Bimbingan Allah تعالى Tentang Penyebaran Berita


بسم الله الرحمن الرحيم

Allah تعالى berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)

Doktor Az-Zuhaily berkata dalam tafsirnya yang berjudul “At-Tafsir Al-Munir” ketika menafsirkan ayat di atas:

Ini adalah pengingkaran dari Allah تعالى bagi orang yang bersegera melakukan sesuatu tanpa dicek dahulu. Lalu dia buru-buru mengabarkannya, menyiarkannya, dan menyebarkannya. Padahal kabar tersebut belum bisa jadi tidak benar seperti diberitakan.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dalam shahihnya dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda;

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا، أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta, dengan dia mengatakan apa saja yang dia dengar.”

Dan diriwayatkan juga dalam Shahih;

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Siapa saja yang mengabarkan sesuatu dariku dengan suatu hal, dan terlihat hal itu adalah suatu kedustaan, maka orang tersebut salah satu dari sekian tukang dusta.”

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhary dan Muslim dari Mughirah bin Syu’bah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;

يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ

“Rasulullah melarang dari menyampaikan “katanya …” dan “katanya …”.”

Yaitu orang yang sering menyampaikan apa yang dikatakan oleh orang-orang, tanpa melakukan pengecekkan dan perenungan serta tanpa mencari kejelasan hakikatnya.

Yang kita ambil pelajaran dari makna ayat ini adalah:

Terkadang datang suatu kabar tentang kondisi keamanan dan atau berita ketakutan -dari sumber-sumber yang tidak bisa dipercaya- kepada orang-orang yang tidak paham, atau kaum munafiq, atau orang yang lemah dalam islam, yang mana mereka tidak memiliki pengetahuan terkait kepentingan umum. Maka mereka segera menyiarkan berita tersebut, menyebarkannya dan mengedarkannya di tengah-tengah masyarakat. Maka hal ini merupakan hal yang mungkar yang akan merusak maslahah umum.

Oleh karenanya, wajib menyerahkan pembicaraan terkait kepentingan umum kepada pemimpin kaum muslimin yaitu Rasulullah صلى الله عليه وسلم, atau kepada Ulil Amri, yaitu orang yang lurus pandangannya dipercaya umat kebaikan dan keshalihannya, serta yang senantiasa bermusyawarat untuk kebaikan masyarakat umum.

Maka mereka inilah orang yang paling berhak untuk berbicara dan tahu menempatkannya. Mereka inilah orang yang mumungkinkan untuk inti sari kebenaran berita ini dan lalu menyimpulkan hal-hal yang seharusnya untuk ditenungkan dan dibicarakan, melalui ketanggapannya dan pengalamannya, terkhusus masalah perang dan keamanan.

Adapun membicarakan setiap hal yang kita dengar, lalu menyampaikannya tanpa pengecekan kebenarannya, maka padanya ada kerusakan yang nyata terhadap eksistensi negara.

Oleh karenanya seyogyanya bagi setiap negara saat ini untuk mengawasi setiap pemberitaan, agar tidak memperburuk keadaan dan membingungkan pemahaman masyarakat, sama saja berita terkait keamanan atau terkait ancaman.

Kemudian kalaulah bukan karena keutamaan dan rahmat Allah تعالى dengan diberinya kita petunjuk untuk taat kepada Allah تعالى dan Rasul-Nya, membimbing kita agar mengembalikan urusan kepada tempatnya yang benar, niscaya kita akan terjatuh pada was-was dan pengaruh syaithan, kecuali sedikit orang saja yang selamat.

Demikian kata Doktor Az-Zuhaily dalam menafsirkan ayat ini, dan yang semakna dengan ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Bisa dirujuk pada tafsir ayat tersebut.

Inilah bimbingan ulama, agar kita berhati-hati dalam menyampaikan perkara, selayaknya suatu perkara diserahkan kepada yang memiliki hak untuk membahas dan mebicarakannnya. Bimbingan Allah تعالى dalam ayat tersebut adalah untuk menciptakan kebaikan, ketenangan, ketentraman di tengah umat manusia. Allah تعالى yang menciptkan manusia dan Dialah yang paling tahu bagaimana manusia itu bisa menjadi baik kondisinya.

Wallahu A’lam

Sumber: http://thalibmakbar.wordpress.com/2012/03/22/bimbingan-allah-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-tentang-penyebaran-berita/

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s