Membaca Al Fatihah Setelah Al Fatihah Dalam Sholat


Bismillahirrahmanirrahim. Merupakan perkara yang telah diketahui bersama bahwa dalam shalat, pada raka’at pertama dan kedua setelah membaca Al Fatihah kita dianjurkan untuk membaca surat atau beberapa ayat lain dari Al Qur’an. Namun bagaimana dengan seseorang yang  setelah membaca Al Fatihah dia sengaja  membaca Al Fatihah kembali? Berikut fatwa yang berkenaan dengan hal ini dari Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wa Al Ifta’ (Lembaga Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Arab Saudi :

Pertanyaan :

Apa hukum Islam tentang seorang imam yang membaca Al Fatihah dua kali (diulang dalam satu raka’at) pada shalat ‘Id atau shalat Jum’at?

Jawaban :

Tidak boleh sengaja membaca Al Fatihah dua kali, baik itu pada shalat ‘Id, shalat Jum’at, maupun shalat-shalat yang lainnya karena hal itu tidaklah datang dari Al Musthafa (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak.”

Hadits tersebut telah disepakati akan keshahihannya.

Akan tetapi (imam yang melakukan hal itu) shalatnya sah. Sudah sepantasnya dia dinasehati untuk meninggalkannya agar tidak melakukannya kembali pada shalat yang lain.

Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 8/276)

Sumber : http://media-sunni.blogspot.com

ungkap�%s �^ 0_ daksi yang berbeda. Kalau Nyi Roro Kidul “penguasa laut selatan” sedangkan makam Syekh Hasan “penunggu gunung Salak”.

Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada musyrikin Makkah): Milik siapakah bumi dan apa-apa yang ada padanya, apabila kalian mengetahui? Orang-orang (musyrikin) itu akan mengatakan: milik Allah. Katakan (kepada mereka): tidakkah kalian mengingat? Katakanlah (kepada mereka): siapakah yang penguasa langit yang tujuh dan penguasa ‘ary yang besar? Mereka akan menjawab: milik Allah. Katakan (kepada mereka): Tidakkah kalian bertakwa? (Qs. 23: 84-88)

Maka tidak ada penguasa semesta alam ini kecuali Allah, meski hanya sejengkal apalagi sampai segunung. Dan meyakini apa yang dikatakan Marsa dan keyakinan-keyakinan serupa merupakan kufur akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

Lebih jauh lagi, apabila kita perhatikan ayat di atas dan ayat-ayat serupa di dalam Al Qur’an, kita dapati bahwa orang-orang jahiliyah dahulu (musyrikin Quraisy) ternyata lebih mendapat petunjuk daripada Marsa yang bergelar Kyai. Orang-orang musyrikin dahulu mengakui hanya Allah Ta’ala penguasa tunggal alam semesta, sedangkan orang-orang seperti Marsa masih meyakini ada selain Allah yang ikut menguasai, ikut menjaga atau menunggui sebagian dari bumi Allah ini?! Apa Marsa tidak membaca firman Allah Ta’ala yang mengatakan; “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik itu): Di tangan siapakah kerajaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada seorang pun bisa berlindung dari (siksa)nya, apabila kalian mengetahui? Mereka (musyrikin Quraisy) itu akan menjawab: Milik Allah. Katakan (kepada mereka): Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan? (Qs. 23: 89)

Pak Kyai juga bilang: “Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.

Ada dua kemungkinan disini, Marsa telah berdusta atau Allah ingin menyesatkan orang-orang seperti Marsa. “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. 5:41)

Padahal cukup bagi orang yang diberi akal sehat untuk tidak percaya bualan Marsa dan orang yang sepertinya, yaitu peristiwa yang menimpa sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Raden KH Moh Hasan bin R KH Bahyudin Praja Kusuma (Mbah Gunung Salak), yang berada di dekat lokasi Sukhoi naas, diberitakan telah rusak tertimpa logistik dari Super Puma.

Maka bagaimana bisa makam yang tidak dapat menolak kerusakan yang menimpa dirinya diyakini mampu menimpakan musibah dan bencana kepada orang lain?! Sungguh kecelakaan Sukhoi adalah musibah yang besar bagi keluarga yang ditinggal, tapi musibah yang keluar dari mulut Kyai Marsa dan Habib Barakbah jauh lebih besar.

(Tulisan ini saya buat di atas asumsi apa yang ditulis wartawan Tribun Jakarta edisi Pagi, Selasa 15 Mei 2012 adalah benar) – Jafar Salih.

Sumber : http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?no=352

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s