CARA MENJAWAB SALAM ORANG KAFIR


Ditulis oleh: Asy-Syaikh Bader Bin Muhammad Al-Bader

Salam yang diucapkan oleh orang- orang kafir memiliki beberapa keadaan:

Keadaan pertama:

jika dia mengucapkan “As-saamu Alaikum” (kematian atas kalian), maka dijawab dengan ucapan “Wa ‘Alaikum” (dan juga atas kalian). Hal ini berdasarkan hadits Anas رَضِيَ اللهُ عَنُْه berkata: bersabda Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم :

“Jika ahli kitab mengucapkan salam atas kalian, maka jawablah: wa ‘Alaikum.”

(HR.Bukhari (6258) dan Muslim (2163).

Juga dari Ibnu Umar رَضِيَ اللهُ عَنُْه bahwa Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم bersabda:

“Jika Kaum Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, sesungguhnya salah seorang mereka hanyalah mengatakan “Assaamu Alaika”, maka jawablah “wa ‘alaik”.

(HR.Bukhari (6257)).

Dari Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا bahwa Kaum Yahudi mengatakan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ “As-saamu ‘alaik” , maka Beliau menjawab “wa ‘alaik”.

(HR.Bukhari (6256)).

Keadaan kedua:

Jika orang kafir tersebut mengatakan “As-silaamu ‘Alaikum” (السِّلام عليكم) dengan huruf siin yang di kasrah dan ditasydid, yang bermakna batu. Maka dijawab dengan “Wa ‘Alaikum”.

Berkata Imam Al-Hijawi dalam “syarah manzhumatul aadaab”, hal: 196: berkata Ibnu Abi Musa: Jika seorang kafir dzimmi mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan mengatakan “As-silaamu ‘alaika” dengan huruf siin yang dikasrah, yang bermakna batu, maka dia menjawab dengan yang semisalnya.

Keadaan ketiga:

jika dia mengucapkan “As-salaamu Alaikum”, dengan huruf siin yang difathah dan ditasydid, yaitu ucapan selamat yang biasa diucapkan. Ada yang berkata: dibalas dengan ucapan “wa a’alaikumussalaam”. Berdasarkan keumuman firman Allah َّعَزَّ وَجَل

“Apabila diucapkan selamat kepada kalian maka balaslah dengan yang lebih baik atau balas yang semisalnya.”

Imam Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ menyebutkan tentang hal ini dalam kitabnya “ahkaam ahli adz-dzimmah” (1/ 200), ini pula yang menjadi pendapat Al-Allamah Ibnu Utsaimin dalam syarah riyadhus salihin (3/ 10), dan Al-Muhaddits Al-Albani dalam Ash-Shahihah (2/ 322). Ini merupakan salah satu pendapat dari sebagian pengikut madzhab Syafi’i. Al-Hafizh An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkar (415) berkata: Al-Mawardi menyebutkan pendapat lain, bahwa ketika mereka memulai salam, maka dia menjawab “Wa ‘Alaikumus salaam”, namun jangan dia mengatakan “warahmatullaah”. Ini merupakan pendapat yang ganjil dan tertolak.

Imam Al-Hajjawi dalam syarah manzhumah al-aaadaab (hal:196) berkata: berkata Syaikh Taqiyuddin : “jika seorang kafir dzimmi mengucapkan salam kepada seorang muslim, maka dia menjawab seperti ucapan selamatnya tersebut.”

Segolongan para ulama mengatakan: jika seorang kafir berkata “As-salaamu ‘alaikum”, maka tetap dibalas dengan ucapan “wa ‘alaikum”, berdasarkan keumuman hadits.

Adapun firman Allah َّعَزَّ وَجَل : Apabila diucapkan selamat kepada kalian maka balaslah dengan yang lebih baik atau balas yang semisalnya.”

Yang dimaksud adalah: jika seorang muslim mengucapkan salam kepada muslim lainnya.

