Hidup Di Penjara Bukan Berarti Sengsara


Penjara, identik dengan sebuah tempat yang sempit, terkekang, tidak bebas, dan dibatasi ruang gerak dengan dinding- dinding penjara dari seluruh penjuru. Yah, begitulah Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam- menyebutkan hakekat kehidupan dunia ini.

Bagi seorang mukmin, kehidupan dunia ini ibaratnya seperti orang yang hidup dalam sebuah penjara.  Dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara seorang mukmin, dan surga orang kafir.”

(HR.Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

Berkata An-Nawawi Rahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini: “maknanya adalah setiap mukmin dipenjara di dunia ini, dan dilarang melampiaskan syahwat- syahwat yang diharamkan dan yang dibenci, diberi beban untuk menjalankan amalan- amalan ketaatan yang ia merasa berat, dan tatkala dia mati maka dia beristirahat, dan situasiNya berbalik menuju kepada apa yang telah Allah persiapkan untuknya berupa kenikmatan yang abadi, dan tempat beristirahat yang nyaman yang tidak ada kekurangan sedikitpun.

Adapun bagi orang kafir, dia hanya mendapatkan apa yang diraihnya dalam kehidupan dunia yang sedikit, itupun dikotori dengan berbagai macam kesulitan hidup. Apabila ia telah mati, maka dia akan menuju siksaan yang tiada henti dan kesengsaraan yang abadi.”

(Syarah Muslim, An-Nawawi:18/93)

Berkata pula Al-Qurthubi tatkala menjelaskan hadits ini:

“Sesungguhnya dunia bersifat demikian disebabkan karena seorang mukmin dalam kehidupan dunia, terikat dengan beban- beban syariat, sehingga dia tidak mampu melakukan satu  gerakan, dan tidak pula berdiam diri, kecuali jika syariat memberi kelapangan padanya untuk melepaskan ikatannya yang memungkinkan baginya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ditambah lagi dengan berbagai macam cobaan dan ujian, serta tantangan kehidupan berupa perasaan sedih, gundah gulana, rasa sakit, kepedihan, berusaha menghadapi tantangan dan perlawanan, menghadapi keluarga dan anak- anak.

Secara umum, keadaannya seperti yang  dijelaskan bahwa manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian yang semisalnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai tingkat keimanannya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Penjara manakah yang lebih dahsyat dari penjara ini?. Lalu kemudian , dia di dalam penjara tersebut dalam keadaan khawatir dan takut yang sangat, sebab dia tidak mengetahui apa yang akan menjadi penutup amalan dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, dia sedang mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada yang lebih berbahaya dari sesuatu itu, dia takut akan kebinasaan yang tidak ada lagi kebinasaan diatasnya?!. Kalau seandainya dia tidak berharap untuk dapat keluar dari penjara ini, niscaya dia akan binasa. Akan tetapi, Allah mengasihinya, dan menjadikan beban seorang hamba tersebut terasa ringan dengan janji-Nya tatkala dia bersabar, dan dibukakan baginya jalan baginya menuju akhir kehidupan yang baik.

Adapun orang yang kafir, dia terlepas dari berbagai beban syariat tersebut, dan merasa aman dari segala yang ditakutkan, dan terus merasakan nikmatnya dunia, melampiaskan syahwatnya, merasa mulia dengan hari- hari yang dilaluinya, sehingga dia makan dan bersenang- senang seperti makannya hewan, dan dalam waktu dekat, dia akan tersadar dari buaian mimpinya, dan akhirnya dia masuk ke dalam penjara yang dia tidak akan keluar darinya. Kita memohon kepada Allah agar diberi keselamatan dari kengerian yang terjadi di hari kiamat.”

(Al-Mufhim, Al-Qurthubi:7/109-110)

Saudaraku, bebaskan dirimu dari penjara!

Jika kita telah menyadari bahwa ternyata kita sedang hidup didalam penjara, maka kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar untuk bebas dan keluar dari penjara tersebut. Jangan sampai tatkala kita telah keluar dari penjara dunia, ternyata kita  digiring menuju ke penjara yang  lebih sempit, lebih membosankan, lebih menyedihkan, lebih menyiksa dan menyakitkan. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan  barangsiapa  berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari  kiamat  dalam keadaan buta”.

(QS.Toha:124)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

“Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.”

(QS.Az-Zumar:26)

Maukah anda keluar dari penjara?

Bukanlah hal yang sulit, cukup anda menampakkan perilaku yang baik kepada penguasa penjara itu, jaga tutur kata anda, berakhlak-lah dengan akhlak yang baik, berbuatlah dengan hal- hal yang menyebabkan pemilik dan penguasa penjara itu senang dan cinta kepadamu, niscaya engkau akan segara meraih kebebasan, dan menjalani kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, tidak lagi ada kesedihan, rasa sakit, kepedihan, seperti yang pernah anda rasakan ketika hidup di penjara. Kebahagiaan yang abadi, merasakan sebuah kenikmatan yang tak pernah anda merasakan sebelumnya.

