Pembelaan atas negeri Saudi


Penulis : Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz

Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan untuk kita agama ini dan telah mencukupkan untuk kita nikmat-Nya, serta telah meridhai Islam sebagai agama kita.Shalawat dan salam sejahtera semoga tetap terlimpah kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Nya yang menyeru menuju ketaatan kepada Tuhannya, sekaligus menyampaikan peringatan keras terhadap sikap berlebihan (ghuluw) bid’ah dan maksiat. Semoga shalawat dari Allah tetap terlimpah kepada beliau, kepada keluarga dan sahabat serta umat beliau yang berjalan pada garis beliau dan mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat.

Sebuah Makalah Di Mingguan Idarat (India) Bermuatan Misi Serangan Terhadap Negara Pendukung Salaf

Telah saya telaah sebuah makalah yang dimuat di warta mingguan Idarat (dalam bahasa Urdu) yang terbit di kota Kanvoor, sebuah kota industri di daerah Attabaradish, pada halaman muka. makalah itu bermuatan serangan lewat media massa untuk menghantam kerajaan Saudi Arabia yang hingga kini tetap berpegang pada Akidah Islam yang dianutnya, dan menyatakan perang terhadap aneka bid’ah. Lebih dari itu, Makalah ini telah menunding aqidah Salaf, yang selama ini menjadi garis haluan Pemerintah Saudi, sebagai ajaran diluar aqidah sunni. Di balik tulisan ini, rupanya penulis makalah tersebut bertujuan memecah belah golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan memotivasi munculnya berbagai bid’ah dan khurafat.
Tidak diragukan lagi, bahwa ini adalah suatu siasat licik dan ulah yang berbahaya yang bertujuan melecehkan Islam dan menyebar luaskan berbagai bid’ah dan ajaran sesat.

Kemudian secara jelas ,makalah itu menitik-beratkan pembahasannya pada masalah penyelenggaran acara maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menjadikan masalah ini titik tolak untuk mengorek aqidah Pemerintahan Saudi.

Oleh sebab itu, saya pandang perlu mengungkap masalah ini dengan memberikan penjelasan yang semestinya, seraya memohon pertolongan dari Allah Ta’ala.

Peringatan Maulid Bukan Dari Ajaran As-Sunnah

Penyelenggaraan acara maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan semacamnya, adalah tidak boleh hukumnya. Bahkan wajib dicegah. Karena hal itu adalah hal yang baru yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah melakukannya, dan tidak pernah pula memerintahkannya, baik untuk hari kelahiran beliau sendiri , atau untuk kelahiran seorang nabi dari sekian nabi yang telah wafat sebelum beliau, atau untuk hari kelahiran puteri-puteri dan istri-istri beliau, atau untuk salah seorang sanak kerabat maupun sahabat beliau.

Acara maulid ini tidak pernah pula dilakukan oleh para Khulafa’ Rasyidin atau sahabat yang lain –semoga Allah melimpahkan ridha kepada mereka– atau para tabi’in, bahkan oleh para ulama’ syari’ah dan as-sunnah pada tiga generasi yang dinyatakan keunggulan mereka (generasi abad pertama, kedua, ketiga hijrah)( Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:

“Sebaik-baik generasi adalah generasi di masa keberadaanku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” HR Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim).

Padahal merekalah generasi yang paling mengerti tentang as-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan paling taat mengikuti Syari’at beliau, dibanding generasi setelah mereka. Seandainya penyelenggaraan acara maulud ini baik, pastilah mereka telah melakukan hal itu lebih dahulu dari pada kita.

Kewajiban Mengikuti As-Sunnah dan Menjauhi Bid’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menyuruh kita mengikuti sunnah beliau dan melarang kita mengadakan acara ritual baru (bid’ah). Karena agama Islam telah sempurna dan cukup apa yang disyari’atkan Allah dan RasulNya, dan yang diterima sebagai tuntunan As-Sunnah oleh Ahlussunnah wal- Jamaah, yaitu para Sahabat dan Tabi’in.

