Menyingkap Rahasia Kalimat Tauhid


Kalimat tauhid adalah kalimat yang ringan di lisan. Saking ringannya, orang-orang kafir, munafiq dan atheis pun mampu mengucapkannya. Tapi kalimat itu tidaklah membuat mereka masuk ke dalam Islam, agama yang suci ini, sebab mereka tidak memahami makna kalimat tauhid alias kalimat syahadat. Mungkin sebagian mereka ada yang memahami, tapi enggan mengakui maknanya, dan konsekuensinya.

Realita seperti ini mendorong kaum muslimin untuk mengerahkan tenaga dan pikiran dalam mempelajari makna kalimat tauhid alias kalimat syahadat, sebab jika ia tidak memahaminya dengan baik, maka boleh jadi ia mengaku sebagai “muslim”, tapi ternyata ia dicap dengan label “kafir” di sisi Allah -Azza wa Jalla-, akibat kelalaian dan keteledorannya dalam mempelajari kalimat tauhid yang menjadi kunci utama seorang masuk dalam bangunan Islam.

  • Makna Kalimat Syahadat

Para ahli ilmu telah lama membicarakan makna kalimat syahadat ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) dalam kitab-kitab dan manuskripsi mereka. Kalimat syahadat disebut dengan “Kalimat Tauhid”, sebab ia mengandung penetapan tauhid (pengesaan) bagi Allah -Azza wa Jalla- dalam beribadah kepada-Nya, tanpa selain-Nya diantara makhluk-makhluk-Nya. Dalam artian, seorang harus mengakui bahwa tidak ada sembahan haq yang ia boleh sembah, selain Allah -Azza wa Jalla-. Selain itu, ia juga mengingkari peribadatan makhluk-makhluk, seperti penyembahan dan peribadatan kepada Lata, Uzza, Uzair, Isa bin Maryam, Buddha, Siwa, Krisna, Ganesha, Wisnu, Hanoman, Matahari, Bulan, dewa-dewa, dan segala macam sembahan. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan, Tuhan) yang haq, selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. (QS. Muhammad: 19)

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata saat memaknai ayat ini, “Allah berfirman kepada Nabi-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-, “Ketahuilah –wahai Muhammad- bahwa sama sekali tak ada sembahan yang pantas atau cocok baginya peribadatan, dan dan tak ada pula yang boleh bagimu dan seluruh makhluk untuk diibadahi, selain Allah”. [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Ayil Qur’an (11/34)]

Al-Hafizh Al-Baghowiy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan kalimat tauhid dalam ayat 26 dari Surah An-Naml, “Maksudnya, Dia (Allah) Yang berhak mendapatkan ibadah, sujud, dan lainnya”. [Lihat Ma’alim At-Tanzil (6/157)]

Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata dalam Tafsir Jalalain (hal. 99) ketika menafsirkan kalimat tauhid yang terdapat di awal ayat Kursi, “Maksudnya: Tak ada sembahan yang haq (benar) di alam nyata, kecuali Allah”.

Penafsiran yang sama pernah dinyatakan oleh seorang ulama’ Syafi’iyyah lainnya, yaitu Al-Khothib Asy-Syarbiniy saat menjelaskan kalimat tauhid yang diucapkan oleh Penulis Al-Minhaj. Asy-Syarbiniy -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, Tak ada sembahan yang haq (benar) di alam nyata, kecuali Allah”.

  • Dua Rukun Kalimat Tauhid

Bila anda meneliti dan memandang kalimat tauhid, maka ia terdiri dari dua potong kalimat. Potongan pertama: ( لا إله ), maknanya: “Sama sekali tak ada sembahan yang haq (benar)”. Potongan kedua: ( إلا الله ), artinya: “kecuali Allah”. Potongan pertama meniadakan seluruh jenis peribadahan yang haq (benar) dari seluruh makhluk. Potongan Kedua memberikan pembatasan bahwa sembahan ( إله ) yang haq hanyalah Allah -Azza wa Jalla-. [Lihat At-Tamhid (hal. 74) karya Al-Allamah Sholih Alusy Syaikh]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Kalimat ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) mencakup peniadaan, dan penetapan. Adapun peniadaan, yaitu kalimat ( لا إله ). Adapun penetapan, yaitu kalimat ( إلا الله )”. [Lihat Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 71)]

