Ikhlas dalam Berdakwah


ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.

Di antara dalil yang menunjukkan penopang ini adalah firman Allah:

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, (yaitu berdakwah) mengajak kalian kepada Allah.” (Yusuf: 108)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Bisa jadi seseorang berdakwah, menyampaikan ceramah, atau berkhutbah dengan maksud memperoleh kedudukan, lalu orang-orang pun memujinya. Bisa jadi pula agar dirinya menjadi tenar dan banyak yang berkumpul (di majelisnya). Kalau demikian maksudnya, dia bukan orang yang berdakwah mengajak kepada Allah.” (I’anatul Mustafid, 1/139)

Keberhasilan Ada Pada Ikhlas, Bukan Semata-Semata Banyaknya Orang

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan seorang da’i berpengaruh kepada yang didakwahi. Apabila seorang da’i benar-benar ikhlas niatnya dan dia berdakwah di atas manhaj/jalan yang benar dan di atas bashirah serta mengilmui apa yang dia sampaikan, hal ini akan menjadikan dirinya memiliki pengaruh kepada orang yang didakwahi. Akan tetapi, apabila dia tidak ikhlas dalam dakwahnya dan hanya mengajak kepada dirinya, kelompoknya, pada organisasi/perkumpulan yang menyimpang, atau mengajak kepada ‘ashabiyah (mengikuti dan membela tanpa melihat kepada dasar pijakannya/fanatisme buta), meskipun mengatasnamakan dakwahnya sebagai dakwah Islamiyah, hal itu tidak bermanfaat sama sekali. Dakwahnya ini tidak termasuk dakwah Islamiyah sedikitpun.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 21)

Asy-Syaikh Muhammad al-’Ustaimin mengatakan, “Tujuan orang yang berdakwah mengajak kepada Allah tidak lain adalah tegaknya agama Allah. Adapun orang yang berdakwah mengajak kepada dirinya, yang dia inginkan dari dakwahnya adalah agar ucapannya diterima, baik ucapan itu benar maupun salah.” (al-Qaulul Mufid, 1/139)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Apabila seseorang meninggalkan dakwah, sesungguhnya dia telah meninggalkan kewajiban yang besar. Namun orang yang menjalankan dakwah tapi tidak ikhlas, juga terjatuh pada bahaya yang besar. Oleh karena itu, harus ada dakwah, yang harus dijalankan dengan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah, tujuannya adalah menegakkan syariat Allah serta memberikan petunjuk dan manfaat kepada manusia. Tidak peduli apakah manusia akan memujinya atau mencelanya. Ketika tidak mendapatkan pujian dan dukungan, tidak menyebabkan dia meninggalkan dakwah. Jika demikian yang terjadi, hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan bukanlah dakwah mengajak kepada Allah, namun mengajak manusia kepada dirinya sendiri.

Maka dari itu, seorang muslim harus berhati-hati. Hendaknya yang mendorong dan menjadi tujuan dakwahnya adalah ikhlas mengharapkan ridha Allah semata dan memberikan manfaat kepada manusia, (yaitu) untuk menyelamatkan mereka dari kesyirikan, kebid’ahan, dan penyimpangan-penyimpangan yang lain. Juga dalam rangka memenuhi kewajiban yang harus dia tunaikan. Banyaknya orang yang menghadiri (majelisnya) tidak mesti menunjukkan keutamaannya. Bahkan, sebagian nabi tiada yang mengikutinya melainkan sedikit.

فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Aku melihat seorang nabi yang pengikutnya hanya beberapa orang. Ada pula yang pengikutnya hanya satu-dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak ada pengikutnya sama sekali.” (HR. al-Bukhari)

Apakah hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki keutamaan? Sekali-kali tidak. Jadi, seseorang janganlah semata-mata melihat jumlah orang yang menghadiri majelisnya.

لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Sungguh engkau menjadi sebab satu orang mendapatkan hidayah itu lebih baik daripada engkau mendapatkan unta merah (yakni kendaraan yang paling mewah).” (al-Hadits) (I’anatul Mustafid, 1/139—140)

Betapa besar peranan ikhlas sebagai bekal bagi seorang yang berdakwah. Keikhlasan sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan dakwah. Maka dari itu, seorang da’i hendaknya benar-benar selalu memperbaiki hatinya dan tidak sekadar melihat hasil dakwahnya. Terkadang, hasilnya baru akan tampak ketika seorang da’i telah meninggal dunia. Lihatlah hasil dakwah al-Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab—rahimahumullah—dan para ulama lainnya. Dakwah mereka membuahkan hasil yang luar biasa sepeninggal mereka. Bandingkan dengan dakwah beberapa dai kondang yang hanya mencari popularitas. Bandingkan pula dengan dakwah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dakwah (hizbiyah). Meskipun jumlahnya sangat banyak, hasilnya sangat sedikit atau bahkan justru merusak serta memunculkan orang-orang yang memusuhi dakwah salafiyah.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila salah seorang ulama besar yang dikenal sebagai imam al-jarh wat ta’dil di masa kini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, mengatakan, “Carilah pada dakwah mana pun yang dilakukan oleh kelompok dan golongan—selain (dakwah) as-Salafiyah—. Apakah engkau mendapatkan adanya hasil atau buah untuk mengikuti jalan ini (yaitu dakwah para rasul) pada madrasah, anggota, dan kelompok mereka? Tunjukkan kepada saya jika Anda benar-benar menemukannya. Saya sendiri mendapatkan pada kelompok-kelompok dakwah tersebut tidak lain adalah permusuhan yang berkobar dalam memerangi jalan dakwah para rasul dan orang-orang yang memperjuangkannya. Saya pun tidak melihat selain kebencian dan kemarahan (mereka) terhadap jalan dakwah para rasul ini serta orang-orang yang mengusungnya. Begitu pula, saya tidak melihat selain kericuhan, bersamaan dengan penghargaan kepada dakwah-dakwah yang menyimpang dan menyesatkan serta orang-orang yang menganjurkannya. Yang terakhir ini Anda telah melihat dan mendengarnya dari orang-orang yang berpenampilan layaknya pembawa dakwah salafiyah namun lebih dekat kasih sayangnya terhadap kelompok dakwah yang memusuhi dakwah salafiyah ….” (Lihat muqaddimah cet. ke-2 kitab Manhajul Anbiya’)

Sumber: http://asysyariah.com/ikhlas-dalam-berdakwah.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s