Di dalam hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “ Barang siapa mengadakan suatu amalan baru dalam Agama kami yang di luar syari’at kami. Maka amalan itu tertolak” (HR Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhori, Muslim dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha)

Hadits ini disepakati keshohihannya oleh para ulama as-Sunnah.

Dalam riwayat lain di Shahih Muslim

Artinya : “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syari’at kami. Maka amalnya itu tertolak”

Dalam hadits lain, beliau bersabda :
Artinya : Berpeganglah kamu sekalian pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rashidin setelahku. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat” ).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam khutbah Jum’at beliau :

Artinya : “Selanjutnya, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. Sebaik-baik ajaran adalah ajaran Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat” ) HR Ahmad, Abu Dawuud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Irbadh bin Sariyah rodhiallahu ‘anha. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Muslim dan Ibnu Majah, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhori, At-Tirmidzi dan An Nasa’I dari Ibnu Mas’ud, dari Ibnu ‘umar berkata:

Artinya : Setiap bid’ah adalah sesat miskipun dipandang baik oleh banyak orang(lihat : Al Ba’its ‘ala inkar al bida’ wa-l – hawadits oleh Abu Syamah As-Syafi’i )

Dalam hadits-hadits yang tertera diatas terdapat peringatan keras dari mengadakan berbagai bid’ah dan penegasan bahwa bid’ah adalah sesat. Ini semua agar menjadi peringatan bagi ummat Islam tentang besarnya bahaya bid’ah, sekaligus untuk mengajak mereka menjauhi tindakan melakukan bid’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya : “Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kamu terimalah ia. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kamu, tinggalkanlah”. (QS Al Hasyr 7)

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan(dalam hatinya, menurut ibnu Katsir arti fitnah di ayat ini adalah cobaan dalam hati yang berupa kekafiran atau kemunafikan atau bid’ah) atau ditimpa adzab yang pedih. (QS An Nuur 63)

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya :”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu , (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah. (QS Al Ahzab 21)

Allah Ta’ala berfirman :

artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah 100)

Ajaran Islam Telah Disampaikan Dengan Sempurna

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan Aku telah ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS Al Maidah 3)

Ayat ini menunjukkan secara jelas, bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan untuk ummat ini agama mereka dan telah mencukupkan bagi mereka nikmat-Nya. Sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak meninggal dunia kecuali setelah menyampaikan dakwah beliau secara paripurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pun menjelaskan bahwa segala ucapan maupun perbuatan (amalan) yang diada-adakan oleh orang-orang sepeninggal beliau dan mereka lakukan sebagai ajaran agama Islam, semua itu adalah bid’ah yang tertolak dan tercampakkan kembali kepada orang yang mengada-adakannya itu, meskipun tujuan orang itu baik.

Para Sahabat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para Ulama salaf sholih setelah mereka, menyampaikan peringatan keras terhadap bid’ah dan mengajak untuk menjauhinya. Hal itu, tiada lain karena bid’ah adalah merupakan ajaran tambahan yang dinisbahkan kepada Islam dan merupakan olah membuat-buat syari’at yang tidak dibenarkan dan tidak pula diizinkan oleh Allah, disamping hal itu merupakan tasyabbuh (perbuatan menyerupai) musuh-musuh Allah, yaitu yahudi dan Nasrani, dalam tindakan mereka menambah dan mengada-adakan hal yang baru dalam agama mereka, yang tidak dibenarkan dan tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Lebih dari itu, tindakan bid’ah, secara tidak langsung menyeret untuk mengatakan bahwa agama Islam masih kurang dan menuduhnya tidak sempurna.

Jelas-jelas ini adalah kekeliruan yang fatal dan tindakan mungkar yang sangat jelek, serta bertentangan dengan firman Allah Ta’ala disamping menyalahi hadits-haditsRasulullah yang secara nyata mengingatkan dengan keras dari berbagai bid’ah dan mengajak menjauhinya.