Dari sini para ahli ilmu menyebutkan bahwa kalimat tauhid memiliki dua rukun (pilar): rukun negatif (peniadaan), dan rukun positif (penetapan). Jadi, rukun negatif ( النفي ) akan meniadakan seluruh jenis sembahan-sembahan yang haq (benar), lalu dengan rukun positif ( الإثبات ) seseorang menetapkan bahwa hanya Allah yang terkecualikan dari peniadaan tersebut. Seorang yang muslim tak disebut “bertauhid” ( مُوَحِّدٌ ) jika tidak melaksanakan dua rukun tersebut. Tak boleh seorang hanya menyatakan bahwa tak ada ilah (sembahan) yang haq, sebab jika ia hanya menyatakan demikian, maka ia tergolong atheis. Demikian pula tak cukup seseorang menyatakan bahwa Allah adalah ilah (sembahan) yang haq (benar), lalu ia tak mengingkari sembahan-sembahan lain. Jika ia tak mengingkarinya, maka ia tergolong musyrik seperti orang-orang Quraisy. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid fi Adillah At-Tauhid (hal. 34), cet. Dar Ibn Hazm, 1427 H]

Jika salah satu diantara rukun ini hilang karena tidak diakui dan diyakini oleh seseorang, maka ia adalah kafir, walaupun mengucapkannya 100 kali dalam sehari. Jika salah satunya hilang, maka kalimat tauhid tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya. Oleh karena itu, seorang tidak boleh hanya berdzikir dengan mengucapkan ( لا إله ) sebanyak enam ratus kali secara terpisah dari kalimat ( إلا الله ) yang diulangi sebanyak empat ratus kali sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi. [Lihat Al-Qoul Al-Baligh fir Rodd ala Jama’ah At-Tabligh (hal. 159) karya Hamud At-Tuwaijiriy]

  • Kalimat Tauhid & Realita

Lihatlah orang-orang Arab di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, ada diantara mereka yang selain menyembah (mengibadahi) Allah, mereka juga menyembah makhluk, seperti, malaikat, Isa bin Maryam, bintang dan lainnya. Walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah sembahan mereka, tapi kalimat tauhid tidak bermanfaat bagi mereka, sebab mereka tidak mengingkari peribadatan kepada makhluk. Akhirnya merekapun dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ada diantara mereka yang menyembah jin, lalu ternyata jin yang mereka sembah di kemudian hari tobat dan masuk Islam, namun orang-orang Arab yang menyembah mereka dahulu tetap menyembah jin itu. Allah -Ta’ala- menceritakan kisah mereka dalam firman-Nya,

“Orang-orang yang mereka seru (ibadahi) itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Israa’ : 57)

Jin-jin yang mereka sembah dahulu ternyata berusaha mencari jalan pendekatan kepada Allah dengan memperbanyak amal-amal sholih dan ketaatan karena mengharap ganjaran dari Allah, dan karena takut kepada-Nya. Sementara penyembahnya tidak menyadari hal itu. Maka bagaimanakah sesuatu yang lemah, makhluk yang penuh kekurangan dan butuh kepada Allah, eh malah disembah. Sungguh aneh, aneh sekali!! Para penyembah jin itu berdo’a dan meminta kepada jin, sedang jinnya juga butuh kepada Allah!! Demikianlah hati mereka dibutakan sehingga kebatilan dianggap kebenaran. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/147) karya Syaikh Muhammad Ibn Sholih Al-Utsaimin, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1421 H]

Ketika menafsirkan ayat ini, Sahabat Ibnu Mas’ud -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ نَاسٌ مِنْ الْإِنْسِ يَعْبُدُونَ نَاسًا مِنْ الْجِنِّ فَأَسْلَمَ الْجِنُّ وَتَمَسَّكَ هَؤُلاَءِ بِدِينِهِمْ

“Dahulu ada sekelompok manusia yang menyembah sekelompok jin. Kemudian jin-jin itu masuk Islam, sedang mereka (manusia yang menyembahnya) tetap berpegang teguh dengan agamanya (yakni, menyembah jin)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an (4715)]

