Surga dan Neraka Kekal


ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Kesesatan demikian beragam dan tak henti membiak. Di samping ada pihak yang mengingkari surga dan neraka, ada juga pihak yang tak memercayai kekekalan keduanya. Padahal petunjuk telah demikian gamblang diungkap dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dicampakkan ke manakah keimanan?

Saat kaku sejenak merambah badan. Napas pun mendesak tenggorokan. Sakratul maut ada di hadapan. Kala itu bakal ada perpisahan. Berpisah dari dunia yang selama ini didambakan. Dia segera menghadap Rabb yang telah menciptakan. Mempertanggungjawabkan segenap perbuatan semasa ruh dikandung badan. Sungguh beruntung bagi yang beriman lagi berbuat kebajikan. Duhai, sungguh celaka bagi yang tiada iman, berbuat kemungkaran dan berpaling dari kebenaran. Hari itu yang tersisa hanyalah penyesalan. Andai Allah memberi lagi kehidupan, tentu dia akan bersegera beramal kebajikan, menumpuk setinggi mungkin amalan. Namun, penyesalan hanyalah tinggal penyesalan.

Semestinya tumbuh kesadaran kala ada kehidupan bahwa dunia ini hanya sebatas tempat persinggahan. Bagai pengelana yang berteduh di bawah pepohonan. Sejenak rehat, lalu melanjutkan perjalanan.

Dunia hanya sebuah persinggahan. Tujuan akhir adalah kampung akhirat nan diliputi keabadian. Karenanya, taburilah hidup dengan amal kesalehan, agar di akhir tak ada penyesalan. Sungguh, tentang hal ini manusia telah banyak diingatkan. Allah berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

“Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya), ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.” (al-Qiyamah: 26—30)

“Pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’ Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (al-Fajr: 23—26)

Rasulullah pun mengingatkan:

مَا لِي وَللِدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apalah arti dunia bagiku. Tiadalah (bagi) aku dalam masalah dunia kecuali seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, lalu setelah itu meninggalkan (pohon) tersebut.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ ash-Shagir wa Ziyadatuhu, no. 5669)

Sungguh teguh para sahabat memegang agama. Upaya untuk senantiasa menyuburkan as-Sunnah tetap ada, walau jasad telah terbujur tanpa nyawa. Ini adalah bentuk penjagaan diri dari siksa api neraka. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Ya, upaya untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka tetap dilakukan walau ajal telah tiba. Dari ‘Amr bin Sa’d bin Abi Waqqash, sungguh ayahnya telah menyampaikan pesan saat sakit yang mengantarkan pada kematiannya, “Buatkanlah liang lahat untukku. Letakkanlah sebuah batu bata saja (di atas pusara/makam) sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah.” (Dikeluarkan oleh Muslim dan al-Baihaqi, 3/407, serta selain keduanya)

Diriwayatkan pula dari Abi Burdah, dia berkata:

“Abu Musa telah memberi wasiat saat tanda-tanda kematian menghampirinya. Dia berpesan, ‘Jika kalian membawa jenazahku, lakukanlah dengan berjalan cepat. Jangan kalian ikuti (jenazah)ku dengan bara dupa. Jangan ada pembatas (pemisah) antara aku (jasad) dan tanah pada liang lahat. Jangan jadikan kuburanku sebagai bangunan. Saksikanlah, sesungguhnya aku berlepas diri dari setiap wanita yang mencukur rambut kepalanya (saat tertimpa musibah), wanita yang berteriak-teriak seraya memukul-mukul wajahnya (saat ditimpa musibah kematian), dan wanita yang merobek-robek pakaiannya (kala mendapat musibah kematian).’ Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau pernah mendengar tentang hal ini (dari Rasulullah)?’ Abu Musa menjawab, ‘Ya, (aku telah mendengarnya) dari Rasulullah.” (HR. Ahmad 4/397, al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Hudzaifah berkata, “Apabila aku mati, jangan kalian umumkan (kematianku) kepada siapa pun, karena aku khawatir terjatuh pada perbuatan menyebarluaskan berita kematian (yang dilarang oleh Rasulullah). Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah melarang perbuatan an-na’yu (menyebar berita kematian dengan cara jahiliah).”[1] (HR. at-Tirmidzi 2/129. Lihat Ahkamul Janaiz wa Bida’uha hlm. 17—18, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

Demikian sikap penjagaan para sahabat terhadap sunnah Rasulullah. Keinginannya yang kuat untuk senantiasa berada di atas al-haq, tak semata saat mereka hidup. Namun, keinginan itu pun tetap diupayakan hidup walau dirinya telah wafat. Kematiannya tak menjadikan sunnah terhenti mati, bahkan terus berdenyut hidup. Maka, keadaan pusara mereka menjadi bukti betapa sunnah itu tetap lekat kuat.