Imam Al-Qurthubi رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam “al-jami’” (5/ 209):

“Adapun orang kafir, maka hukum membalas salamnya cukup dengan ucapan “wa ‘alaikum”.

Berkata Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا dan yang lainnya: “yang dimaksud ayat “jika diucapkan selamat atas kalian” jika ucapan selamat itu dari seorang mukmin “maka balas dengan yang lebih baik”, dan jika ucapan selamat dari orang kafir, maka balas ucapan tersebut berdasarkan apa yang diucapkan oleh Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم , yaitu dengan membalas “wa ‘alaikum”.

Atha’ berkata: “Ayat tersebut untuk kaum mukminin secara khusus, dan jika selain muslim mengucapkan salam maka dijawab dengan “‘alaik”.

Al-Hafizh Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam tafsirnya (1/ 512):

“Firman-Nya:

“Apabila diucapkan selamat kepada kalian maka balaslah dengan yang lebih baik atau balas yang semisalnya.” Maknanya adalah: jika seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian maka jawab kepadanya dengan yang lebih ba

ik atau menjawab dengan yang semisalnya, menambah jawaban salam merupakan hal yang dianjurkan, dan menjawab dengan yang semisalnya merupakan hal yang wajib.”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar رَحِمَهُ اللهُ dalam Al-Fath (11/ 53): “Yang kuat dari seluruh pendapat yang ada adalah apa yang terkandung dalam hadits, namun hadits tersebut khusus untuk ahli kitab. Telah diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang bagus dari Humaid Bin Zaduyah dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنُْه berkata:

“Ketetapan kami bahwa kami tidak menambah dalam menjawab salam ahli kitab dari ucapan “wa ‘alaikum”.

Keadaan keempat:

Jika kita ragu apakah dia mengucapkan “As-saamu ‘alaikum” atau “As-salaamu ‘alaikum”, maka dibalas dengan “wa ‘alaikum”, karena tidak jelasnya ucapan selamat yang dia sampaikan. Ini disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ dalam ahkaam ahli adz-dzimmah:1/ 200.

Keadaan kelima:

Jika dia mengucapkan “selamat pagi” dan yang semisalnya, ada yang berkata: dibalas seperti yang dia ucapkan, dan ini bagian dari keadilan dan keinsafan.

Masalah: Hukum menjawab salam dari orang kafir?

Imam Al-Qurthubi رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam al-jami’ (5/ 210): “terjadi perselisihan dalam menjawab salam orang yang kafir dzimmi, apakah wajib hukumnya seperti halnya membalas ucapan salam kaum muslimin. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas,Asy-Sya’bi dan Qatadah, dengan berpegang kepada keumuman ayat, dan perintah menjawab salam mereka dalam sunnah yang sahih. Imam Malik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Asyhab dan Ibnu Wahab dari Beliau bahwa hal tersebut tidak wajib, dan jika engkau membalas maka jawablah dengan mengatakan : “wa ‘alaik”.

Yang sahih adalah wajibnya menjawab, berdasarkan keumuman sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ : “ucapkanlah “wa ‘alaikum”.

Berkata Imam Al-Hajjawi dalam syarah manzhumah al-adaab (196): “jika salah seorang mereka mengucapkan salam, maka wajib menjawabnya menurut pendapat kami, dan menurut mayoritas para ulama, berdasarkan hadits- hadits yang sahih yang memerintahkan untuk menjawabnya.

Ini juga merupakan pendapat Al-Allamah Bin Baaz رَحِمَهُ اللهُ dalam Al-fatawa (1/ 1042).

Diterjemahkan oleh:

Abu Muawiyah Askari Bin Jamal

28 muharram 1437 H.

Sumber: http://www.salafybpp.com/aqidah/cara-menjawab-salam-orang-kafir

Tentang .

Menyebarluaskan ilmu agama sesuai dengan pemahaman salafy, semoga menjadi berkah di dunia dan akhirat...
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan Manhaj. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s