Pertolongan Allah Diatas Pertolongan Hamba Kepada Saudaranya


Oleh : Abu Sufyan Abdul Aziz

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dewasa sekarang jika kita melihat pada pemberitaan media masa, maka akan banyak kita jumpai banyak sekali kasus-kasus yang jika kita cermati membuat hati ini menjadi merinding, seorang bapak yang merampok demi memberi sesuap nasi untuk keluarganya, seorang anak mencuri untuk biaya sekolahnya, bahkan seorang ibu rela menjual anak gadisnya karena terhimpit dengan kemiskinan, dan lain sebagainya. Hal itu semua tidaklah terjadi melainkan karena melemahnya iman seseorang dan sudah menipisnya kepedulian kita pada lingkungan sekitar kita. Memang terasa berat bagi kita untuk memberikan secuil harta kita kepada orang yang notabene bukanlah keluarga atau karib kerabat kita. Oleh karena itu, dengan izin dari Allah subhanahu wa ta’ala, kami dengan sedikit keilmuan yang ada pada kami memberikan sedikit motivasi bagi kita semua agar mau peduli dengan saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Satu hadits dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ, و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ, و مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّهِ, و ما اجْتَمَعَ قَومٌ في بَيتٍ مِنْ بُيُوتِ الله يَتْلُونَ كِتَابَ الله و يَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَا نَزَلَتْ عَلَيهِمُ السَكِينَةُ غَشِيَتْهُم الرَحْمَةُ و حَفَتْهُم المَلَائِكَةُ و ذَكَرَهُم الله فِيمَنْ عِندَهُ, و مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسْبُهُ

“Barang siapa yang membantu seorang muslim menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya dari kesuliatan-kesulitan dunia, maka Allah akan hilangkan baginya kesuliatan dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak. Barang siapa yang mempermudah orang yang dalam kesulitan maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat, dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka maka Allah akan menutupi dirinya di dunia dan akhirat.  Dan Allah tetaplah dalam membantu seorang hamba selama hamba tersebut tetap membantu saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam memuntut ilmu maka Allah akan mempermudah baginya jalan untuk menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum, mereka berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mereka mempelajarinya melainkan turun kepada mereka ketentraman dan mereka diliputi oleh rahmat, dan dinaungi oleh malaikat dan mereka dipuji, disebut-sebut oleh Allah di hadapan para malaikatnya. Dan orang yang lamban amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR Muslim)

Hadits ini begitu agung dan begitu besar maknanya, mencakup banyak kaidah-kaidah penting dalam syariat islam, dan juga mempunyai banyak faidah di dalamnya. Dan tentunya pantas bagi setiap muslim untuk mempelajarinya dan mengamalkannya.

Dalam hadits ini terdiri dari beberapa poin penting, yang insyaAllah, dengan pertolongan Allah kami akan membahasnya.

Poin pertama yaitu penggalan hadits :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ

“Barang siapa yang membantu seorang muslim menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya dari kesuliatan-kesulitan dunia, maka Allah akan hilangkan baginya kesuliatan dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak”

“Al Kurbah” artinya adalah situasi sulit atau kondisi yang berat, sedangkan “naffas, yunaffisu tanfiisan” artinya menghilangkan kesulitan dan mengangkatnya. Maka maksud dari penggalan yang pertama ini adalah bahwasanya kita sebagai seorang muslim untuk berusaha keras membantu saudara kita yang sedang dalam situasi yang sulit baik dalam urusan harta, kesehatan, keluarga, ataupun urusan yang lain. Maka balasan yang akan kita peroleh dari Allah adalah dimudahkannya kita di hari kiamat kelak. Ini selaras dengan kaidah yang disebutkan oleh para ulama “Al jazaa min jinsil ‘amal”, balasan dari Allah adalah sejenis dengan amal perbuatannya.

