Meneladani Shalat Rasulullah


Para pembaca rahimakumullah, menu kajian kali ini adalah sebuah tema penting yang terkait dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوُنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari no. 605, dari sahabat Malik bin al-Huwairits)

Hadits di atas merupakan landasan utama bagi umat Islam dalam meneladani ibadah shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lainnya, karena syarat diterimanya sebuah ibadah selain niat yang ikhlas juga harus sesuai contoh yang dibimbingkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. al-Bukharino. 2550 dan Muslim no. 1718, lafazh hadits diambil dari riwayat Muslim)

Sebagai contoh, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ada seseorang shalat di masjid yang saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya. Seusai shalat, orang itu menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyuruhnya untuk mengulangi kembali shalatnya. Lalu orang tersebut mengulangi shalatnya, ternyata disuruh kembali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengulanginya, hingga peristiwa tersebut terulang tiga kali. Akhirnya orang tersebut meminta Nabi supaya diajarkan sifat shalat yang benar, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengajarinya. (Lihat Shahih al-Bukhari no. 793 dan Shahih Muslim no. 397)

Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amal itu tergantung dengan niat dan setiap orang hanyalah memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Niat adalah maksud.” Maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang akan dikerjakan dan sifat shalat yang wajib ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardhu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.” (Raudhatuth Thalibin, 1/243-244)

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal niat adalah tidak melafazhkannya. Tidak disebutkan dalam sebuah hadits shahih pun bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melafazhkan niat dalam shalat. Karena niat itu letaknya di dalam hati. Demikian pula yang diterapkan oleh para Khulafa’ur Rasyidin dan para sahabatnya. Tidak ada seorang pun dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melafazhkan niat.

Sementara kita maklumi bahwa kebaikan adalah mengikuti bimbingan Rasulullah dan as-Salafush Shalih. Karena, tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka.

Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram termasuk rukun shalat, artinya bila ditinggalkan baik sengaja ataupun tidak, maka shalatnya tidak sah dan tidak cukup diganti dengan sujud sahwi. Akan tetapi dia harus mengulang kembali shalatnya.

Takbiratul ihram sebagai pembuka shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan mengucapkan, “Allahu Akbar”, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيْرِ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir.” (HR. Muslim no. 1110)

Dalam riwayat lain, dari sahabat Abu Humaid as-Sa’idi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam إِذَا قَامَ إِلَى الصّلَاةِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ: اللهُ أَكْبَرُ

“Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk melaksanakan shalat, beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Allahu Akbar.” (HR. Ibnu Majah no. 803 dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

Hadits di atas mengandung tiga kesimpulan penting,

Pertama,  shalat dibuka dengan takbir, Allahu akbar, tidak sah dengan lafazh lain.

Kedua, mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram.

Ketiga, lafazh takbir diucapkan dengan lisan dan tidak cukup dalam hati, kecuali orang yang bisu.

Takbir pembuka ini disebut dengan takbiratul ihram karena setelah mengucapkan takbir ini dilarang mengerjakan kegiatan selain amalan shalat, seperti makan, minum, bicara, dan lain-lain.

Suara Imam Lemah

Bila sang imam suaranya lemah, sehingga tidak terdengar oleh sebagian makmum, maka disyariatkan bagi muadzin atau selainnya dari kalangan makmum untuk menyambungnya dengan suara yang lebih keras sampai terdengar oleh seluruh makmum. Tujuannya agar seluruh makmum dapat mengikuti gerakan imam dengan sempurna. Sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiqradhiyallahu ‘anhu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami dalam keadaan suara beliau lemah karena sakit. (Lihat Shahih Muslim hadits no. 413, dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Mengangkat Kedua Tangan dan Sifatnya

Disyariatkan mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram. Mengangkat kedua tangan boleh bersamaan dengan takbir, sebelum, atau sesudahnya. Jari jemari kedua tangan tegak lurus, tidak terlalu renggang dan tidak terlalu rapat. Mengangkat kedua tangan tersebut dengan posisi telapak tangan menghadap kiblat dan sejajar dengan bahu atau daun telinga. Semua sifat ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih. (LihatShifat Shalat Nabi karya asy-Syaikh al-Albani)

