Menentang Hukum Ilahi Merongrong Aqidah


ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Allah memiliki nama-nama yang indah dan mulia serta sifat-sifat yang tinggi dan agung. Tentang keindahan nama-nama dan ketinggian sifat-Nya, tidak ada seorang makhluk pun yang akan mengingkarinya karena mereka secara fitrah mengakui hal tersebut. Saat rusak fitrahnya, di sinilah penentangan, pengingkaran, penyimpangan, dan penyelewengan manusia terjadi.

Orang-orang yang beriman akan mengimani dan meyakininya, setelah itu mengaplikasikan segala konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak cukup hanya sekadar mengilmui bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang tinggi dan mulia lalu tidak mewujudkannya dalam amal nyata. Kenyataan hidup yang mereka lakoni dan segala bukti yang mereka lihat adalah wujud konkret keindahan nama-nama Allah dan ketinggian sifat-sifat-Nya. Ketika kita melihat keindahan alam ini dan mengetahui berbagai jenis makhluk yang ada, kita menyimpulkan dan mengatakan, tidak mungkin semua ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Keindahannya yang sangat menakjubkan ini tentu ada Yang Mahaindah yang menciptakannya.

Itulah Allah al-Jamiil dan Dialah al-Mudabbir, yang mengatur segala urusan hidup makhluk-Nya yang menghuni alam yang indah ini. Tidak ada satu pun makhluk kecuali berada dalam aturan-Nya. Segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi ada dalam pengaturan Allah, Yang Maha Mengatur semua urusan. Allah mengatur mereka sesuai dengan maslahat hidup setiap makhluk. Kemaslahatan mereka ada bersama aturan itu. Allah mengatur mereka di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Dialah al-’Alim, Yang Maha Mengetahui segala apa yang terjadi di muka bumi ini. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah, yang rahasia atau yang bukan, yang tampak atau yang tidak tampak. Dialah al-Hakim, Yang Mahabijaksana, yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dia memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi orang yang dikehendaki-Nya. Dia menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya karena dosanya dan mengampuni siapa yang diinginkan-Nya. Karena kebijaksanaan-Nya, tidak ada satu pun makhluk yang merasa terzalimi.

Dialah al-Qadir, Yang Mahakuasa, di alam ciptaan-Nya ini. Tidak ada satu pun makhluk-Nya yang sanggup melakukan seperti yang diperbuat oleh Allah. Dialah yang berkuasa atas mereka tanpa ada yang menyaingi kekuasaan-Nya. Dialah yang berkuasa dan tidak membutuhkan sekutu, pembantu, atau ajudan.

Dialah al-Bashir, Yang Maha Melihat. Ia melihat segala yang diperbuat oleh makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun yang tidak terlihat oleh-Nya.

Dialah ash-Shamad, Dzat tempat bergantung setiap hamba-Nya. Artinya, Dialah yang dituju dalam segala hajat mereka. Dialah ar-Rahman dan ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tiada satu makhluk pun melainkan mendapatkan kasih sayang Allah.

Dialah ar-Razzaq, Yang Maha memberi rezeki, yang tidak ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini melainkan tertuangkan padanya rezeki dari-Nya.

Dialah al-Mannan, Yang Maha Memberi, tidak ada satu makhluk pun kecuali mendapatkan karunia Allah.

“Katakanlah, ‘Berdoalah kalian kepada Allah atau kepada ar-Rahman dengan (nama) mana saja kamu menyeru-Nya maka Dia memiliki nama yang baik’.” (al-Isra’: 110)

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik maka berdoalah kepada-Nya dengan itu.” (al-A’raf: 180)

Seluruh nama di atas adalah penghubung dan jembatan untuk menyampaikan seseorang kepada pengabdian yang mendalam, penuh ketulusan dan keikhlasan kepada Allah semata. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Manusia dan Anugerah Allah

Sikap manusia terhadap anugerah Allah berbeda-beda, ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Yang terpuji adalah mereka yang bersyukur kepada Allah dan mengetahui bahwa nikmat tersebut bersumber dari Allah. Golongan yang tercela adalah yang kufur terhadap anugerah tersebut.