Seperti yang kita ketahui bahwasanya urusan di hari kiamat kelak begitu besar dan jauh lebih besar dari urusan di dunia. Maka dari itu balasan yang Allah berikan kepada seorang muslim jika dia membatu saudaranya adalah balasan yang sangat besar. Merupakan dorongan bagi kita untuk berusaha membantu saudara kita dalam menghadapi masalahnya di dunia, sesuai dengan kemapuan yang kita miliki, jika kita mampu membantu saudara kita dengan tenaga kita, maka kita bantu dia dengan tenaga kita, jika kita mampu membantu saudara kita dengan harta kita maka kita bantu dia, jika kita tidak mampu membantu sedikitpun untuk saudara kita, minimal kita doakan kita agar Allah memudahkan urusannya. Inilah bentuk ihsan kita kepada saudara kita.

Poin kedua yaitu penggalan hadits :

و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ

Barang siapa yang mempermudah orang yang dalam kesulitan maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.

Penggalan ini hampir sama dengan penggalan yang pertama, yaitu adanya balasan yang setimpal dengan amalannya. Apabila saudara kita mempunyai kewajiban kepada kita, dan telah jatuh tempo pembayaran sedangkan dia belum bisa membayarnya karena dia masih dalam kesulitan, maka kita permudah dia, kita beri waktu yang lunak dalam pembayarannya tidak ada jangka waktunya atau bahkan bisa dianggap lunas hak kita atas saudara kita dan ini lebih utama bagi kita. Sebagaimana firman Allah :

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah : 280)

Dan balasan dari Allah begitu besar atas orang yang mempermudah saudaranya yang sedang mengalami kesulitan, yaitu Allah mempermudah atasnya baik di dunia dan akhirat.

Poin ketiga yaitu penggalan hadits :

و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ

“barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka maka Allah akan menutupi dirinya di dunia dan akhirat”

Pada bagian ini Rasul sabdakan tentang keutamaan menutupi aib seorang muslim, baik secara khilqian (bentuk penciptaan/fisik) atau khuluqiyan (akhlaq). Maka wajib bagi kita untuk menutupi aib saudara kita, jika aib itu adalah aib pribadi/fisik maka bentuk menutupinya adalah dengan tutup mulut dan tidak menyampaikan pada siapapun. Kalau aibnya berupa maksiat/akhlaq yang buruk yang ada pada saudara kita, maka selain kita tidak menceritakan kepada orang lain, juga kita menasehatinya bahwasanya yang dilakukan adalah suatu keharaman. Inilah adab dalam pergaulan yang telah diatur oleh Islam.

Penutupan aib ini bagi saudara kita yang memang dikenal kebaikannya dan keshalihannya, sehingga harga dirinya tetap terjaga di pandangan orang lain, inilah yang dimaksud dalam hadit di atas. Akan tetapi jika orang yang mempunyai aib adalah orang yang memang dikenal sebagai orang yang rusak, dhalim, dan jahat maka jika ini ditutupi maka akan membantu dia untuk tetap dia atas kejahatan dan kerusakannya. Maka terhadap orang ini perlu disampaikan kepada orang yang bisa memberi pengaruh kepadanya, baik kepada pemerintah untuk menagkapnya atau kepada ulama untuk menasihatinya. Yang diinginkan dari hadits ini adalah bentuk ihsan, jika menutupi aib seorang penjahat malah membantu kejahatannya, maka ini bukanlah bentuk ihsan bahkan ini adalah bentuk kejelekan, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah : 2)

Kemudian poin keempat dari hadits ini adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Dan Allah tetaplah dalam membantu seorang hamba selama hamba tersebut tetap membantu saudaranya”

Kalimat ini merupakan kalimat yang begitu dalam dan bermanfaat, jika kita cermati bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala membantu seorang muslim sesuai kadar orang tersebut membatu saudaranya, bagaimanapun dan kapanpun. Maka jika seseorang senantisa membantu saudaranya, maka Allah juga akan senantiasa membantunya. Dan di hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته

“barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah Allah akan membatu dalam keperluannya.”

