat Allah diberlakukan padanya tiga pertanyaan berikut.

• Apakah sifat Allah itu hakiki? Mengapa demikian?

• Apakah boleh menanyakan bagaimana bentuknya? Mengapa demikian?

• Apakah sifat ini menyerupai (tamtsil) sifat makhluk? Mengapa demikian?

Jawaban terhadap pertanyaan pertama, sifat Allah adalah hakiki (nyata dan sesungguhnya) karena asal suatu perkataan itu menunjukkan hakikatnya (makna sesungguhnya). Tidak boleh makna itu dialihkan dari hakikatnya (kepada makna yang lain) melainkan berdasarkan dalil sahih yang akan menghalangi dari hakikatnya.

Jawaban terhadap pertanyaan kedua, tidak boleh menanyakan bagaimana/takyif (menggambarkan bentuk) sifat Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“… Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya.” (Thaha: 110)

Jawaban terhadap pertanyaan ketiga, sifat Allah l tidak serupa dengan sifat makhluk. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (asy-Syura: 11)

Di samping itu, Allah adalah Dzat yang paling berhak untuk bersifat dengan kesempurnaan, maka tidak ada puncak kesempurnaan yang melebihi-Nya. Dengan demikian, tidak mungkin Allah akan serupa dengan makhluk karena makhluk bersifatkan dengan kekurangan.

6. Membantah kaum mu’aththilah.

Mereka adalah orang-orang yang mengingkari sebagian nama dan sifat Allah, serta memalingkan ayat dan hadits dari hakikatnya. Mereka juga disebut dengan kaum mu’awwilah (para penakwil).

Kaidah umum untuk membantah mereka adalah:

• Pendapat mereka bertentangan dengan hakikat nash (tekstual) dari ayat dan hadits

• Pendapat mereka bertentangan dengan metode para salaf, dan

• Pendapat mereka tidak berlandaskan dalil yang sahih.

Bisa jadi, pada beberapa sifat yang mereka ingkari terdapat bantahan keempat atau lebih.

Golongan yang Menyimpang

Golongan yang menyimpang dari jalan para rasul dan para pengikutnya dalam masalah asma’ Allah dan sifat-Nya ada dua macam: mumatstsilah dan mu’aththilah.

Masing-masing memiliki sikap ekstrem/melampaui batas dari satu sisi dan sikap melalaikan dari sisi yang lain.

Kaum mumatstsilah memiliki sikap ekstrem dalam hal penetapan, namun bersikap lalai dalam hal peniadaan. Sementara itu, kaum mu’aththilah bersikap ekstrem dalam hal peniadaan, namun bersikap lalai dalam hal penetapan. Jadi, masing-masing telah keluar dari sifat adil (pertengahan) dalam hal penetapan dan peniadaan.

Jalan yang ditempuh al-mumatstsilah adalah menetapkan sifat-sifat Allah dalam bentuk yang menyerupai sifat-sifat makhluk. Mereka berpendapat, Allah memiliki wajah, dua tangan, dan dua mata yang serupa dengan wajah, tangan, dan mata kita, serta yang semisalnya.

Adapun al-mu’aththilah mengingkari asma’ dan sifat, secara keseluruhan atau sebagian. Dari sinilah mereka memalingkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menolak penetapan sifat-sifat bagi Allah.

Mereka terbagi menjadi empat kelompok.

1. Asy’ariyah (Kullabiyah) dan kelompok yang mengikuti jalannya dari kalangan Maturidiyah serta yang lain.

Jalan yang mereka tempuh adalah menetapkan nama-nama bagi Allah dan sebagian sifat, namun meniadakan (menolak) hakikat dari mayoritas sifat tersebut. Mereka menolak dalil-dalil yang bisa mereka tolak. Adapun dalil yang tidak bisa mereka tolak, mereka palingkan (kepada makna lain). Mereka menyebut cara seperti ini sebagai takwil. Mereka menetapkan bagi Allah sifat yang tujuh, yaitu sifat hayat, ilmu, qudrah, iradah, kalam, sama’, dan bashar.

Di antara kelompok-kelompok bid’ah yang disebutkan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah as-Salimah. Mereka adalah pengikut Ibnu Salim, yang berpemahaman musyabbihah (menyerupakan sifat Allah dengan makhluk). Orang-orang yang sejenis dengan mereka adalah Asy’ariyah. Mereka adalah pengikut Abul Hasan al-Asy’ari. Pada awalnya, beliau condong kepada pemahaman Mu’tazilah. Kemudian beliau bertaubat darinya dan menerangkan kesalahan (kebatilan) paham Mu’tazilah. Setelah itu, beliau berpegang dengan pemahaman Ahlus Sunnah.

Adapun orang-orang yang menyandarkan diri kepada beliau, pada hakikatnya mereka menganut paham tersendiri, bukan Ahlus Sunnah. Paham itulah yang dikenal sebagai mazhab Asy’ariyah. Mereka tidak menetapkan sifat selain sifat yang tujuh—karena akal mampu membuktikannya—dan menakwilkan sifat yang lainnya. Sifat tersebut mereka kumpulkan dalam bentuk syair:

حَيٌّ عَلِيمٌ قَدِيرٌ وَالْكَلَامُ لَهُ

إِرَادَةٌ وَكَذَاكَ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ

2. Mu’tazilah dan para pengikutnya dari kalangan ahli kalam (filsafat) serta yang lainnya.

Mereka menetapkan nama bagi Allah, namun tidak menetapkan sifat. Mereka menjadikan nama-nama tersebut sekadar nama (tidak mengandung/menunjukkan sifat). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa nama-nama itu sama, sesuatu yang satu. Ada pula yang berpendapat, nama itu berbeda-beda artinya, tetapi tidak menunjukkan sifat, seperti Mahatahu tetapi tidak berilmu, Mahakuasa tetapi tidak punya kekuasaan, Maha Mendengar tetapi tidak memiliki pendengaran, dan semisalnya.

3. Jahmiyah ekstrem, al-Qaramithah, al-Bathiniyah, dan para pengikutnya.

Mereka mengingkari asma’ dan sifat Allah. Mereka sama sekali tidak menetapkan sifat melainkan peniadaan semata, kosong dari penetapan. Mereka menyatakan Allah itu ada secara mutlak, tidak dikatakan Dia ada. Tidak pula Allah dikatakan Mahahidup, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa.

4. Golongan paling ekstrem dari kalangan ahli filsafat, Jahmiyah, al-Qaramithah, al-Bathiniyah, dan selain mereka.

Mereka mengingkari hal-hal yang menjadi hak Allah, baik sifat yang ditetapkan maupun yang ditiadakan. Mereka meniadakan dari Allah sifat ada dan tidak ada, hidup dan mati, ilmu dan bodoh, dan semisalnya. Mereka berpendapat, Dia itu tidak ada dan tidak tidak ada, tidak mati dan tidak hidup, tidak berilmu dan tidak pula bodoh, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

Sumber: http://asysyariah.com/maha-tinggi.html

Iklan

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s