Golongan yang bersyukur akan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan surga-Nya. Mereka mengetahui bahwa anugerah tersebut hanya sebuah titipan dari Allah yang di belakangnya ada pertanggungjawaban. Dengan demikian, tidak ada pintu kewajiban yang terkait dengannya melainkan dia memasuki pintu tersebut untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Golongan inilah yang dalam hidupnya menyandang banyak pujian dan sanjungan, seperti firman Allah,

“Tiadalah Muhammad itu melainkan seorang rasul. Telah berlalu para rasul sebelumnya, dan jika dia wafat atau terbunuh apakah kalian akan kembali menjadi kafir? Barang siapa kembali menjadi kafir setelah itu, niscaya tidak akan membahayakan Allah sedikit pun dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144)

Rasulullah bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan setiap mukmin, semua urusannya itu adalah baik dan hal itu tidak dimiliki selain oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kemalangan dia bersabar, itu kebaikan pula baginya.” (HR. Muslim no. 5318 dari sahabat Shuhaib bin Sinan z)

As-Sa’di berkata, “Jadilah engkau orang yang bersyukur kepada Allah atas segala taufik-Nya, sebagaimana engkau bersyukur atas nikmat-nikmat duniawi, seperti sehatnya jasmani, di saat mendapatkan rezeki dan sebagainya. Selain itu, engkau harus bersyukur pula atas nikmat-nikmat yang bersifat agama, seperti taufik untuk menjadi orang yang ikhlas, orang yang bertakwa. Bahkan, nikmat agama adalah nikmat yang hakiki. Ketika seseorang mengkaji dan mendalami sebuah anugerah lantas mensyukurinya, tentu hal itu akan menyelamatkannya dari bahaya sikap ujub yang telah menghinggapi kebanyakan orang karena kejahilan mereka. Apabila setiap hamba mengerti segala kondisi, niscaya dia tidak akan bersikap ujub atas nikmat, justru yang pantas baginya adalah menambah rasa syukur.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Adapun golongan yang kufur terhadap nikmat Allah juga beragam. Di antara bentuk kufur nikmat adalah,

1. Menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Allah,

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (az-Zumar: 49)

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (al-Qashash: 78)

2. Menggunakan nikmat tersebut pada jalan yang tidak diridhai oleh Allah, baik dalam bentuk tidak melaksanakan kewajiban maupun melanggar larangan-larangan Allah.

Hukum Allah dalam Keluasan Anugerah-Nya

Dari sinilah kita mengetahui luasnya ilmu Allah dan ketinggian hikmah-Nya. Allah telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hidup mereka. Allah juga telah menggariskan sebuah ketentuan yang harus dijalani oleh setiap hamba-Nya. Dialah yang telah menentukan halal dan haram dalam hidup mereka.

Kita juga menemukan bahwa halal dan haram itu sejalan dan seiring dengan kemaslahatan hidup manusia. Ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, terjadilah kehancuran dan malapetaka besar dalam hidup mereka. Orang yang paling berbahagia dengan ketentuan ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Allah telah menceritakan tentang mereka,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Ulama Sunnah dan Hukum Ilahi

Abdullah bin Abbas berkata, “Aku khawatir akan turun batu dari langit. Aku berkata, ‘Rasulullah bersabda demikian,’ namun kalian mengatakan, ‘Abu Bakr dan Umar berkata demikian’.”

Al-Imam Malik berkata, “Tidak ada seorang pun dari kita yang ucapannya bisa diterima dan bisa ditolak, selain pemilik kuburan ini (Rasulullah, maka harus diterima).”

Al-Imam Ahmad berkata, “Aku heran melihat suatu kaum yang telah mengetahui kesahihan sebuah sanad, namun dia berpendapat dengan pendapat Sufyan (ats-Tsauri, -red). Allah berfirman,

‘Maka hendaklah takut orang-orang menyelisihi perintahnya (Rasulullah) untuk ditimpakan kepada mereka fitnah dan menimpa mereka azab yang pedih.’ (an-Nur: 63)

Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah itu adalah kesyirikan, dan akan terjadi jika dia menolak suatu perkataan Rasulullah, akan terjadi penyimpangan dalam hatinya, lalu dia binasa.”

Abu Hanifah berkata, “Apabila datang sebuah hadits dari Rasulullah maka harus diterima, bila datang dari sahabat maka harus diterima, dan bila datang dari tabi’in maka kita laki-laki mereka laki-laki.”