Ini anjuran dan dorongan yang Allah syariatkan kepada setiap muslim untuk senantiasa membantu saudaranya, sesuai dengan kadar kemampuan yang dia miliki. Ini juga merupakan bentuk pengajaran yang sangat bagus dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk selalu peduli sekitar kita, dan ini diamalkan dan dicontohkan oleh Imam Mujahid rahimahullah : “aku kadang ikut bersama Ibnu Umar dalam safarnya untuk berkhidmat kepadanya (mengambilkan air wudhu, dll), jutru aku dapati Ibnu Umar yang berkhidmat kepadaku (membatu urusan-urusanku).”

Poin berikutnya dari hadits diatas :

و مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّهِ

“Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam memuntut ilmu maka Allah akan mempermudah baginya jalan untuk menuju surga.”

Ini merupakan anjuran yang besar bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu, tentunya ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu tentang agama Islam yang mulia ini. Dan juga anjuran untuk melakukan langkah atau perjalanan baik berupa safar ke daerah lain dimana ulama berada atau jalan yang ditempuh bisa juga berupa membaca, menghafal atau mengulang-ulang pelajaran. Sebagaimana para sahabat dan ulama telah melakukannya, mereka melakukan perjalanan ke daerah lain dengan menempuh perjalanan yang panjang, walaupun hanya mengejar satu hadits. Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Kalau saja aku tahu ada orang lain yang lebih mengetahui dariku tentang kitabullah selama mampu didatangi dengan tunggangan, aku akan mendatanginya.”

Ini dikarenakan mereka para sahabat dan para ulama memahami tentang hadits ini, karena balasan yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ada berupa surga. Allah ta’ala memberikan balasan berupa surga kepada seseorang yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, hal ini dikarenakan dengan ilmu, maka ibadah seseorang menjadi benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan ilmu pula seseorang akan semakin khasyah (takut) kepada Allah, sebagaiman dalam firmanNya :

“Sesungguhnya yang takut (disertai dengan ilmu) kepada Allah adalah ulama (orang yang berilmu)” (Faathir : 28)

Kemudian poin berikutnya dari hadit diatas :

و ما اجْتَمَعَ قَومٌ في بَيتٍ مِنْ بُيُوتِ الله يَتْلُونَ كِتَابَ الله و يَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَا نَزَلَتْ عَلَيهِمُ السَكِينَةُ غَشِيَتْهُم الرَحْمَةُ و حَفَتْهُم المَلَائِكَةُ و ذَكَرَهُم الله فِيمَنْ عِندَهُ

“Dan tidaklah suatu kaum, mereka berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mereka mempelajarinya melainkan turun kepada mereka ketentraman dan mereka diliputi oleh rahmat, dan dinaungi oleh malaikat dan mereka dipuji, disebut-sebut oleh Allah di hadapan para malaikatnya”

Yang di maksud rumah Allah disini adalah masjid, karena sesungguhnya rumah Allah adalah masjid sebagaimana dalam firmanNya :

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,” (An Nur : 36)

Penyandaran kata “rumah” kepada Allah, ini menunjukkan akan keutamaan masjid dibandingkat dengan tempat lain, karena masjid merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini, sebagaima sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam :

“Sebaik-baik tempat di muka bumi adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.”

Penggalan hadits di atas menunjukkan keutamaan masjid dan keutamaan mendatangi majelis-majelis ilmu, terutama yang dikerjaakan di masjid, karena Allah sebutkan keutamaan seseorang yang membaca kitabullah, mengajarkan ilmu di antara manusia. Maka Allah ta’ala menurunkan kepada mereka ketentraman, rahmat dan dinaungi oleh para malaikat bahkan nama mereka disebut-sebut oleh Allah di sisi para malaikat. Kita tidak memungkiri bahwa mendengarkan ilmu melalui radio, rekaman atau yang lainnya merupakan suatu kebaikan, akan tetapi jika dibandingkan dengan keutamaan yang disebutkan di atas maka tidak ada alasan bagi kita untuk mencukupkan diri mencari ilmu dari mendengarkan radio, rekaman saja dan meninggalkan majelis-majelis ilmu yang diadakan di masjid-masjid Allah.

