Menjawab Kejanggalan


ditulis oleh: Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

1. Alasan kaum musyrikin

Bagaimana memahami firman Allah:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu, tidak ada Ilah selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (al-An’am: 106—107)

Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa kesyirikan yang diperbuat kaum musyrikin, terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah.

Akan tetapi, dalam ayat yang lain, Allah mencela kaum musyrikin yang beralasan dengan kehendak Allah atas perbuatan syirik mereka. Allah berfirman:

Orang-orang yang menyekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu pun.” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kalian mempunyai suatu pengetahuan sehingga kalian dapat mengemukakannya kepada Kami?” Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 148)

Jawaban:

Allah mengabarkan dalam ayat ini, kesyirikan mereka terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah sebagai bentuk hiburan untuk Rasulullah, bukan sebagai pembelaan atau pembenaran atas kesyirikan mereka. Sangat berbeda dengan alasan kaum musyirikin, “Kami melakukannya (kesyirikan) dengan masyi’ah (kehendak) Allah.”

Dengan alasan semacam ini, kaum musyrikin ingin menghindari celaan. Selain itu, alasan ini juga merupakan bentuk pembenaran atas kesyirikan yang terus-menerus mereka perbuat. Oleh karena itu, Allah menolak alasan mereka. Namun, Allah tidak menafikan bahwa kesyirikan itu terjadi atas masyi’ah (kehendak)-Nya. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

2. Hadits Adam dan Musa

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6614) dan Muslim (no. 2652) dari sahabat Abu Hurairah z menjelaskan bahwa Nabi Adam dan Nabi Musa berdialog.

Nabi Musa berkata, “Wahai Adam, engkau adalah ayah kami. Engkau membuat kami rugi dan menyebabkan kami keluar dari al-Jannah (surga).” Nabi Adam menjawab, “Engkau, wahai Musa, Allah memilihmu menjadi rasul secara langsung dengan Kalam-Nya, Dia menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau ingin mencela diriku disebabkan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah untukku, empat puluh tahun sebelum Allah menciptakanku?” Nabi Adam pun mengalahkan Nabi Musa.

Jawaban:

Untuk memahami hadits di atas dengan benar, diperlukan dua keterangan.

1. Nabi Adam beralasan dengan takdir untuk sebuah musibah yang telah terjadi.

Musibah itu adalah dikeluarkannya beliau dan istrinya dari al-Jannah. Nabi Musa juga tidak bertujuan mencela Nabi Adam karena maksiat yang Nabi Adam telah bertaubat darinya. Dengan taubat itu, Allah memilihnya, memberikan taubat dan hidayah untuknya. Sangat jauh kemungkinannya Nabi Musa mencela dan menyalahkan ayahnya, Nabi Adam, karena maksiat yang diperbuat.

Akan tetapi, Nabi Musa bermaksud membicarakan tentang musibah yang terjadi pada diri Nabi Adam dan anak keturunannya, yaitu dikeluarkannya dari al-Jannah, yang telah ditakdirkan Allah dengan sebab adanya maksiat. Maka dari itu, Nabi Adam pun mengemukakan alasan “takdir”. Jadi, hal ini masuk dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas musibah”, bukan dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas maksiat”.

Ini mirip dengan sabda Nabi:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika ada sesuatu yang menimpa dirimu, jangan katakan, ‘Andaikata saya melakukan begini, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan, apa yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan.’ Sebab, kata-kata ‘andaikata’ akan membuka amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadits di atas, Rasulullah membimbing kita untuk mengembalikan segenap urusan kepada takdir Allah saat tujuan gagal tercapai, setelah berusaha melakukan sebab-sebab terwujudnya.

Sama kejadiannya dengan seseorang yang melakukan sebuah perjalanan jauh. Di tengah perjalanan ia mengalami musibah kecelakaan. Ketika ia ditanya, “Mengapa kamu melakukan perjalanan jauh?” Kemudian ia menjawab, “Ini sesuatu yang telah ditakdirkan. Sesuatu yang telah ditakdirkan, tidak dapat dihindari.”

Pada jawaban di atas, orang tersebut tidak beralasan dengan takdir pada perjalanan jauh yang ia tempuh. Sebab, tidak ada yang memaksanya untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga melakukan perjalanan jauh tidak bertujuan agar mendapat musibah kecelakaan. Akan tetapi, ia beralasan dengan takdir atas musibah kecelakaan yang menimpanya saat melakukan perjalanan jauh.

2. Beralasan dengan takdir pada kewajiban yang ditinggalkan atau keharaman yang diperbuat, setelah bertaubat, boleh hukumnya dan bisa diterima.

Akibat perbuatan tersebut telah terhapus dengan taubat. Oleh karena itu, terhapus juga sisi celaan yang disebabkan oleh pelanggaran. Maka dari itu, tidak ada lagi alasan yang tersisa selain semata-mata takdir. Ia tidak beralasan dengan takdir untuk terus dan tetap meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan. Namun, ia mengembalikannya (kesalahan yang diperbuat sebelum bertaubat) kepada takdir Allah yang pasti terjadi.

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

Sumber: http://asysyariah.com/menjawab-kejanggalan.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s