Al-Imam Syafi’i berkata, “Telah sepakat para ulama bahwa barang siapa yang sunnah Rasulullah telah jelas baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Masih banyak lagi ucapan-ucapan ulama sunnah dalam masalah sikap menerima aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. (Lihat Fathul Majid hlm. 463, Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih 2/132, dan ‘Ilamuwaqqi’in 2/171)

Itulah sikap ulama kaum mukminin dalam menerima segala keputusan dan ketentuan serta aturan Allah dan Rasulullah. Sikap tegas dan tanggap mereka merupakan jalan yang lurus yang diridhai Allah.

Menentang Hukum Ilahi Merongrong Keyakinan

Peletakan hukum syariat yang dijalani oleh setiap hamba dalam hal ibadah, muamalah, bahkan setiap sendi kehidupan mereka, yang akan memutuskan segala bentuk perselisihan yang mungkin terjadi dan yang akan mengakhirkan segala perselisihan itu adalah semata-mata hak Allah sebagai Rabb manusia dan pencipta mereka. Allah berfiman,

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (al-A’raf: 54)

Dialah yang mengetahui segala maslahat bagi hamba-Nya sehingga meletakkan syariat yang sesuai dengan kemaslahatan mereka. Seluruh hukum yang telah ditetapkan oleh Allah bagi mereka adalah demi kemaslahatan mereka juga, sebagaimana firman-Nya,

“Dan jika kalian berselisih dalam satu permasalahan, maka kembalikanlah urusannya kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Allah juga telah mengingkari perbuatan hamba-hamba-Nya yang menjadikan selain Allah sebagai pembuat syariat,

“Apakah mereka memiliki sekutu yang akan membuat syariat untuk mereka yang tidak ada izin dari Allah?” (asy-Syura: 21)

Maka dari itu, barang siapa menerima syariat yang datangnya bukan dari Allah berarti dia telah melakukan kesyirikan kepada Allah. Selain itu, segala aturan yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasulullah dalam hal ibadah maka itu adalah perbuatan bid’ah, dan kita mengetahui bahwa segala bentuk kebid’ahan adalah sesat.

Bahkan, segala hukum yang tidak disyariatkan oleh Allah dalam segala aspek kehidupan, baik dalam bidang politik maupun hubungan antar manusia, berarti termasuk hukum thagut dan hukum jahiliah.

“Apakah hukum jahiliah yang mereka cari, dan siapakah yang paling baik hukumnya daripada (hukum) Allah bagi orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikian juga halnya dalam masalah halal dan haram, keduanya adalah hak mutlak bagi Allah dan tidak boleh ada seorang pun yang menandingi-Nya dalam masalah ini,

“Dan jangan kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, tentulah kamu menjadi orang-orang musyrik.” (al-An’am: 121)

Dalam ayat di atas, Allah menjadikan ketaatan kepada setan dan wali-walinya dalam hal penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah sebagai bentuk kesyirikan.

Demikian pula, barang siapa yang menaati ulama dan para pemimpin dalam hal pengharaman yang dihalalkan oleh Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan-Nya berarti telah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Dan mereka menjadikan ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan mereka juga mempertuhankan al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang satu dan tidak ada sesembahan yang berhak selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Dalam sebuah hadits sahih yang dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan selain keduanya, disebutkan bahwa Nabi membacakan ayat ini di hadapan Adi bin Hatim ath-Tha’i. Ia berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak menyembah mereka.” Rasulullah bersabda,

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian menghalalkannya? Bukankah mereka telah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah lalu kalian mengharamkannya?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”

Ketaatan kepada mereka dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah adalah wujud peribadahan kepada mereka. Ini termasuk syirik besar yang membatalkan ketauhidan yang dituntut oleh kalimat syahadat La ilaha illallah. Padahal, salah satu makna yang terkandung dalam kalimat syahadat tersebut adalah bahwa penghalalan dan pengharaman hanyalah hak Allah.

Demikianlah hukum orang yang menaati ulama dan ahli ibadah dalam masalah halal dan haram yang menyelisihi syariat dalam keadaan dia mengetahui bentuk penyelisihan tersebut. (Lihat Aqidah at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih Fauzan, hlm. 149—152)

Sumber: http://asysyariah.com/menentang-hukum-ilahi-merongrong-aqidah.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s