Kemudian bersedekap,  meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Demikianlah contoh dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan nabi-nabi yang sebelumnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُؤَخِّرَ سَحُوْرَناَ، وُنَعَجِّلَ فِطْرَنَا، وَأَنْ نُمْسِكَ بِأَيْمَانِنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فيِ صَلاَتِنَا

“Sesungguhnya kami, para Nabi, diperintah untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan ifthar (buka puasa), serta meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1770, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, dan terkadang di atas pergelangan tangan, serta di hasta. (HR. Abu Dawud, an-Nasaa’i, dan Ibnu Khuzaimah (1/54/2), dengan sanad yang shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan keduanya di atas dada (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimahdalam Shahih-nya (1/54/2).

Melihat ke Tempat Sujud

Seorang yang melaksanakan shalat hendaknya mengarahkan pandangannya ke tempat sujud dan dilarang mengarahkan pandangannya ke langit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِى الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ وَفِيْ رِوَايَةٍ: أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Sungguh, hendaknya suatu kaum menghentikan perbuatan mereka mengarahkan pandangannya ke langit ketika shalat atau pandangan mereka tidak akan kembali (jika tidak berhenti).” Dalam riwayat lain, … “atau akan dihilangkan/dibutakan pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 428 dan 429, dari sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu)

Catatan: Seorang yang melaksanakan shalat tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri karena hal itu akan menghilangkan kekhusyukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada,

“Apabila kalian melaksanakan shalat, janganlah menoleh, karena sesungguhnya Allah menghadapkan Wajah-Nya ke wajah hamba-Nya di saat dia melaksanakan shalat selama ia tidak menoleh.” (HR. at-Tirmidzi no. 2863 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 1534)

Doa Istiftah

Waktu membaca doa istiftah adalah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surah al-Fatihah. Doa istiftah banyak ragamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa istiftah yang beragam dalam shalat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara doa yang biasa beliau baca adalah,

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنْ خَطَايَاىَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِى مِنْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.” (HR. al-Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Catatan: Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa istiftah yang beragam, maka disunnahkan pula bagi umatnya membaca doa-doa istiftah yang beragam tersebut. Boleh membaca doa istiftah sebagaimana disebutkan di atas atau doa istiftah yang lainnya, selama doa tersebut diriwayatkan secara shahih.

Membaca Ta’awudz

Setelah membaca doa istiftah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berta’awudz kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti lafazh ta’awudz yang sering kita baca, atau membaca ta’awwudz berikut ini,

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kapada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya dan syairnya.” (HR. Abu Dawud no. 775)

Membaca Basmalah

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca basmalah,

بِسْمِ اللهِ  الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Beliau membacanya dengan suara pelan (pada shalat jahriyah). (HR. al-Bukhari no. 710 dan Muslimno. 399)Namun menurut sebagian ulama, basmalah dibaca dengan jahr (keras).

Pembahasan masalah ini sebenarnya cukup panjang karena adanya perbedaan pendapat yang cukup kuat, sehingga tidak memungkinkan untuk dipaparkan di sini secara rinci. Wallahu a’lam.

Membaca Surah Al-Fatihah

Membaca surah al-Fatihah adalah termasuk rukun shalat. Tidak sah shalat seseorang tanpa membacanya. Al-Fatihah wajib dibaca pada setiap raka’at. Al-Fatihah wajib dibaca oleh imam dan orang yang melaksanakan shalat sendirian. Adapun bagi makmum pada shalat jahriyah khususnya, ulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat wajib bagi makmum membaca surah Al-Fatihah, dan sebagian ulama yang lain berpendapat tidak wajib bagi makmum untuk membacanya. Tapi dengan syarat makmum mendengar bacaan imam. Membaca Al-Fatihah hendaknya ayat demi ayat dan tidak menyambung ayat dengan ayat berikutnya. (Lihat HR. Abu Dawud no. 821 dengan sanad shahih)

