Hewan Buas yang Bertaring dan Burung yang Memangsa dengan Cakarnya


ditulis oleh:  Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

Dari Ibnu Abbas, ia berkata,

“Rasulullah melarang dari setiap binatang buas yang bertaring dan burung yang bercakar.” (HR. Muslim no. 1934)

Al-Qurthubi berkata, “Jumhur ulama salaf dan selainnya telah berpendapat untuk mengambil zahir hadits ini tentang diharamkannya binatang buas. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik pada salah satu pendapatnya, dan itu yang disebutkan dalam al-Muwaththa’, dan beliau berkata, ‘Inilah yang kami tetapkan’.” (al-Mufhim, al-Qurthubi, 5/215)

Al-Mubarakfuri berkata, “Hadits ini adalah dalil tentang diharamkannya setiap binatang buas yang memiliki taring. Ini adalah pendapat jumhur dan inilah yang benar.” (Tuhfatul Ahwadzi, 5/44)

Hadits di atas mencakup setiap hewan yang bertaring, seperti singa, serigala, macan, monyet, dan apa saja yang memiliki taring yang dengannya dia menerkam mangsanya. Selain itu, hadits di atas juga mencakup setiap burung yang menerkam dengan cakarnya, seperti elang, burung nasar (burung pemakan bangkai), burung gagak, dan yang semisalnya. (al-Mufhim, al-Qurthubi, 5/217)

Hyena

Namun, dikecualikan dari hewan buas yang bertaring tersebut adalah dhabu’, nama latinnya hyena. Ia mirip serigala, bertaring dan buas, senang memakan bangkai dan sisa buruan hewan lain. Terkadang ia mencari makan sendirian dan terkadang berkelompok.

Ada beberapa riwayat yang sahih yang membolehkan dhabu’ tersebut dijadikan sebagai hewan buruan. Di antaranya adalah hadits Jabir bahwa Rasulullah ditanya tentang dhabu’, “Apakah ia hewan buruan?”

Jawab Nabi, “Ya, ya, hewan buruan.” (HR. Abu Dawud no. 3801, Ibnu Majah no. 3085, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 3801)

Dalam riwayat lain, dari Abdurrahman, ia berkata, “Aku bertanya kepada Jabir bin Abdillah tentang dhabu’, ‘Apakah ia hewan buruan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.” “Aku bertanya lagi, ‘Bolehkah aku memakannya?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.” “Lalu aku bertanya lagi, ‘Apakah ini engkau dengar langsung dari Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.” (HR. Ibnu Majah no. 3236, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Berdasarkan beberapa riwayat yang sahih ini, sebagian ulama menganggap bahwa hyena halal dimakan. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad, Ishaq, asy-Syafi’i, Malik, dan Laits bin Sa’d. Diriwayatkan juga tentang bolehnya memakan hyena dari Sa’d bin Abi Waqqash, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Urwah bin Zubair, dan Ikrimah. (al-Mughni, 9/325, al-Inshaf, 10/355, Nailul Ma’arib, al-Bassam, 4/377, kitab al-Ath’imah, al-Allamah Shalih al-Fauzan, hlm. 60—61)

Asy-Syinqhiti menerangkan, “Hadits-hadits tentang larangan memakan setiap binatang buas yang bertaring bersifat umum, sedangkan dalil yang membolehkan hyena bersifat khusus. Dalil yang umum tidak bertentangan dengan dalil yang khusus karena dalil yang khusus menghukumi yang bersifat umum dengan mengkhususkan keumumannya, sebagaimana yang diketahui dalam ilmu ushul.” (Adhwa’ul Bayan, 2/175)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Banyak ahli berpengalaman berkata, ‘Hyena tidak menangkap mangsanya dengan taringnya, bukan hewan buas. Dia tidak memangsa selain dalam keadaan darurat, atau ketika ada yang ingin ia mangsa—yakni di saat lapar mungkin saja dia akan mencari mangsa, namun bukan tabiatnya menganiaya yang lain—atau di saat ada sesuatu yang ingin menganiayanya, mungkin saja dia akan memangsanya, seperti merampas anak-anaknya di hadapannya, dan yang semisalnya.” (asy-Syarhul Mumti’, 15/17—18)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya yang haram adalah hewan yang bertaring dari jenis hewan buas yang secara tabiat menerkam, seperti singa, serigala, harimau, dan macan. Adapun hyena, ia hanya memiliki satu dari dua sifat, yaitu bertaring, namun bukan dari jenis hewan buas yang menerkam (menyerang).” (I’lam al-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/136)

Gajah

Gajah, menurut al-Imam Ahmad, bukanlah makanan kaum muslimin. Adapun asy-Syafi’i dan Abu Hanifah rahimahumallah menganggapnya makruh. Sebagian ulama membolehkan untuk memakannya, seperti al-Imam Malik, Ibnu Syihab, dan asy-Sya’bi rahimahumullah. Namun, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah yang pertama, yaitu diharamkannya, sebab gajah termasuk hewan buas yang bertaring. Wallahu a’lam. (lihat al-Mughni, 9/326)

Asy-Syinqithi berkata menjelaskan hukum gajah, “Yang tampak, gajah termasuk hewan buas yang bertaring. Telah kami jelaskan bahwa hal itu diharamkan karena sahihnya (hadits) dari Rasulullah, dan ini adalah pendapat jumhur. Termasuk yang membenarkan pendapat ini dari mazhab Maliki adalah Ibnu Abdil Bar dan al-Qurthubi.” (Adhwa’ul Bayan, 2/173)

Monyet

Adapun monyet, telah disebutkan kesepakatan ulama bahwa ia haram dimakan. Ibnu Abdil Bar berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa kera tidak boleh dimakan, karena adanya larangan Rasulullah untuk memakannya.” (al-Mughni, 9/325, Adhwa’ul Bayan, 2/173)

Sumber: http://asysyariah.com/hewan-buas-yang-bertaring-dan-burung-yang-memangsa-dengan-cakarnya.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s