Jadi, seorang yang mengibadahi jin atau nabi atau siapapun diantara makhluk-makhluk, maka ia sama kedudukannya dengan kaum musyrikin Quraisy, walaupun ia juga beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin yang mengibadahi Wali Songo atau Syaikh Yusuf (Sulsel) segera sadar dan bertobat. Perkara ini perlu kami ingatkan sebab sebagian kaum muslimin ada yang sengaja datang ke kubur Wali Songo atau Syaikh Yusuf karena mengharapkan kesembuhan, rejeki lancar, cepat ketemu jodoh, mengusir bala’ dan lainnya diantara perkara yang semestinya diminta dari Allah saja. Orang yang seperti ini meyakini bahwa Allah adalah sembahannya, tapi enggan mengingkari sembahan-sembahan lain (seperti, wali Songo dan lainnya). Kalimat tauhid tak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat!! Mereka amat mencintai selain Allah; lebih senang beribadah di kubur daripada di masjid, lebih senang meminta dan berharap kepada wali dibandingkan Allah. Kaum beginilah yang disinggung oleh Allah dalam firman-Nya,

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah”. (QS. Al-Baqoroh : 165)

Seorang yang ingin mendapatkan keselamatan di akhirat sebagai muslim yang bertauhid, maka ia harus menetapkan dua rukun tauhid tersebut sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh Ibrahim dalam firman Allah -Ta’ala-,

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua yang kalian sembah, kecuali Tuhan (Allah) Yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia (Allah) akan memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf : 26-27)

Ucapan Ibrahim ini mengadung dua rukun tauhid: peniadaan sembahan yang haq dalam ucapannya, “aku berlepas diri dari semua yang kalian sembah”. Ini semakna dengan kalimat ( لا إله ). Rukun kedua: penetapan ilah (sembahan) yang haq, yaitu Allah Yang telah menciptakan manusia, dan memberinya petunjuk di dunia dan akhirat sebagaimana dalam ucapan Ibrahim -Shallallahu alaihi wa sallam-, “…kecuali Tuhan (Allah) Yang menciptakanku …”. Ucapan Ibrahim ini semakna dengan kalimat ( إلا الله ). Dalam ayat ini ada sebuah faedah, yakni Ibrahim beralasan dalam menyembah Allah di hadapan kaum kafir bahwa ia menyembah Allah saja, sebab Dia-lah yang menciptakannya dan memberikan petunjuk kepadanya. Adapun selain Allah yang tak mampu mencipta dan memberi petunjuk (taufiq), maka ia tak pantas disembah. Ini adalah isyarat tentang batilnya penyembahan berhala atau makhluk seluruhnya!! [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/150)]

Para pembaca budiman, dewasa ini kejahilan tentang tauhid amat merebak di kalangan awam kaum muslimin sehingga banyak fenomena dan realita yang kita temukan amat bertentangan makna dan konsekuensi kalimat tauhid. Lantaran itu, muncullah disana kiyai-kiyai dan ustadz-ustadz yang dipertuhankan sebagaimana para pendeta dipertuhankan di kalangan Yahudi dan Nasrani sebagaimana firman-Nya,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (QS. At-Taubah : 31)

Mereka Ahli Kitab mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, padahal mereka tahu hakikatnya. Dari sini mereka menghalalkan khomer (minuman yang memabukkan), babi, membuat gambar makhluk bernyawa, salib, membuat paham Pengampunan Dosa, menyatakan boleh menyembah Isa dan Uzair sebab keduanya adalah anak Allah menurut petunjuk pendeta mereka yang sesat. Sejak itu mereka menetapkan doktrin TRINITAS (Tiga Oknum) yang disembah dari selain Allah. Gejala seperti ini juga ada pada kaum muslimin; jika kiyai bilang ini boleh, maka semua orang bilang boleh, walapun itu syirik dan kekufuran yang diharamkan Allah!!!

Seorang ingin dikatakan muslim yang terlindungi harta dan darahnya di dalam Islam, maka ia harus memahami makna tauhid, dan meyakni kalimat tauhid beserta dua rukunnya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

” Barangsiapa yang menyatakan bahwa TIADA ILAAH YANG HAQ SELAIN ALLAH, dan mengingkari semua yang disembah dari selain Allah, maka haram (terjaga) harta, dan darahnya. Sedang perhitungannya kembali kepada Allah”. [HR. Muslim (129)]

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- berkata, “Mengingkari semua yang disembah dari selain Allah, artinya: berlepas diri dari peribadahan kepada selain Allah, dan meyakini bahwa peribadahan itu adalah batil”. [Lihat Tuhfah Al-Ikhwan (hal. 26)]

Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 112 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.

Sumber : almakassari.com

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s