Dari pengadaan acara-acara maulid atau semacamnya tersimpul bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menyempurnakan agama (Islam) untuk ummat ini, dan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam belum tuntas menyampaikan apa yang senantiasa dilakukan oleh mereka, sehingga datanglah generasi belakangan (mutaakhkhirin) untuk mengadakan amalan baru dalam ayari’at Allah, yang hal itu tidak dibenarkan oleh Allah. Mereka mengira bahwa amalan-amalan baru yang mereka ada-adakan itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah.

Tanpa diragukan dalam rekaan mereka ini terkandung bahaya besar disamping ia bermuatan penantangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal Allah telah menyempurnakan agama ini untuk para hamba-Nya dan telah mencukupkan nikmat-Nya pada mereka. Rasulullah pun telah menyampaikan dakwah beliau sampai tuntas. Tidak ada satu jalan yang tidak beliau terangkan kepada ummat beliau.

Hal ini tertera pada hadits shahih :

Artinya : Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash –semoga Allah meridhai mereka- berkata : “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali Nabi itu berkewajiban menunjuki ummatnya (jalan) kebaikan yang ia ketahui untuk mereka dan menyampaikan peringatan terhadap(jalan) kejahatan yang ia ketahui berdampak buruk untuk mereka” (Hadits Riwayat Muslim dalam shahihnya) .

Secara yakin kita tahu bahwa Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah Nabi yang mulia, Nabi terakhir yang paling sempurna dalam menunaikan tugas tabligh dan membina umat. Seandainya pengadaan acara maulid itu adalah termasuk ajaran Islam yang diridhai Allah untuk para hamba-Nya, tentu Rasulullah menjelaskan kepada umat, atau tentu para Sahabat beliau melakukannya. Karena hal itu tidak pernah dijelaskan Rasulullah dan tidak pernah dilakukan oleh Sahabat beliau, maka jelaslah bahwa ia di luar ajaran Islam, bahkan termasuk ajaran-ajaran baru, yang umat ini diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam agar tidak melakukannya, sebagaimana tertera dalam hadits-hadits diatas.

Secara tegas, sejumlah ulama’ mengatakan bahwa acara maulid dan semacamnya adalah amalan yang salah. Merekapun menyampaikan peringatan keras terhadap hal itu, sebagai pengamalan dan penerapan dalil-dalil yang tertera diatas dan lainnya.

Kembali Kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah Dalam Menentukan Hukum

Sebagai mana dimaklumi dari kaidah syar’i bahwa penentuan halal atau haram dan pemutusan perselisihan dalam hal ini hendaklah dengan merujuk kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu . Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat, demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik sesudahnya”. (QS An Nisaa 59)

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya (hendaklah di kembalikan) kepada Allah”. (QS Asy Syuura 10)

Jika kita kembalikan masalah penyelenggaraan maulid atau semacamnya ini kepada Kitab Allah , maka kita dapati al-Qur’an menyuruh kita mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam segala apa yang beliau bawa. Al-Qur’an pun memberi peringatan keras terhadap apa yang beliau larang Al-Qur’an juga memberi informasi kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan agama, untuk umat ini, yang wajib mereka anut. Sementara, acara maulid atau semacamnya bukanlah termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dengan demikian, berarti amalan ini diluar ajaran agama Islam yang sudah Allah sempurnakan untuk kita dan dia perintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam melaksanakannya.

Lalu, jika kita kembalikan hal ini kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka kita pun tidak mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan atau merintahkannya. Begitu pula para Sahabat beliau-radhiallahu ‘anhum- tidak pernah melakukannya, dengan demikian kita ketahui dengan yakin bahwa pengadaan maulid atau semacamnya bukanlah dari ajaran Islam. Bahkan justru tegolong bid’ah yang diada-adakan, dan tergolong meniru secara buta kepada ahli kitab dari kalangan oarang-orang Yahudi maupun Nasrani dalam upacara-upacara hari besar mereka.