Didikan Rasulullah guna berada di atas sunnah sedemikian tertanam kokoh. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah pernah menasihati seorang sahabat agar terus-menerus mengamalkan sunnah.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah bersabda:

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانَ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti fulan. Dahulu dia mengerjakan shalat malam, kemudian dia tinggalkan amalan shalat malam itu.” (HR. al-Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 185)

Bagi seorang muslim, dunia ini hanyalah ladang amal. Segenap ibadah dicurahkan demi menggapai kebahagiaan di akhirat kelak. Apa yang dia lakukan di dunia merupakan investasi bagi kehidupan akhirat saja. Segenap yang ada pada dirinya diarahkan guna memetik hasil di kampung akhirat. Jadi, seorang muslim melihat kehidupan ini tidak sesempit seperti hanya hidup di dunia semata. Namun, pandangan hidup muslim mengarahkan bahwa umur manusia jauh ke alam akhirat. Karenanya, dunia ini merupakan tempat persinggahan, serta dia dipacu untuk meraih ampunan dan surga yang disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah berfirman:

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 21)

Sungguh terhunjamnya keimanan kepada Hari Akhir pada diri seseorang akan mengarahkan perilaku dan sikap hidup dirinya menuju perilaku dan sikap hidup yang baik. Dia akan senantiasa berupaya agar menaati perintah Allah dan Rasul-Nya karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di Hari Akhir kelak.

Tidaklah demikian keadaan seseorang yang terikat dengan segala peraturan yang dibuat oleh manusia. Segenap undang-undang dan peraturan yang dibuat manusia tak akan memberikan pengaruh dalam pembentukan perilaku dan sikap mental hidup manusia, maka akan nyata sekali adanya garis pembeda antara aturan hidup manusia yang ditata berdasar akal pikiran manusia dengan aturan yang berdasarkan wahyu. Karena, ketika manusia menjalankan apa yang telah diwahyukan melalui Rasul-Nya Muhammad, dirinya berbuat dilandasi oleh keimanan. Dia meyakini dengan keimanannya bahwa apa yang dilakukannya merupakan amal kebaikan yang akan mendapat balasan di Hari Akhir. Dia menyadari bahwa dunia adalah ladang akhirat, karenanya dia mengumpulkan bekal dalam wujud takwa.

Allah berfirman:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)

Berbeda dengan manusia yang lalai dan tidak mengimani Hari Akhir. Pikirannya hanya sebatas dunianya. Dia bergiat dalam dunia semata untuk menumpuk harta kekayaan dan bersenang-senang. Tolok ukurnya hanya dunia. Umurnya dihabiskan demi mengejar ambisi keduniaannya. Tak ada sentuhan untuk beribadah. Allah berfirman:

Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus-menerus. Ia bertanya, “Bilakah hari kiamat itu?” (al-Qiyamah: 5—6)

Allah berfirman:

“Tentu mereka akan mengatakan (pula), ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan’.” (al-An’am: 29)

Betapa dangkal pikiran orang yang tak mengimani Hari Akhir. Kebodohan telah meliputi dirinya sehingga tak mampu melepas belenggu dunia. Dirinya tertipu dengan apa yang ada di dunia. Dirinya mengira tak akan dikembalikan kepada Yang Maha Pencipta. Allah berfirman:

“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mu’minun: 115)

Akan didapati pada sekelompok manusia pemuja dunia, semangat yang teramat sangat untuk hidup. Mereka seakan tak akan mati, rakus pada dunia, loba kepada kehidupan dunia yang senyatanya fana. Sikap hidup semacam ini lantaran hampa dari keimanan kepada Hari Akhir. Lalai kalau dirinya akan menemui Hari Kebangkitan, saat manusia dibangkitkan dari kuburnya, dikumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Dihisab, dihitung amalnya. Mempertanggungjawabkan segenap perbuatan saat di dunia. Manusia yang loba, rakus pada dunia, menginginkan hidup seribu tahun lagi. Padahal hidup nan panjang tiada akan menyelamatkannya dari siksa. Semua ini lantaran tiada iman kepada Hari Akhir.

Allah berfirman:

“Sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)

Ayat ini berkaitan dengan orang musyrik yang tak mengharapkan kebangkitan setelah kematian. Dia menginginkan kehidupan yang panjang. Adapun orang Yahudi, mereka telah mengetahui kehinaan yang akan menjadi bagian mereka di akhirat lantaran apa yang mereka lakukan terhadap ilmu yang dimilikinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/184. Lihat Asyratu as-Sa’ah, Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hlm. 31—32)