Oleh karena itu, jadikanlah seluruh waktumu di dalam penjara dengan beribadah hanya kepada Penguasa penjara itu Dia adalah Allah Rabbul Alamin, tauhidkanlah Dia, beribadahlah dengan penuh keikhlasan, bertawakkal hanya kepada-Nya, dan menjadikan seluruh aktifitas ibadah itu hanya untuk-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku,  hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri “. (QS.Al-An’am:162)

Demikian pula perbaiki akhlak dan perbuatanmu, dengan cara menjadikan Rasuullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai panutan dan suri tauladanmu. Sebab suatu ibadah barulah dianggap benar , jika sesuai bimbingan dan aturan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

(QS.Al-Hasyr: 7)

Allah Ta’ala juga berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS.Ali Imran:31)

Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang diberi hidayah setelahku.”

(HR.Tirmidzi dan yang lainnya, dari sahabat Irbadh bin Sariyah)

Dan Beliau juga bersabda:

“barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada aturannya dari kami, maka amalan itu tertolak.”

(HR.Muslim dari Aisyah Radhiallahu Anha)

Perbaikilah kesalahan yang telah anda perbuat, memohon ampunlah kepada Penguasa penjara itu, agar Dia –Yang Maha Pengampun dan menerima taubat hamba-Nya- memberi maaf kepadamu, dan mengampuni segala kesalahanmu.  Hanya dengan cara ini, anda pasti akan keluar dari penjara, menuju alam bebas yang penuh kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal abadi. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”

(QS.Ali Imran:133-136)

Allah Azza Wajalla juga berfirman:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

(QS.Al-Ankabut:64)

Hidup di penjara, bukan berarti sengsara

Namun, bagi seorang ahli ibadah yang menghambakan diri dihadapan Allah Azza Wajalla, hidup dalam penjara dunia bukanlah sebuah kesengsaraan, namun didalamnya terkandung sebuah kenikmatan, yang hanya bisa dirasakan oleh seorang hamba yang memahami arti sebuah penghambaan dirinya kepada sang Maha Pencipta. Oleh karenanya,dalam diri seorang mukmin, menjalankan ibadah merupakan satu kenikmatan dan bukan sebagai beban, terdapat sebuah kebahagiaan disaat mereka merasakan manisnya keimanan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Ada tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman:

1. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya.

2. Dia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah.

3. Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”

(Muttafaq Alaihi dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Dijadikan kenikmatan hidupku didalam shalat.”

(HR.Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

“Barangsiapa yang kenikmatannya dalam melakukan suatu amalan, maka dia sangat berkeinginan untuk tidak meninggalkan amalan itu, dan tidak keluar darinya. Sebab didalamnya dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya, dan ini hanyalah dirasakan oleh seorang ahli ibadah yang bersabar menghadapi cobaan.”

(Fathul Bari:11/345)

Suatu ketika , Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah keluar rumah, ketika itu dia berkedudukan sebagai pimpinan seluruh para hakim di negerinya, Mesir. Beliau keluar rumah dengan berpakaian yang sangat indah. Lewatlah seorang yahudi dengan pakaian yang lusuh, menghentikan perjalanan Al-Hafizh lalu ia berkata: Wahai Imam, bagaimana anda menafsirkan ucapan Rasul anda “Dunia adalah penjara seorang mukmin dan surga bagi yang kafir”, sementara Engkau melihat diriku ini yang hidup penuh masalah dan sengsara, padahal aku ini orang yang kafir menurutmu. Sementara Engkau hidup dalam kenikmatan, padahal anda adalah seorang mukmin? Maka Al-Hafizh menjawab: Engkau yang hidup dengan penuh masalah dan kesengsaraan, pada hakekatnya itu merupakan kenikmatan, jika dibandingkan siksaan yang pedih yang menantimu di akhirat kelak jika engkkau mati dalam keadaan kafir. Sementara aku yang merasakan kenikmatan iini, sebenarnya aku ini berada dalam penjara dunia, jika dibandingkan kenikmatan didalam surga yang menantiku jika Allah Ta’ala memasukkan aku ke dalam surga-Nya. Maka Yahudi itu berkata: Apakah seperti itu keadaannya? Al-Hafizh menjawab: iya. Maka Yahudi tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keislamannya.

Ditulis oleh:

Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Balikpapan, 14 syawal 1433 H

Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/115-hidup-di-penjara-bukan-berarti-sengsara

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Nasehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s