Dari keterangan diatas jelaslah bagi orang yang memiliki pemgetahuan walaupun sedikit, dan memiliki minat pada kebenaran serta memiliki sikap adil dan obyektif dalam mencari kebenaran .bahwa penyelenggaraan hari lahir, dengan segala macamnya , adalah diluar ajaran Islam bahkan tergolong bid’ah, yang kita diperintah Allah dan Rasulnya untuk meninggalkan dan berhati-hati agar tidak terpelosok didalamnya.

Seyogyanya orang yang berakal sehat tidak terperdaya oleh banyaknya orang yang melakukannya diberbagai belahan bumi ini . karena kebenaran tidaklah diketauhi lantaran banyaknya orang yang melakukannya, akan tetapi ia dikenali hanya melalui dalil-dalil syar’i Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani :

Artinya: “Dan merekalah (orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanyalah) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah: “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS Al Baqarah 111)

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan mwnyesatkan engkau dari jalan Allah”. (QS Al An’am 116)

Bentuk-Bentuk Penyenyimpangan Di Balik Acara Maulid

Pada umumnya, di samping acara-acara ini memang bid’ah, sering kali, di beberapa negara, diwarnai hal-hal mungkar lainnya, seperti campur aduknya pria dan wanita, pementasan nyanyian-nyanyian dan instrument-instrument musik, minum-minuman keras dan narkotika serta ragam buruk lainnya .
Kadang-kadang terjadi kemungkaran yang lebih besar dari itu semua , yaitu syirik besar. Syirik ini terselubung dalam sikap berlebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam atau terhadap para wali, pemujaan dan Pemanjatan doa kepada Nabi e, permohonan selamat kepada beliau, permintaan kekuatan kepada beliau, keyakinan bahwa beliau mengetahui yang ghaib dan hal-hal lain yang menyeret pelakunya menjadi kafir.

Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “Hindarilah sikap berlebihan dalam (pengamalan) Agama, tiada lain sikap berlebihan dalam (pengamalan) Agama telah menjadikan binasanya umat sebelum kamu“.

Rasulullah juga telah bersabda :

Artinya : “ janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan memuji(Isa) putera Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Karenanya sebutlah (aku) hamba Allah dan Rasulnya “ (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukharidalam shohihnya).

Yang mengherankan, adalah bahwa banyak orang sibuk dan bersikeras untuk menghadiri acara-acara pertemuan maulid dan semacamnya yang bid’ah ini dan mempertahankan serta membelanya. Sementara mereka absen menghadiri sholat jum’at dan sholat jamaah yang hukumnya wajib. Mereka acuh tak mengangkat kepala sedikitpun untuk memenuhi panggilan sholat Jum’at atau sholat jama’ah. Anehnya dalam kondisi seperti ini ia tidak merasa melakukan kemungkaran yang besar. Tidak diragukan, bahwa ini adalah akibat lemahnya iman , tipisnya ilmu dan menebalnya bintik-bintik noda di hati oleh sebab berbagai dosa dan kemaksiatan. Kita panjatkan permohonan kepada Allah, kiranya dia mengaruniai kita dan segenap umat Islam kesejahteraan lahir dan batin.

Lebih aneh lagi sebagian mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam hadir dalam acara maulid itu. Karenanya, mereka berdiri untuk memberikan salam kehormatan dan ucapan marhaban (selamat datang).

Ini adalah suatu puncak kebatilan dan seburuk-buruk kebodohan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah keluar dari kuburan beliau sebelum hari
Kiamat, dan tidak pula bekomunikasi dengan manusia, serta tidak juga menghadiri pertemuan-pertemuan yang mereka adakan. Bahkan sebaliknya, beliau menetap dikuburan sampai hari kiamat. Sedang roh suci beliau disemayamkan di tingkat teratas di “illiyyin” di istana kemuliaan ( dar al-karamah) di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Kemudian kamu setelah itu benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan dibangkitkan”.(QS Al Mu’minun 15-16)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “Aku adalah orang yang pertama kuburnya terbelah dan terbuka dihari kiamat . Aku adalah orang yang pertama memberi syafaat dan orang pertama yang di beri wewenang untuk mmberikan syafa’at”

Ayat dan hadits di atas, juga ayat-ayat dan hadist-hadits lain yang semakna dengannya menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan orang-orang yang telah mati lainnya, mereka hanyalah dapat keluar dari kuburan mereka pada hari kiamat. Ini menjadi ijma’(kesepakatan) para ulama’ dan tidak ada perselisihan pendapat diantara mereka.