Termasuk keyakinan Ahlus Sunnah, yaitu mengimani surga dan neraka. Keduanya adalah makhluk yang tidak akan rusak selamanya. Sebagaimana disebutkan al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash-Shabuni bahwa Ahlus Sunnah bersaksi dan meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk. Keduanya kekal dan tidak akan rusak selamanya. Sesungguhnya penghuni surga tidaklah keluar dari surga selama-lamanya. Demikian penghuni neraka, mereka adalah penghuninya dan telah dicipta baginya, tidaklah akan keluar dari neraka selama-lamanya. Didatangkan kematian (maut) lalu disembelih di atas dinding batas antara surga dan neraka. Pada hari itu, ada yang menyeru, “Wahai penghuni surga yang kekal dan tidak mati! Wahai penghuni neraka yang kekal dan tidak mati!” Berdasarkan kabar yang sahih dari Rasulullah. (Aqidatu as-Salaf wa Ashabu al-Hadits, hlm. 77)

Berkaitan dengan keyakinan Ahlus Sunnah di atas, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan, “Demikianlah keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah yang membedakan dengan para pelaku kesesatan. Sesungguhnya Ahlus Sunnah mengimani bahwa surga dan neraka adalah makhluk. Maka seluruh kelompok sempalan meyakini bahwa ada surga dan neraka. Namun, Mu’tazilah dengan akal-akal mereka yang rusak menyatakan bahwa surga dan neraka hingga kini belum diciptakan. Karena apabila keduanya telah diciptakan di dunia sebelum adanya (hari) balasan dengan surga atau neraka, maka tentu yang seperti ini adalah hal yang sia-sia. Semoga Allah membinasakan mereka!”

Adapun dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah perihal masalah surga dan neraka sebagai makhluk berjumlah cukup banyak. Dari al-Qur’an, Allah berfirman tentang neraka, yaitu saat menantang orang-orang kafir untuk mendatangkan semisal al-Qur’an:

“Jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)

Penggalan ayat ﰃ yang bermakna sungguh Allah telah menyediakannya, maka berarti telah ada. Adapun firman Allah dalam ayat yang berbunyi:

“Disediakan bagi orang-orang kafir.”

Dalil dari hadits yang menunjukkan bahwa surga dan neraka telah ada, di antaranya Rasulullah telah memerintahkan untuk menunda waktu shalat sejenak hingga dingin, saat cuaca dalam keadaan panas menyengat. Rasulullah bersabda:

“Apabila cuaca panas menyengat, hendaklah kalian tunda sejenak waktu shalat hingga dingin, karena sesungguhnya panas yang amat sangat itu adalah panas dari Jahannam. Neraka pun mengadu kepada Rabbnya seraya berucap, ‘Wahai Rabb, sebagianku telah memakan sebagian yang lain. Maka, Allah memberi izin kepadanya dengan dua napas (embusan). Napas pada musim dingin dan napas pada musim panas. Maka, apa yang kalian dapati saat panas akan terasa sangat menyengat dan apa yang kalian dapati dari keadaan dingin akan terasa sangat dingin’.” (HR. al-Bukhari, no. 573 dan Muslim, no. 617 hadits dari Abu Hurairah)

Jadi, keadaan yang amat menyengat sangat panas itu berasal dari panas neraka, karena neraka memang sudah ada. Begitu pula adanya dingin yang teramat sangat yang berasal dari dinginnya, karena neraka itu memang sudah ada.

Dalil lain yang menunjukkan surga itu makhluk dan neraka itu makhluk yang telah berwujud (ada), di antaranya firman Allah:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (an-Najm: 13—15)

Rasulullah telah melihat Jibril di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. Hal itu menunjukkan keberadaan surga secara nyata.

Adapun ayat-ayat yang berkaitan dengan kekekalan penghuni surga dan neraka juga cukup banyak. Yang dimaksud khuluduma, yaitu kekekalan, keduanya senantiasa ada, dan tidak bersifat fana (rusak). Dalilnya adalah firman Allah:

“Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayinah: 8)

Adapun firman Allah yang menjadi dalil kekekalan neraka:

“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Pemaknaannya, yaitu selalu dan terus-menerus (ada), tidak terputus dan rusak binasa. Tidak surga, tidak pula neraka. Kemudian firman Allah:

“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)

Di antara lagi firman-Nya:

“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A’la: 13)

Firman-Nya:

“Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” (az-Zukhruf: 75)

Yaitu, tidak terputus.