Ini merupakan dorongan yang besar bagi kita, jika kita menginginkan keutamaan dalam mendapatkan ilmu, maka kita harus melangkahkan kaki kita, mengorbankan seluruh daya upaya kita baik berupa harta, tenaga dan waktu kita untuk mendatangi majelis-majelis ilmu. Karena yang namanya ilmu tidaklah didapat dengan rehatnya suatu jasad.

Poin berikutnya adalah penggalan hadits :

و مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسْبُهُ

“Dan orang yang lamban amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya”

Seseorang yang amalannya lamban untuk memasukkan dia ke dalam surga, maka nasabnya tidak dapat mempercepat untuk memasukkannya ke dalam surga. Karena terangkatnya derajat seseorang kepada derajat yang tinggi adalah amal shalihnya bukan nasabnya. Sebagaiman dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat :13)

Ini merupakan bantahan bagi mereka yang mengaku keturunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka para pengikutnya menganggap seolah-olah keturunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang suci dan pasti masuk surga, maka ini adalah anggapan yang kurang tepat dan bahkan keliru. Keturunan Rasulullah sekalipun, kalau dia melakukan kemaksiatan maka balasannya adalah neraka.

Ini juga merupakan dorongan dari Rasulullah bagi kita untuk senantiasa melakukan amal shalih, karena sebagus dan setinggi apapun nasab kita hal itu tidak bisa menjamin kita untuk selamat dari adzab Allah, jika kita melakukan banyak kemaksiatan. Dan sebaliknya hadits ini juga sebagai penyemangat bagi kita, ketika kita terlahir dari nasab yang rendah dan lingkungan yang rusak, akan tetapi kita tetap di atas aqidah yang lurus dan senantiasa dia atas sunnah serta meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, maka amal shalih bisa menjadi penolong bagi kita dari Adzab Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa faidah yang dapat diambil dari hadits di atas :

Dorongan untuk membantu saudaranya yang muslim sesuai dengan kemampuan kita, karena keutamaannya hal tersebut.

Menunjukkan bahwa adanya kesulitan dan kesempitan di hari kiamat. Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala :

“(ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (Al Hajj : 2)

Pemberian nama hari akhir dengan hari kiamat karena manusia pada hari itu berdiri setelah dibangkitkan dari kubur-kubur mereka, dan di hari itu tegaknya keadilan dan juga persaksian.

Dorongan untuk memberikan kemudahan kepada saudara kita yang sedang mengalami kesulitan.

Dorongan bagi kita untuk menutupi aib saudara kita jika terkandung di dalamnya suatu maslahah, dan boleh menyebarkannya jika menutupinya malah menimbulakan mafsadah (kerusakan).

Dorongan untuk senantiasa mencari ilmu, terlebih lagi dengan mendatangi majelis-majelis ilmu di masjid-masjid Allah.

Keutamaan berkumpulnya manusia dimana di dalamnya terdapat ilmu yaitu dengan membaca Al Quran maupun mengajarkan ilmu kepada yang lainnya.

Penjelasan tentang didapatkannya keutamaan-keutamaan dalam majelis ilmu yang dikerjakan di masjid-masjid.

Bahwa sesengguhnya nasab tidak bermanfaat, jika dia tidak beramal shalih.

Selayaknya bagi seseorang tidak tertipu dengan dirinya sendiri maupun dengan amalannya.

Demikian sedikit uraian motivasi bagi kita untuk senantiasa membantu saudara kita, semoga bermanfaat bagi kita semua dan kita juga memohon kepada Allah agar senantiasa mempermudah segala urusan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak

Sumber: http://misykatulatsar.wordpress.com/2012/05/14/pertolongan-allah-diatas-pertolongan-hamba-kepada-saudaranya/

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s