Oleh sebab itu , seyogyanya seorang muslim memiliki kepekaan terhadap hal-hal semacam ini, dan hendaknya waspada terhadap aneka bid’ah dan khurafat yang diada-adakan oleh orang orang bodoh atau semacamnya, yang tidak pernah Allah menurunkan hujjah yang mendukung hal itu.

Adapun beshalawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah termasuk ibadah yang paling utama dan salah satu dari sekian amal shalih.

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : Sesungguhnya Allah dan Malikat-Nya bershalawaat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman , bershalawatlah untuk dia dan ucapkanlah salam penghormatan padanya” (QS Al Ahzab 56)

Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “ Barang siapa bershalawat utukku satu kali, maka Allah akan beshalawat (dengan melimpahkan rahmat-Nya) kepadanya sepuluh kali”.

Bershalawat ini disyari’atkan di segala waktu , bershalawat sangat ditekankan untuk dilakukan pada akhir setiap shalat. Bahkan menurut kebanyakan ulama’ wajib dilakukan di tahiyat akhir pada setiap shalat, dan sunnah muakadah (sangat dianjurkan, red) dilakukan dibanyak tempat , diantaranya : seusai adzan, disaat nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam disebut , pada malam Jum’at dan berikutnya di hari Jum’at , sebagaimana ditunjukkan di banyak hadits.

Inilah hal-hal yang saya maksudkan untuk dijelaskan masalah ini. Kiranya cukup jelas bagi orang yang di buka dan diterangi mata hatinya oleh Allah.

Menyelenggarakan Maulid Bukan Cermin Cinta Kepada Rasulullah

Sungguh sangat menyedihkan, bahwa yang melakukan acara-acara maulid atau semacamnya yang bid’ah ini adalah umat Islam yang patuh terhadap aqidahnya dan menyatakan kecintaannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Kini, kami sodorkan pertanyaan kepada mereka itu : “Jika anda berpegang pada aqidah sunni dan patuh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adakah beliau atau salah seorang Shahabat beliau ataupun tabi’in yang melakukan itu ? Atau ini justru taqlid buta terhadap musuh-musuh Islam, seperti orang-orang Yahudi, Nasrani atau orang-orang yang setipe meraka ?”

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah tercermin pada penyelenggaraan maulid . Tetapi harus tercermin pada :
a. Kepatuhan terhadap apa yang beliau perintahkan,
b. Meyakini apa yang beliau turunkan.
c. Menjauhi apa yang beliau larang.
d. Hendaknya jangan menyembah atau beribadah kepada Allah kecuali dengan tatanan yang disyari’atkan oleh Allah (melalui Rasul-Nya).
e. Disamping itu, tanda kecintaan kepada Rasulullah hendaknya diwujudkan dengan bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika nama beliau disebut, baik saat di dalam shalat maupun pada kesempatan lain.

Wahabi Pelanjut Gerakan Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah

Kelompok Wahabi –demikian istilah yang dipakai oleh penulis di berita mingguan urdu itu- bukanlah kelompok baru dalam menyatakan salahnya acara-acara bid’ah semacam ini. (Wahabi dinisbahkan kepada pengikut seorang hamba Allah, Abdul Wahhab, yakni Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, red)

Akidah Wahabi dilandaskan pada :
a. Berpegang teguh kepada kitab Allah.
b. Berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah.
c. Berjalan pada garis ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dan garis ajaran Khulafa’ Rasyidin setelah beliau serta para Tabi’in dan
d. Meniti jejak para ulama’ al-Salaf al-Sholih, para imam terkemuka dalam Islam, yaitu para ahli fiqih dan taqwa.