Firman-Nya pula:

“Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (al-Baqarah: 167)

Maksud ayat di atas, yakni terus-menerus mereka di dalam neraka. Ini adalah dalil atas kekekalannya dan terus-menerus keberadaan neraka. Sementara itu, dalil dari hadits Rasulullah adalah:

“Apabila penduduk surga telah ke surga dan penduduk neraka telah ke neraka, didatangkan kematian (maut) hingga berada di antara surga dan neraka. Kemudian (kematian) itu disembelih. Lantas ada yang menyeru, ‘Wahai penghuni surga, tak ada lagi kematian! Wahai penghuni neraka, tak ada lagi kematian!’ Akhirnya, kegembiraan penghuni surga semakin bertambah. Sebaliknya, kesedihan penghuni semakin menjadi.” (HR. al-Bukhari, no. 6548 dan Muslim, no. 2850 hadits dari Abdullah bin Umar)

Inti dari penjelasan di muka, sejatinya Ahlus Sunnah wal Jamaah berbeda dari kalangan sesat. Ahlus Sunnah meyakini dan bersaksi sesungguhnya surga dan neraka itu makhluk. Ini masalah (pertama). Adapun masalah kedua, sesungguhnya surga dan neraka tidak akan binasa (kekal). Sementara itu, kelompok Jahmiyah menyatakan bahwa surga dan neraka akan musnah (tidak kekal). Mengenai keyakinan dua perkara ini (surga dan neraka), kelompok sesat ini telah mendustakan kitabullah, yang tidak mengandung kebatilan dari depan dan belakangnya, serta mendustakan sunnah Rasulullah. Al-Qur’an dan as-Sunnah telah menetapkan sesungguhnya penghuni surga—yang mereka menetapinya—tidaklah akan keluar dari surga. Demikian pula penghuni neraka—yang mereka menetap di dalamnya—tidak akan keluar dari neraka. Surga dan neraka bersifat ada senantiasa (terus-menerus ada). Sementara itu, dalam masalah azab (siksa) terhadap orang-orang kafir itu pun berlangsung terus-menerus. Allah berfirman:

“Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” (az-Zukhruf: 75)

Maka, jelaslah sudah kebenaran dari hal yang bersifat batil dengan nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah. (Syarhu Aqidah as-Salaf Ashabi al-Hadits, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali hafidzahullah, hlm. 164—166)

Beriman kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mengingkarinya berarti menjatuhkannya pada kekafiran. Di dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat yang mengaitkan keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada Hari Akhir.

Firman Allah:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi.” (al-Baqarah: 177)

Firman Allah pula:

“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Adapun dalam hadits, misal hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaknya diam.” (HR. al-Bukhari, no. 6018 dan Muslim no. 75)

Beriman kepada Hari Akhir meliputi keimanan kepada Hari Kiamat, Hari Kebangkitan, hari dikumpulkannya seluruh makhluk oleh Allah sebagaimana pada penciptaan mereka pertama kalinya, mengumpulkan mereka seluruhnya di tempat yang satu dari awal hingga akhir mereka, menghisab amalan mereka, mengeluarkan kitab-kitab (catatan-catatan amal) mereka yang berisi catatan amal mereka di dunia. Bagi seorang mukmin akan diberikan kitabnya melalui tangan kanan dan orang kafir akan diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari balik punggungnya—wal ‘iyadzu billah—sebagai bentuk penghinaan atasnya.

Selain itu, beberapa hal yang terjadi pada Hari Akhir, seperti: timbangan amal, haudh (telaga), ash-shirath (jembatan), surga dan neraka, serta segala hal yang telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya dari segala peristiwa yang terjadi pada Hari Akhir, maka beriman kepada semua hal di atas adalah rukun. Seorang hamba yang beriman tidak boleh mendustakannya. Termasuk dalam hal itu, yaitu perkara setelah kematian adanya penetapan penghuni surga di surga dan penghuni neraka di neraka. Barang siapa yang mengingkari Hari Kebangkitan, maka dia telah kafir kepada Allah. Firman-Nya:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’. Hal itu adalah mudah bagi Allah.” (at-Taghabun: 7)

Demikian pula orang yang mengingkari perkara-perkara akhirat yang telah pasti, sungguh dia telah kafir. Barang siapa yang mengingkari surga dan neraka, mengingkari adanya hisab, mengingkari pemberian lembaran-lembaran (catatan amal), atau mengingkari adanya timbangan amal, maka dia kafir. Maka dari itu, konsekuensi beriman kepada Hari Akhir adalah mengimani setiap peristiwa akhirat yang telah sahih dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Durus min al-Qur’an al-Karim, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, hlm. 139—140)

Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

[1] Kalangan Arab jahiliah, apabila ditimpa musibah kematian, lantas salah seorang dari mereka menaiki kuda kemudian berjalan seraya mengumumkan kematian seseorang kepada khalayak ramai yang dilaluinya. (Lihat Tuhfatu al-Ahwadzi 4/34—35 terkait hadits Hudzaifah ibnul Yaman di atas). Itulah bentuk perbuatan an-na’yu yang dikenal di kalangan orang-orang jahiliah. Wallahu a’lam.

Adapun sekadar memberi tahu agar orang lain mengurusi jenazah atau menyalatinya, atau memberi tahu kerabat dan teman tanpa cara-cara yang dilakukan di masa jahiliah, maka diperbolehkan.

Sumber: http://asysyariah.com/surga-dan-neraka-kekal.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s