Membaca Surah setelah Al-Fatihah

Setelah membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surah lain pada dua rakaat pertama pada setiap shalat. (Lihat HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 451)

Ruku’ dan Bacaannya

Setelah membaca surah, kemudian ruku’ sambil mengangkat tangan dan bertakbir. Ketika ruku’, meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lututnya dengan kokoh seolah-olah menggenggamnya. Jari-jari direnggangkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang yang salah shalatnya,

“Bila kamu ruku’ maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lutut dan renggangkanlah jari-jarimu.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Kedua siku dijauhkan dari tulang rusuk. Punggung dibentangkan lurus, sampai-sampai seandainya air dituangkan di atasnya niscaya air akan tenang. (Lihat HR. Ibnu Majah no. 872, dengan sanad shahih)

Posisi kepala tidak menunduk dan tidak menengadah. (Lihat HR. Abu Dawud no. 730, dengan sanad shahih)

Ada beberapa bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ruku’. Di antaranya:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ 3

“Maha Suci Rabb-ku yang Maha Agung.” (dibaca 3 kali)(HR. Muslim no. 772)

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ 3

“Maha Suci Rabb-ku yang Maha Agung dan dengan segala puji-Nya.” (dibaca 3 kali) (HR. Abu Dawud no. 870)

Dan terkadang membaca bacaan yang lain di antaranya,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau ya Allah Rabb kami, dengan segala puji-Mu, ya Allah ampunilah aku.” (HR. al-Bukharino. 794 dan Muslim no. 484)

Bangkit dari Ruku’ dan Dikirnya

Kemudian bangkit dari ruku’ seraya membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Allah Mahamendengar hamba yang memuji-Nya.”

Sambil mengangkat kedua tangannya hingga berdiri dengan sempurna. (HR. Abu Dawud no. 783)

Adapun yang dibaca ketika i’tidal di antaranya adalah:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Wahai Rabb kami, dan segala puji hanya untuk-Mu.” (HR. al-Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411)

Atau bisa juga membaca:

اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Ya Allah, ya Rabb kami, segala puji hanya untuk-Mu sepenuh langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelahnya.” (HR. Muslim no. 476)

Tata Cara Sujud

Kemudian turun untuk sujud sambil bertakbir. Para ulama berbeda pendapat apakah yang didahulukan kedua lutut atau kedua tangan. Di antara mereka ada yang berpendapat mendahulukan kedua lutut, sedangkan yang lain berpendapat mendahulukan kedua tangan.

Wallahu a’lam, penulis lebih condong kepada pendapat kedua karena berdasarkan hadits Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Bila salah seorang di antara kalian sujud, janganlah ia menderum (turun) seperti unta, tapi hendaknya ia meletakkan kedua tangan sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 840)

Bersujud di atas 7 (tujuh) anggota tubuh yaitu dahi dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung telapak kaki.

Posisi kedua telapak tangan dibentangkan, kedua hasta diangkat dan tidak ditempelkan ke lantai, merapatkan jari-jari dan menghadapkan ke arah kiblat, sejajar dengan pundak atau sejajar dengan kedua daun telinga, menempelkan hidung dan dahi ke lantai, demikian pula menempelkan kedua lutut dan kedua ujung jari-jari kaki.

Ada beberapa bacaan ketika sujud, di antaranya:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى3

“Maha suci Rabb-ku, yang maha tinggi.” (dibaca 3 kali) (HR. Muslim no. 772)

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ3

“Maha suci Rabb-ku, yang maha tinggi, dan dengan segala puji-Nya.” (dibaca 3 kali) (HR. Abu Dawud no. 870)

Bisa juga membaca bacaan lain seperti bacaan ruku’ (yang ketiga).