Inilah landasan Akidah Wahhabi dalam hal Ma’rifatullah dan Itsbatush Shifah (penetapan sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan dan ke-Maha Agungan Allah ) yang diturunkan oleh al-Qur’an dan tertera dalam hadits-hadits shahih serta yang dipegang teguh oleh para sahabat Rasul- Shalallahu ‘alaihi wassalam-. Wahabi menetapkan, mengimani dan menerima apa adanya sifat-sifat Allah itu :
– Tanpa tahrif (mengubahnya)
– Tanpa ta’thil (meniadakan ma’nanya)
– Tanpa takyif(mempertanyakan bagaimana atau mengandaikannya), dan
– Tanpa tamtsil (menyerupakan dengan sifat-sifat Makhluk).

Wahabi berpegang pada dasar-dasar aqidah yang dianut oleh para ahlul ‘ilmi wat-taqwa generasi pendahulu(salaf) dan para imam umat ini yaitu para tabi’in dan pengikut setia mereka, mereka mengimani bahwa dasar dan fondasi iman adalah :

Artinya: Kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.

Syahadat ini adalah dasar iman, ia harus mengandung ilmu (pengertian dan keyakinan), amal(tindakan) dan pernyataan lesan, sebagaimana hal itu telah menjadi ijma’ umat Islam.

Kandungan arti syahadat ini adalah :
a. Kewajiban beribadah (mengabdi) kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan
b. Bara’ah (berlepas diri) dari penyembah kepada selain Allah, apapun dan siapapun dia.
Inilah hikmah (Inti tujuan ) diciptakannya Jin dan Manusia. Untuk tujuan ini pula para Rasul diutus dan kitab-kitab Ilahi diturunkan.

Syahadat ini juga mengandung :
a. Puncak (klimaks) rasa rendah dan rasa cita kepada Allah semata, dan
b. Puncak (klimaks) rasa taat dan pengagungan kepada-Nya.

Inilah din al-Islam (agama Islam) yang Allah tidak akan menerima agama apapun selainnya baik itu dari kaum-kaum terdahulu maupun dari kaum-kaum yang datang kemudian. Karena seluruh nabi berpegang kepada dien al-Islam ini dan merekapun diutus untuk menyeru menuju al-Islam , dan menuju apa yang dikandung oleh makna al-Islam itu, yaitu al-istislam (berserah diri) kepada Allah semata.

Maka orang yang berserah diri kepada Allah dan kepada selain-Nya, atau memanjatkan do’a kepada Allah dan kepada selain-Nya ia adalah musyrik, dan barang siapa yang tidak berserah diri kepada-Nya, ia berarti mustakbir, angkuh dan enggan menyembah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus ke kalangan masing-masing umat seorang rasul untuk menyeru “Sembahlah (beribadahlah) kepada Allah dan jauhilah thoghut”.

Akidah Wahabi berasaskan pada pewujudan syahadat (kesaksian) bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dengan konsekwensi menolak segala aneka bid’ah dan khurafat serta segala yang bertentangan dengan syari’at yang dibawa Rasulullah, Muhammad.
Inilah aqidah yang diyakini, dianut dan didakwahkan oleh syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab –rahimahullah-. Barang siapa yang menisbatkan (melekatkan) kepada beliau aqidah lain yang bertentangan dengan aqidah di atas , berarti ia telah melakukan kedustaan dan berbuat suatu dosa yang nyata serta menyatakan suatu hal yang ia tidak memiliki ilmu tentang hal itu, yang kelak akan dibalas oleh Allah sebagaimana layaknya ancaman kepada para perekayasa kedustaan dan fitnah.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab telah memaparkan sejumlah tulisan tetang fiqh (dalam madzhab Imam Ahmad ibn hanbal).Beliau juga menulis beberapa bahasan dan kajian yang memiliki kekhasan dalam penyuguhan, dan karya-karya tulis yang bagus seputar Kalimatul-Ikhlas wat-Tauhid dan arti syahadat (kesaksian) terhadap serta tentang kandungan makna kalimah syahadat itu, yang diturunkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’, yang tersimpul dalam dua hal :
a. Pernyataan bahwa selain Allah tidak berhak untuk disembah dan dipertuhankan.
b. Penetapan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah dan dipertuhankan. Penyembah (ibadah\ubudiah) kepada Allah ini wajib dilakukan semurni-murninya dan sesempurna-sempurnanya, terbebas dari unsur syirik (penyekutuan) baik yang kecil maupun yang besar, baik yang nyata maupun yang samar.

Orang mengetahui karangan-karangan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dan data-data akurat tentang pikiran, dakwah dan jejak perjuangan beliau, serta mengetahui aqidah yang dipegang oleh kawan seperjuangan dan murid-murid beliau, nyatalah baginya bahwa Syeikh adalah sosok yang konsisten pada aqidah pemurnian tauhid dan perjuangan membasmi bid’ah dan khurafat. Dan itulah garis para as-Salaf as-Shaleh dan para imam terkemuka.

Saudi Berusaha Menapak-Tilasi Jejak Salaf

Alhamdulillah diatas garis inilah Pemerintah Saudi tegak. Para Ulama’nyapun meniti garis itu. Pemerintah Saudi tidaklah bersikap keras kecuali dalam menentang bid’ah dan khurafat yang menodai Agama Islam dan dalam mendobrak sikap ghuluw (melampaui batas dalam menjalankan agama) yang hal itu dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Ulama’ Islam di Saudi, para ulama’ dan penguasanya sangat menghormati setiap muslim. Mereka hunjamkan di hati mereka rasa loyalitas, pembelaan, cinta dan penghargaan tinggi kepada setiap muslim dari negara dan arah manapun.

Mereka hanyalah menentang dan tidak mentolerir ulah para pendukung aqidah sesat yang mengadakan aneka bid’ah dan khurafat serta peringatan hari-hari besar bid’ah. Pengadaan dan penyelenggaraan pertemuan untuk acara-acara bid’ah itu adalah termasuk hal-hal yang tidak diizinkan dan tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Para ulama’ dan penguasa Saudi mencegah hal itu karena ia adalah termasuk amalan-amalan baru yang diada-adakan, sedangkan setiap amalan-amalan baru seluruh umat Islam diperintah mengikuti As-Sunnah, bukan diperintah mengada-adakan bid’ah , Karena agama Islam adalah sempurna dan cukup apa yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam dan apa yang diterima sebagai ajaran as-Sunnah oleh Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu para sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti garis mereka.

Pelarangan terhadap penyelenggaraan maulid, hal-hal yang mengandung sesuatu yang melampaui batas dalam agama (ghuluw) atau mengandung kemusyrikan dan yang serupa bukanlah tindakan yang non-Islami atau penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Akan tetapi itu justru suatu ketaatan kepada beliau dan pelaksanaan perintah beliau. Dalam kaitan ini beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Artinya : “Jauhilah oleh kamu ghuluw (sikap berlebihan dan melampui batas) dalam agama. Sesungguhnya penyebab kehancuran kaum sebelum kamu adalah sikap ghuluw dalam agama.”

Dan beliaupun bersabda :

artinya : “Janganlah kamu berlebihan memujiku sebagai mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji dan menyanjung (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Karenanya, sebutlah (aku) : “Hamba Allah dan rasul-Nya”.

Penutup

Inilah yang ingin saya jelaskan dalam menyanggah makalah yang dimuat di warta mingguan IDARAT (INDIA). Kepada Allah saja kita panjatkan permohonan , semoga Dia melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kepada seluruh umat Islam untuk dapat memahami agama Allah dan tetap teguh padanya. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Karunia,. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau.

Pimpinan Umum
Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam
Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz.

(Dikutip dari tulisan edisi bahasa Indonesia Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah, ditulis oleh Pimpinan Umum Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz, Depag Saudi Arabia).

Sumber: http://www.salafy.or.id

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s