Tata Cara Duduk di antara Dua Sujud

Kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir kemudian duduk di antara dua sujud.  Tata caranya, telapak kaki kiri dibentangkan dan diduduki, sedangkan kaki kanan ditegakkan sambil mengarahkan jari-jari ke arah kiblat. Duduk semacam inilah yang diistilahkan dengan duduk iftirasy.

Bacaan pada duduk ini juga beragam, di antaranya:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

“Rabb-ku ampunilah aku. Rabb-ku ampunilah aku.” (HR. Abu Dawud no. 874)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي

“Ya Allah (dalam riwayat lain ya Rabb-ku), ampunilah aku, rahmatilah aku, maafkanlah aku, dan berilah aku petunjuk dan rizki.” (HR. Abu Dawud no. 850)

Kemudian sujud kedua diiringi dengan takbir, cara sujud dan bacaannya sama dengan sujud pertama.

Kemudian bangkit dari sujud yang kedua sambil bertakbir untuk melanjutkan rakaat kedua. Sebelum berdiri tegak, hendaknya duduk istirahat sejenak, cara duduknya seperti duduk iftirasy. Setelah itu, bangkit dengan bertumpu pada kedua telapak tangan.   Tata cara pada rakaat kedua seperti pada rakaat pertama.

Duduk Tasyahhud

Kemudian duduk tasyahhud awal setelah selesai dari rakaat kedua dengan cara duduk iftirasy pada shalat yang berjumlah 3 atau 4 rakaat. Bila shalat berjumlah 2 rakaat, maka duduk dengan cara iftirasy menurut sebagian ulama, sementara sebagian ulama lain berpendapat dengan cara duduk tawaruk.

Tasyahud awal hukumnya adalah wajib. Beragam pula bacaan tasyahhud, di antaranya tasyahhud yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

التَّحِيَّاتُ لِلهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Segala penghormatan hanya bagi Allah, (amalan) shalat dan kebaikan untuk-Nya, keselamatan atasmu wahai Nabi, keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 402)

Tentang membaca shalawat pada tasyahud awal, para ulama berbeda pendapat.Sebagian berpendapat wajib dan sebagian berpendapat tidak wajib. Adapun pada tasyahud akhir, para ulama bersepakat tentang wajibnya. Lafazh shalawat juga beragam, di antaranya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Ya Allah curahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah mencurahkan shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Yang Maha terpuji lagi Maha mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Engkaulah Yang Maha terpuji dan Maha mulia.” (HR. al-Bukhari no. 3370)

Adapun duduk tasyahhud akhir (pada shalat-shalat yang terdapat 2 tasyahhud) caranya dengan duduk tawaruk. Yaitu kaki kiri melintang di bawah kaki kanan. Telapak kaki kanan ditegakkan sambil mengarahkan jari-jari ke arah kiblat, sehingga posisi duduknya langsung di lantai.

Bacaan pada tasyahud akhir seperti pada tasyahud awal, yaitu membaca doa tasyahud dan shalawat, kemudian berdoa memohon perlindungan dari 4 perkara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, jika salah seorang selesai dari tasyahud, hendaknya ia berlindunglah dari 4 perkara:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, adzab kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari fitnah al-masih Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

Setelah ini, disyariatkan pula berdoa sebelum salam dengan doa-doa yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah atau yang termudah baginya, selanjutnya diakhiri dengan mengucapkan salam sambil menoleh ke arah kanan hingga terlihat pipi sebelah kanan kemudian mengucapkan salam sambil menoleh ke arah kiri hingga terlihat pipi sebelah kiri.

Lafazh salam juga beragam di antaranya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Demikianlah sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara ringkas, semoga Allah menerima amalan kita. Amin ya mujibas sa’ilin.

Penulis: Ustadz Arif hafizhahullah

Sumber:

http://www.mahadassalafy.net/2012/06/meneladani-shalat-rasulullah-1.html

http://www.mahadassalafy.net/2012/06/meneladani-shalat-rasulullah-2-selesai.html

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Fiqih & Fatwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s